Bedtime - Red Riding Hood

|
Shaven’s Extreme Bedtime Stories
-Post 3: “Little Red Riding Hood”-
by Shaven


Long time ago in a galaxy far far away…

Dahulu kala di jaman dulu yang sudah lama sekali di masa lalu, hiduplah seorang gadis kecil periang yang sangat manis di Desa Sukamaju yang terletak di tengah hutan Aestera. Gadis ini bernama Tina Tuntun. Tina yang lucu dan imut kayak marmut adalah gadis yang sangat hobi mengoleksi selendang. Walaupun tinggal di tengah desa dan di pedalaman hutan, namun Tina tidak pernah ketinggalan jaman dan selalu mengikuti trend fashion terkini terutama yang berhubungan dengan selendang.

Akhir-akhir ini Tina hobi banget mengenakan selendang sekaligus tudung berwarna merah yang konon sedang trend di kota raja. Beberapa aktris cantik dan selebritis terkenal baik di dalam maupun luar negeri konon sudah mulai mengenakan selendang merah ini. Mulai dari artis luar macam J-Lo alias Jennifer Jellow, artis lokal macam KD alias Kus Dendratmo dan model cantik menarik, Aming Bleszynski, semua pakai selendang merah.

Kemana-mana Tina selalu memakai selendang merahnya. Saking sayangnya mengenakan selendang merah, selendang itu tidak pernah dicuci dan tidak pernah diganti. Anak-anak yang lain pun memanggil Tina dengan sebutan ‘Tina si Tudung Merah Yang Jorok Jarang Mandi Selendang Pun Jarang Dicuci Idih Jijik’. Tapi mungkin karena julukan itu kepanjangan, mereka memanggil Tina dengan sebutan ‘Si Selendang Merah’ atau ‘Si Tudung Merah’ saja.

Selain berfungsi sebagai penghangat, syal, tudung, handuk dan alat penyapu ingus, selendang merah si Tina yang jarang dicuci dan legendaris itu konon memecahkan rekor sebagai gadget utama yang berhasil menuntaskan perlawanan beberapa beruang yang menyerang desa. Beruang-beruang itu berhasil diusir setelah mencium bau selendang si Tina dari jarak 2 km.

Pak Nono sang penebang kayu perkasa yang sering diganggu oleh para beruang pun merasa berhutang budi pada Tina. Dia berjanji untuk selalu membantu Tina dan keluarganya. Tak lupa sembari mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada Tina, Pak Nono juga mengenakan masker anti bau selendang sejak mulai masuk Desa Sukamaju.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Pagi hari itu, Pak Nono berencana mampir sebentar setelah semalaman bekerja menebang pohon dan menginap di hutan. Kebetulan, Ibu Tina dan Tina sedang ongkang-ongkang kaki di depan rumah sembari main gaple dan loncat tali karet gelang.

(Mohon perhatian pembaca: percakapan di bawah ini diterjemahkan langsung dari bahasa asli Desa Sukamaju yaitu Bahasa Fragmen TVRI, seandainya ada kekeliruan penafsiran dan lain-lainnya itu jelas bukan kesalahan penulis tapi penerjemah. Seandainya kesalahan tersebut dapat dibuktikan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, maka penulis menyatakan dengan ini kemerdekaannya, penulis tidak akan menggunakan jasa penerjemah lagi dan siap dengan segala konsekuensinya, demikian harap dijadikan periksa).

“Wahai Ibu Tina yang cantik dan Tina yang lucu serta imut pun.” Sapa Pak Nono dengan sopan. “Sedianya saya, Nono Sunono Sang Penebang Kayu, hendak mampir sebentar untuk mengucapkan beberapa patah kata sambutan. Apakah kiranya handai taulan berdua bersedia menerimanya?”

“Olala, Pak Nono Sunono, kami dari keluarga besar Tina Tuntun Binti Tuntuntun merasa mendapat kehormatan seandainya kami bisa menyuguhkan air minum kemasan dengan kesegaran alami yang langsung didapat dari air pegunungan sekedar pelepas dahaga sembari mendengarkan ocehan ringan dari Pak Nono Sunono yang sebenarnya mungkin tidak kami butuhkan namun enak dibaca dan perlu.” Sambut Ibu Tina dengan gembira sambil mempersilahkan Pak Nono masuk. “Marilah kemari hai Pak Nono Sunono, duduklah disini hei hei hei… hei kawan… mari bergembira… bersama-sama… hilangkan sedih duka lara.”

Setelah Pak Nono duduk di kursi dan bukan duduk di meja, Ibu Tina pun masuk untuk menyiapkan hidangan ala kadarnya.

“Wahai Pak Nono Sunono, ada kelegaan apa kiranya sehingga seorang penebang kayu bersahaja seperti Pak Nono Sunono bersedia hadir untuk menghibur kami sekeluarga ini?” tanya Tina. “Saya melihat sedikit kekhawatiran tercermin dari cara pandang Pak Nono Sunono Sang Penebang Kayu yang tiada biasanya.”

“Adalah benar kiranya adik Tina Tuntun yang jenaka memperkirakan perasaan hamba. Setelah dua malam lamanya Pak Nono Sunono ini berkeliling hutan menebang kayu secara ilegal dan berkejaran dengan bapak-bapak petugas dari Departemen Kehutanan, Pak Nono Sunono yang walaupun capek tapi masih berpenampilan oke ini sampailah pula di sebuah rumah mungil yang kiranya adalah rumah Nenek Tuntun-Tuntun yang rupa-rupanya adalah nenek dari adik Tina Tuntun binti Tuntuntun yang cerianya kelewatan ini.” Cerita Pak Nono sambil bersopan santun.

“Aduhai riangnya hatiku! Rupa-rupanya Pak Nono menyempatkan diri untuk hadir menyembulkan hidung di depan Nenek! Oh alangkah senangnya hatiku!!” Dengan penuh luapan perasaan hati, Tina pun melonjak-lonjak dengan gembira. “Ada kabar apakah dari Nenek Tina yang genit itu? Masih ganjenkah ia? Masih suka makan ketimun dengan Kakek Kancil Sumancil dari seberang desa? Ataukah Nenek masih suka mencuri indomie instan di minimarket?”

“Oh aduh sedihnya Pak Nono menceritakan ini semua, wahai adik Tina nan lucu.”
“Kenapa Pak Nono harus sedih sedemikian?”
“Karena kebiasaan buruk Nenek Tuntun-Tuntun yang amatlah doyan makan kwaci minum kopi dan mengunyah sapi, kiranya tidaklah heran jikalau saat ini Nenek baik hati lagi suka mencuri itu sedang sakit keras dan tiada seorang pun merawat beliau.”

“AH!”
“Benar. Sungguh mengagetkan, Adik Tina.”
“AAUUHHH!!!”
“Saya sendiri pun juga terkagetnya, Adik Tina.”
“AIHH!!”
“Saya pun terpukul, Adik Tina.”
“IHUUU!!”
“Saya pun tak tahan lagi, Adik Tina.”
“WAHEHEHEHE!!”
“Adik Tina tidak apa-apa? Kok meringkik seperti kuda? Pak Nono Sunono jadi sedikit khawatir.”

“Tina tidak apa-apa Pak Nono Sunono yang sangat perhatian. Tina hanya terkenyut dengan situasi sedemikian. Tidaklah menduga Nenek Tuntun-Tuntun yang luar biasa perkasa bak pegulat Smackdown itu bisa luruh terpuruk oleh penyakit yang menyerangnya.” Tina pun meneteskan air mata. “Penyakit berat apakah kiranya yang diderita oleh nenek hamba sehingga beliau sakit wahai Pak Nono Sunono? Sudilah kiranya anda memberitahu Tina yang penasaran ini.”
“Nenek menderita… ahh… tiada kuat hamba memberitahu Tina yang tadinya begitu ceria… beliau menderita penyakit… panu.”

“AAHH!!”

“Memang benar. Sungguh mengenaskan bagi Nenek yang baik hati itu.”
“Pa-pa… palu?” Tina mengerutkan kening. “Penyakit kok ‘Palu’ wahai Pak Nono yang baik? Bukannya itupun nama alat yang digunakan seorang tukang kayu?”
“’Panu’ wahai Adik Tina yang jenaka namun sedikit bolot.” Ujar Pak Nono.
“Paku?”
“Panu. En-en. ‘N’, Panu.”
“Oh, Nanu. Nanu kok suaranya kayak cewek?”
“ARRRGGHHH!!” Pak Nono pun merasa jengkel.

“Baiklah kalau sedemikian Pak Nono Sunono. Terima kasih atas informasi dan dukungan serta support berlebih yang dialamatkan kepada kami sekeluarga. Sesegera mungkin Tina yang bersedih hati ini akan mengunjungi Nenek Tuntun-Tuntun yang beralamatkan di tengah hutan rimba.”

Setelah itu, Tina pun segera memanggil ibunya yang sedang memasak dan menceritakan apa yang terjadi. Tak perlu waktu lama bagi Tina untuk berkemas dan menyiapkan segala sesuatu, termasuk mengenakan selendang merah super bau kesukaannya.

“Akan Tina bawakan kue sisa bulan lalu untuk Nenek Tuntun-Tuntun tersayang. Mudah-mudahan beliaupun senang hati menerimanya.” Kata Tina sambil bersiap.
“Cepatlah pergi, Nak.” Dorong Ibunya. “Nenekmu pasti akan sangat berbahagia. Berhati-hatilah di jalan. Jangan mau diajak ngobrol oleh orang asing. Boleh ngobrol asal orang asingnya ganteng, kaya, baik hati dan mau menikah sama kamu. Hihihi…”

Ibu Tina memasukkan roti, buah-buahan segar, susu, kulkas, mesin jahit, sapi dan traktor ke dalam keranjang Tina. Tina Si Selendang Merah menambahkan sebotol madu, mentega, selai kacang dan ban bekas. Lalu Tina pun memasang tudungnya dan berangkat ke rumah Nenek.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Tina berjalan melewati hutan rimba dengan hati riang dan gembira. Macan dan Harimau mencicit riang, Gorila meraung ramah, Dinosaurus menari gembira dan King Kong tertawa bahagia. Seluruh penghuni hutan riang gembira menyambut kedatangan Tina di hutan Aestera.

[Perhatian para pembaca, berhubung penulis capek menggunakan ejaan yang disesuaikan dengan logat aslinya, penulis balik lagi pake Bahasa Indonesia normal yah. Boleh gak? Gak boleh? Yee…]

“Selamat pagi, Teman-teman.” Sapa Tina ramah. “Maaf, tapi hari ini aku tidak bisa mengunjungi bursa saham bersama kalian. Nenekku sedang sakit, aku harus membesuk dan merawatnya. Sampai jumpa, sampaikan salamku pada teman yang lain yah.”

Para penghuni hutan pun sedikit kecewa, termasuk tukang kredit pompa air yang akhir-akhir ini dicuekin Tina dan ibunya, padahal cicilan mereka sudah dua bulan belum dibayar. Tapi mereka dengan senang hati menemani perjalanan Tina ke tengah hutan. Seperti biasa, gadis ceria itu berjalan dengan bernyanyi riang.

“Akulah Giant!
Aku pandai menyanyi.
Suaraku indah.
Lalalala…”

Tidak terhitung banyaknya warga hutan yang diungsikan ke rumah sakit terdekat setelah mendengar nyanyian Tina yang termasuk dalam jajaran weapon of mass destruction itu.

“HOHOHO!! Sebentar-sebentar, gadis manis! Mau pergi kemana kamu?”

Terdengar suara parau memanggil. Sepertinya suara seseorang yang menderita penyakit batuk kronis, atau paling tidak baru saja menelan lima biji gundu bersamaan. Tidak enak didengar dan berkesan jahat. Mungkin ada baiknya pemilik suara ini ikut audisi jadi dubber hantu film kartun Scooby-Doo.

Tina yang terkaget-kaget pun menghentikan jalannya. Binatang hutan yang tadinya menemani Tina berlarian sembunyi. Tak jauh dari tempat Tina berhenti, munculah sesosok makhluk dari balik semak-semak. Makhluk yang buruk rupa, sudah berbulu, bau pula, moncongnya panjang, hidungnya beringus, tangannya berkuku tajam dan giginya bau tikus.

Makhluk itu adalah si bawel nomor satu, Sang Serigala.

“Jangan ganggu aku, Pak Serigala.” Jawab Tina lantang. “Aku harus cepat-cepat ke rumah Nenek.”

Serigala itu mengenakan tuxedo yang rapi dan berusaha sopan, dengan cekatan Sang Serigala segera memblokir jalan sebelum Tina bisa melewatinya.

“Ah, adik Tina. Kenapa harus terburu-buru? Oh ya, kita belum berkenalan yah? Ahahaha… panggil saja saya Edi Serigala, ini kartu nama saya.” Sang Serigala menyerahkan kartu nama pada Tina yang bengong. “Saya menangani segala macam keluhan kelebihan makanan terutama kelebihan berat badan, menangani permasalahan kelebihan anggota keluarga dan ahli dalam hal memasak ringan.”

“Cepatlah pergi, Pak Serigala!”
“Mmhhmm?” Edi Serigala melirik ke arah keranjang makanan yang dibawa Tina. “Sepertinya kamu membawa beberapa makanan kesukaanku, wahai adik kecil yang manis?”
“Ini makanan kesukaan Nenekku!” jawab Selendang Merah ketus. “Ayo minggir! Aku mau lewat!”
“Tunggu sebentar, anak manis.” Edi Serigala berusaha mempengaruhi Tina dengan terus mengajak bicara dengan ramah. “Kenapa hanya membawa makanan saja? Kamu tidak mencarikan bunga-bunga untuk sang nenek tercinta? Tentunya nenek akan senang bila kau bawakan pula bunga-bunga.”

Selendang Merah jadi gelisah, benar juga apa kata Pak Serigala, Nenek tentu akan lebih senang seandainya dia membawakan bunga-bungaan, tapi…

“Ta-… ta… tapi ibu melarang aku bermain-main di jalan.” Jawab Selendang Merah.
“Ah, kalau hanya berhenti sebentar demi memetik bunga untuk nenek, tentunya ibumu tidak akan marah. Memangnya kamu mau beli bunga di mana? Pelosok Afrika? Itu namanya bukan nyari bunga tapi perjalanan safari, neng.” balas Serigala sedikit gondok.
“I-… Iya ya…” Selendang Merah mulai percaya.

Serigala pun nyengir. Dengan ‘baik hati’, sang serigala pun menunjukkan lokasi bunga-bunga indah yang ada di tengah hutan. Saat Selendang Merah sibuk mengumpulkan dan merangkai bunga, Serigala bergegas menuju rumah Nenek.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

TUK-KETUK-KETUK

Edi Serigala mengetuk pintu rumah nenek.

“Yuhui, spadaaaa… Neneknda di rumah tidak yaaa?” panggil Serigala.
“Haloaaa… sapa di luar yah?” tanya suara dari dalam rumah.
“Saya Nek, ini cucumu si Selendang Merah.” Sang Serigala dengan mahir menirukan suara Tina Tuntun. Tentunya ini bukanlah perbuatan yang baik, karena serigala berbohong. Tidak baik lho berbohong itu, karena tentunya orang yang dibohongi akan bersedih hati, sebaiknya kita selalu jujur baik dalam bersikap dan bertingkah laku. Demikianlah mutiara hati edisi kali ini. ^^;

“Bukakan pintu, Nek. Ini cucumu, Selendang Merah.”
“Gendang murah?” tanya nenek lagi. “Hari gini kok jualan gendang? Aku tidak membutuhkan alat musik lagi. Kemarin sudah kena tipu sales penjual kecapi.”
“Selendang Merah.”
“He? Siapa yang abis ditendang marah-marah?”
“Selendang Merah, Nek!!”
“Pedang Mirah? Buat apa aku nyari-nyari pedang? Aku ini cuma nenek tua yang tinggal di tengah hutan, bukan Samurai X.”
“SELENDANG MERAH!! DASAR NENEK BOLOT!!”
“Eh Tina! Kecil-kecil sudah berani kurang ajar yah sama Nenek!! Masa Nenek dikatain bolot!!”
“Nenek… T_T”

“Aduh, kejutan besar, masuk, masuk… aduh cucuku yang paling cantik di seluruh penjuru dapur. Tumben-tumbenan kami inget sama Nenek?”
“I-iya nek…”
“Aduh!!”
“Ke-kenapa, Nek?” Edi Serigala jadi bingung. Belum diapa-apain kok sudah mengaduh?
“Aduh, cu! Nenek sakit perut!! Nenek musti buang air besar dulu di kali! Kamu jagain rumah dulu sebentar yah!!” teriak sang nenek sambil berlari keluar rumah menuju sungai sambil membawa ember dan gayung.
“Jo-jorooookk!!” tukas Edi Serigala sambil memegang hidung menahan bau.

WHOOOSSSSHHHH~
Sang nenek berlari tanpa memperdulikan kehadiran Edi Serigala.

Lho, tapi ini situasi yang baik sekali! Setelah nenek pergi, Edi Serigala bisa menyamar menjadi nenek untuk mengelabui Si Selendang Merah! Serigala pun bergegas menuju kamar nenek, lalu mengenakan baju tidur nenek. Tak lupa dia memakai kacamata ekstra tebal dan make up tambahan persembahan Revlon. Setelah semua persiapan selesai, Serigala pun naik ke tempat tidur dan berlagak sakit keras seperti nenek.

“Sekarang namaku bukan Edi Serigala lagi, tapi Nenek Tuntun.” Kata Serigala mendalami perannya.

Tidak lama kemudian, terdengar ketukan di depan pintu.

TUK-KETUK-KETUK

“Siapa itu?” tanya Serigala dengan suara dimirip-miripin kayak nenek.
“Ini aku, Nek! Selendang Merah.” Kata Selendang Merah dari depan.
“Oh! Buka saja pintunya, cucuku sayang.” Kata Serigala lagi. “Masuk saja jangan malu-malu.”

Selendang Merah pun masuk ke dalam dan langsung menuju kamar nenek.

“Woohh… Ke-kenapa, Nek?” tanya Selendang Merah dengan khawatir melihat sesosok makhluk mirip nenek teronggok di ranjang. “Nenek sakit apa? Kenapa telinga nenek jadi panjang dan berbulu? Itu telinga atau ketiak?”
“Uhh… uhhh… Ini headphone kok, cucuku sayang. Akhir-akhir ini Nenek hobi dengerin lagu dari walkman, jadi sering pake headphone.”
“Dan mata Nenek? Kenapa berubah jadi besar dan hijau seperti kelereng?”
“I-ini memang kelereng… waktu mencari obat tadi Nenek jatuh dan matanya kelilipan kelereng.”
“Ta-tapi Nek…” kata Selendang Merah dengan waswas. “Kenapa gigi Nenek berubah jadi besar dan runcing? Salah pake odol?”

Serigala yang cerdik dan jahat itupun segera meloncat dan menggeram. “Gigiku besar dan runcing supaya dapat memakan kamu!!”

“HUWAAAAAAAAAAAAAAA!!!” Selendang Merah yang terkejut pun berlari keluar dengan cepat. Jangan salah, Selendang Merah adalah juara triathlon di desa Sukamaju.
“Ja-jangan kencang-kencang larinya!” teriak Serigala sambil mengejar Selendang Merah. “Aku nanti capek kalau kamu kencang-kencang!”
“Yee~ sebodo amat!”

Selendang Merah terus berlari menuju hutan. Hanya satu yang ada dalam pikirannya, menyelamatkan diri! Serigala tidak kalah berjuang, dia mengikuti Selendang Merah, hanya satu yang ada dalam pikiran Serigala, kenapa kok dia dari tadi terus memakai rok Nenek?

BUGSSSS~~!!

“Kaiiingg!! Kaiiiingg!! Ehh… anu Auuuuu!! Auuuuu!!” teriak Serigala kesakitan.

Lho? Kenapa kok Serigala kesakitan? Rupanya kepalanya benjol dipukul benda keras. Sapa sih? Gak tau diri amat? Lagi action gini main embat aja?

Dan kagetlah Serigala nan jahat itu mendapati Selendang Merah dan Neneknya yang untungnya sudah selesai buang air bersembunyi di balik Pak Nono Sunono sang penebang kayu. Pak Nono Sunono membawa kapak raksasa yang gedenya satu kapal pesiar. Benda itulah rupanya yang memukulnya!!

BUGGSSS~~!!
BUGGSSS~~!!

“Aduuuuh!! Ampunn!! Ampuuuunn!!” teriak Serigala sambil melarikan diri.
“Dasar serigala jahat! Mau kamu apakan Adik Tina Tuntun yang jenaka ini? Biar tau rasa! Hih!” Pak Nono Sunono pun terus memukulkan ujung kapaknya ke kepala Serigala.

Tentunya adegan berikutnya terpaksa kita sensor karena teramat sadis, apalagi pemeran Serigala dalam kisah ini sampai harus dilarikan ke rumah sakit terdekat karena luka-luka bacokan yang dialaminya.

Pada intinya, Pak Nono Sunono sang penebang kayu ilegal yang bersahaja itu akhirnya berhasil menyelamatkan Selendang Merah dan Neneknya dari serangan si Serigala Jahat dan mengusir biang keributan itu jauh-jauh dari Desa Sukamaju.

“Nah, kalian bisa tenang sekarang.” Kata Pak Nono. “Serigala itu tidak akan mengganggu kalian lagi.”
“Horeeeee… kita aman!” teriak Selendang Merah.
“Terima kasih Pak Nono.” Kata Nenek. “Sekarang kita semua bisa hidup dengan damai.”

Demikianlah kisah si Selendang Merah. Semuanya hidup berbahagia. Termasuk si Serigala yang pindah ke hutan lain dan memilih berburu tiga babi kecil.

THE END

Moral dari cerita ini: Selendangnya jangan lupa dicuci. Hihihi…

0 comments: