PMP Ch.2

|
==============================
P.M.P - PETUALANGAN MAS PARMAN
Created By Shaven
==============================

Bab 2. Cuma Mimpi

Namaku Parman Haryadi, biasa dipanggil 'Parman' atau 'Mas Parman', usia 27 tahun, status pengangguran. Hari ini adalah hari Senin Wage. Sesaat lagi aku bakal ditabrak truk di tengah jalan dekat perempatan Monjali.

Oh iya, aku bener-bener mau ketabrak truk. Gak percaya kan? Wong, aku sendiri aja hanya bisa pasrah. Jangan tanya aku bagaimana rentetan kejadiannya kok aku sampai bisa mau ketabrak truk. Aku sendiri masih bingung, dan pas bingung begini, kayaknya hidupku sudah mau berakhir. Decit suara rem truk berdengung seperti sirene tanda bahaya yang lama kelamaan semakin mendekatiku. Dalam keadaan kalut, aku tidak bisa menggerakkan badan sama sekali. Mulutku menganga lebar seperti cacing kepanasan, kilasan wajah Mak-ku bagaikan photo-slide yang kian lama kian kabur.

Mataku terpejam. Saat itu, secara refleks, tanganku bergerak ke depan seakan mencoba menahan laju gerak truk. Aku tahu cara ini akan...

Truk itu menghantamku.

~Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttt~
GABRRRUUUAAAAAAASSSSKKKKK!!!
...
...
...
...
...
...
...
Truk itu berhenti.

Aku membuka mata dengan takut-takut. Apa aku sudah sampai di surga atau neraka? Apa kematian itu sedemikian cepatnya sampai-sampai aku tidak merasakan apa-apa? Tapi saat aku membuka mata aku baru sadar. Ternyata aku tidak di surga maupun neraka.

Aku masih di Monjali.
Di tengah jalan dekat perempatan Monjali tepatnya.

Sehat walafiat.

"Alhamdullilah..." bisikku perlahan.

Aku bersyukur aku masih hidup. Tapi sesaat itu juga aku langsung shock. Truk itu ternyata berada tepat didepanku. Berhenti. Aku baru sadar kenapa truk itu bisa berhenti tepat didepanku, dan kenapa aku masih sehat walafiat. Aku yang menahan laju truk itu!!!

Tanganku yang tadi secara refleks bergerak kedepan ternyata menahan laju truk. Di bagian depan dan bemper truk tercetak dengan jelas bekas telapak tanganku. Aku berhasil menahan laju truk itu dengan kedua tanganku sendiri!!!

APAAAAA INIIIIIIII???
KOK BISAAAAAAAAA??
AYAYAYAYAYAYA!!!

Keringat derasku tambah mengucur. Orang-orang yang terheran-heran melihat keajaiban itu langsung berkumpul mengelilingi aku dan truk yang bagian depannya sudah aku remukkan. Pak Polisi yang biasanya sibuk cari duit dengan menilang sana sini berlari tergopoh-gopoh dari posnya di dekat Monumen Jogja Kembali. Kawasan perempatan ringroad Monjali yang biasanya tenang-tenang saja itu jadi ramai.

Orang-orang melihatku dengan pandangan yang berbeda-beda. Ada yang takjub, ada yang setengah mati terheran-heran, ada yang bisik-bisik mengatakan kalau aku ini keturunan jin, ada yang bilang aku ini paranormal dan pernah nongol di Dunia Lain, ada juga yang bilang sepantasnya aku ini masuk MURI. Bahkan si supir truk bukannya marah-marah padaku karena truknya rusak, tapi malah menatapku bagaikan menatap seorang alien yang berwarna hijau.

Ah konyol.
Lebih baik aku pergi dari sin...

~i...

Lagi-lagi.
Entah bagaimana caranya aku sudah sampai di depan kos-kosanku.
Secepat kilat.

Aku tidak mau berpikir yang aneh-aneh dulu. Aku masih terlalu shock. Mendingan tidur aja. Ya, aku pengen tidur dulu. Tidur. Tidur. Tidur. Tidur. Tidur. Tidur.

Aku masuk ke kamarku dengan langkah gontai. Kos-kosan sepi sekali, kayaknya gak ada orang. Begitu membuka kamar, aku langsung ambruk ke kasur. Ungh~ baunya... shock sih shock... tapi kayaknya besok aku mesti menjemur kasur. Tidak perlu waktu lama, aku langsung tertidur.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Ketika terbangun malamnya, aku langsung mandi. Biarin, sudah malam juga biarin. Masuk angin juga biarin. Baju dan celanaku yang langsung luwuk gara-gara kejadian pagi tadi aku masukkan ke ember cucian. Sepatuku yang sudah jebol aku buang... hiks... jebolnya bener-bener ngeri, gak mungkin di tambal lagi, sial, nambah biaya buat beli sepatu baru nih.

Selesai mandi, aku lihat Danu dan yang lain-lain nongkrong di depan kamar si Sawe, skuadnya lengkap, ada si Awang sama Budi juga. Kayaknya Si Sawe nyeritain soal kejadian aneh-aneh yang terjadi di hotel tempatnya bekerja. Katanya sih itu hotel memang rada-rada angker. Kadang ada aja kejadian jahil. Kayak suatu ketika konon katanya, temen Si Sawe yang namanya Hardiman pernah dipindah tidurnya. Tadinya tidur di kamar depan, eh tau-tau pindah di halaman belakang. Pernah juga katanya, ada tamu yang kabur gara-gara dikamar mereka ada mbak-mbak yang kelopak matanya item kayak kurang tidur dan berpakaian putih-putih dengan rambut panjang yang nongol tanpa diundang. Hiiiy~

Sudah cukup kejadian aneh yang aku alami hari ini. Aku pengen masuk ke kamar saja. Merenung, mikirin gimana caranya nyari kerjaan dan melupakan kejadian aneh yang aku alami seharian ini. Sudah untung tadi gak masuk MURI, ngeri aja. Pengennya cerita kejadian tadi sama mereka ini, tapi mungkin untuk sementara kejadian ajaib tadi aku simpan sendiri saja.

Andi menyapaku dari kejauhan. "Lho... Mas Man? Ora ngumpul sini sek? Mumpung lagi lengkap nih krunya?"

Danu mengangguk. "Iya Mas Man, ini lho ada kacang godhog."

"Nggak lah, aku lagi capek." Balasku. "Pengennya ke kamar dulu."

"We lha... habis dari kamar mandi langsung masuk kamar?" Tejo cekikikan.

Entah apa maksudnya.

"Aku jadi curiga sama Mas Man. Jangan-jangan~... barusan ngabisin stok sabun buat... buat itu tuh... hihihi..."

Yang lain tertawa.

Aku ikut-ikut tersenyum. "Dasar Tejo pikirane ngeres!"

"Piye toh, Mas Man?" Sawe melihatku heran. "Kok kayaknya lemes banget?"
"Iya je, We..."

"Ngumpul sini sek toh, Mas. Ini lho si Sawe lagi cerita soal penampakan." Awang berseru.

"Eh... piye kalo Awang kita ikutin di acara Fenomena?" usul Danu ngawur. "Bukan jadi peserta, tapi jadi peran setannya. Kan lumayan, si Awang gak usah nyamar, wong gitu aja udah serem banget tuh. Wes rambute gondrong, badane tatoan, pakaiane semrawut, dasar wong edan~ wani-wanine macari anakku... hihihi..."

Danu langsung dilemparin kulit kacang sama Awang. Semuanya tertawa lagi.

Hmm... bener juga, siapa tau kalo ngumpul sama mereka-mereka ini shock-ku ilang. Akhirnya aku mengalah, duduk di samping Awang sambil menarik tas plastik berisi kacang godhog. Dengan cepat cemilan itu langsung mengisi perutku.

"Ayo, We." Usul Budi. "Terusin cerita seremnya."

Si Budi ini lucu, dia benernya penakut abis, tapi kalo dengerin cerita horor senengnya setengah mati. Pernah suatu ketika saking takutnya abis cerita-cerita kayak gini, malam-malam dia nggedor kamar Si Andi dan numpang tidur disana.

"Oke." Sawe si raja cerita langsung ambil posisi. "Kejadiannya beberapa hari yang lalu. Waktu itu ada dua orang cowok yang nginep di kamar 12, kamar paling pojok deket sumur pompa. Kayaknya sih pasangan gay, wong mesra banget. Pakai acara peluk-pelukan segala, padahal badannya gede-gede lho, mungkin pada sering fitness."

"Walaaaaah..." Danu langsung cekikikan. "Detailnya gak usah diceritain lah ya~ nggilani!"

"Yo wes." Lanjut Sawe ikut cekikikan. "Nah, pas itu kan aku yang jaga di depan, si Hardiman sudah pulang. Sekitar jam dua-setengah tiga gitu, tau-tau dua orang itu teriak-teriak kayak cewek. Sambil lari-lari keluar kamar, mereka nyamperin aku. 'Mas tolong mas~' gitu ngomonge. 'Ada kakek-kakek! Ada kakek-kakek!'. Aku langsung heran. Kakek-kakek opo toh karepe?"

"Trus?" Budi gak sabar.

"Trus aku pergi ke kamar 12. Mereka berdua ngikut sampai kamar, mengepak-ngepak pakaian, trus langsung ngacir pulang."

"Mereka sempat cerita ada apa?" tanyaku.

"Iya, jadi begini ceritanya..." Sawe ngikutin cara ngomong narasumber di acara 'Misteri'-nya RCTI. Yang lain cekikikan lagi. "Mereka berdua lagi 'tidur-tiduran', hehehe... gak usah dijelasin detailnya toh, pokoknya kalian tau mereka lagi ngapain. Nggilani pokoknya. Nah, ndilalahe~ tiba-tiba saja nongol sang kakek itu di pojokan sambil cekikikan."

"Kenapa kok cekikikan?" tanya Budi lagi.

"Ya gak tau... kok nanya yang aneh-aneh, mungkin lagi iseng aja?"

"Eh... tapi iya lho, kok di pilem-pilem itu hantu selalu cekikikan kenapa yah?" Budi nyerocos terus tanpa henti. "Apa ada yang lucu? Kan tampang mereka serem abis. Contohnya mbak Kunti itu, seenaknya saja menyeringai sambil cekikikan. Apa gak tau kalo dia bener-bener sudah bau menyan dan tiada cocok maen filem komedi? Mungkin lebih cocok kalau dia nongol sambil ngomong 'hueeee' gitu, kayaknya lebih sepadan dengan penampilannya."

Mereka semua terdiam dan menatap Budi dengan pandangan ingin menghajar. Hihihi...

"Tapi ngomong-ngomong, beberapa hari yang lalu Mas Parman juga pernah nginep di kamar 12 kan?" tanya Sawe sambil memandang kearahku. "Apa nggak ada hal yang aneh-aneh waktu Mas Parman tidur disana?"

Aku menatap Sawe heran. "Aku pernah nginep disana? Mosok sih?"

"Iya lho, Mas."
"Kapan?"
"Beberapa hari yang lalu pas Mas Parman jalan-jalan ke Kaliurang dan kemaleman."
"He?"
"Iya. Mas Parman kan kemaleman disana, trus jalan kaki ke hotelku mau numpang tidur."
"Masa sih?"
"Baru beberapa hari yang lalu lho, masa Mas Parman gak inget apa-apa?"

"Nggak inget je, We..." Aku mencoba mengingat-ingat, tapi entah kenapa aku tidak bisa ingat kejadian apa saja yang telah terjadi padaku beberapa hari ini. Kok aneh ya... tapi perasaanku mengatakan, kalau aku nggak pernah jalan-jalan ke Kaliurang, aku jadi kayak orang amnesia aja nih. "Kayaknya nggak pernah..."

"Lah...? Wah, payah Mas Parman ini, belum tua banget sudah pikun."
"Lha, aku bener-bener lupa je, We."

Tak lama kemudian Sawe menguap, dan kalau sudah ada yang menguap satu, maka yang lain ikut-ikutan menguap. Kata orang 'angop' itu menular, kalo sudah ada yang menguap satu, menguap semua. Angop siji angop kabeh.

Tanpa dikomando, kami berjalan menuju kamar masing-masing.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

"Hehehehe... bagaimana Cu? Sudah tau darimana datangnya kekuatanmu itu?"

Aku gage-gage bangkit dari tidur. Mataku langsung menuju kearah jam dinding. Jam dua pagi, bukan waktu yang menarik untuk mengajak ngobrol aku kan? Aku mencoba mencari arah suara dan...

"Hehehehe... aku disini, Cu. "

Dia di sana.
Di pojokan.
Dia di pojokan sana.

Seorang kakek-kakek berpakaian putih-putih dengan jenggot panjang yang menyentuh lantai. Kakek itu bongkok dan dari seluruh tubuhnya memancar sinar cemerlang keputihan. Apa yah namanya? Aura? Ya mirip kayak itu. Kalau di Adobe Photoshop, tubuh kakek ini pasti diaktifin efek feathernya. Walah, kok sempat-sempatnya inget program komputer itu?

Kakek ini dari mana? Siapa dia? A-apa dia ini yang disebut hantu? Hiiiyyy... waduh, aku musti baca doa apa yah? Aku langsung komat-kamit baca doa, konon katanya hantu itu paling takut kalau dibacain doa. Mudah-mudahan dia ilang begitu aku baca ayat yang sebenernya aku juga gak gitu apal ini. Aku melirik ke arah sang kakek, lho? Kok malah senyam-senyum sendiri? Waduh, nampaknya tidak mempan... apa mungkin karena aku memang salah baca doa?

Aku mengerut di tempat tidurku sambil memeluk guling erat-erat. Keringatku deras mengucur, mataku kupejamkan dengan paksa. Pokoknya musti tidur. Ini mimpi. Ini mimpi.

"Bukan mimpi, Cu. Ini sungguhan."

Ini mimpi. Ini mimpi. Ini mimpi.

"Bukan mimpi... kan sudah aku bilang barusan, Cu?"

Ini mimpi. Ini mimpi. Ini mimpi...

"Bukan mim..."

"DIAAMM!!" bentakku galak. "JANGAN NGIKUT!! POKOKNYA INI MIMPI! HANTU ITU NGGAK ADA! AKU MIMPI!"

"Lha, kamu nggak mimpi je, Cu..." Kakek sialan itu terus saja nyerocos. "Cubit saja tanganmu sendiri. Buktikan kalau ini bukan mimpi!"

Aku menuruti anjuran kakek itu. Aku cubit tanganku sendiri.

WADOOOOOO!!

Bukan mimpi. Benar-benar bukan mimpi, dan aku kok ya mau-maunya nurut sama Kakek seram itu. Hiiiyy... entah kenapa ingatanku langsung melayang ke acara-acara paranormal di TV. Betapa aku berharap saat ini aku bisa melambai-lambaikan tanganku pada Harry Panca dan minta dijemput saja dari lokasi Uji Nyali Dunia Lain ini. Atau segmen Uka-uka di acara lain... hmm... artinya serem tapi lucu juga yah nama segmen-nya... 'Uka-uka'.

Euh...

Tapi kayaknya saat ini bukan saat yang tepat untuk membahas nama acara di TV.

Sang kakek tersenyum penuh kemenangan. "Aku ini bukan hantu, Cu."

Kakek itu mendekati aku.

Hiiiy! Kok jalannya ngambang gitu? Katanya bukan hantu kok jalannya ngambang? Hiiiyyy! hantunya suka bohong!! Hiiiyyy! Sudah serem, suka bohong lagi! Mak! Mak! tolong aku Mak!

"Ada sesuatu yang harus aku beritahukan padamu, Cu. "

TIDAAAAAAKKK!! JANGAN DEKAT-DEKAAAAAAAAATTT!!!

Kakek itu tidak peduli dan terus mendekat. Semakin dekat dan semakin dekat.

Kayaknya kalau mau pingsan, ini saat yang paling tepat. Pandanganku makin lama makin gelap. Tambah gelap, tambah gelap, tambah gelap.

Bagus. Kayaknya aku sudah mau pingsan. Aku tak lama lagi pasti tak sadarkan diri. Kejadian ini terlalu berat buat orang kayak aku, aku shock, aku pingsan, aku tak sadarkan diri.

"Cu?"

HIYAAAAAAAA!!! JANGAN DIBANGUNIIIIN DOOOONG!! KAN UDAH MAU PINGSAAAANNN!!!




THIS WORK IS IN PENDING

0 comments: