Heart Be No Soul Ch.4

|
==================
HEART BE NO SOUL
Created By Shaven
==================

Kisah ini hanyalah fiktif biasa, kalaupun ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, hal itu tidak dilakukan dengan sengaja. Peringatan: beberapa kejadian di SACN ini mengandung unsur sex dan violence yang mungkin tidak cocok untuk dibaca mereka yang masih di bawah 21 tahun. You have been warned. Peringatan ini adalah yang pertama dan terakhir.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Episode Empat: “Route 66”


Mobil yang mereka kendarai melaju dengan sangat pelan. Sepelan angin yang berhembus di sepanjang jalan. Benar-benar situasi yang membosankan. James 'Jim' Beltone masih duduk di belakang, bersama-sama dengan dua rekannya yang lain. Si kacamata itu berulang-kali mengumpat. Perjalanan ini membuatnya sedikit stress dan bosan. Pemandangan di luar hanyalah padang pasir tandus, pegunungan dan terkadang-kadang hanya sedikit hijau pepohonan. Jarang memasuki kawasan perumahan.

“Seharusnya bos tidak telpon malam tadi.” omel Jim.

Rocco dan Dutch duduk di depan, sementara Jim, Nick dan Vinnie duduk di kursi belakang. Mobil itu penuh. Rocco menyetir, Dutch masih membaca buku kecil misteriusnya, Nick tertidur dan Vinnie sama seperti Jim, duduk kebosanan sambil mengamati pemandangan selama perjalanan.

“Bisakah kau menyetir lebih cepat lagi?” tanya Jim pada Rocco.
Rocco diam saja.
“Bisakah kau diam?” ujar Dutch yang bosan mendengar umpatan Jim.
“Well, sorry, 'mr. i am reading my black little mysterious book all the time so please don't disturb me because this is a library on the road'.” tukas Jim ketus.

Vinnie cekikikan.
Dutch sama sekali tidak berpaling ke belakang.

“Paling tidak kau punya kerjaan di depan situ.”
“Cari-cari kegiatanmu sendiri.” jawab Dutch datar.
“Apa misalnya?” sungut Jim. “Membuang diriku ke padang tandus?”
“Itu sebagai permulaan.”
“Anak pintar.” Jim makin kesal. “Dia anak pintar, Vinnie! Kau tahu kenapa bos suka padanya? Karena dia anak pintar.”
“Silahkan buang dirimu sekarang keluar, Jim. Omelanmu membuatku muak.”
“Kau merasa muak karena di restoran tadi kamu makan kari dengan bumbu aneh.”
“Setidaknya kari itu nampak lebih menyenangkan daripada dirimu saat ini.”
“Memangnya kari-nya enak?”
“Lumayan.”

Jim masih melayangkan pandangan ke luar jendela, dan Dutch masih belum berpaling ke belakang.

“Sial.” ujar Jim kemudian.
“Sial?”
“Ya. Sial.”
“Memangnya kamu makan apa tadi?”
“Spaghetti.”
“Ow.” kali ini Dutch berpaling ke belakang. Ia menaruh buku hitam kecil-nya ke dashboard. “Itu memang benar-benar sial.”

“Spaghetti? Kau makan spaghetti?” tanya Vinnie ikut-ikutan ngobrol.
“Ya. Spaghetti. Kenapa kalian heran?”
“Seperti apa rasanya?” tanya Vinnie.
“Potongan plastik digiling dengan daging. Benar-benar tidak enak. Aku memang sial.” jawab Jim.

Jim memandang keluar sebentar, lalu berpaling pada Dutch dan Vinnie.

“Seharusnya kau tidak makan spaghetti.” ujar Dutch.
“Mungkin kamu orang pertama dalam tiga tahun terakhir yang makan spaghetti di restoran Papa Vito.” kata Vinnie. “Setidaknya bagi kalangan kita-kita ini.”
“Memangnya ada larangan makan spaghetti?” tanya Jim.

“Hah!” ejek Vinnie. “Apa kamu tinggal di kutub selatan? Spaghetti di Papa Vito terkenal busuk.”
“Lalu kenapa dia menaruhnya di menu?”
“Karena harus.”
“Harus?”
Vinnie mengeluh. “Papa Vito adalah restoran khas Italia, Jim.”
“Lalu?”
“Spaghetti adalah menu Italia.” lanjut Dutch. “Ia HARUS memasukkan itu ke menunya.”
“Kalau tidak enak?”
“Masalahnya bukan enak tidak enak, Jim, tapi karena itu makanan Italia.”
“Itu memaksa sekali.”
“Ya.”
“Memang.”
“Memangnya kari masakan Italia?”
“Paling tidak ia harus membuat sesuatu yang lebih enak daripada spaghetti.”
“Oh?”

Niccolo 'Nick' Cosetti menguap sebentar, ia sempat terbangun, membuka matanya sedikit dengan malas, lalu melirik Jim, Vinnie dan Dutch yang sedang ngobrol tidak tentu arah, lalu membalikkan badan, dan menguap lagi. Setelah itu matanya kembali terpejam dan ia kembali tidur. Ia tidak peduli pada teman-temannya. Mereka selalu meracau bila sedang bosan, dan itu selalu membuatnya merasa sebal. Ia lebih suka tidur. Apalagi semalam bos menelpon mendadak mengenai perjalanan ini. Nick masih mengantuk. Perjalanan bisnis mendadak seperti ini membuatnya capek. Lebih baik ia tidur saja.

Dutch kembali mengambil buku kecil hitamnya dari dashboard. Tidak ada yang tahu apa sebenarnya isi buku hitam kecil itu. Tidak ada yang mau tahu. Dalam perjalanan kemanapun ataupun dalam situasi apapun, Dirk 'Dutch' Van Nerg selalu membawa-bawa buku hitam kecilnya. Dia dijuluki 'Dutch' karena memang dia satu-satunya keturunan Belanda dari kelompok ini. Mereka berlima kecuali Dutch punya darah Italia. Ia sering jengkel kalau disepelekan orang-orang keturunan Italia ini. Terutama oleh Jim. Jim adalah musuh bebuyutannya. Mereka sering berdebat tak tentu arah. Walaupun mereka berdua adalah rekan kerja yang sangat handal. Jim menuduh Dutch menjadi anak kesayangan pimpinan, dan sering jadi wakil pimpinan dalam perjalanan bisnis seperti sekarang ini. Dutch tidak mau tahu. Kesayangan atau tidak, ia hanya mau uang mengalir lancar mengisi dompetnya.

Vincent 'Vinnie' Carpaglione. Satu-satunya orang yang bisa menengahi mereka berlima, ia juga yang paling tua dan bijaksana. Bila Dutch sedang kebingungan mengambil keputusan, ia selalu minta saran pada Vinnie. Demikian juga Jim, ia amat menaruh hormat pada Vinnie. Ia beranggapan bahwa seharusnya Vinnie mendapatkan promosi dan mendapatkan jabatan yang lebih baik dari pimpinan. Perjalanan kali ini bisa jadi pembuktian ampuh tentang kemampuan Vinnie. Vinnie sudah berkeluarga dan punya dua orang anak. Banyak yang tahu ia juga sering mengunjungi kawasan mesum di Classic City.

Rocco. Tidak ada yang tahu nama asli dan nama panjangnya. Ia hanya dikenal dengan 'Rocco'. Rocco amat pendiam dan menakutkan, ia hanya berbicara sepatah-dua patah kata saja. Wajahnya amat kotak dan keras. Orang akan ketakutan melihat mahkluk besar dan mengerikan seperti Rocco. Jim pernah iseng mengatai Rocco dengan sebutan Frankenstein. Dan itu sebutan yang sepertinya tepat. Keangkeran Rocco memang seperti makhluk ciptaan Dr. Victor Frankenstein. Tubuhnya kekar, tinggi, besar, culun, dengan pandangan mata sayu seperti mengantuk dan kekuatannya mengagumkan. Dalam perjalanan bisnis jarak jauh, Rocco selalu diandalkan Jim dkk sebagai sopir. Karena hanya dia yang mau, dan karena hanya dia yang tahan naik mobil berjam-jam tanpa lelah.

Jim kembali memandang keluar jendela. Ia melirik sebentar ke arah jam tangannya. Masih satu setengah jam perjalanan. Masih akan lama dan amat membosankan. Pandangannya diarahkan ke awan-awan di atas langit. Ia jadi ingat pada Anita. Si jelita itu sedang apa ya saat ini? Tentunya akan sangat menyenangkan memeluk tubuhnya pada saat-saat membosankan seperti ini.

“Aku juga makan spaghetti.” kata Rocco tiba-tiba dari balik kemudi.

Dutch, Vinnie dan Jim kaget. Nick sudah lelap kembali.

“Apa?” tanya Jim.
“Aku juga makan spaghetti.” ulang Rocco.

Dutch, Vinnie dan Jim saling berpandangan. Lalu Jim pun mengangkat bahu dan kembali melihat keluar jendela. Benar-benar akan jadi perjalanan panjang yang membosankan.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Gareth Jordan memastikan dirinya sudah siap berangkat kerja. Ia mencek ulang isi tasnya. Kertas-kertas kerja, kalkulator, pena, handphone, notebook, memory stick, disk, charger, buku catatan, agenda, beberapa kertas-kertas lain. Sepertinya sudah semua. Ia mengangguk-angguk sendiri dan mendengungkan lagu anak-anak. Sudah sejak pagi tadi ia gagal menghubungi Sophie dan anak-anak. Kenapa yah kiranya? Ia tidak habis pikir. Ia berniat menelepon nanti dari kantor.

Gareth menyeruput sisa kopi kentalnya.

Lalu mengambil kunci mobil dan berjalan ke arah depan. Mobil sudah siap di luar. Dia memastikan sudah menutup semua pintu, melirik kesana kemari, dan akhirnya beringsut ke pintu depan. Melangkah keluar, tersenyum memandang langit biru dan sambutan matahari yang cerah. Gareth mengunci pintu. Corvette kesayangannya sudah menyambut di luar pintu garasi.

Ia mencoba mengeluarkan kunci mobil, lalu membuka pintu depan. Untuk beberapa saat Gareth tertegun.

'Aneh.' pikirnya. 'Sepertinya kemarin aku sudah mengunci pintu mobil ini?'

Gareth mengangkat alis keheranan. Tapi kemudian ia mengangkat bahu dan masa bodoh. Paling-paling ia hanya kelupaan, mungkin gara-gara ia rindu pada istrinya yang cantik dan anak-anaknya yang manis. Gareth memasukkan kunci mobil ke tempatnya. Dan ia memutarnya.

.....

Hanya dalam hitungan detik. Mobil Corvette dan Gareth didalamnya meledak berkeping-keping.

Tidak, ia tidak sempat berteriak. Bahkan ia mungkin tidak sempat merasa kesakitan, semua berlangsung dengan sangat cepat dan mengagetkan. Ledakan itu begitu kerasnya.



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
shaven note
1. the fast pacing, unending, no meaning talk by Jim and the crews were inspired by movie series “the west wing” and “gilmore girls”
2. “route 66” is a title of a song

THIS WORK IS IN PENDING

0 comments: