CHAPTER FIVE
Diagonal Ih!
Pagi yang cerah.
“Uaaahhheeeeem…nyem…nyem…”
Put. Put. Put.
Tokoh utama kita, Shaven Terpot, hampir terbangun di pagi yang indah ini. Dia terbangun karena terganggu suara ketukan. Siapa yang mengetuk?
Shaven terkejap-kejap berusaha membuka mata, tapi karena masih ngantuk, tak kunjung terbuka. Walaupun belum melek, Shaven berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. “Hmm… mimpi yang aneh. Entah dari mana, tiba-tiba saja ada dua raksasa datang ke sini. Mereka lalu memberikan surat padaku dan Harry. Isinya kami diundang masuk ke sekolah sihir.”
Put. Put. Put.
Suara itu terdengar lagi.
Pasti itu suara Bibi Petunia mengetuk pintu karena Dudley kelamaan nongkrong di WC. Shaven menarik selimutnya dan berusaha tidur lagi. Dia tidak mau terbangun, matanya aja gak bisa melek sedari tadi. Mimpinya benar-benar aneh tapi indah, direwind ah! (emangnya kaset?). Mimpi lagi ah…
Put. Put. Put.
“Iya, iya!” gerutu Shaven. “Bangun nih! Bangun nih!”
(Just curious. Emang suara mengetuk itu ‘Put. Put. Put’? Bukannya ‘Tok. Tok. Tok’. Atau gimana gitu? Mohon maaf pembaca semua. Karena keterbatasan dana, penulis terpaksa tidak bisa menyewa sound effect yang sesuai dengan keinginan pembaca. Mohon maaf atas kekurangnyamanan ini, semoga tidak dimasukkan ke dalam hati).
Saat mengangkat badan untuk bangun, jaket panjang Dippy jatuh mengenainya. Buset baunya. Tidak ada satupun laundry yang dipastikan mau menerima cucian jaket buluk ini, kalo dilemparin ke kucing, pasti kucingnya langsung mati. Gubuk derita yang ditempati Shaven sudah dipenuhi sinar matahari yang menyeruak masuk, rupanya badai telah usai. Dippy sendiri tengah tertidur di kursi malas sedangkan Harry dan Hagrid tidak nampak. Seekor burung hantu tengah mematuk-matuk (dengan paruh kayaknya) dan mengais jendela (kalo yang ini pake cakar). Satu eksemplar surat kabar diambil oleh burung hantu itu dari ransel yang ia kenakan. Benernya sih di buku ‘Harry Potter & The Sorcerer’s Stone’, korannya dejepit pake paruh, tapi berhubung penulis kasihan karena si burung hantu tentunya telah menempuh perjalanan jauh, maka penulis menyumbang beberapa tas ransel agar bisa dipakai backpacking oleh para burung hantu.
Shaven membuka jendela dan burung hantu itu langsung terbang ke dalam. Dia menjatuhkan koran ke Dippy, dan raksasa hitam itupun terbang~… oh ternyata tidak. Dippy tidak terbangun. Dia malah nginyem-nginyem keenakan. Dasar dudul. Burung hantupun segera mematuki hidung Dippy biar tambah pesek.
“Hei-hei, jangan! Kok yang diserang idungnya! Kepalanya aja! Hihihi…”
Shaven mencoba mengusir burung hantu yang tiada kenal lelah itu.
“Hoooeeehh!!” Shaven mengusir dengan jeritan feminis. (Penulis mohon dengan sangat, jangan dibayangkan).
“Ada apa Shaven?” tanya Dippy tenang.
“Ada Tukul Arwana!!”
“Tukul Arwana?”
“Bukan! Ada lumba-lumba!!”
“Lumba-lumba?”
“Bu-bukan… apa sih nama binatang ini…”
“Binatang?”
“Iyah! Yang ada sayapnya!”
“Binatang bersayap? Ayam kali?”
“Ayam?! Bukan! Ini sejenis burung!”
“Ayam juga burung!”
“Masa sih?”
“Unggas itu!”
“Oh iya, bener juga yah. Ayam termasuk bangsa burung.”
“Iya. Ayam termasuk unggas.”
“…”
“…”
“…”
“…”
“KENAPA YANG DIBAHAS MALAH AYAM!!!” jerit Shaven gemas. “INI LHOOOO!!!”
“Ha?”
“Ini lho!! Binatang apa ini!!”
Dengan malas Dippy beranjak dari tidurnya dan menengok ke arah yang ditunjuk Shaven. Si jayus itu sedang duduk di pojokan berselimut jaket buluk milik Dippy dan menunjuk ke sebuah arah dengan getaran genit (sekali lagi penulis mohon, adegan yang sedikit feminin dan lumayan memalukan ini tidak usah diingat-ingat apalagi diperbincangkan di kemudian hari. Please. I beg of you. Forget about it!).
“Lah, kalo itu mah cuma burung hantu!”
“Burung hantu?”
“Iya, kalo di dunia Muggle mungkin namanya kurir. Jasa pengiriman surat gitu.”
“Kenapa repot-repot? Kan ada email?”
“Email?”
“Iyah. Surat elektronik. E-Mail. Paham?”
“Email bukannya pelawak?”
“ITU KIWIL!!”
“Oh, lain yah?”
“…”
“…”
Garing.
“Kalo burung hantu di tempat kita, biasanya nganterin surat ato koran.” Lanjut Dippy. “Jangan lupa dibayar dulu jasa antarnya.”
“Lah?” protes Shaven. “Kok bayar?”
“Namanya juga jasa pengiriman.”
“Yah. Dunia sihir masih pake bayar-bayar juga yah.”
“Idih. Lha kamu pikir semua gratis? Ke laut aja! Semua ada ongkosnya, mas! UUD! Ujung-ujungnya dawet! Eh salah… Ujung-ujungnya duit! Cari duit di kantongku.”
“Hrr… ini jaket bulukan isinya kantong semua.”
“Baiklah aku tawarkan. Mau kantong yang sebelah kanan atau kantong yang sebelah kiri?”
“Err… kanan?”
“Bener?”
“Err… bener?”
“Baik! Kalau begitu aku tawarkan lagi yang lain, mau kantong sebelah kanan atau tirai nomor satu?”
“…”
“…”
“EMANGNYA INI SUPERDEAL??” protes Shaven.
“Oh? Salah lagi yah?” Jawab Dippy sambil melongo.
“…”
“…”
Garing.
Setelah merogoh-rogoh kantong yang isinya kunci-kunci, benang, kantong teh instan, mie rebus instan, becak, bajaj, kancil, busway dan kapal feri, akhirnya Shaven menemukan beberapa uang receh yang bentuknya aneh.
“Kasih dia lima kepeng.” Kata Dippy.
“Kepeng?”
“Err… maksudnya lima Knuts.” Ralat Dippy. “Kalo pake duit kepeng entar dikira cerita jaman majapahit yah.”
“Knuts?” Shaven masih belum mengerti.
“Duit itu, alah yang warnanya rada-rada kuning agak kecilan.”
“Owh, yang ini.”
Setelah Shaven memberikan uang kepada burung hantu kurir yang kemudian membubuhkan tanda-tangan di nota pembayaran, burung itupun terbang melalui jendela yang terbuka.
“Sebaiknya bersiap-siap, Shaven! Banyak yang harus kita kerjakan hari ini. Aku yakin Hagrid dan Harry juga sedang pergi berbelanja.”
“Belanja, Dippy?”
“Iyalah! Kita pergi ke London untuk membeli semua barang-barang kebutuhan sekolahmu di Hogwarts nanti.”
“Err… ta-tapi…”
“Tatapi apa?”
“Tapi aku tidak punya uang sepeserpun.”
“Hm.” Gumam Dippy sambil memakai sepatu bootnya yang tinggi. “Coba ulangi.”
“Aku tidak punya uang sepeserpun, dan aku tidak berminat meminta uang pada ayah dan ibu angkatku! Mereka memang baik, terlalu baik malah! Tapi mereka saat ini tidak punya uang yang banyak dan…”
“Jangan khawatir, Terpot muda.” Kata Dippy. Dia berdiri tegak sambil mengelus-elus kepalanya yang gundul. “Kamu pikir Aragorn dan Arwen Terpot belum bersiap-siap untuk menangani masalah segenting ini? Lagipula aku juga tidak keberatan kalau kamu pinjem ke aku barang satu dua kepeng… hayah, lupa lagi! Masa pake kepeng.”
“Lah? Bukannya rumah orangtuaku hancur saat…”
“Mereka tidak pernah menyimpan duit mereka di rumah. Hari gini, nyimpen duit di celengan? Bukan, langkah pertama kita adalah mengunjungi Gringotts. Bank para penyihir. Nah, tentunya langkah kedua kita adalah mampir ke warung donat untuk sarapan.”
“Sebentar-sebentar…” Shaven mengernyitkan dahi. “Penyihir punya bank?”
“Satu-satunya.” Angguk Dippy. “Pegawainya Goblin semua.”
“Goblin?”
“Iya — hanya orang gila yang berani merampok bank para goblin! Jangan pernah berurusan dengan para goblin, Shaven. Gringotts mungkin tempat teraman untuk menyimpan sesuatu (selain Hogwarts tentunya), tapi goblin tetap goblin. Ah, untung inget, aku juga harus mengambil sesuatu di brankas Gringotts untuk Dumbledore. Urusan Hogwarts.”
Kemudian Shaven mengikuti Dippy pergi meninggalkan kawasan mengerikan berbatu terjal itu. Langit sangat cerah dan air berkilauan ditimpa sinar cahaya mentari. Perahu Paman Vernon yang kemaren disewa masih ada di pinggir pantai. Perahu itu hampir tenggelam karena air yang masuk ke dalam perahu saat hujan lebat dan badai kemarin hari.
“Lah!! Kok kamu bisa nyampe ke sini? Naik apa?” tanya Shaven sambil mencari-cari perahu lain. “Pan perahunya cuman satu? Si Harry sama Hagrid naik apa pula?”
“Mereka naik perahu. Kalo aku kemarin terbang.” Jawab Dippy santai.
“Ter-terbang?”
“Iya.”
“Kayak Superman?”
“Euh… siapa?”
“Superman?”
“Tidak. Aku tidak terbang seperti Si Parman.”
“…”
“…”
“…”
Garing.
“Pokoknya aku ke sini terbang. Titik. Hum… walaupun sebenarnya itu rahasia.” Kata Dippy. Ia lalu berbisik pada Shaven. “Tidak seharusnya aku menggunakan sihir secara sembrono seperti tadi malam. Jangan bilang sapa-sapa yah.”
Shaven mengangguk. Mereka berdua mengayuh dayung hingga satu dua pulau pun terlampaui (hayah!). Pokoknya mereka berdua sedang meninggalkan gubuk derita dengan menggunakan perahu. Tapi kalo perahunya cuma ada satu, bagaimana Harry dan Hagrid meninggalkan pulau? Pokoknya kalo ada sihir, semua urusan jadi beresss! Jadi gak usah khawatir.
“Kenapa hanya orang gila yang berani merampok bank Gringotts?” tanya Shaven mencoba memulai percakapan.
“Mantera sihir kelas wahid.” Jawab Dippy. “Katanya ada seekor racoon yang menjaga ruangan besi yang memiliki pengamanan ekstra ketat. Pokoknya Bank Gringotts aman. Bank ini terletak ratusan mil di bawah London. Jauh sekali di dalam tanah, siapa yang mau repot-repot ngerampok?”
“Euh… yakin yang menjaga racoon?”
“Rac… hmm…” Dippy mencoba mengingat-ingat. “Racoon apa naga yah?”
“Kayaknya naga deh, abis kalo racoon kan gak ada serem-seremnya?”
“Hmm… iya. Naga. Euh… naga apa lutung yah?”
“Hnn!”
Percakapan garing itu tidak berlangsung lama karena Dippy kembali tenggelam membaca suratkabarnya. “Kementerian sihir kacau lagi, kayak biasanya.” Gumam Dippy sambil membalik halaman. “Mereka sedang merancang undang-undang anti pornografi dan pornoaksi.”
“Ada yang namanya Kementerian Sihir?”
“Oh iya! Ada!” kata Dippy. “Dulu sebenarnya saya yang dicalonkan menjadi menteri.”
“Begitu?” entah kenapa Shaven sulit percaya.
“…”
“…”
“Ok, ok! Sebenarnya Dumbledore yang dipercaya mendapatkan jabatan itu, tapi dia menolak karena sudah terlanjur betah di Hogwarts dan akhirnya jabatan itu kini dipegang Corneyus Fudge atau biasa kami panggil ‘Bang Yus’.”
“Ok, Lalu apa yang sebenarnya dilakukan kementerian sihir?”
“Yah, kerja mereka antara lain memastikan agar keberadaan kaum kita tetap tersembunyi dari para Muggles.”
“Kenapa kok sembunyi?”
“Lah, kalo gak sembunyi banyak kaum Muggles yang akan minta bantuan kita! Cape’ deh!”
“Kan bisa dijadiin duit?”
“Itu mah kerjaan dukun!”
Saat itu perahu mereka akhirnya sampai di dermaga. Dippy melipat korannya dan mereka naik ke jalan. Jalan itu ternyata jalan menuju stasiun kereta api. Beberapa orang yang lewat di jalan itu terheran-heran melihat Dippy. Tidak biasanya mereka menemui tiang listrik pake jaket & bawa-bawa koran, hihihi…
“Dippy, kamu bilang tadi ada naga di Gringotts?” tanya Shaven antusias.
“Gosipnya sih.” Kata Dippy. “Tapi aku suka naga lho, jangan salah.”
“Kamu suka naga?”
“Iyah. Sekarang aja aku bawa satu di kantong.”
“Buset!”
“Beneran!”
“Mana lihat sini!” Shaven melongok-longok ke kantong Dippy.
Dippy mengeluarkan gadget kecil dari kantongnya. Mirip seperti mainan, warnanya ijo. Dengan bangga Dippy memencet-mencet tombol dan seekor naga digital berwajah imut pun bangun di monitor kecil alat itu. Tat tit tut tat tit tut.
“Ini nih, nagaku. Namanya Tam-tam. Lucu yah? Lama lho miaranya. Dari mulai telur…”
“Err… Dippy.”
“Iya?”
“KALO YANG INI MAH NAMANYA TAMAGOTCHI!! INI MAINAN JAMAN KERETA KAYU!!”
“He?”
Shaven geleng-geleng kepala.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Akhirnya, sampailah dua makhluk ganjil yang tampil sebagai tokoh utama serial ini di stasiun kereta api tut tut tut siapa hendak turut ke Bandung Surabaya. Menurut Dippy, ada kereta api menuju London yang akan datang lima menit lagi. Dasar Dippy pelit, Shaven terpaksa nombok buat perjalanan itu. Uhh, sebel deh.
Orang-orang memperhatikan mereka berdua. Kemanapun Shaven dan Dippy berjalan selalu diikuti oleh lirikan banyak orang. Bukan apa-apa, abis dua orang ini kok pantas banget jadi copet. Mereka takut aja dompet mereka dijambret. Dippy duduk di kursi dengan santai.
“Suratmu belum ilang kan, Shaven?” tanya Dippy.
Shaven menggeleng dan mengeluarkan amplop perkamen dari kantongnya. Iya, yang kemaren.
“Bagooss!!” kata Dippy sambil mengacungkan dua jempol ala Indy Barends. “Ada daftar barang-barang yang nanti dibutuhkan.”
Shaven membuka kertas kedua yang terlipat. Dia tidak memperhatikan surat itu malam sebelumnya, dan membaca:
------------------------------------------------------------------
HOGWARTS SCHOOL of WITCHCRAFT and WIZARDRY
------------------------------------------------------------------
SERAGAM
Murid kelas satu diharapkan memiliki:
1. Tiga set baju kerja yang biasa-biasa saja. Inget, biasa-biasa aja lho! Perhatian untuk murid baru bernama Shaven Terpot: Koteka bukan baju biasa dan tidak diperkenankan dipakai di Hogwarts! Ya, kami tau rencana busukmu itu!
2. Topi hitam lancip khas penyihir. Kenapa pake topi lancip? Soalnya kalo pake caping ntar dikira petani bukan penyihir. Hihihi… ehm… sori. Garing.
3. Sepasang sarung tangan. Hmm… omong-omong soal sarung tangan nih, kenapa yah, Miki Mouse pake sarung tangan? Kan aneh? Kadang-kadang Miki itu cuma pake celana merah, sepatu sama sarung tangan doang. Lha bajunya manaaa? Manaaa? Manaaa ekspresinyaaaa? Hihihi… ehm… sori lagi. Lebih garing.
4. Mantel penyihir.
5. Oh iya, mumpung inget: satu mantel ujan buat melindungi diri dari ujan.
6. Payung, sapa tau ujannya deres.
7. Mantel penyihir cadangan. Sapa tau yang satu basah kena ujan.
8. Celana kolor. Don’t ask. Pokoknya gak ada hubungannya sama ujan.
9. Topi hitam lancip ala… eh di atas udah ada yah?
10. Celana kolor cadangan. Believe me. Don’t ask.
Catatan tambahan, buat anak baru yang merasa dirinya manis dan belum punya pacar silahkan hubungi nomor HP berikut kalo ingin berkenal… eh salah… untuk murid-murid baru, dipersilahkan pake name tags di bajunya.
BUKU-BUKU PELAJARAN
Para murid diharapkan untuk memiliki buku-buku berikut ini:
1. ‘The Standard Book of Spells (Grade 1)’ oleh Miranda Goshawk
2. ‘A History of Magic’ oleh Bathilda Bagshot
3. ‘Magical Theory’ oleh Adalbert Waffling
4. ‘A Beginners' Guide to Transfiguration’ oleh Emetic Switch
5. ‘One Thousand Magical Herbs and Fungi’ oleh Phyllida Spore
6. ‘Magical Drafts and Potions’ oleh Arsenius Jigger
7. ‘Fantastic Beasts and Where to Find Them’ oleh Newt Scamander
8. ‘The Dark Forces: A Guide to Self-Protection’ oleh Quentin Trimble
9. ‘The Manual of Perfected Spells (Pedoman EYD) oleh JS Badada
10. ‘Silent Please’ oleh Tukuly Arwanas.
PERLENGKAPAN LAIN
Untuk perlengkapan lainnya, para murid dipersilahkan membaca buku ‘Harry Potter & The Sorcerer’s Stone’. Hihihi… males nih nulis ulang.
Oh iya. Para murid dipersilahkan membawa binatang-binatang yang ada kaitannya dengan dunia sihir menyihir kita yah! Boleh burung hantu, kucing, katak ato terserahlah apa, pokoknya kesannya magis. Perhatian untuk murid baru bernama Shaven Terpot: ayam milik tetangga sebaiknya jangan ikut dibawa, apalagi yang udah digoreng. Ya, kami juga tahu rencana busuk yang ini! Jangan ambil punya tetangga! Itu namanya nyolong!!
PERINGATAN UNTUK PARA ORANG TUA: ANAK-ANAK KELAS SATU TIDAK DIPERKENANKAN MENIRU ADEGAN SMACKDOWN… eh salah… MAKSUDNYA BELUM DIPERKENANKAN MEMBAWA SAPU TERBANG MEREKA SENDIRI.
“Lah! Bujubune! Apa-apaan ini?! Mak! Apa barang-barang yang kayak ginian bisa dicari di London?” tanya Shaven hampir pingsan lihat daftar yang absurd itu. “Mungkin bisa kita cari yang agak murah di E-Bay?”
“Semuanya ada di London.” Jawab Dippy.
Jangankan toko-toko di London, Shaven pergi ke pasar sebelah kampung aja jarang. Meskipun tahu arah mana yang dituju, sepertinya Dippy belum terbiasa pergi ke tempat tujuan itu dengan menggunakan kendaraan umum dan cara yang dilalui oleh orang biasa. Belum lagi sewaktu Dippy terjebak di antrian WC umum dan memprotes keras kebijakan air hemat di WC tersebut.
“Aku bingung bagaimana caranya kaum Muggle bertahan tanpa menggunakan sihir.” Kata Dippy sambil mengelus-elus perut yang makin lama makin mules. Ini salahnya sendiri juga sih, makan mie ayam satu mangkok tapi lomboknya 20 biji.
Setelah mengantri di WC, salah masuk ke pemandian air panas, keliru belok di gang buntu dan tersesat di kawasan desa Sukamaju, akhirnya Shaven dan Dippy sampai di sebuah gang kotor di tengah kota London. Hanya jalan biasa saja. Shaven sempat ragu-ragu apa di sini ada toko yang menjual peralatan sihir ato tidak. Kalo peralatan pramuka sih Shaven liat ada di pojokan.
“Ini nih!” kata Duippy sumringah sambil menunjuk sebuah toko. “Ini namanya Leaky Cauldron. Tempat yang sangat terkenal di kalangan kita.”
Sebuah pub kecil dan sedikit terlihat kotor. Kalo tidak diantar oleh Dippy, Shaven pasti mengira tempat ini semacam lokasi pembuangan sampah. Tidak ada satu orangpun yang melewati jalan itu memperhatikan pub ini. Bukan karena sihir ato apa. Baunya itu lho! Tak sempat Shaven terpesona oleh kekumuhan lokasi ini, dia sudah diseret masuk ke dalam oleh Dippy.
Untuk sebuah tempat yang terkenal, suasananya sangat gelap dan lumayan kumuh. Beberapa wanita tua duduk di pojokan dan bergosip kesana kemari sambil minum teh hijau. Seorang pria dengan topi tinggi bercakap-cakap dengan sang bartender yang berkepala botak dan mirip berang-berang (mohon jangan dibayangkan). Suara percakapan langsung terhenti saat Shaven dan Dippy melangkah masuk. Beberapa di antara mereka nampak mengenali Dippy. Mereka tersenyum dan memberi salam. Bahkan sang bartender meraih gelas dan langsung menawarkan minum. “Yang seperti biasanya, Dippy?”
“Sori, Bos, ini masih jam kerja.” Tolak Dippy. Dia menepuk pundak Shaven dengan bangga. “Ini adalah Shav~…”
“Onde monde! Dippy!” sang bartender melongo dan menatap ke arah Shaven tak percaya. “I-ini… mungkinkah anak ini…”
Leaky Cauldron langsung senyap.
“Sungguh sebuah berkah tiada terkira!” bisik si bartender uzur. “Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda, Tuan Asterix dari Galia.”
Gubrags!
Shaven dan Dippy langsung terjengkang. Hihihi…
“Bukan, bos! Ini Terpot muda! Shaven Terpot! Dasar dudul!”
Sang bartender meninggalkan barnya dengan buru-buru dan menyalami Shaven sambil meneteskan air mata.
“Selamat datang kembali, Tuan Terpot, selamat datang kembali.”
Shaven tidak tahu harus menjawab apa. Semua orang melirik ke arahnya dengan pandangan aneh. Dippy berseri-seri dan menepuk-nepuk pundak Shaven tanpa henti. Daripada ditepuk, mending dipijitin kek. Begitu kata Shaven dalam hati.
Tiba-tiba semua orang yang berada di Leaky Cauldron langsung bergerak meninggalkan kursi mereka dan memukuli Dippy! Hihihi, emangnya maling ayam? Enggaklah, mereka berebut bersalaman dengan Shaven. Kayak artis-artis sinetron itu lho.
“Sumanto, Tuan Terpot. Saya tidak membayangkan akhirnya bisa bertemu dengan anda.”
“Bangga sekali, Tuan Terpot. Sangat bangga. Yakin anda bukan Asterix?”
“Saya ingin sekali bersalaman dengan anda – duh saya gugup. Lho… kok malah ngompol yah?”
“Bahagia. Bahagia sekali, Tuan Terpot. Tidak ada kata-kata yang… nama saya Gamgee. Sammy Gamgee.”
“He! Aku pernah liat kamu sebelumnya” seru Shaven. Saat itu juga topi Sammy Gamgee jatuh ke lantai saking senengnya. “Aku lupa dimana tapi pokoknya kita pernah ketemu deh!”
“Dia ingat! Horeeee! Kalian dengar itu! Dia ingat pernah ketemu sama aku!!!” Sammy Gamgee lonjak-lonjak kegirangan. Dia memutari Leaky Cauldron seperti kesetanan. Shaven tidak henti-hentinya menyalami setiap orang. Ada Nenek Bebek, Desi Bebek, Agus Angsa, Lang Ling Lung, Koko dan Kiki, yah sebutkan semua karakter dari album Donal Bebek, mereka semua ada (bagi pihak yang menangani royalti tokoh Disney… penulis mohon maaf! Ampun! Ampuuun!! Ini kan cuma fanfic!).
Seorang pria muda berwajah keras dan memiliki kulit kusam berwarna abu-abu mendekati Shaven dan DIppy dengan sangat gugup. Penampilannya aneh, tidak bisa dibedakan antara orang ini dan kardus pasta gigi.
“Nah, nah! Siapa nih? Profesor Kirun!” jerit Dippy genit (halah!). “Shaven, ini adalah Profesor Kirun. Salah seorang guru di Hogwarts.”
“Tuan Terpot.” Kata Profesor Kirun sambil menyalami Shaven. Kata-katanya berat dan aneh, seperti ada jauh di ujung WC. “Tidak bisa dikatakan betapa bangganya saya berjumpa dengan anda.”
“Sihir apa yang anda ajarkan, Profesor Kirun?”
“Ludruk dan Ketoprak.” Gumam Profesor Kirun sedikit malu. “Saya mengajarkan kesenian ludruk dan ketoprak di Hogwarts. Walaupun sepertinya anda tidak begitu membutuhkan kemampuan dalam kesenian itu, wahai Terpot?”
“Err…” belum sempat Shaven menjawab, Profesor Kirun menyambar lagi.
“Kalian mau berbelanja? Saya sendiri mesti beli beberapa buku ketoprak dan dampaknya terhadap ekosistem dan geologi.”
Tapi pengunjung Leaky Cauldron yang lain tidak membiarkan Profesor Kirun mendominasi percakapan dengan Shaven Terpot yang mendadak tenar itu. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk membukakan jalan bagi Shaven melewati mereka semua.
“Harus cepat-cepat – banyak yang harus dibeli, ayo Shaven!” kata Dippy.
Sammy Gamgee menyalami Shaven untuk terakhir kali dan bersumpah tidak akan mencuci tangannya. Menurut penulis itu ide yang sangat jorok. Dippy membawa Shaven melalui pintu di belakang meja bar dan keluar ke arah halaman belakang yang sempit. Tidak ada apa-apa disana kecuali sampah dan rumput liar di tengah halaman bertembok.
Dippy tersenyum pada Shaven. “Sudah kubilang kan, kalian sudah terkenal bahkan sebelum kalian dikenal. Bahkan Profesor Kirun sendiri gugup berjumpa denganmu.”
“Kenapa kulitnya berwarna abu-abu kusam?”
“Ah itu. Yah. Laki-laki malang. Dia dulu seorang pria yang cerdas dan ceria. Suatu ketika dia berjalan-jalan ke Black Forest, hutan di dekat Hogwarts dan entah bagaimana dia menghilang selama berminggu-minggu. Saat ditemukan oleh Hagrid, kulitnya sudah abu-abu gitu. Au ah. Mana tadi payungku yah?”
Dippy lalu sibuk menghitung bata di tembok di atas kotak sampah. Dippy bergumam sendirian. “Tiga ke atas, dua menyamping. Awas, Shaven. Mundur dikit.”
Put. Put. Put.
Dippy mengetuk tembok itu tiga kali dengan ujung payungnya.
Tembok yang diketuknya bergetar – bergeliang geliut dan akhirnya, di tengah-tengahnya, muncul lubang kecil yang makin lama makin membesar dan terus membesar. Sesaat kemudian mereka sudah berada di sebuah jalan besar yang ramai di tengah sebuah kota. Ini jelas bukan London. Atau ini London? Shaven terkagum-kagum.
“Welcome.” Kata Dippy sambil tersenyum. “to Jurassic Park.”
“…”
“…”
“…”
Dippy membolak-balik naskah cerita. “Mohon maap bapak penulis. Boleh diulang lagi kata-kata saya? Tadi itu skenario cerita yang lain.”
Penulis mengangguk dengan geram.
Baiklah, kita ulangi.
Sesaat kemudian mereka sudah berada di sebuah jalan besar yang ramai di tengah sebuah kota. Ini jelas bukan London. Atau ini London? Shaven terkagum-kagum.
“Shaven-boy, selamat datang.” Kata Dippy sambil tersenyum. “di Diagon Alley.”
Shaven sudah terbengong-bengong sejak tadi. Dippy meringis aja. Mereka berdua menyusuri jalanan, sementara di belakang mereka, tembok yang tadi melebur kembali terbentuk menjadi dinding kokoh.
Matahari bersinar terang di Diagon Alley. Toko demi toko dilewati oleh Dippy dan Shaven. Mereka juga melewati sebuah toko yang menjual tongkat sihir. ‘Jual Tongkat – Segala Macam Tongkat – Tongkat Sihir, Tongkat Penggebuk Anjing, Tongkat Kornelius (itu sih Okan! Dudul!) dan lain-lain’.
“Yoi coi, nanti kita beli satu.” Kata Dippy. “Tentunya kita harus beli celana kolor pula. Tapi sekarang yang penting kita harus mengambil uang dulu di bank.”
Shaven seperti orang ‘ndeso’ di tempat itu. Kepalanya terus berpuyar-putar karena terheran-heran menyaksikan semua keanehan di tempat ini. toko-tokonya, barnag yasdg meraek juaasl… alksdjas laskdja aslkdj…
“…” Shaven terdiam.
“…” Dippy juga.
“Ada apa dengan penulis?” tanya Shaven. “Kok ketikannya ngaco?”
“Sstt… dia juga lagi terpesona sama tempat ini. Kalo soal ‘ndeso’, dia juga sama aja kayak kamu… udah yuk… jangan digangguin, ntar ngamuk-ngamuk.”
“Ah masa sih?”
“Yah, kalo bukan itu, paling alasannya keyboardnya lagi error.”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baiklah. Saya sudah siap lagi.
Shaven seperti orang ‘ndeso’ di tempat itu. Kepalanya terus berpuyar-putar karena terheran-heran menyaksikan semua keanehan di tempat ini. Toko-tokonya, barang yang mereka jual, penjualnya, yang membeli, yang lihat-lihat barang yang dijual, yang tidak jadi beli, yang dimarahi gara-gara gak jadi beli, semuanya aneh dan baru bagi Shaven.
Seorang wanita gemuk yang baru keluar dari sebuah toko melintas di depan mereka sambil bersungut-sungut, “Hati naga kok jualnya 17 Sickles per ons. Enak ajah. Emangnya ini Indonesia? Penjualnya gila…”
Suara-suara aneh keluar dari sebuah toko yang bertanda ‘The Sims Pets Emporium – Dari Ulat Bulu Sampai Gajah Biru’. Beberapa remaja seusia Shaven menempelkan hidung di depan sebuah toko yang memajang setangkai sapu di jendela display.
“Wow, wow. Lihat itu!” salah seorang dari mereka menunjuk ke dalam toko. “Itu Nimbus 2000 yang baru. Sapu yang tercepat yang pernah diciptakan.”
Ada toko yang menjual jubah, teleskop, peralatan perak, tungku, ceret, ban bekas, pulsa telepon dan macam-macam lainnya. Shaven celingukan melihat kesana-kemari dengan perasaan berbunga. Luar biasa. Sangat luar biasa.
"Gringotts." Kata Dippy.
Sampailah mereka di sebuah gedung berwarna putih yang menjulang tinggi. Lebih tinggi dibanding toko-toko lain. Di samping pintunya yang berlapis perunggu, berdirilah sesosok makhluk dengan seragam merah emas.
“I-itu…” tunjuk Shaven terheran-heran.
“Iya. Itu goblin.” Bisik Dippy saat mereka mendekati gedung itu. Sang goblin bertubuh lebih pendek dari Shaven. Wajahnya kehitaman dan nampak sangat cerdas. Mereka memiliki jenggot yang panjang meruncing dan tangan serta kaki yang amat panjang. Sang goblin membungkuk memberi hormat saat Shaven dan Dippy masuk ke dalam. Mereka menemui satu pintu lagi berwarna perak. Di pintu itu terukir kata-kata:
“Enter, stranger, but take heed
Of what awaits the sin of greed,
For those who take, but do not earn,
Must pay most dearly in their turn.
So if you seek beneath our floors
A treasure that was never yours,
Thief, you have been warned, beware
Of finding more than treasure there.”
Yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dippy sebagai berikut:
“Ke Rawabelong,
atau ke Ancol?
Berani nyolong?
Kepala benjol!”
“Kalo aku, biar diupah lima ratus perak tetep gak mau nyolong di sini.” Kata Shaven.
“Kalo diupah dua milyar?” tantang Dippy.
“Kalo dua milyar ya nyolong. Sapa yang gak mau dua milyar?”
“Hnn… wong edyan! Tapi seperti yang pernah aku bilang, hanya orang gila yang berani merampok tempat ini.” kata Dippy.
Sepasang goblin membungkuk memberi hormat saat Shaven dan Dippy masuk melewati pintu berwarna perak. Begitu masuk ke dalam, Shaven langsung terpukau. Lobi bank ini adalah sebuah ruangan luas yang dilapisi oleh marmer. Sekitar seratus goblin duduk berjajar di kursi di belakang meja kasir yang amat panjang, sibuk menulis dan mencatat transaksi di buku kas besar, menimbang koin di timbangan kuningan dan memeriksa batu berharga dengan kacamata tebal mereka. Di kanan kiri tembok banyak pohon cemara… eh salah, banyak pintu menuju entah kemana sementara beberapa orang goblin (orang ato ekor yah?) sibuk mengantar orang-orang keluar masuk pintu-pintu itu.
“Selamat pagi.” Kata Dippy pada salah satu goblin yang menjadi teller. “Kami datang untuk mengambil uang atas nama Tuan Shaven Terpot.”
“Anda membawa kuncinya?”
“Ada! Ada!” Dippy merogoh kantongnya, lalu mengambil dompet dan menuang isinya ke atas meja counter si goblin. Langsung saja, dua ekor tikus, lima ekor jerapah dan tujuh ekor orangutan melesat keluar dari dompet dan mencari nafas. Entah sejak kapan mereka terjebak di dalam dompet si Dippy yang jauh dari kata ‘nyaman’. Si goblin mengernyit marah.
Akhirnya sebuah benda kecil berwarna emas jatuh. “Hahaha! Ketemuu!!”
Sang goblin melihat dengan seksama. “Betul. Ini kunci dari sini.”
“Ada lagi!” kata Dippy. “Aku membawa surat dari Profesor Dumbledore. Ini menyangkut Penyihir-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut-Kecuali-Keceplosan di lemari besi nomor 713 dan 313.”
Sang goblin mempelajari surat yang kemudian diberikan oleh Dippy. “Baiklah.” Katanya. “Ruangan nomor 713 telah dibuka dan diambil isinya oleh makhluk griwut-griwut yang juga diutus oleh Profesor Dumbledore yang bernama Kermit. “
“Kermit?” Shaven dan Dippy saling berpandangan.
“Iyah. Namanya Rumus Kermit.”
“Rumus Kermit?” Dippy menggaruk-garuk kepala. “Rubeus Hagrid, kali?”
“Eh iya! Rubeus Hagrid!”
Shaven pun bengong. Buset dah, ini goblin kacau juga.
“Akan aku panggilkan rekan yang akan mengantarkan kalian ke ruangan yang dimaksud. Sayuti! Sayuti! Kemari kau!”
Tentunya Sayuti adalah nama goblin yang lain lagi. Setelah memasukkan semua barang ke dalam kantong jaket, Dippy dan Shaven mengikuti Sayuti memasuki sebuah pintu di samping lobi utama.
“Apa yang disimpan oleh si-itu-tuh di lemari besi nomor 313?” tanya Shaven.
“Waduh, aku tidak boleh menyebar rahasia.” Jawab Dippy sok misterius. “Rahasia perusahaan nomor wahid. Urusan orang tua, Shaven. Anak kecil gak boleh tau. Aku bisa disihir jadi lumba-lumba kalo sampe ngasih tau orang apa yang ada di dalam sana.”
Sayuti memegang pintu untuk mereka berdua. Shaven yang tidak tahu apa yang ada di balik pintu menjadi terkejut. Sangat terkejut. Di belakang pintu ternyata terdapat jalan setapak yang menuju ke arah perut bumi. Di ujung jalan terdapat rel kereta yang terhampar jauh entah kemana. Sayuti bersiul dan dengan sekejap sebuah kereta kecil mendatangi mereka.
“Yakin, ini bukan Dufan?” tanya Shaven.
Shaven, Dippy dan Sayuti masuk ke dalam kereta kecil itu, dan wuzzzz… pergilah mereka.
Saat mengendarai kereta ini, Shaven jadi teringat kereta kancil yang biasa ia naiki di pasar malam. Mirip. Lumayan bikin mabuk juga. Bocah jayus itu lumayan terheran-heran, soalnya kereta ini bergerak sendiri dengan kecepatan tinggi menuju entah kemana. Kecepatannya bikin mules. Udah untung Shaven nggak ngompol, tapi Dippy yang berpegangan erat pada ujung kereta sepertinya sudah kentat-kentut sejak pertama kali berangkat.
Shaven melihat-lihat kesana kemari, takjub. Beberapa kali dia sempat melihat semburan api di sela-sela bebatuan. Apakah itu semburan api seekor naga? Entahlah, soalnya di dalam sini Shaven juga melihat ada beberapa goblin yang jualan jagung bakar.
“Aku selalu bertanya-tanya.” Kata Shaven sedikit berteriak. Ia mengajak Dippy berbicara di tengah riuhnya suara kereta. “Apa bedanya jagung manis dan jagung biasa?”
“Emangnya gue pikirin?” jawab Dippy yang wajahnya sedikit berwarna kehijauan. Mungkin dia mabuk. “Jangan nanya yang aneh-aneh! Aku… hoeeeekkkkhhh!!”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Setelah perjalanan jauh, kereta yang dinaiki Shaven, Dippy dan Sayuti akhirnya berhenti di sebuah tempat di mana terdapat sebuah pintu kecil di sisi tembok lintasan. Setelah turun, Dippy langsung lari dan mencium tanah.
“Aku selamaaat! Aku selamaaat! Aku selamaaaaaaattt! Huhuhuhu… hoeekkkhhh!!”
Shaven dan Sayuti, sementara itu, sibuk membersihkan kereta dari muntahan Dippy.
Tak lama kemudian Sayuti membuka pintu kecil yang terdapat di tembok. Begitu dibuka, asap berwarna kehijauan langsung menyeruak keluar. Walaupun apek, tapi masih jauh lebih harum dari bau kentut si Dippy. Saat asap itu hilang, Shaven terkesiap. Di dalamnya terdapat tumpukan uang emas, koin, perak, perhiasan, timbunan knuts, buku Lords of The Rings, koleksi DVD porno punya Aragorn dan sepeda motor yang belum lunas kreditannya.
“I-ini semua punya siapa?” tanya Shaven tergagap melihat uang melimpah ruah.
“Paman Gober.” Jawab Sayuti. “Ini gudang uangnya.”
“…”
“…”
Shaven dan Dippy langsung melirik ke arah Sayuti.
“Kenapa? Emangnya goblin ndak mboleh mbecanda?” kata Sayuti nginyem.
“Semua ini milikmu, Shaven.” Kata Dippy sambil tersenyum.
Semua milik Shaven. Mengagumkan. Amazing. Ajaib. Walaupun tidak pernah mengeluh dan hidup sederhana, keluarga Mr. dan Mrs. Ganno tentunya akan lebih bahagia kalau Shaven bisa menghadiahi sesuatu untuk membalas jasa mereka. Ia tidak tahu kalau ia diberkahi dengan harta sebanyak ini. Dalam hati Shaven sudah berencana mengajak orangtua angkatnya makan di restoran. Sudah terlalu lama mereka cuma makan mie instan.
Dippy membantu Shaven memasukkan sebagian tumpukan uang ke dalam tas. “Yang emas namanya Galleon.” Kata Dippy menerangkan. “17 Sickles perak sama dengan 1 Galleon dan 29 Knuts sama dengan 1 Sickle. Mudah kan? Oke, segitu dulu aja. Udah cukup kalo cuma buat membeli Indonesia. Kita akan segera ke… hoeekkkhhhh!!”
Shaven dan Sayuti mundur menghindari muntahan Dippy. Untung Sayuti tadi bawa balsem. Dioles-oleslah perut Dippy supaya hangat.
Dippy berpaling ke Sayuti. “Sekarang ke ruang nomor 313. Saya mohon deh, bisa lebih pelan sedikit keretanya?”
“Maaf. Jalur lambatnya sedang diperbaiki, dipersiapkan untuk mbusway. Kita mau ndak mau musti kudu menggunakan kereta nyang ini.” jawab Sayuti.
Ruang 313 ternyata jauh lebih dalam daripada ruang penyimpanan harta keluarga Terpot. Udara menjadi makin dingin dan sesak saat kereta yang mereka kendarai makin masuk ke perut bumi. Udah gitu si Dippy berulang kali kentut, menambah semaraknya suasana perjalanan ini.
Setelah tersiksa, sampailah mereka di kamar penyimpan nomor 313.
Ruangan penyimpan nomor 313 tidak memiliki lubang kunci. Ada WC di sebelahnya, tapi tidak ada lubang kunci.
“Saya mohon mundur sedikit.” Kata Sayuti. Dia menowel pintu itu dengan genit dengan jemarinya yang lentik (jangan dibayangkan) dan perlahan pintu itu melebur dengan ajaib. “Seandainya bukan goblin dari Gringotts yang melakukan hal itu, maka si maling akan tersedot oleh si pintu dan terjebak di ndalam.”
“Seberapa sering kalian memeriksa ada tidaknya seseorang di dalam?” tanya Shaven.
“Oh, cuman sekali tiap sepuluh tahun. Itu juga kalo inget.” Jawab Sayuti sambil cengengesan.
Mestinya ada sesuatu yang menakjubkan di balik ruangan berkeamanan luar biasa ini, begitu pikir Shaven. Tapi ternyata Dippy hanya mengambil bungkusan kecil dengan beberapa surat dari kulit lumpia yang tergeletak begitu saja di tanah. Tidak nampak berharga sama sekali. Dippy menyimpan bungkusan itu di dalam kantong jaketnya. Shaven penasaran dan ingin bertanya apakah itu kado valentine untuk seseorang yang disayangi, tapi rasanya pertanyaan itu terlalu jayus.
“Cape deh. Ayo, kita balik pake kereta. Omong-omong, Sayuti, aku sangat tidak setuju dengan penggunaan kereta ini. Tidak nyaman dan bikin mabok. Aku akan menulis surat yang ketus pada pimpinan Gringotts seandainya sampai nanti malam aku terus menerus mengeluarkan kentut dan… hoeeekkkhhh!!!”
Setelah menempuh satu perjalanan menggunakan kereta lagi, sampailah mereka di dunia atas yang diterangi cahaya mentari dan dipenuhi udara segar. Huaaa… legaaaa! Setelah diserang bertubi-tubi oleh bau kentut Dippy, Shaven dan Sayuti yang mengenakan selang dan tabung oksigen akhirnya bisa bernafas lega.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Shaven dan Dippy meninggalkan Gringotts. Teringat pada uang di tas, Shaven sudah bersiap-siap lari membelanjakan duitnya di warnet sebelum disergap Dippy.
“Sebaiknya mencari seragam untukmu, Shaven.” Kata Dippy. Dia menunjuk ke arah toko ‘Madam Malkin ~ Menjual Jubah Untuk Segala Macam Keperluan’. “Hooeekkkhhh… duh, kayaknya masih mabuk deh. Aku paling benci naik kereta Gringotts. Dengar, Shaven. Aku perlu minum sedikit ‘penyegar’ di Leaky Cauldron. Kamu masuk sendirian ke sana yah. Gak papa kan? Hoeeekkkhhh!!”
“Gpp.”
“Sip. Aku cabs dulu kalo gitu.”
“Oke.”
“Bye.”
“Bye.”
Dengan langkah grogi tapi penuh kegagahan seorang tokoh utama, Shaven melangkah masuk ke toko Madam Malkin.
Madam Malkin adalah seorang penyihir bertubuh pendek dan gemuk yang mengenakan pakaian berwarna lembayung muda. “Hogwarts, sayang?” tanyanya. Shaven mengangguk malu-malu dan Madam Malkin dengan ramah mengajak Shaven ke belakang. “Di sini tempatnya, ada anak baru lain yang juga sedang mengepas jubah. Kalian bisa berkenalan, siapa tahu di Hogwarts jadi teman satu asrama.”
Di bagian belakang toko, seorang bocah berwajah pucat sedang berdiri di atas tempat pijakan kaki sementara seorang penyihir lain sedang memasang jubah hitam panjangnya. Madam Malkin menyuruh Shaven berdiri di samping si bocah lalu memasang jubah penyihir padanya pula.
“Halo.” Sapa si bocah. “Ke Hogwarts juga?”
“Iya.” Jawab Shaven.
“Ayahku ada di toko sebelah sedang godain SPG sedangkan ibuku ada di seberang jalan sedang mencuri telur ayam di warung sembako.”
“…”
“…”
“…”
“Hahaha! Aku becanda, bos! Ayahku sedang mencari buku dan ibuku sedang melihat-lihat tongkat sihir.” Kata si bocah sambil cekikikan. “Aku sih kepengen membeli sapu terbang balap keluaran terbaru. Entah kenapa ada peraturan anak baru tidak boleh memiliki sapu. Aku akan merengek supaya dibelikan dan menyelundupkannya ke Hogwarts. Wekekek.”
Bocah itu mengingatkan Shaven pada Dudley.
Hmm, nggak juga. Bocah itu mengingatkannya pada Gerombolan Siberat.
Hmm, juga bukan.
Shaven langsung teringat pada seekor sapi. Loh? Kok sapi? Gak tau deh, tiba-tiba aja keingetan ma sapi.
“Sudah punya sapu terbang?” tanya sang bocah.
“Belum.” Jawab Shaven. “Tapi di rumah ada sapu ijuk.”
“Sudah pernah main Quidditch?”
“Belum. Apa itu kudis?”
“Idih! Becanda yah! Masa tidak tahu Quidditch? Lalu permainan apa yang pernah dimainkan bersama teman-teman?”
“Err… bola bekel? Lompat tali? Ngisi TTS? Monopoli? Nyolong tebu?”
“Walah. Kakak kacau.”
“Terima kasih. Banyak yang bilang gitu.”
“Kalo kata ayah, aku ini berbakat bermain Quidditch. Seharusnya aku masuk tim utama di asrama nanti. Sudah tahu kakak masuk asrama mana?”
“Belum.”
“Ngg, emang belum ada yang tahu sih kalo belum sampai ke sana, ya kan, tapi aku tahu aku pasti masuk Slytherin. Seluruh keluargaku masuk ke sana. Kalo sampe masuk Hufflepuff, aku pasti minggat, hahaha…”
“Hmmm.” Jayus.
Madam Malkin menepuk-nepuk bahu Shaven dan si bocah untuk memberitahu jubah mereka selesai dipasang. Madam Malkin meninggalkan mereka berdua bercakap-cakap.
“Kadal ketupat kolang kaling!!! Liat ke sana itu!!! Itu orang ato karung kentang?!!” kata sang bocah tiba-tiba sambil menunjuk ke satu arah di luar jendela. Dippy berdiri di arah yang ditunjuk sang bocah. Dippy tersenyum pada Shaven, wajahnya sudah terlihat jauh lebih segar. Sayangnya kalo sedang senyum susah dibedakan mana yang Dippy mana yang ubi rebus.
“Oh, kalo yang itu sih aku tahu. Itu bukan karung kentang. Itu pohon rambutan. Hihihi, bukanlah! Itu yang namanya Dippy. Dippodus Hagrid. Dia kerja di Hogwarts.”
“Oh?” si bocah takjub. “Aku sudah pernah dengar tentang dia. Bukannya dia itu pembantu?”
“Buset! Yang kayak gituan pembantu? Kita bukannya kaya malah tekor kalo yang ginian diekspor jadi TKI!” kata Shaven. Tapi ucapan sang bocah meremehkan Dippy membuat Shaven kurang simpati kepadanya.
“Beneran deh. Kalo yang dari aku denger, dia itu sebangsa manusia purba yang terkena imbas mutasi. Kalo pagi jadi kanibal kalo malem jadi banci prapatan. Tinggal di gubuk di halaman Hogwarts dan rada brutal, sekali dua kali mabuk-mabukan tiga empat kali mabuk beneran. Pernah suatu ketika dia merapal sihir, eh, gubuknya langsung tenggelam ke air. “
“Ha? Tenggelam ke air? Apa dia salah mengucap mantera sihir?”
“Err… bukan. Waktu itu memang lagi musim banjir.”
“Walah.” Shaven menggeleng. “Tapi aku tidak percaya gosip. Dippy orang yang baik kok.”
“Oh begitu?” si bocah tersenyum menghina. “Kok dia bisa pergi sama kamu? Kemana orangtuamu?”
“Mereka sudah menghilang sejak lama. Entah dimana mereka sekarang.” Jawab Shaven. Dia mulai jengah meladeni percakapan si bocah.
“Oih. Sori.” Sahut si bocah. Entah kenapa, ‘Oih. Sori’-nya terdengar seperti ‘Emangnya gue pikirin’. “Yah, pokoknya nanti kita ketemu lagi di Hogwarts, kecuali kalo kamu berasal dari keluarga Muggle, yang aku yakin sepertinya bukan. Mereka yang berasal dari keluarga Muggle tidak pantas masuk ke Hogwarts. Oke deh. Cabut dulu, bos!”
Shaven mengangkat bahu dengan malas. Bocah itu pergi meninggalkan Shaven sendiri.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
“Yo, dude!” sapa Dippy.
“Halo Dippy.” Shaven membalas dengan lemas.
Dippy menghampiri Shaven yang terlihat suntuk. Dippy yang ternyata bisa mendengar percakapan antara Shaven dan si bocah di dalam toko menepuk-nepuk pundak Shaven (kok bisa mendengarkan percakapan? Kan jaraknya jauh? Pokoknya bisa. Suka-suka penulis dong, namanya juga dunia sihir! Hihihi.).
“Jangan dipikirkan. Tidak semua orang menganggapku baik, sebagian malah mengira aku ini keturunan gorila, terima kasih sudah membantuku tadi. Kamu tidak perlu sesedih ini, karena memang sudah nasibku memiliki penampilan seperti vokalis TeamLo. Jangan juga bersedih karena omongan bocah tadi, sinis yah? Tidak usah dipikirkan dalam hati. Dia tahu apa sih? Apalagi komentarnya soal keluarga Muggle yang tidak pantas masuk Hogwarts! Cih, dia tidak tahu apa-apa! Dia cuma sok tahu! Lagipula keluargamu bukan keluarga Muggle, lihat saja ibumu. Dia benar-benar seorang penyihir yang hebat dan datang dari keluarga Muggle. Jadi, jangan bersedih hanya gara-gara bocah yang…”
“Err… Dippy.”
“Iya?”
“Aku bukan sedih gara-gara itu.”
“Terus?”
“Aku sedih gara-gara lihat harga majalah Donal Bebek di kios itu.”
“…” Dippy bengong. “Ha-harga majalah Donal Bebek?”
“Iya. Duitku kurang dua ribu rupiah. Boleh pinjam dulu?”
(Iya. Di London-pun Donal Bebek dijual dengan kurs rupiah. Kok rupiah? Bukannya pounds? Ih rese amat sih! Suka-suka penulis dong! Hihihi…).
Dippy nginyem. Kirain sedih ngapain. Dasar dudul. Shaven pun melonjak-lonjak bahagia saat Dippy mengeluarkan uang dua ribu rupiah dari dompetnya dengan perasaan tak rela. Tanpa belas kasihan, Shaven menyambar dua lembar uang ribuan di tangan Dippy dan melesat ke kios majalah tanpa menengok ke belakang.
Dippy misuh-misuh. Hihihi.
Shaven yang bahagia kembali dengan majalah Donal Bebeknya yang baru dan duduk di samping Dippy.
“Jadi apa itu kudis… euh… Quidditch?” tanya Shaven.
“Itu olahraga kaum penyihir. Kayak apa yah? Polo air campur balap karung.”
“Polo air campur balap karung?”
“Euh… kok jauh amat yah perbandingannya? Mungkin kayak sepakbola kalo di dunia kaum Muggle. Semua penyihir menyukai Quidditch. Dimainkan di udara dengan sapu terbang dan menggunakan empat bola – agak susah sih nerangin peraturannya. Nanti kamu juga tau sendiri. Aku kan cuma pemeran pembantu, kurang pantas kalo kebanyakan kalimat yang tidak ada dalam skrip. Ntar dikira kemaruk pengen jadi pemeran utama.” Kata Dippy.
“Lalu Slytherin dan Hufflepuff?”
“Itu nama asrama. Ada empat yang resmi: Slytherin, Hufflepuff, Ravenclaw dan Gryffindor, sebenarnya ada satu asrama lagi disembunyiin sama kepala sekolah saking ancurnya.”
“Pasti aku masuk ke asrama yang ancur itu.” Kata Shaven suram.
“Mending begitu daripada masuk ke Slytherin.” Sanggah Dippy. “Lulusan Slytherin terkenal bodor. Si-Dia-Yang-Namanya-Musti-Disambung-Pake-Garis adalah lulusan Slytherin. Tak terhitung penyihir jahat lain lulus dari Slytherin seperti Bolot, Malih dan Jojon.”
“Lho? Mereka kan pelawak? Bukan penyihir?”
“Eh iya yah? Pokoknya gitu deh.”
“Jadi Si-Vol-De-Mort itu dulunya juga sekolah di Hogwarts?”
“Dulu sekali.” Jawab Dippy. “Seperti Eko, Parto dan Akri juga.”
“Euh… itu grup Patrio. Mereka juga pelawak.”
“Oh. Iya.” Dippy terdiam.
Dippy mengajak Shaven untuk belanja beberapa buku di sebuah toko yang bernama Flourish and Blotts. Sebuah toko buku yang sangat lengkap dan kebetulan sedang ada diskon. Dippy mencomot buku ‘Beternak Ikan Koi’ untuk dirinya sendiri. Sementara, Shaven yang sehari-hari jarang baca buku ternyata lumayan betah dan kagum dengan kelengkapan koleksi buku di tempat ini. Ada banyak buku sihir yang menarik hatinya seperti: ‘Membedakan Alam Semesta dan Alam Adiknya Vetty Vera oleh Endangku Rnia’, lalu ada buku ‘Tip Mudah Membuat Witch-Blog Tanpa Repot Mempelajari HTML oleh Ory Suryo’, ada pula buku best seller ‘Wiz Dad Poor Dad karangan Robert Iyosaikiwae’. Tapi buku yang paling diminati Shaven adalah ‘Mengkomersilkan Mantera Sihir: Dari Susuk Sampai Pelet karangan Mpu Wesewesewes Bablasangine’.
“Huehehehe… aku pengen cari tahu gimana caranya masang susuk. Lumayan buat penghasilan tambahan kalo ntar lulus dari Hogwarts.”
“Bukan maksudku melarang. Tapi kita tidak diperkenankan menggunakan sihir seenak wudel di dunia Muggle kecuali dalam kondisi tertentu. Istilah kerennya, emergency. Contohnya? Sewaktu kita sedang nongkrong di toilet dan tissuenya abis atau airnya kering. Nah, itu baru boleh pake sihir! Lumayan sering aku praktekkan sendiri sih.” Kata Dippy. “Lagian, kamu belum nyampe ke situ kok. Untuk bisa mempelajari mantera sihir, kamu harus belajar keras. Oh iya, satu lagi. Kita ini penyihir, bukan dukun. Tolong dibedakan yah.”
Setelah buku, Dippy membawa Shaven berkeliling lagi untuk belanja kebutuhan sihir lain seperti bawang merah, bawang putih, cabe, saos sambel, saos tomat, garam dan nasi. Penulis jadi bingung, benernya ini mau jadi penyihir ato penjual nasi goreng? Yah, singkat cerita, pokoknya mereka belanja untuk keperluan di Hogwarts nantinya.
Setelah dirasa cukup, Dippy memeriksa daftar belanjaan lagi. “Hmm, cuma tinggal celana kolor dan… oh iya, aku masih belum memberikan hadiah ulang tahun buat kamu.”
Wajah Shaven langsung memerah. “Ah, gak perlu kok…”
“Eh, perlu! Perlu sekali! Gini aja deh, aku yang akan mengambil binatang peliharaan buat kamu. Yang jelas aku tidak akan memilihkan kodok untukmu, udah gak jaman. Jadul banget. Aku juga gak begitu suka kucing, kalo pipis dimana-mana. Kalo burung hantu kayaknya berkesan serem. Oke deh, aku tahu! Shaven! Akan kuberikan seekor kuda nil untuk hadiah ulang tahunmu, gimana? Kuda nil sedang tren tahun ini, besar, berkesan bloon dan gak begitu peduli biar dihina kayak apa juga.”
“Ku… kuda nil?”
Setengah jam kemudian, Shaven dan Dippy melangkah keluar dari The Sims Pets Imperium. Kini Shaven sudah memegang kandang besar berisikan seekor burung beo yang sedang manggut-manggut ngantuk. Untunglah stok kuda nilnya sedang habis, batin Shaven. Memang burung beo bukan burung hantu, tapi lumayanlah daripada nggak ada. Stok burung beo inipun sebetulnya disediakan bukan untuk penyihir, tapi untuk bajak laut. Jack Sparrow sering belanja di sini kalo keabisan stok gurita raksasa. (Yah nggak papalah, crossover dikit, dari Harry Potter ke Pirates of The Caribbean).
“Makasih yah Dippy buat kado burung beonya.”
“Alah, hanya sekedarnya ini.” kata Dippy. “Benernya sih rada mahal juga, musti kredit tiga kali bayar, tapi gak apa-apa kok, kan udah terlanjur dibeli.” Dippy kembali sibuk menghitung sisa uang di dompet sambil bersungut-sungut. “Kayaknya cuma tinggal belanja di tempat si Ollie yah. Tempat terbaik untuk mendapatkan celana kolor paling trendy bagi penyihir sejati. Kita harus mendapatkan celana kolor terbaik untukmu, Shaven!”
Celana kolor. Benda inilah yang sedari tadi menjadi pertanyaan bagi Shaven. Apa sih pentingnya celana kolor bagi seorang penyihir? Ketika hal ini ditanyakan pada Dippy, jawabannya simpel. ‘Lebih penting mana antara celana dan tongkat sihir untuk seorang penyihir? Jawabannya adalah celana. Lebih baik pake celana tanpa bawa tongkat daripada bawa tongkat tapi gak pake celana’. Jawaban yang sangat menentramkan.
Shaven sudah siap dengan kalimat ‘Bukannya pakaian penyihir ketutupan jubah?’, tapi diurungkan niatnya menanyakan perihal itu. Gak penting banget. Jawabannya pasti: ‘Suka-suka penulis dong!’. Hrr~
“Kenapa kok gak sekalian sama Madam Malkin tadi, Dippy?” tanya Shaven.
“Apanya? Celana kolornya? Hue… soalnya yang ini khusus! Special! Lagian tadi kan jubah, sekarang celana kolor, lain dong, bos!”
Toko penjual celana kolor itu ternyata terletak di sebuah sudut yang lumayan tersembunyi. Di atas pintu kayu terdapat sign ‘Diagonal Ih Tailor: Menjual celana kolor pilihan sejak 382 BC. Tersedia berbagai macam merk dan warna’. Sebuah celana kolor berwarna merah jambu tergeletak manis di jendela display yang mulai berdebu.
“Aih ada pelanggan. Tak uk uk! Selamat sore.” Terdengar suara yang lumayan ‘flamboyan’ (kalo gak bisa dibilang rada menjeng) menyambut mereka. Shaven dan Dippy menoleh ke arah suara dan melihat sosok seorang pria berkacamata gaul, berambut trendy dan mengenakan lipgloss berjalan ke arah mereka dengan gerakan yang lemah gemulai.
“Euhh… apa kabar.” Tanya Shaven sopan.
“Ah ya!” sambut si pria flamboyan yang sudah bisa dipastikan kalo dia ini adalah pemilik toko. “Ya ya ya! Aduh-aduh, gak nyangka deh bo! Akhirnya bisa ketemuan sama Tuan Shaven Terpot muda! Wah wah, udah gede yah? Ihik, cakep pula! Ikke naksir deh, bo! Jadi inget ma Papanya yang ganteng gitchu, aih si Aragorn Terpot pokoke honke-honke banget! Aahhhh!! Seperti baru kemaren aja si Aragorn yang pantatnya aduhai itu beli celana kolor di sini! Ikke masih inget, celana kolor warna biru yang ada totol-totol putih segede koin lima ratus perak! Ya ya ya. Nama lengkap Ikke Johanal Berandal Ollipollie, tapi biar akrab panggil aja Om Pollie. Ihik! Kamu cakep deh!”
Melalui gaya bicaranya, sudah bisa dipastikan dari jenis apa Om Olliepollie penjual celana kolor ini. Jenis tengahan, cewek bukan, cowok meragukan. Om Pollie mendekati Shaven dengan nekat. Shaven bergerak mundur dengan sedikit ketakutan. Dia paling ogah sama yang ginian.
“Ikke punya pepatah manjur: Bukan seorang penyihir yang memilih celana kolor. Tapi celana kolorlah yang memilih pemiliknya! Gitchu!” kata Om Pollie. Saking dekatnya dengan Shaven, bocah itu bisa mencium bau telur ceplok setengah matang yang tentunya adalah menu sarapan Om Pollie. Hiyeeekk!! “Celana kolor juga berguna untuk menyembunyikan luka berbentuk kilat yang ada di pantat!”
Shaven tambah mundur dan memepetkan badan ke tembok waktu Om Pollie menyebut-nyebut kata ‘pantat’.
“Sungguh menyesal Ikke kehabisan stok pampers sewaktu kamu diserang Si-aihh-ahh-uhh! Tak sanggup Ikke. Ikke tak sanggup. Sanggup Ikke tak. Sudahlah. Ikke selalu bad mood kalo mengingat ulah si-pemilik-celana-kolor-warna-item-bergambar-udang-bongkok itu. Hiks hiks, Ikke menyesal udah menjual celana kolor itu! Ahhhh dunia memang kejam! Kejam! Kejam pada Ikke!!!” kata Om Pollie lagi sambil berpaling ke arah Dippy. “Lho…! Ada kamu toh!! Waladalah!! Dippodus Hagrid, gitchu!! Piye kabare? Sini-sini! Muah-muah dulu to ya!!”
Dengan nginyem dan penuh keterpaksaan, Dippy pun menyerahkan pipinya untuk cipika cipiki.
“Dippy, Dippy! Seneng banget bisa ketemu kamu lagi! Sebentar-sebentar! Ikke ingat kok, celana kolor ijo gambar bakpao!! Hahaha!! Bener kan? Masih dipake? Sekali-sekali dicucilah!”
“Ma-masih kok Om, masih dipake…” Entah mau ditaruh kemana muka Dippy.
“Antik lho itu! Mana ada yang lain yang gambar bakpao! Ada juga gambar rantang sayur! Masih bagus kan kondisinya?”
“Lumayan Om, rada sobek waktu Hagrid dan saya dikeluarin dari Hogwarts.”
“SOBEK!!! Aih!!! Sini Ikke jahit!! Sini!!! Sekarang!!”
“Errr… kayaknya waktunya nggak tepat deh, Omm.”
“Tapi masih bisa dipake kan?”
“Err… rada ancur sih bentuknya, tapi masih bisa dipake kok, Om.”
“Ya ya ya… oke deh.” Om Pollie beralih kembali ke Shaven. “Nah, -- Tuan Terpot muda. Apa yang sekiranya cucok buat kamu yah? Hmmm…” Om Pollie menarik gulungan meteran dari balik celananya. Dengan teknik canggih dan cepat Om Pollie segera mengukur lingkar pinggang Shaven dan lingkar-lingkar yang lain yang sebaiknya tidak disebutkan disini karena tentunya kurang sopan mengingat banyak anak-anak membaca cerita ini. Hehehe.
“Setiap kolor yang diproduksi oleh Diagonal Ih Tailor punya bahan magis yang bisa dikatakan tidak didapat dengan mudah, Tuan Terpot muda. Kami menggunakan bahan pilihan seperti misalnya kulit pantat naga, bulu ketiak burung Phoenix yang bersertifikat dan dijahit menggunakan uban Unicorn. Semuanya bahan pilihan, gitchu! Celana kolor kami hanya satu-satunya di dunia. Tidak ada duanya, one and only, gak ada clonenya. Pokoknya anda puas, kami lemassss…”
Shaven baru sadar, kalo meteran yang digunakan untuk menghitung lingkar tubuhnya bergerak sendiri. Om Pollie berjalan gemulai namun cepat menyusuri lemari demi lemari untuk mencari celana kolor yang sesuai.
“Cukup.” Kata Om Pollie, dan meterannya pun jatuh ke lantai. Pria flamboyan itu mengambil sepotong celana berwarna biru metalik dan memberikannya pada Shaven. “Baiklah, Tuan Terpot muda. Mungkin yang ini dicoba dulu. Itu bilik gantinya ada di sana.”
Shaven sudah hendak melangkah masuk ke kamar pas, ketika Om Pollie menghentikannya.
“Hum, warnanya kurang cocok dengan sinar matahari musim ini. Coba yang ini dulu.” Kata Om Pollie sambil memberikan celana yang lain. Kali ini celana kolor bermotif Hawaii.
Shaven mengangkat bahu dan mengambil celana yang diberikan Om Pollie. Tapi lagi-lagi sebelum masuk ke kamar pas, celana itu diambil.
“No no no no! Warnanya kurang cucok rasanya sama kulit kamu, gitchu. Oke deh, pake yang mana lagi yah? Hmm… ala biker nggak cucok, pake jeans rada ketat nggak cucok pula, pake rok? Ahahahahaha! Becanda tentu saja! Ikke hobi becanda lho, bo!”
Entah kenapa pernyataan tersebut tentunya nggak ada yang nanya.
Silih berganti Om Pollie memberikan celana, tapi langsung diambil kembali. Ada satu celana berwarna pink bergambar sandwich, yang sudah hampir dipakai Shaven, ternyata celana punya Om Pollie sendiri yang belum sempat disetrika. Shaven menolaknya mentah-mentah.
Akhirnya…
“Susah banget sih, bo! Tapi jangan khawatir! Ikke pasti punya celana yang pas untuk… eh sebentar… jangan-jangan… iya juga yah… kenapa nggak? Kombinasi yang rada unik. Hanya tinggal satu-satunya…”
Om Pollie memberikan celana berwarna biru kehitaman. Shaven masuk ke kamar pas dan swing~ kamar pas itu menyemburkan cahaya keemasan yang menyilaukan ruangan. Dippy tersenyum puas. Shaven keluar dari kamar pas sambil tersenyum. Om Pollie bertepuk tangan. “Luar biasa! Oh indahnya, perpaduan yang sangat pas! Oh, Ikke bisa menangis haru! Nah, nah, nah, menarik sekali… sungguh menarik… menarik sekali…”
Om Pollie membungkus celana kolor itu dan memasukkannya ke dalam tas kresek sambil bergumam. “Menarik sekali… sungguh menarik sekali…”
“Ehm, maaf.” Tanya Shaven. “Tapi apanya yang menarik?”
Om Pollie menatap Shaven dengan pandangan serius. Jauh lebih macho dari biasanya. “Ikke selalu ingat tiap celana kolor yang Ikke jual, Tuan Terpot muda. Semuanya Ikke ingat, gitchu. Entah kebetulan ato apa, tapi tali kolor yang terdapat pada celana milik Tuan Terpot muda terbuat dari buntut kuda nil merah jambu. Hanya ada satu kuda nil seperti itu di dunia, dan buntutnya sudah dipotong dua. Satu untuk anda… dan satunya lagi…”
“Satunya lagi?” Shaven penasaran.
“Digunakan untuk tali kolor sepotong celana hitam bergambar udang bongkok.”
“Maksudnya?”
“Tali kolor celana anda memiliki asal yang sama dengan tali kolor celana dia yang telah membubuhkan tanda kilat di pantat anda, Tuan Terpot muda. Sungguh menarik kan?”
Shaven menelan ludah.
“Ya ya.” Om Pollie melanjutkan lagi. “Sungguh menarik kalo dua kolor dari asal yang sama ternyata memilih pemilik yang berseberangan. Ingat pepatah Ikke tadi? Celana kolorlah yang memilih pemiliknya, bukan sebaliknya. Ah, Ikke yakin, Tuan Terpot muda pasti akan memiliki masa depan yang cemerlang dan melakukan perbuatan-perbuatan jayuz yang luar biasa. Bagaimanapun, si-dia-yang-namanya-aku-aja-lupa telah melakukan tindakan-tindakan yang luar biasa. Mengerikan memang, tapi luar biasa.”
Shaven merinding sambil memegangi pantat.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Sore harinya, matahari mulai menyembunyikan diri di balik langit saat Shaven dan Dippy yang kelelahan akhirnya tiba di stasiun kereta.
“Makan-makan dulu deh, Shav. Laper banget nih.” Kata Dippy yang sepertinya memang tidak bisa menyembunyikan nafsu dahsyatnya menyantap makanan.
Dippy membelikan lontong sayur untuk Shaven dan mereka duduk berdua di sebuah emperan. Shaven mulai memandang lingkungan sekitar. Ada yang aneh. Entah apa, tapi rasanya ada yang aneh. Semuanya aneh.
“Kok diem aja, Shav? Lagi pundung?” tanya Dippy.
Shaven tidak yakin dia bisa menceritakan apa yang dia rasakan pada Dippy. Dia baru saja memperoleh ulang tahun terhebat sepanjang hidupnya dan kini sambil makan lontong sayur, dia mencoba mencari kata-kata yang tepat.
“Semua orang menganggap aku ini spesial.” Kata Shaven.
“Siapa bilang?” tukas Dippy. “Kamu ini biasa-biasa aja kok.”
“Yah, setidaknya orang-orang di Leaky Cauldron, Professor Kirun, Om Pollie… tapi aku kan gak ngerti apa-apa. Jangankan sihir, sulap aja gak ngerti. Tapi kok bisa-bisanya mereka mengharapkan aku melakukan sesuatu hal yang luar biasa nantinya? Aku ini terkenal, bukan berarti aku narsis lho ya, tapi aku ini terkenal dan aku tidak tahu terkenal dimananya. Penampilan biasa saja, bau wangi juga nggak, pinter juga nggak. Hebat dimana coba? Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi sewaktu si Vol-, maaf si-penembak-pantat itu datang di malam orangtuaku menghilang.”
Dippy tersenyum lebar, walaupun maunya ramah, tapi malah keliatan menyeramkan, untung gak ketemu ‘Tim Pemburu’, bisa-bisa dimasukin ke botol. “Nggak usah khawatir, Shav. Masih ada sumur di ladang, masih boleh kita menumpang mandi. Kamu pasti bisa kok, kamu harus yakin pada dirimu sendiri. Dunia ini tidak selebar daun kelor dan berakit-rakit ke hulu kita berenang ke tepian untuk sepandai-pandainya tupai melompat (apa hubungannyaaaa?!). Belajarlah dulu sedari awal di Hogwarts, semuanya juga begitu, memulai dari awal. Memang agak susah, apalagi kamu cuma sendirian di sana, tapi aku yakin kamu akan mendapatkan masa-masa yang menyenangkan di Hogwarts. Aku juga kok. Jangan khawatir deh, seperti kata pepatah: gara-gara nila setitik, rusaklah susu sebelanga. Oke?”
Dippy membantu Shaven naik ke kereta api yang akan membawanya kembali ke keluarga Ganno. Dia memberikan tiket untuk Shaven.
“Ini tiket untuk pergi ke Hogwarts.” Kata Dippy. “Rada mahal juga ini tiket. Kutukupret! #@$%!! Gara-gara kantong celanaku bolong, musti beli tiket di calo tadi pagi. Pokoknya ingat, tanggal satu September. King’s Cross. Semua keterangan ada di tiket. Kalo ada masalah penting, hubungi 911! Kalo sakit berlanjut hubungi dokter! Kalo ada masalah yang berhubungan dengan Hogwarts, kirim surat pake burung beonya, dia pasti tahu kemana mencari aku. Kalo dia gak terbang-terbang, tendang aja! Oke deh, jumpa lagi yah, Shaven! Pokoknya ingat kata pepatah: kalo ada tupai yang pandai jatuh ke sumur di ladang bolehlah kita berenang ke tepian! Ciao!”
Tut! Tut!
Kereta yang dinaiki Shaven mulai meninggalkan stasiun. Bocah itu memandang ke arah Dippy tanpa berkedip dan melambaikan tangannya. Begitu Shaven berkedip, Dippy sudah lenyap dari pandangan. Entah kema… oalah, ternyata Dippy masuk ke kedai donat. Dasar!!
-BERSAMBUNG-
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
shaven-note:
1. Episode ini merupakan parodi dari bab kelima novel “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” yang berjudul “Diagon Alley”
2. Enjoy!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comments:
Asterix dan Obelisk? OMG! =))
*ngakak guling luging*
=))
=))
Post a Comment