==============================
P.M.P - PETUALANGAN MAS PARMAN
Created By Shaven
==============================
Bab 1. Namaku Parman
Suasana sangat cerah pagi ini, matahari mulai terlihat bersinar malu-malu jauh di ufuk, cahayanya merekah menyelimuti bumi Yogyakarta yang tenang dan bangkit dari tidur semalam. Terdengar suara ayam berkokok menyambut matahari, erangan kucing-kucing rumah sambil menggeliat malas dan hanya mengerling sedikit sebelum nantinya bangkit dan mencoba mencari sarapan.
Begitupun aku, yang dengan malas-malasan meraih selimut yang melorot untuk kemudian aku tarik dan kerudungkan kembali menyelimuti badan dari serangan pagi yang dingin. Pagi seperti ini memang lebih enak tidur-tiduran. Mataharinya saja yang terburu-buru bersinar.
Kalau menurutku, matahari itu iri dengan bulan. Bulan menaungi malam dengan temaram hingga malam terasa begitu panjang, sedangkan matahari hanya kebagian pagi hingga sore yang selalu terasa cepat. Belum lagi kalau ada orang yang menyalahkan panas di siang hari, mereka selalu mengusap keringatnya dan menyalahkan matahari. Tapi tidak pernah ada yang menyalahkan bulan karena dinginnya malam, mereka menganggap bulan adalah bulatan indah yang mempesona, yang kadang malu-malu memperlihatkan wajahnya.
Pagi ini aku malas bangun. Memangnya kenapa? Apa ada masalah dengan hal itu? Tidak ada. Aku tidak buru-buru bangkit untuk kuliah, karena masa itu sudah aku lalui lima tahun yang lalu. Aku tidak perlu buru-buru bangkit untuk berangkat bekerja karena aku sudah dipecat beberapa bulan yang lalu. Tidak ada alasan sedikitpun untuk membuatku bangkit dan berdiri menyambut pagi. Mungkin aku malas, mungkin aku tidak sudi, mungkin aku memang tidak punya kerjaan, mungkin aku masih sangat ngantuk.
Barangkali nanti aku akan bangkit dan entah dimana akan mencoba mengais rejeki. Aku memang malas menghadapi hari-hari yang makin lama seakan makin suram. Tapi yah… baik itu untuk masa depan ataupun hanya untuk saat ini saja, yang jelas aku butuh duit untuk sekedar menghembuskan nafas. Saat bekerja dulu, waktu begitu cepatnya berlalu dan uang terhempas dengan mudah, sekarang, saat semuanya hilang, aku baru merasakan pahitnya mencari uang.
Susah mencari pekerjaan di jaman seperti sekarang ini. Semua orang pasti merasakannya. Apalagi kalau tidak punya tempat tinggal seperti aku ini. Semenjak meninggalkan rumah bertahun-tahun yang lalu, aku selalu berpindah-pindah tempat tinggal mulai dari kos ataupun kontrakan. Mana yang lebih murah, itu yang aku jalani.
Aku pernah bekerja di kantor, pernah bekerja di shopping mall dan pernah bekerja di toko antah berantah, semuanya amblas ditelan bumi. Kalau bicara soal pengalaman, mungkin pengalamanku bekerja benar-benar luar biasa banyaknya dan sampai sekarang belum ada yang cocok. Sigh~ hidup memang tidak seenak ABC dan 123. Aku sudah salah jalan, tapi aku tidak akan pernah menyerah karenanya. Selama ada kemauan, disitu pasti ada jalan. Selama aku masih tinggal di kos-kosan, aku pasti masih butuh uang. Ah, yang pasti, pagi aku ini aku sedang malas bangun pagi, itu saja.
~Kring~Kring~Kring~
Wekerku berbunyi dengan sangat niat dan bulat tekad. Buset, gak tau apa kalau pemiliknya tengah meringkuk kedinginan? Apalagi sudah dua hari ini aku hanya makan sekali tiap harinya. Berhubung gak punya duit, aku harus menghemat anggaran biaya makan. Sedih? Mungkin, tapi ada pepatah yang selalu dipuja sepanjang masa: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Betapa harapanku selalu bangkit kalau ingat pepatah itu.
~Kring~Kring~Kring~
Meskipun malas aku ulurkan tangan juga akhirnya untuk mematikan weker sialan itu, hmm… baru jam setengah delapan. Lalu aku bangkit dan dengan langkah gontai menyusuri gelapnya ruangan kamar. Tidak terlalu gelap sih sebenarnya, sejak gorden jendelaku bolong-bolong, sinar matahari selalu nakal menyeruak masuk. Seenaknya menghajar gelapnya ruangan dengan sinarnya yang memaksa.
Seperti ritual yang biasa selalu aku jalankan di pagi hari, aku tarik gorden bolong-bolong kebanggaanku ke pinggir, aku buka jendela, lalu pintu, dan akhirnya melangkah keluar ke arah kamar mandi. Teman-teman kosku banyak yang sudah bangun dan memulai kegiatan pagi mereka. Andi yang sepertinya baru saja selesai mandi sudah mengenakan seragam tokonya. Dia seorang pegawai gudang toko buku di Jalan Malioboro. Konon gara-gara penghasilan tokonya yang menyedihkan, dia sudah dua bulan ini hanya dibayar separuh gaji. Masih lebih mending daripada aku yang pengangguran.
Danu sedang membersihkan sepatunya dengan sikat di depan pintu kamar mandi yang kelihatannya sedang dipakai, dia pasti ada kuliah pagi. Sawe tidak kelihatan pagi ini, pintunya tertutup rapat, biasanya dia yang paling semangat bangun dan menggebrak-gebrak pintu anak-anak mengajak sholat subuh di masjid. Dia kerja di hotel tipe melati di Jalan Kaliurang kilometer banyak, dan meskipun sering pulang telat, dia jarang menginap di rumah teman ataupun di hotel. Dia lebih suka tidur di kos. “Hotel penuh maksiat.” Katanya pada suatu hari. Yah syukurlah dia tidak terpengaruh budaya anak muda yang berbahaya itu.
“Sudah mandi, Nu? Kamar mandi dipakai? Si Sawe gak pulang yah?” tanyaku pada Danu sambil menyambar handuk bulukan yang jarang aku cuci. “Kamu kuliah pagi?”
“Pertanyaannya kok banyak. Yang mana nih yang dijawab? Sudah mandi, Mas, ada kuliah pagi.” Ujar Danu sambil tersenyum. “Mas Parman mau mandi?”
“Iya.” Anggukku malas dan duduk disampingnya. “Kamar mandi dipakai siapa?”
“Tejo. Katanya ada test wawancara pekerjaan pagi ini.”
“Ow.” Aku mengangguk lagi.
Tejo dan aku setali tiga uang, sama-sama pengacara. Pengangguran banyak acara. Bedanya, dia itu insinyur lulusan perguruan tinggi besar dan masih fresh, sedangkan aku ini sudah tua, pengangguran pula. Gimana coba masa depannya? Sigh~
“Mas Man mau kemana? Ada wawancara juga?” tanya Danu.
“Gak ada je, Nu.” Gelengku sedih. “Sudah mengirim lamaran kemana-mana sampai habis hampir lima puluh ribu tiap minggu tapi tetap gak ada yang manggil. Mungkin faktor usia ya, Nu. Kalo pengalaman sih kayaknya sudah lebih dari cukup.”
“Yah, yang penting tetap berdoa dan berusaha, Mas.”
“Iyalah, Nu.”
Terdengar pintu kamar mandi disamping kami terbuka. Tejo yang sudah segar sibuk memamerkan badannya yang seperti papan penggilesan kemana-mana. Senyumnya yang sudah digosok dengan pasta gigi beraroma mint bertebaran kesana-kesini. Sambil mengambil cermin dan cukuran jenggot, Tejo nan konon hendak test wawancara itu duduk santai disampingku.
“Gantian sana, Mas Man.” Danu mengomando.
“Iya.” Anggukku malas. “Kamu nggak habisin airnya toh, Jo?”
“Nggak, Mas.” Tejo sibuk menggaruk jenggotnya dengan alat cukur sekali pakai yang sudah terpakai lebih dari sepuluh kali. Kadang untuk hemat, kita perlu maksa. “Tadi aku sisain kok.”
Aku baru saja melangkah ke kamar mandi, ketika bau-bauan ajaib menyebar ke segala arah.
“PUAH!” Setelah meletakkan handuk di handel, aku langsung keluar dan mengibas-ngibaskan tangan didepan hidung. “Kalo boker yang kira-kira dong, Jo! Kamu ini makannya cuma sepiring kok excess-nya bisa menuhin satu septic-tank!”
Danu ketawa cekikikan sementara Tejo melempari aku dengan kerikil.
“Ngawur ah, Mas Parman!” malu-malu Tejo mengakui. “Abis tadi malam diajak maem tempe penyet sama Si Yayuk. Cabenya aja lima belas! Perutku langsung mules-mules, padahal pagi ini ada test wawancara.”
“Wawancara dimana toh, Jo?”
“Kayaknya sih pabrik tas, Mas Man. Aku ngelamar gawean jadi staf gudang.”
“Kamu sudah lihat tempatnya?” tanyaku.
“Sudah, Mas.” Jawab Tejo. “Di deket Ring Road kulon sana.”
Di seantero kosku, ada enam orang penyewa kamar. Semuanya cowok. Yang lebih ‘menyenangkan’ lagi, hanya ada satu kamar mandi. Kalau pagi-pagi gini, semuanya bergantian mandi, karena jarak keberangkatan berdekatan. Apalagi kalau aku sama Tejo ada jadwal test wawancara pagi, makin ramailah lokasi kamar mandi. Di kos-kosan ini, selain aku, ada Danu yang masih kuliah di UNY, lalu Tejo, Andi, Sawe dan masih ada lagi dua teman yang lain.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Pasar Beringharjo sehari-hari selalu ramai. Para pedagang ‘memaksakan’ diri berjualan di tempat yang sempit, gelap dan panas. Para pembeli juga berdesak-desakan diantara gang-gang kecil yang membagi-bagi ruang gerak di dalam pasar, semuanya bercampur aduk. Disanalah aku berada siang itu. Kadang-kadang aku heran juga sama para penjual itu, betapa hebatnya mereka bertahan disana dan berbetah-betah ria, berharap barang dagangan mereka laku, lalu pulang kerumah dengan hati senang. Entah hanya beberapa dari simbah-simbah penjual barang yang bisa seperti itu, lihat saja simbah penjual kue yang sudah tekluk-tekluk saking sepuhnya. Kok ya masih aja jualan yah? Hungh, seandainya aku ini orang kaya, aku akan membeli barang-barang jualan mereka itu sampai habis.
Capek bersedih-sedih, aku menyusuri Beringharjo di daerah pakaian batik. Sesungguhnya aku hanya butuh satu celana pendek saja, ‘kathok kombor’, berhubung celana pendek Hawaii yang ada di kos rata-rata memiliki dua sampai tiga tambalan dan mungkin akan terus bertambah.
Saat sampai di dekat pintu depan Beringharjo, aku menyaksikan adegan itu.
Tangan seseorang yang jahil menyerobot tas seorang ibu-ibu. Ibu itu terdiam beribu bahasa saking shocknya. Tapi seseorang yang berada di dekat ibu-ibu itu langsung menjerit dengan kencang. “COPEEETTT!!!”
Seluruh pasar terdiam dan sang copet ngacir tunggang langgang keluar pasar. Beberapa preman pasar yang sudah risih pengen gebugin seseorang ikut ngejar, petugas keamanan ikut ngejar, tukang becak yang yang gak tau apa-apa ikutan ngejar, aku… juga ikutan mengejarnya.
Pencopet itu berlari kearah utara dengan berani, menyeberangi jalan seperti kesetanan, melewati beberapa mobil dan motor yang kebetulan berjalan pelan, hampir saja dia ketabrak becak, tapi tak lama kemudian, dia sudah lenyap diantara pejalan kaki. Ada sekitar enam sampai tujuh orang yang bergerak dan mencoba mengejarnya. Entah kenapa, kakiku juga bergerak maju.
Dengan gerakan laksana kucing mengejar tikus yang mencuri sarden, aku secepat mungkin mengincar si pencopet laknat yang dengan berani menjambret tas itu. Sebelum sempat berbelok ke gang yang berada disamping toko Ramai, sepertinya seorang pedagang kaki lima berhasil menghentikan laju pencopet itu, kami para pahlawan pengejar copet segera berlari ke arahnya.
Dan…
Hungh?~
Aku sudah sampai di Stasiun Tugu.
Lho?
Kok Stasiun Tugu? Ngapain aku sampai disini? Bukannya barusan…
Aku melongok kesana kemari dengan bingung. Ajaib! Ini sih ajaib!
Aku bingung setengah mati. Ada apa ini? Apa yang terjadi?
Kucoba merunut apa yang baru saja terjadi, aku tadi berlari maksudnya mau mengejar pencopet dari Pasar Beringharjo. Lha kok sekarang aku ada di Stasiun Tugu? Weladalah amit-amit jabang bayi! Aku kan tadi cuma lari nggak sampai dua menit saja? Jaraknya juga gak begitu jauh sama si pencopet, kok tau-tau aku ada ditempat yang jaraknya hampir satu setengah kilometer di utara Pasar Beringharjo? Ada yang salah!
Aku tadi kan cuma lari seperti in…~
~…i…????
ASTAGA!!
INI KAN MONJALI!!
Bangungan berbentuk tumpeng raksasa itu menjulang di hadapanku bagaikan menantang.
Dengan tak percaya, aku memperhatikan keadaan sekelilingku. Ini benar-benar Monjali! Keringatku deras mengucur, jantungku berdetak dengan kencang, jelas ada sesuatu yang salah. Aku hanya berlari sebentar saja tadi, dan sudah sampai di tempat ini tidak sampai setengah jam, bahkan tidak sampai seperempat jam. Keringat yang bercucuran ini bukan keringat kecapaian, tapi keringat ketakutan. Bumi gonjang-ganjing! Waduh mak, mak… apa dunia ini sudah mau kiamat yah? Kok ada kejadian aneh-aneh seperti ini?
Orang-orang melihatku dengan heran. Jangankan mereka, aku saja heran kok. Aku melirik kebelakang, dan walah ya ampun! Tepat dibelakangku, ada kepulan asap tebal, sisa-sisa bekas lariku yang masih belum menghilang. Akhirnya, setelah sadar, baru aku menyadari, ternyata sepatukupun jadi bolong dan berasap. Sepatu murahan yang aku beli di Pasar Beringharjo waktu lebaran kemaren ini sudah bolong-bolong tidak karuan seperti terbakar. Aku lari dengan telapak kakiku sendiri, tapi anehnya… kok nggak sakit yah?
Setelah dirasa-rasa, aku sama sekali tidak sakit, tidak capek dan tidak apa-apa.
“Awaaaaaas!!”
Terdengar teriakan dari jarak yang tidak begitu jauh. Aku menengok kesamping, dan truk besar bermuatan kayu melaju kencang kearahku sambil mendengungkan bunyi decit rem dari kejauhan. Tapi dia tidak berhenti, truk itu masih tetap melaju. Dengan suara decit seperti itu, pasti remnya blong.
Eh? Tunggu sebentar…
Entah kenapa, aku yang telat mikir ini baru sadar.
Aku ini kan… Aku ada di tengah jalan…
Ada truk besar… dengan rem blong…
Ada truk besar dengan rem blong melaju kencang kearahku.
…
…
…
…
…
…
Ada truk besar dengan rem blong melaju kencang kearahku!!
WELADALAH! TUYUL GUNDUL! JANGKRIK GENGGONG!!
AKU MAU KETABRAK TRUK!!!
-BERSAMBUNG-
*Keterangan tambahan: Jarak antara Pasar Beringharjo-Stasiun Tugu [keduanya di Jalan Malioboro] kurang lebih 1.5-2 km. Jarak antara Jalan Malioboro-Monumen Jogja Kembali kurang lebih 6-7 km, tapi mungkin juga lebih. Jangan salahin pengarang yah, kalo angkanya gak cocok, namanya juga usaha. Nanti aku cari angka pasnya deh jarak Malioboro-Monjali. Hehehe…
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment