THE RAYS OF AVERA
Created by Shaven
CHAPTER ONE
Step On Carmelion
Krucuk~ krucuk~
“Argh! Ayah! Aku sudah tidak kuat lagi! Lapaaar! Ghaaaa!!”
“Hoeeekkkkkhhh!!! Buset! Kalo buka mulut jangan lebar-lebar! Apa gak tau kalo mulutmu itu bau naga?”
Dua sosok manusia yang terdiri dari ayah dan anak yang mengenakan pakaian serba hitam memasuki gerbang kota Carmelion dengan lunglai. Untuk sampai ke kota kecil itu, mereka berdua harus melalui gurun pasir Carmoby yang liar dan tandus selama berhari-hari. Tentunya mereka tidak sempat mampir ke warung makan atau warung tenda karena tidak ada yang jualan di tengah gurun, walhasil mereka makan seadanya, mereka makan hasil buruan seperti binatang-binatang kecil lincah yang tak berdosa seperti bunny dan kelinci (apa bedanya kelinci sama bunny? ^^;), makanan yang ‘kurang layak makan karena terlalu cute dan sangat minim gizi’ selama berhari-hari.
Sebenarnya tidak perlu bersusah payah seperti itu untuk pergi ke Carmelion, karena toh banyak angkutan umum yang lewat, tapi dasar sok cool dan demi gengsi pendekar, mereka memilih berjalan kaki. Mana ada tokoh RPG yang di bagian awal skenario naik angkutan umum? Nggak keren kan?
Sang ayah berusia sekitar 42 tahun, yang walaupun sudah berkepala empat namun masih menyisakan wajah ganteng, apalagi penampilannya masih seperti anak muda dengan rambut gondrong yang melambai. Sebilah pedang panjang tersarung rapi dan diikatkan di punggungnya. Pakaian dan celananya serba hitam, dengan rompi sepanjang lutut berwarna gelap, tas pinggang hitam dan tampang yang sok keren. Sang ayah ini bernama Rover Ray.
Sang anak tidak kalah jual tampang. Sinar mata jujur membias di bulat mata hitamnya yang tajam. Tubuhnya yang tinggi dan atletis sama sekali tidak menampakkan usianya yang sebenarnya baru 15 tahun. Berpakaian sama seperti sang ayah, serba hitam, baju, celana, sarung tangan dan sepatu hitam. Tak lupa, sang anak mengenakan jaket berwarna biru yang matching dengan wardrobenya sebagai pemanis performa. Biar kata pendekar yang penting penampilan nomor satu, hehehe. Di kiri kanan pinggangnya tersarung dua bilah pedang pendek. Sang anak ini bernama Mark Ray.
“Arghhh… ayolah, Ayah!” pinta Mark memelas. “Beliin aku bunny goreng atau apa kek yang enak-enak. Pelit amat sih jadi Ayah!”
“Dasar Anak gak tahu diri! Perut karet! Bukannya tadi kamu udah ngembat daging Giyom* bakar sampai gak ada sisanya? Sekarang kok udah pengen makan lagi!? Yang ditelen tadi aja belum keluar!!” Rover ngamuk-ngamuk.
“Lho, itu kan sarapan, Yah? Lain dong! Sekarang waktunya makan siang!”
“Grr… anak dodol dudulipret! Memangnya duitku bisa nongol dari jidat? Boros amat sih kamu! Gak tau apa kalo akhir-akhir ini pekerjaan kita seret? Jarang ada proyek? Udah sukur hari ini Bangsawan Von Gard mau menyewa kita!”
“…huh pelit…”
“Pokoknya hari ini kamu harus bantuin Ayah kerja untuk bangsawan itu!”
“Yah, tergantung berapa Ayah mau gaji aku …”
“Materialistis! Dudul! Ke laut aja!! Memangnya aku siapamu!?”
“Waduh… jangan samakan hak dan kewajiban lah! Kalo emang niat kerja mustinya profesional dong. Ayah ya ayah, tapi duit ya duit, pokoknya kalo gak dibayar aku gak mau ikut bantuin. Apalagi ini pekerjaan berat, harus mempertaruhkan nyawa dan harga diri. Belum lagi dipotong pajak penghasilan… hmm…”
“Dih… Anak sompret!” Sang Ayah bersungut-sungut. “Jangan ribut melulu! Aku mau bikin proposal nih, takutnya kalo salah bikin bisa kalah tender!”
“…pelit ya pelit…” Mark menggerutu. “Mana mungkin kalah tender? Bangsawan Von Gard kan cuma manggil Ayah.”
Memangnya apa sih pekerjaan Rover dan Mark Ray? Mereka adalah Monster Hunter. Sebuah pekerjaan yang sangatlah umum di cerita-cerita fantasi dan game-game RPG. Jadi penulis mestinya tidak perlu memberikan banyak keterangan tentang pekerjaan itu yah. Kalian kan udah pada pinter-pinter, Hehehe…
Monster Hunter adalah pemburu monster (Ya iyalah, kalo Pokemon Hunter itu namanya pemburu Pokemon, dasar penulis tidak tahu diri! Emangnya pembaca gak bisa bahasa Inggris apa!?), sering pula disebut Exterminator*. Di bumi Avera* ini, banyak yang bekerja sebagai Monster Hunter. Ada yang bekerja part time atau per-proyek seperti keluarga Ray, ada pula yang bekerja resmi untuk pemerintah atau kerajaan yang berkuasa. Maklum sajalah, dengan banyaknya monster yang berkeliaran bebas di gurun pasir, hutan, pegunungan dan laut (Pokoknya kayak RPG-lah, monster berbagai jenis, nama dan bentuk berkeliaran bebas di mana-mana) diperlukan Exterminator-exterminator untuk mengamankan daerah di luar kota berpenduduk dan jalan-jalan antar kota yang dilalui oleh penduduk Avera.
“Satu monster kecil harganya 15.000 kyon. Untuk yang gede ato kekuatannya di atas 5.000 ki*, harganya antara 25.000 sampe 30.000 kyon.” Kata Rover sambil menulis di kertas kecil. “Hmm… kira-kira gimana Mark?”
“Kemahalan tuh, Yah.” Protes Mark. “Kemaren aja pasangan Exterminator dari Bdonge, si Bob Skuaropanto sama Starfish Pat pasang obral! Monster di atas 5.000 ki cuma dihargai 20.000 kyon!”
“Buset!” Rover geleng-geleng kepala. “Cuma 20.000? Udah punya nyawa dobel kali dua anak itu? Wah sial, matiin harga pasaran aja!”
“Kita pasang 22.000 kyon aja. Gak kemahalan, gak kemurahan. Pake duit segitu aku juga masih bisa beli makanan di pasar Carmelion.”
“Makan aja dipikirin.”
“Sebodo.” Mark melengos. “Aku kan masih dalam masa pertumbuhan.”
Memasuki kota Carmelion, barulah mereka sadar. Ternyata di kota kecil yang terpencil di tengah gurun itu sedang berlangsung sebuah festival rakyat yang sangat meriah. Sepertinya ada peristiwa penting yang sedang dirayakan dengan gembira oleh penduduk Carmelion. Tua muda, besar kecil, cowok cewek, semuanya bersiap, menghias rumah dan jalan, memasang lampu dan obor, menebarkan confetti dan berpakaian serba indah.
“Weleh-weleh, untung juga kita kesini.” Ujar Rover sambil senyum-senyum simpul. Matanya mulai jelalatan. “Banyak cewek-cewek cakep berkeliaran.”
Mark geleng-geleng, udah tua masih napsu aja. “Cewek aja dipikirin.”
“Biarin.” Rover melengos. “Aku kan masih dalam masa puber kedua.”
“Dasar genit.”
Melewati kerumunan orang yang sedang menonton pawai, Rover dan Mark Ray sampai di depan seorang badut karnaval yang sedang melakukan juggling. Badut itu melawak kesana kemari dengan mengendarai sepeda roda satu. Para penonton tertawa melihat ulah si badut berpakaian jester. Tak perlu waktu lama bagi sang badut untuk menyadari kehadiran kedua Exterminator kita.
“Yoho-yoho! Ada dua orang pake baju item! Duh, serem bo~ sapa takut pake hitam? Ahahahahaha…” tawa si badut sok lucu.
“Pff~ jayus.” Sungut Rover. “Ini namanya mode, kayak The Matrix! Kalo kamu? Udah tua kok masih pake baju jester. Gak malu sama anak cucu apa?”
“Ahahahahaha… dih bapaknya pengen nglucu… ahahahaha… ih anaknya cakep juga lho, untung wajahnya sama sekali gak mirip sama bapaknya! Ahahahaha…”
“Grr…” Rover sudah siap mencabut pedang.
“Sudah-sudah…” Mark pun menahan sang ayah yang darah tingginya kumat. “^^;. Diejek gitu aja marah. Kalo emang punya tampang jelek gak perlu sok imut, Yah.”
“Kamu ini… bukannya nenangin malah…”
Meninggalkan lokasi keramaian, Rover dan Mark menelusuri jalanan Carmelion sambil tak lupa bercakap-cakap dengan tiap NPC yang ada. Mumpung lewat sok kenal sok dekat. Berikut ini adalah catatan percakapan dengan beberapa NPC yang berhasil dihimpun redaksi [^^;] :
NPC 1 (penduduk biasa) : “Wah, asyiknya kalo lagi Festival Rembulan. Semua sibuk menghias kota.”
NPC 2 (anak penjual lampion) : “Ibuku biasa menjual lampion seharga 50 kyon, tapi selama digelar Festival Rembulan, lampion kami bisa laku sampai 100 kyon perbuah.”
NPC 3 (pemilik toko merchandise) : “Selamat datang! Kalian ingin membeli apa? Hari ini kami menjual Healing-Herbs dengan murah. Kami jual obral lho selama festival.”
NPC 4 (penduduk biasa) : “Dimana tempat pendaftaran NPC yah? Aku pengen ikut lagi. Gajinya lumayan gede, padahal nongol juga cuma seadanya gini.”
NPC 5 (anak kecil di pinggir jalan) : “Kalau sudah besar nanti, aku ingin jadi Exterminator! Aku akan mendaftar sekolah di Harrow*!”
NPC 6 (seorang pekerja tambang yang sedang bengong) : “Dulu aku pernah bekerja di suatu tempat, tapi aku lupa dimana tempat itu. Waduh, gimana yah? Kalian bisa bantu mencarikan pekerjaan? Ini CV-ku.”
Setelah puas berjalan-jalan keliling kota, sok akrab dengan penduduk, makan dan istirahat sejenak di Inn, Rover dan Mark Ray bergegas menuju kastil besar di ujung kota, tempat bangsawan besar Von Gard berada. Kastil itu berada di sisi bukit batu-batu raksasa yang berada sedikit di atas Carmelion.
Sudah menjadi rahasia umum kalau sejak menemukan tambang ‘Powerstone’* (berfungsi sebagai alat penyedia energi, kalo di tempat kita mirip minyak bumi), Bangsawan Von Gard menjadi tokoh nomor satu pembangunan kota Carmelion. Dengan mesin-mesin pembor yang didatangkan khusus dari kota industri Bdonge, Von Gard menggali gua, menambang Powerstone dan menjualnya ke seluruh negeri. Sejak saat itu, kota Carmelion melesat menjadi kota penghasil Powerstone ternama.
Kastil Von Gard terletak di bagian ujung kota Carmelion, bersebelahan dengan gua raksasa tempat penambangan Powerstone milik Von Gard. Meskipun menjadi orang yang berhasil membangun Carmelion, Von Gard tidak mau ditunjuk sebagai walikota. Dia hanya ingin menjalankan bisnisnya dengan tenang dan tanpa gangguan, termasuk dari monster-monster yang berkeliaran.
Belum sampai pintu masuk kastil, Rover dan Mark Ray sudah dihadang oleh seorang bodyguard berbody gede. Err… bodyguard apa satpam yah kok jaga pintu?
“Maaf, karena terganggu masalah kesehatan, Tuan Von Gard tidak ingin menemui siapapun.” Kata sang bodyguard merangkap satpam. “Sebaiknya anda meninggalkan tempat ini.”
“Kami datang karena diundang kemari.” Jelas Rover sambil mengeluarkan sepucuk surat dari tas pinggangnya. “Kami berasal dari Aretsea. Beberapa hari yang lalu Tuan Von Gard mengirim surat pada saya agar segera menemuinya di Carmelion, ini suratnya. Nama saya Rover Ray dan ini anak saya Mark.”
“Oh? Anda Rover Ray? Maaf saya tidak mengenali anda! Saya kira anda tukang jual kerupuk! Baiklah, silahkan masuk! Tuan Sebastian Von Gard sudah menunggu anda! Mari, silahkan masuk!”
Tak perlu waktu lama, pintu gerbang dibuka. Soundtrack bernada gagah pun mengalun mengiringi kedua tokoh kita memasuki kastil bersama sang pengawal (pengawal aja deh, kalo bodyguard sama satpam kayaknya aneh).
“Kenapa Tuan Von Gard mengasingkan diri? Bukankah di kota sedang berlangsung Festival Rembulan? Beliau tidak tertarik dengan festival itu?” tanya Mark pada sang pengawal. “Apa benar beliau sedang sakit?”
“Bisa dibilang demikian.” Jawab sang pengawal.
“Dih… jawabnya kok irit bener. Mentang-mentang cuma kebagian peran jadi NPC.”
“Apa?”
“Ng… nggak… nggak kok… tadi cuma bilang esekelemese… ^^;”
Sang pengawal pun manggut-manggut aneh.
“Alasannya kok gak mutu. Apa itu esekelemese?” bisik Rover nimbrung.
“Yah mau bilang apa lagi? Cuma itu yang kepikiran.” Jawab Mark sekenanya.
“Hmm… ada sesuatu yang aneh disini.”
“Oh ya? Sejak kapan Ayah punya kemampuan detektif?”
“Kamu anak kecil tahu apa? Begini-begini Ayah kan jebolan Harrow!”
“Puff… drop-out aja sombong.”
“Kastil ini sangat sepi, setahuku Bangsawan Von Gard memiliki banyak karyawan. Sedari tadi aku hanya menjumpai satu dua pengawal. Untuk ukuran sebuah kastil besar, hal itu sangat aneh.” Kata Rover tidak mempedulikan ocehan Mark. “Kastil ini juga sepi hiasan, setahuku lagi, Bangsawan Von Gard sangat ramah dan peduli pada penduduk Carmelion, jadi tidak mungkin beliau melewatkan pesta rakyat besar seperti Festival Rembulan.”
Mark mau tidak mau terbengong-bengong dengan interior kastil Von Gard. Bangsawan ini benar-benar kaya. Lebih tepat lagi kalo disebut benar-benar kaya dan jorok. Kotoran dan debu berserakan dimana-mana, seakan-akan kastil ini baru saja memecat cleaning servicenya. Benda-benda berharga yang pasti laku dijual diatas 5.000 kyon dibiarkan teronggok di pojokan dikelilingi sarang laba-laba.
Sampai di ruang tengah yang sangat besar, sang pengawal mempersilahkan Rover dan Mark untuk duduk di kursi yang untungnya lumayan bersih.
“Maaf, silahkan tunggu sebentar. Saya akan memberitahukan kehadiran anda berdua pada Tuan Von Gard.” Kata sang pengawal. “Beliau sedang berada di kamar.”
Rover dan Mark mengangguk berbarengan dengan kompak. Sang pengawal jadi curiga, apa bener nih orang berdua monster hunter? Bukannya ondel-ondel?
“Siapa kalian?”
Mark mendengar suara paling merdu yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Dengan serta merta, diapun menengok ke arah asal suara. Dia pun terpesona melihat seorang malaikat cantik menuruni tangga.
Ah, bukan. Bukan malaikat! Mark menggelengkan kepala penuh pesona.
Seorang gadis muda cantik mengenakan pakaian bangsawan berwarna merah muda berdiri di tangga yang menuju ke ruangan atas. Rambutnya yang berwarna merah dibiarkan tergerai, kulitnya seputih susu dan tingkah lakunya sangat anggun, usianya ditaksir tidak lebih tua dari Mark. Bagaikan tokoh putri dari cerita-cerita Disney, sang gadis berjalan perlahan menuruni tangga dan menemui kedua tokoh utama kita.
“Siapa kalian?” ulang sang gadis. Siapa tahu mereka berdua bolot.
“Ka-kami ini sang gembala sapi… eh, maksudnya kami ini sapi… aduh…” Mark terbata-bata saking terpesonanya.
“Kami ini Exterminator dari Aretsea. Saya Rover Ray dan ini anak saya Mark. Kami datang untuk memenuhi undangan Tuan Von Gard sekaligus mengajukan proposal pembasmian monster.” Kata Rover. “Kalau saya tidak salah, anda ini putri dari Tuan Von Gard?”
“Emh… bukan…” jawab sang gadis.
“Lho bukan?” Rover pun tengsin sambil membolak-balik naskah skenario.
“Yee… salah yee…” ejek Mark. “Makanya jangan sok tahu!”
“Dasar anak lutung.” Maki Rover.
“Perkenalkan, saya…” belum sampai selesai si gadis memperkenalkan diri, sang pengawal sudah keluar dan mengiringi seorang pria tambun yang berpakaian serba merah, sekilas lihat mirip Sinterklas, dilihat sekali lagi, mirip Jojon (buset jauh amat perbandingannya… Sinterklas ama Jojon ^^;).
“Maaf-maaf… kalian harus menunggu lama. Selamat datang di kota Carmelion. Saya Sebastian Von Gard” Sambut Von Gard sambil menyalami Rover dan Mark. Von Gard juga melihat sang gadis di ujung tangga. “Ah, Lady Lasalle. Anda juga sudah bangun rupanya.”
Sang gadis yang dipanggil Lady Lasalle tersenyum. “Ini sudah siang, Tuan Von Gard. Tentu saja saya sudah bangun.”
“Jadi kalian berdua adalah Ray Sr. dan Ray Jr. eh?” Von Gard kembali pada Rover dan Mark. “Kalian mendapatkan rekomendasi tinggi dari Walikota Aretsea. Itu sebabnya saya ingin menggunakan tenaga kalian. Bisa saya lihat dahulu proposalnya?”
“Wah, walikota memang paling pintar jadi tenaga marketing.” Puji Rover setinggi langit sambil menyerahkan ‘proposal’ yang berisi daftar harga itu.
“Jujur saja… err… Tuan Rover Ray. Masalah yang saya hadapi ini lumayan pelik, membuat saya tidak bisa tidur apalagi makan. Saya biasanya sarapan enam atau tujuh piring, tapi gara-gara masalah ini selera makan saya berkurang, hanya bisa makan lima piring.” Kata Von Gard bersedih.
“Lima piring juga masih terlalu banyak sebenernya…” bisik sang pengawal.
“Pengawal! Kamu diam aja! Gak usah komentar! Cuma NPC aja ribut!” maki Von Gard.
“Kalau boleh saya tahu, apa masalahnya, Tuan Von Gard?” tanya Rover.
“Jadi begini…” kata Von Gard memulai cerita. “Kalian tentunya tahu bahwa dagangan utama saya dan kota ini adalah Powerstone yang ditambang dari gua di sebelah kastil ini, kan? Nah, beberapa minggu yang lalu, kami ternyata juga berhasil menemukan beberapa Raw Orb dari dalam tambang.”
“Raw Orb? Buset.” Mark geleng-geleng kepala. “Kalau diasah di Tukang Orb bisa jadi barang berharga.”
“Benar sekali. Entah mengapa saya jadi serakah dan ingin menambang orb itu pula dalam jumlah besar, sehingga saya mengebor jauh ke dalam. Ternyata…”
“Ternyata?” tanya Rover dan Mark hampir bersamaan.
“Ternyata saya malah menggali ke sarang naga.” Kata Von Gard sambil mengelap keringat yang mulai mengucur. “Naga-naga itu berbalik menggali keluar sarang dan saat ini sedang berusaha menuju Carmelion. Saya benar-benar celaka. Ini masalah yang pelik sekali. Oh sedihnya saya. Carmelion berada dalam bahaya kalau sampai ada sekawanan naga keluar dari tambang Powerstone.”
“Sebentar-sebentar…” Rover berusaha menyabarkan Von Gard sekaligus menyimpulkan apa yang baru diceritakannya, maklumlah, Rover kan rada-rada telmi. “Jadi saat anda mencari Orb, anda malah menemukan sarang naga?”
“Benar. Naga-naga yang benar-benar besar.”
“…dan saat ini para naga sedang berusaha keluar dari sarangnya lewat lubang yang anda gali dari Carmelion?”
“Benar. Saya takut beberapa minggu lagi naga-naga itu sudah berhasil membuka jalan melalui tambang Powerstone. Mereka memang bukan tikus dan kemampuan menggalinya tidak begitu baik, tapi tetap saja…”
“Anda takut nanti naga-naga itu mengganggu Carmelion?”
“Jelas! Carmelion adalah kota terpencil yang berada di tengah padang gurun! Kami akan kesusahan memanggil Exterminator dari jauh dalam keadaan darurat. Itu sebabnya sebelum kerusuhan besar terjadi di Carmelion, saya memutuskan untuk memanggil anda. Seandainya saya memanggil para Exterminator dari Harrow, situasinya pasti lebih gaduh lagi, mereka lebih senang datang berbondong-bondong ala marching band, kota Carmelion malah bakal jadi tambah kacau.”
“Kenapa tidak menyewa permanen saja? Itu kan lebih baik? Toh anda punya dananya kan?”
“Itulah masalahnya… saat ini saya sedang jatuh miskin…”
Mulut Rover dan Mark menganga lebar.
“Miskin kok sarapannya lima piring.” Bisik Rover pada Mark.
“Semenjak kemunculan sang naga, satu demi satu pekerja tambang saya menghilang. Para insinyur saya juga mengundurkan diri karena ketakutan dan kabur meninggalkan Carmelion. Untungnya saya bersikeras untuk merahasiakan peristiwa di pertambangan pada penduduk Carmelion, karena mereka pasti akan menyalahkan kerakusan saya.” Kata Von Gard. “Secara sepihak saya telah menganaktirikan penambangan Powerstone karena ingin mencari Orb, padahal Powerstone adalah sumber pendapatan terbesar bagi kota ini. Gara-gara keputusan itu, kondisi keuangan saya memburuk, saya tidak ingin masalah ini menyebar, jadi untuk sementara saya harus bersembunyi dan menutup pertambangan sampai naga-naga itu musnah.”
“Memangnya para pekerja anda yang berasal dari Carmelion tidak menyebarkan gosip ke kota soal adanya naga di pertambangan?” tanya Mark.
“Err… sebenarnya soal itu sudah terselesaikan. Itulah sebabnya saya membutuhkan kehadiran Lady Maia Lasalle di tempat ini.” Jelas Von Gard. “Dia ini adalah anggota dari Sisterhood of Spellcaster*.”
“Hah? Spellcaster? Gadis semuda ini?” Rover membelalakkan matanya.
“Benar. Lady Lasalle adalah salah satu bibit muda unggulan mereka, dia ini telah mendapatkan gelar Spellcaster Rookie of The Year (^^;). Kebetulan saya punya hubungan dekat dengan mereka, sehingga saya bisa menghubungi mereka dengan cepat. Setelah menceritakan apa yang terjadi di pertambangan saya pada mereka, Lady Rose dari Sisterhood of Spellcaster memutuskan untuk mengirim bantuan, yaitu kehadiran Lady Lasalle. Lady Lasalle diperintahkan untuk menyembunyikan apa yang terjadi pada para penambang dengan menggunakan Mind Orb.” Jelas Von Gard.
“Mind Orb?” Mark bertanya dengan heran. “Apa itu?”
“Mind Orb adalah Non-Rune-Orb yang memiliki kemampuan memanipulasi pikiran. Dengan orb itu kita bisa menyembunyikan kejadian dan lokasi sarang naga tanpa diketahui oleh penduduk Carmelion.” kata Maia menjelaskan. “Meskipun demikian, kemampuan dari Mind Orb tidaklah permanen. Kita tidak bisa menyembunyikan hal ini dari penduduk Carmelion dan para pekerja tambang selamanya.”
Rover manggut-manggut sok ngerti. “Jadi begitu masalahnya.”
“Benar, tidak saja kondisi keuangan saya memburuk dan merugi, saya juga kehilangan momentum penggalian Powerstone karena kehilangan pekerja tambang. Karena situasi yang merugikan tersebut, saya memutuskan untuk meliburkan para pekerja tambang dan karyawan yang bekerja di kastil, itu sebabnya kastil ini kotor sekali tanpa pernah dibersihkan.” Kata Von Gard. “Sebentar lagi upacara puncak perayaan Festival Rembulan akan dilangsungkan. Saya tidak bisa membayangkan kekacauan yang terjadi seandainya naga-naga itu lepas dari sarangnya.”
“Sebenarnya kami Exterminator alias Monster Hunter dan bukan Dragon Slayer. Tapi toh monster-monster itu perlu digiring balik ke sarangnya! Kami akan mengerjakannya, Tuan Von Gard.” Kata Rover. “Tentu saja bayarannya lain. Satu naga ukurannya lumayan besar dan kekuatannya bisa mencapai 7.000 ki per ekor. Bagaimana?”
“Seandainya kalian bisa mengamankan penambangan Carmelion dari naga-naga itu, saya akan membuat kalian kaya raya! Saya akan bayar kalian dua kali lipat!” Kata Von Gard
Pernyataan Von Gard langsung ditanggapi dengan cengiran kurang sedap dipandang dari Rover dan Mark yang memang dari sananya udah matre. Biar kata naga tapi kalo ujung-ujungnya duit sih oke.
“Tapi ada satu syarat!” tiba-tiba saja Von Gard menambahkan.
“Apa syarat itu?” tanya Rover.
“Lady Lasalle akan ikut bersama kalian masuk ke dalam sarang naga.”
“APA!??” mulut Rover dan Mark menganga bersama dengan kompak.
“…”
“…”
“Lady Lasalle akan ikut bersama kalian masuk ke dalam sarang naga.”
“APA!??”
“…”
“…”
“Lady Lasalle akan ikut bersama kalian masuk ke dalam sarang naga.”
“Oke… kayaknya gak perlu diulangi yah? Soalnya udah tiga kali.” Usul Rover.
“Ta-tapi… masa dia ikut?” Mark geleng-geleng sembari menunjuk Maia.
“Jangan meremehkan begitu dong, memang aku masih muda, tapi sebagai spellcaster levelku sudah Junior Apprentice dan juga pemegang gelar Rookie of The Year! Aku yakin aku pasti bisa menghadapi naga-naga itu.” Kata Maia. “Selain itu aku juga punya kemampuan healing (yang biasanya terbukti sangat ampuh dalam berbagai cerita RPG), jadi aku yakin kemampuanku akan sangat berguna nantinya.”
“Bukan begitu masalahnya, tapi ayahku ini gak pernah bisa diam kalau sudah melihat cewek, apalagi yang cantik. Kemaren aja ada sapi yang…”
BLETAGS!!
Kata-kata Mark langsung dipotong oleh Rover dengan pukulan di jidat. Hihihi…
“Baiklah. Kalau kalian sudah sepakat, sebaiknya kalian segera mempersiapkan diri sesegera mungkin.” Ujar Von Gard. “Pengawalku akan mempersiapkan Healing-Herbs untuk perjalanan kalian nanti. Sebelum itu, mungkin kalian bisa makan atau istirahat dulu secukupnya. Fisik, mental dan equipment juga sebaiknya segera dipersiapkan.”
“Baiklah. Terima kasih.” Rover dan Mark lagi-lagi mengangguk bersamaan. Mereka bener-bener mirip ondel-ondel.
Di luar kastil, masyarakat Carmelion masih terus merayakan kedatangan Festival Rembulan tanpa menyadari bahaya yang tengah mengancam. Langit memerah bersamaan dengan beristirahatnya sang mentari. Penulis kecapekan mengetik, dan bab pertama kisah ini pun berakhir dengan damai.
-Bersambung-
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Shaven’s Note :
* Giyom adalah binatang khas Carmoby yang hidup di gurun dan enak di makan. Bentuknya mirip ikan cucut tapi memiliki empat kaki dan tiga mata (penulis aja mbayanginnya sampe sakit perut saking anehnya). Dagingnya lebih enak kalo dibakar dengan kecap dan mentega, rasanya sedikit mirip sarden. Giyom yang paling enak adalah yang berkepala merah dengan jambul kuning (nah lo! Bisa bayangin gak bentuknya kayak apa?), rasanya gurih mirip Gurameh, apalagi kalo dimakan pake lalapan, hmmm….
* Avera adalah sebuah benua yang luas dan terletak di wilayah timur Therain. Avera menjadi benua terluas yang pernah ditinggali humanoid dan sejenisnya. Avera merupakan benua besar yang dibagi menjadi beberapa kerajaan, seiring jalan cerita, kerajaan-kerajaan itu bakal penulis sebutkan (kalo sekarang belum diceritakan, yah maklum aja, belum kepikiran. Hihihi…). Selain memiliki berbagai macam kekayaan alam dan kaya hasil bumi, Avera juga memiliki kota-kota terindah yang tersebar di seluruh pelosok benua, seperti Carmelion, Bdonge dan Harrow. Mata uang yang dipakai secara global di Therain adalah mata uang Kyon. Jangan tanya soal kurs tukar rupiahnya yah ^^;
* Exterminator disebut juga Monster Hunter. Sepertinya keterangan pada cerita di atas sudah jelas kan? Tambahan dikit, di kota-benteng Harrow, berdiri sekolah Exterminator besar yang sangat terkenal di Avera, bernama Gama Extermina (gak ada hubungan sama Primagama atau Gama Exacta lho… hihihi… itu sih tempat kursus!). Konon Rover pernah punya pengalaman buruk di tempat itu, sehingga dia lebih memilih menjadi Solo-Exterminator alias kerja sorangan.
* Ki adalah ukuran power di Therain. Kalo disini mungkin kayak tenaga dalam, tapi bukan berarti mereka yang memiliki ki besar bisa mengeluarkan kamehameha lho hihihi… (sorry yah Toriyama-sensei, istilahnya dipinjem bentar). Ki hanya menunjukkan tingkatan power seseorang. Kalo bisa mengeluarkan bola sinar yah sukur-sukur, tapi gak semua bisa. Penulis mengakui hanya memiliki 10 ki, itupun dikredit di fitness centre tiap tiga bulan sekali (kalo inget) dan menyapu halaman rumah tiap pagi.
* Powerstone adalah batu mulia penghasil energi yang bisa ditemukan di pertambangan-pertambangan di seluruh pelosok Avera. Powerstone berbeda dengan Orb. Orb lebih berfungsi sebagai aksesoris penambah kekuatan untuk peralatan tempur atau sihir sedangkan Powerstone fungsinya mirip dengan batu bara, hanya saja menghasilkan energi besar seperti listrik.
* Yang ini cuma iseng aja… Aretsea… coba dibalik deh…
* Sisterhood of Spellcaster adalah perkumpulan penyihir wanita (Spellcaster itu sama aja kayak wizard) yang memiliki jaringan luas di Therain dan dipimpin oleh seorang Divine Sister (Saat ini hanya diketahui namanya Lady Rose). Pusat dari Sisterhood of Spellcaster terletak di kota Magestro. Konon para Spellcaster dididik sejak usia sangat muda (dengan level Novice) dan dijauhkan dari segala urusan duniawi, mirip seperti biarawati kalau di tempat kita. Seorang spellcaster yang menikah akan disegel kekuatannya oleh Divine Sister. Tiap anggotanya mendapat julukan ‘Lady’.
Created by Shaven
CHAPTER ONE
Step On Carmelion
Krucuk~ krucuk~
“Argh! Ayah! Aku sudah tidak kuat lagi! Lapaaar! Ghaaaa!!”
“Hoeeekkkkkhhh!!! Buset! Kalo buka mulut jangan lebar-lebar! Apa gak tau kalo mulutmu itu bau naga?”
Dua sosok manusia yang terdiri dari ayah dan anak yang mengenakan pakaian serba hitam memasuki gerbang kota Carmelion dengan lunglai. Untuk sampai ke kota kecil itu, mereka berdua harus melalui gurun pasir Carmoby yang liar dan tandus selama berhari-hari. Tentunya mereka tidak sempat mampir ke warung makan atau warung tenda karena tidak ada yang jualan di tengah gurun, walhasil mereka makan seadanya, mereka makan hasil buruan seperti binatang-binatang kecil lincah yang tak berdosa seperti bunny dan kelinci (apa bedanya kelinci sama bunny? ^^;), makanan yang ‘kurang layak makan karena terlalu cute dan sangat minim gizi’ selama berhari-hari.
Sebenarnya tidak perlu bersusah payah seperti itu untuk pergi ke Carmelion, karena toh banyak angkutan umum yang lewat, tapi dasar sok cool dan demi gengsi pendekar, mereka memilih berjalan kaki. Mana ada tokoh RPG yang di bagian awal skenario naik angkutan umum? Nggak keren kan?
Sang ayah berusia sekitar 42 tahun, yang walaupun sudah berkepala empat namun masih menyisakan wajah ganteng, apalagi penampilannya masih seperti anak muda dengan rambut gondrong yang melambai. Sebilah pedang panjang tersarung rapi dan diikatkan di punggungnya. Pakaian dan celananya serba hitam, dengan rompi sepanjang lutut berwarna gelap, tas pinggang hitam dan tampang yang sok keren. Sang ayah ini bernama Rover Ray.
Sang anak tidak kalah jual tampang. Sinar mata jujur membias di bulat mata hitamnya yang tajam. Tubuhnya yang tinggi dan atletis sama sekali tidak menampakkan usianya yang sebenarnya baru 15 tahun. Berpakaian sama seperti sang ayah, serba hitam, baju, celana, sarung tangan dan sepatu hitam. Tak lupa, sang anak mengenakan jaket berwarna biru yang matching dengan wardrobenya sebagai pemanis performa. Biar kata pendekar yang penting penampilan nomor satu, hehehe. Di kiri kanan pinggangnya tersarung dua bilah pedang pendek. Sang anak ini bernama Mark Ray.
“Arghhh… ayolah, Ayah!” pinta Mark memelas. “Beliin aku bunny goreng atau apa kek yang enak-enak. Pelit amat sih jadi Ayah!”
“Dasar Anak gak tahu diri! Perut karet! Bukannya tadi kamu udah ngembat daging Giyom* bakar sampai gak ada sisanya? Sekarang kok udah pengen makan lagi!? Yang ditelen tadi aja belum keluar!!” Rover ngamuk-ngamuk.
“Lho, itu kan sarapan, Yah? Lain dong! Sekarang waktunya makan siang!”
“Grr… anak dodol dudulipret! Memangnya duitku bisa nongol dari jidat? Boros amat sih kamu! Gak tau apa kalo akhir-akhir ini pekerjaan kita seret? Jarang ada proyek? Udah sukur hari ini Bangsawan Von Gard mau menyewa kita!”
“…huh pelit…”
“Pokoknya hari ini kamu harus bantuin Ayah kerja untuk bangsawan itu!”
“Yah, tergantung berapa Ayah mau gaji aku …”
“Materialistis! Dudul! Ke laut aja!! Memangnya aku siapamu!?”
“Waduh… jangan samakan hak dan kewajiban lah! Kalo emang niat kerja mustinya profesional dong. Ayah ya ayah, tapi duit ya duit, pokoknya kalo gak dibayar aku gak mau ikut bantuin. Apalagi ini pekerjaan berat, harus mempertaruhkan nyawa dan harga diri. Belum lagi dipotong pajak penghasilan… hmm…”
“Dih… Anak sompret!” Sang Ayah bersungut-sungut. “Jangan ribut melulu! Aku mau bikin proposal nih, takutnya kalo salah bikin bisa kalah tender!”
“…pelit ya pelit…” Mark menggerutu. “Mana mungkin kalah tender? Bangsawan Von Gard kan cuma manggil Ayah.”
Memangnya apa sih pekerjaan Rover dan Mark Ray? Mereka adalah Monster Hunter. Sebuah pekerjaan yang sangatlah umum di cerita-cerita fantasi dan game-game RPG. Jadi penulis mestinya tidak perlu memberikan banyak keterangan tentang pekerjaan itu yah. Kalian kan udah pada pinter-pinter, Hehehe…
Monster Hunter adalah pemburu monster (Ya iyalah, kalo Pokemon Hunter itu namanya pemburu Pokemon, dasar penulis tidak tahu diri! Emangnya pembaca gak bisa bahasa Inggris apa!?), sering pula disebut Exterminator*. Di bumi Avera* ini, banyak yang bekerja sebagai Monster Hunter. Ada yang bekerja part time atau per-proyek seperti keluarga Ray, ada pula yang bekerja resmi untuk pemerintah atau kerajaan yang berkuasa. Maklum sajalah, dengan banyaknya monster yang berkeliaran bebas di gurun pasir, hutan, pegunungan dan laut (Pokoknya kayak RPG-lah, monster berbagai jenis, nama dan bentuk berkeliaran bebas di mana-mana) diperlukan Exterminator-exterminator untuk mengamankan daerah di luar kota berpenduduk dan jalan-jalan antar kota yang dilalui oleh penduduk Avera.
“Satu monster kecil harganya 15.000 kyon. Untuk yang gede ato kekuatannya di atas 5.000 ki*, harganya antara 25.000 sampe 30.000 kyon.” Kata Rover sambil menulis di kertas kecil. “Hmm… kira-kira gimana Mark?”
“Kemahalan tuh, Yah.” Protes Mark. “Kemaren aja pasangan Exterminator dari Bdonge, si Bob Skuaropanto sama Starfish Pat pasang obral! Monster di atas 5.000 ki cuma dihargai 20.000 kyon!”
“Buset!” Rover geleng-geleng kepala. “Cuma 20.000? Udah punya nyawa dobel kali dua anak itu? Wah sial, matiin harga pasaran aja!”
“Kita pasang 22.000 kyon aja. Gak kemahalan, gak kemurahan. Pake duit segitu aku juga masih bisa beli makanan di pasar Carmelion.”
“Makan aja dipikirin.”
“Sebodo.” Mark melengos. “Aku kan masih dalam masa pertumbuhan.”
Memasuki kota Carmelion, barulah mereka sadar. Ternyata di kota kecil yang terpencil di tengah gurun itu sedang berlangsung sebuah festival rakyat yang sangat meriah. Sepertinya ada peristiwa penting yang sedang dirayakan dengan gembira oleh penduduk Carmelion. Tua muda, besar kecil, cowok cewek, semuanya bersiap, menghias rumah dan jalan, memasang lampu dan obor, menebarkan confetti dan berpakaian serba indah.
“Weleh-weleh, untung juga kita kesini.” Ujar Rover sambil senyum-senyum simpul. Matanya mulai jelalatan. “Banyak cewek-cewek cakep berkeliaran.”
Mark geleng-geleng, udah tua masih napsu aja. “Cewek aja dipikirin.”
“Biarin.” Rover melengos. “Aku kan masih dalam masa puber kedua.”
“Dasar genit.”
Melewati kerumunan orang yang sedang menonton pawai, Rover dan Mark Ray sampai di depan seorang badut karnaval yang sedang melakukan juggling. Badut itu melawak kesana kemari dengan mengendarai sepeda roda satu. Para penonton tertawa melihat ulah si badut berpakaian jester. Tak perlu waktu lama bagi sang badut untuk menyadari kehadiran kedua Exterminator kita.
“Yoho-yoho! Ada dua orang pake baju item! Duh, serem bo~ sapa takut pake hitam? Ahahahahaha…” tawa si badut sok lucu.
“Pff~ jayus.” Sungut Rover. “Ini namanya mode, kayak The Matrix! Kalo kamu? Udah tua kok masih pake baju jester. Gak malu sama anak cucu apa?”
“Ahahahahaha… dih bapaknya pengen nglucu… ahahahaha… ih anaknya cakep juga lho, untung wajahnya sama sekali gak mirip sama bapaknya! Ahahahaha…”
“Grr…” Rover sudah siap mencabut pedang.
“Sudah-sudah…” Mark pun menahan sang ayah yang darah tingginya kumat. “^^;. Diejek gitu aja marah. Kalo emang punya tampang jelek gak perlu sok imut, Yah.”
“Kamu ini… bukannya nenangin malah…”
Meninggalkan lokasi keramaian, Rover dan Mark menelusuri jalanan Carmelion sambil tak lupa bercakap-cakap dengan tiap NPC yang ada. Mumpung lewat sok kenal sok dekat. Berikut ini adalah catatan percakapan dengan beberapa NPC yang berhasil dihimpun redaksi [^^;] :
NPC 1 (penduduk biasa) : “Wah, asyiknya kalo lagi Festival Rembulan. Semua sibuk menghias kota.”
NPC 2 (anak penjual lampion) : “Ibuku biasa menjual lampion seharga 50 kyon, tapi selama digelar Festival Rembulan, lampion kami bisa laku sampai 100 kyon perbuah.”
NPC 3 (pemilik toko merchandise) : “Selamat datang! Kalian ingin membeli apa? Hari ini kami menjual Healing-Herbs dengan murah. Kami jual obral lho selama festival.”
NPC 4 (penduduk biasa) : “Dimana tempat pendaftaran NPC yah? Aku pengen ikut lagi. Gajinya lumayan gede, padahal nongol juga cuma seadanya gini.”
NPC 5 (anak kecil di pinggir jalan) : “Kalau sudah besar nanti, aku ingin jadi Exterminator! Aku akan mendaftar sekolah di Harrow*!”
NPC 6 (seorang pekerja tambang yang sedang bengong) : “Dulu aku pernah bekerja di suatu tempat, tapi aku lupa dimana tempat itu. Waduh, gimana yah? Kalian bisa bantu mencarikan pekerjaan? Ini CV-ku.”
Setelah puas berjalan-jalan keliling kota, sok akrab dengan penduduk, makan dan istirahat sejenak di Inn, Rover dan Mark Ray bergegas menuju kastil besar di ujung kota, tempat bangsawan besar Von Gard berada. Kastil itu berada di sisi bukit batu-batu raksasa yang berada sedikit di atas Carmelion.
Sudah menjadi rahasia umum kalau sejak menemukan tambang ‘Powerstone’* (berfungsi sebagai alat penyedia energi, kalo di tempat kita mirip minyak bumi), Bangsawan Von Gard menjadi tokoh nomor satu pembangunan kota Carmelion. Dengan mesin-mesin pembor yang didatangkan khusus dari kota industri Bdonge, Von Gard menggali gua, menambang Powerstone dan menjualnya ke seluruh negeri. Sejak saat itu, kota Carmelion melesat menjadi kota penghasil Powerstone ternama.
Kastil Von Gard terletak di bagian ujung kota Carmelion, bersebelahan dengan gua raksasa tempat penambangan Powerstone milik Von Gard. Meskipun menjadi orang yang berhasil membangun Carmelion, Von Gard tidak mau ditunjuk sebagai walikota. Dia hanya ingin menjalankan bisnisnya dengan tenang dan tanpa gangguan, termasuk dari monster-monster yang berkeliaran.
Belum sampai pintu masuk kastil, Rover dan Mark Ray sudah dihadang oleh seorang bodyguard berbody gede. Err… bodyguard apa satpam yah kok jaga pintu?
“Maaf, karena terganggu masalah kesehatan, Tuan Von Gard tidak ingin menemui siapapun.” Kata sang bodyguard merangkap satpam. “Sebaiknya anda meninggalkan tempat ini.”
“Kami datang karena diundang kemari.” Jelas Rover sambil mengeluarkan sepucuk surat dari tas pinggangnya. “Kami berasal dari Aretsea. Beberapa hari yang lalu Tuan Von Gard mengirim surat pada saya agar segera menemuinya di Carmelion, ini suratnya. Nama saya Rover Ray dan ini anak saya Mark.”
“Oh? Anda Rover Ray? Maaf saya tidak mengenali anda! Saya kira anda tukang jual kerupuk! Baiklah, silahkan masuk! Tuan Sebastian Von Gard sudah menunggu anda! Mari, silahkan masuk!”
Tak perlu waktu lama, pintu gerbang dibuka. Soundtrack bernada gagah pun mengalun mengiringi kedua tokoh kita memasuki kastil bersama sang pengawal (pengawal aja deh, kalo bodyguard sama satpam kayaknya aneh).
“Kenapa Tuan Von Gard mengasingkan diri? Bukankah di kota sedang berlangsung Festival Rembulan? Beliau tidak tertarik dengan festival itu?” tanya Mark pada sang pengawal. “Apa benar beliau sedang sakit?”
“Bisa dibilang demikian.” Jawab sang pengawal.
“Dih… jawabnya kok irit bener. Mentang-mentang cuma kebagian peran jadi NPC.”
“Apa?”
“Ng… nggak… nggak kok… tadi cuma bilang esekelemese… ^^;”
Sang pengawal pun manggut-manggut aneh.
“Alasannya kok gak mutu. Apa itu esekelemese?” bisik Rover nimbrung.
“Yah mau bilang apa lagi? Cuma itu yang kepikiran.” Jawab Mark sekenanya.
“Hmm… ada sesuatu yang aneh disini.”
“Oh ya? Sejak kapan Ayah punya kemampuan detektif?”
“Kamu anak kecil tahu apa? Begini-begini Ayah kan jebolan Harrow!”
“Puff… drop-out aja sombong.”
“Kastil ini sangat sepi, setahuku Bangsawan Von Gard memiliki banyak karyawan. Sedari tadi aku hanya menjumpai satu dua pengawal. Untuk ukuran sebuah kastil besar, hal itu sangat aneh.” Kata Rover tidak mempedulikan ocehan Mark. “Kastil ini juga sepi hiasan, setahuku lagi, Bangsawan Von Gard sangat ramah dan peduli pada penduduk Carmelion, jadi tidak mungkin beliau melewatkan pesta rakyat besar seperti Festival Rembulan.”
Mark mau tidak mau terbengong-bengong dengan interior kastil Von Gard. Bangsawan ini benar-benar kaya. Lebih tepat lagi kalo disebut benar-benar kaya dan jorok. Kotoran dan debu berserakan dimana-mana, seakan-akan kastil ini baru saja memecat cleaning servicenya. Benda-benda berharga yang pasti laku dijual diatas 5.000 kyon dibiarkan teronggok di pojokan dikelilingi sarang laba-laba.
Sampai di ruang tengah yang sangat besar, sang pengawal mempersilahkan Rover dan Mark untuk duduk di kursi yang untungnya lumayan bersih.
“Maaf, silahkan tunggu sebentar. Saya akan memberitahukan kehadiran anda berdua pada Tuan Von Gard.” Kata sang pengawal. “Beliau sedang berada di kamar.”
Rover dan Mark mengangguk berbarengan dengan kompak. Sang pengawal jadi curiga, apa bener nih orang berdua monster hunter? Bukannya ondel-ondel?
“Siapa kalian?”
Mark mendengar suara paling merdu yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Dengan serta merta, diapun menengok ke arah asal suara. Dia pun terpesona melihat seorang malaikat cantik menuruni tangga.
Ah, bukan. Bukan malaikat! Mark menggelengkan kepala penuh pesona.
Seorang gadis muda cantik mengenakan pakaian bangsawan berwarna merah muda berdiri di tangga yang menuju ke ruangan atas. Rambutnya yang berwarna merah dibiarkan tergerai, kulitnya seputih susu dan tingkah lakunya sangat anggun, usianya ditaksir tidak lebih tua dari Mark. Bagaikan tokoh putri dari cerita-cerita Disney, sang gadis berjalan perlahan menuruni tangga dan menemui kedua tokoh utama kita.
“Siapa kalian?” ulang sang gadis. Siapa tahu mereka berdua bolot.
“Ka-kami ini sang gembala sapi… eh, maksudnya kami ini sapi… aduh…” Mark terbata-bata saking terpesonanya.
“Kami ini Exterminator dari Aretsea. Saya Rover Ray dan ini anak saya Mark. Kami datang untuk memenuhi undangan Tuan Von Gard sekaligus mengajukan proposal pembasmian monster.” Kata Rover. “Kalau saya tidak salah, anda ini putri dari Tuan Von Gard?”
“Emh… bukan…” jawab sang gadis.
“Lho bukan?” Rover pun tengsin sambil membolak-balik naskah skenario.
“Yee… salah yee…” ejek Mark. “Makanya jangan sok tahu!”
“Dasar anak lutung.” Maki Rover.
“Perkenalkan, saya…” belum sampai selesai si gadis memperkenalkan diri, sang pengawal sudah keluar dan mengiringi seorang pria tambun yang berpakaian serba merah, sekilas lihat mirip Sinterklas, dilihat sekali lagi, mirip Jojon (buset jauh amat perbandingannya… Sinterklas ama Jojon ^^;).
“Maaf-maaf… kalian harus menunggu lama. Selamat datang di kota Carmelion. Saya Sebastian Von Gard” Sambut Von Gard sambil menyalami Rover dan Mark. Von Gard juga melihat sang gadis di ujung tangga. “Ah, Lady Lasalle. Anda juga sudah bangun rupanya.”
Sang gadis yang dipanggil Lady Lasalle tersenyum. “Ini sudah siang, Tuan Von Gard. Tentu saja saya sudah bangun.”
“Jadi kalian berdua adalah Ray Sr. dan Ray Jr. eh?” Von Gard kembali pada Rover dan Mark. “Kalian mendapatkan rekomendasi tinggi dari Walikota Aretsea. Itu sebabnya saya ingin menggunakan tenaga kalian. Bisa saya lihat dahulu proposalnya?”
“Wah, walikota memang paling pintar jadi tenaga marketing.” Puji Rover setinggi langit sambil menyerahkan ‘proposal’ yang berisi daftar harga itu.
“Jujur saja… err… Tuan Rover Ray. Masalah yang saya hadapi ini lumayan pelik, membuat saya tidak bisa tidur apalagi makan. Saya biasanya sarapan enam atau tujuh piring, tapi gara-gara masalah ini selera makan saya berkurang, hanya bisa makan lima piring.” Kata Von Gard bersedih.
“Lima piring juga masih terlalu banyak sebenernya…” bisik sang pengawal.
“Pengawal! Kamu diam aja! Gak usah komentar! Cuma NPC aja ribut!” maki Von Gard.
“Kalau boleh saya tahu, apa masalahnya, Tuan Von Gard?” tanya Rover.
“Jadi begini…” kata Von Gard memulai cerita. “Kalian tentunya tahu bahwa dagangan utama saya dan kota ini adalah Powerstone yang ditambang dari gua di sebelah kastil ini, kan? Nah, beberapa minggu yang lalu, kami ternyata juga berhasil menemukan beberapa Raw Orb dari dalam tambang.”
“Raw Orb? Buset.” Mark geleng-geleng kepala. “Kalau diasah di Tukang Orb bisa jadi barang berharga.”
“Benar sekali. Entah mengapa saya jadi serakah dan ingin menambang orb itu pula dalam jumlah besar, sehingga saya mengebor jauh ke dalam. Ternyata…”
“Ternyata?” tanya Rover dan Mark hampir bersamaan.
“Ternyata saya malah menggali ke sarang naga.” Kata Von Gard sambil mengelap keringat yang mulai mengucur. “Naga-naga itu berbalik menggali keluar sarang dan saat ini sedang berusaha menuju Carmelion. Saya benar-benar celaka. Ini masalah yang pelik sekali. Oh sedihnya saya. Carmelion berada dalam bahaya kalau sampai ada sekawanan naga keluar dari tambang Powerstone.”
“Sebentar-sebentar…” Rover berusaha menyabarkan Von Gard sekaligus menyimpulkan apa yang baru diceritakannya, maklumlah, Rover kan rada-rada telmi. “Jadi saat anda mencari Orb, anda malah menemukan sarang naga?”
“Benar. Naga-naga yang benar-benar besar.”
“…dan saat ini para naga sedang berusaha keluar dari sarangnya lewat lubang yang anda gali dari Carmelion?”
“Benar. Saya takut beberapa minggu lagi naga-naga itu sudah berhasil membuka jalan melalui tambang Powerstone. Mereka memang bukan tikus dan kemampuan menggalinya tidak begitu baik, tapi tetap saja…”
“Anda takut nanti naga-naga itu mengganggu Carmelion?”
“Jelas! Carmelion adalah kota terpencil yang berada di tengah padang gurun! Kami akan kesusahan memanggil Exterminator dari jauh dalam keadaan darurat. Itu sebabnya sebelum kerusuhan besar terjadi di Carmelion, saya memutuskan untuk memanggil anda. Seandainya saya memanggil para Exterminator dari Harrow, situasinya pasti lebih gaduh lagi, mereka lebih senang datang berbondong-bondong ala marching band, kota Carmelion malah bakal jadi tambah kacau.”
“Kenapa tidak menyewa permanen saja? Itu kan lebih baik? Toh anda punya dananya kan?”
“Itulah masalahnya… saat ini saya sedang jatuh miskin…”
Mulut Rover dan Mark menganga lebar.
“Miskin kok sarapannya lima piring.” Bisik Rover pada Mark.
“Semenjak kemunculan sang naga, satu demi satu pekerja tambang saya menghilang. Para insinyur saya juga mengundurkan diri karena ketakutan dan kabur meninggalkan Carmelion. Untungnya saya bersikeras untuk merahasiakan peristiwa di pertambangan pada penduduk Carmelion, karena mereka pasti akan menyalahkan kerakusan saya.” Kata Von Gard. “Secara sepihak saya telah menganaktirikan penambangan Powerstone karena ingin mencari Orb, padahal Powerstone adalah sumber pendapatan terbesar bagi kota ini. Gara-gara keputusan itu, kondisi keuangan saya memburuk, saya tidak ingin masalah ini menyebar, jadi untuk sementara saya harus bersembunyi dan menutup pertambangan sampai naga-naga itu musnah.”
“Memangnya para pekerja anda yang berasal dari Carmelion tidak menyebarkan gosip ke kota soal adanya naga di pertambangan?” tanya Mark.
“Err… sebenarnya soal itu sudah terselesaikan. Itulah sebabnya saya membutuhkan kehadiran Lady Maia Lasalle di tempat ini.” Jelas Von Gard. “Dia ini adalah anggota dari Sisterhood of Spellcaster*.”
“Hah? Spellcaster? Gadis semuda ini?” Rover membelalakkan matanya.
“Benar. Lady Lasalle adalah salah satu bibit muda unggulan mereka, dia ini telah mendapatkan gelar Spellcaster Rookie of The Year (^^;). Kebetulan saya punya hubungan dekat dengan mereka, sehingga saya bisa menghubungi mereka dengan cepat. Setelah menceritakan apa yang terjadi di pertambangan saya pada mereka, Lady Rose dari Sisterhood of Spellcaster memutuskan untuk mengirim bantuan, yaitu kehadiran Lady Lasalle. Lady Lasalle diperintahkan untuk menyembunyikan apa yang terjadi pada para penambang dengan menggunakan Mind Orb.” Jelas Von Gard.
“Mind Orb?” Mark bertanya dengan heran. “Apa itu?”
“Mind Orb adalah Non-Rune-Orb yang memiliki kemampuan memanipulasi pikiran. Dengan orb itu kita bisa menyembunyikan kejadian dan lokasi sarang naga tanpa diketahui oleh penduduk Carmelion.” kata Maia menjelaskan. “Meskipun demikian, kemampuan dari Mind Orb tidaklah permanen. Kita tidak bisa menyembunyikan hal ini dari penduduk Carmelion dan para pekerja tambang selamanya.”
Rover manggut-manggut sok ngerti. “Jadi begitu masalahnya.”
“Benar, tidak saja kondisi keuangan saya memburuk dan merugi, saya juga kehilangan momentum penggalian Powerstone karena kehilangan pekerja tambang. Karena situasi yang merugikan tersebut, saya memutuskan untuk meliburkan para pekerja tambang dan karyawan yang bekerja di kastil, itu sebabnya kastil ini kotor sekali tanpa pernah dibersihkan.” Kata Von Gard. “Sebentar lagi upacara puncak perayaan Festival Rembulan akan dilangsungkan. Saya tidak bisa membayangkan kekacauan yang terjadi seandainya naga-naga itu lepas dari sarangnya.”
“Sebenarnya kami Exterminator alias Monster Hunter dan bukan Dragon Slayer. Tapi toh monster-monster itu perlu digiring balik ke sarangnya! Kami akan mengerjakannya, Tuan Von Gard.” Kata Rover. “Tentu saja bayarannya lain. Satu naga ukurannya lumayan besar dan kekuatannya bisa mencapai 7.000 ki per ekor. Bagaimana?”
“Seandainya kalian bisa mengamankan penambangan Carmelion dari naga-naga itu, saya akan membuat kalian kaya raya! Saya akan bayar kalian dua kali lipat!” Kata Von Gard
Pernyataan Von Gard langsung ditanggapi dengan cengiran kurang sedap dipandang dari Rover dan Mark yang memang dari sananya udah matre. Biar kata naga tapi kalo ujung-ujungnya duit sih oke.
“Tapi ada satu syarat!” tiba-tiba saja Von Gard menambahkan.
“Apa syarat itu?” tanya Rover.
“Lady Lasalle akan ikut bersama kalian masuk ke dalam sarang naga.”
“APA!??” mulut Rover dan Mark menganga bersama dengan kompak.
“…”
“…”
“Lady Lasalle akan ikut bersama kalian masuk ke dalam sarang naga.”
“APA!??”
“…”
“…”
“Lady Lasalle akan ikut bersama kalian masuk ke dalam sarang naga.”
“Oke… kayaknya gak perlu diulangi yah? Soalnya udah tiga kali.” Usul Rover.
“Ta-tapi… masa dia ikut?” Mark geleng-geleng sembari menunjuk Maia.
“Jangan meremehkan begitu dong, memang aku masih muda, tapi sebagai spellcaster levelku sudah Junior Apprentice dan juga pemegang gelar Rookie of The Year! Aku yakin aku pasti bisa menghadapi naga-naga itu.” Kata Maia. “Selain itu aku juga punya kemampuan healing (yang biasanya terbukti sangat ampuh dalam berbagai cerita RPG), jadi aku yakin kemampuanku akan sangat berguna nantinya.”
“Bukan begitu masalahnya, tapi ayahku ini gak pernah bisa diam kalau sudah melihat cewek, apalagi yang cantik. Kemaren aja ada sapi yang…”
BLETAGS!!
Kata-kata Mark langsung dipotong oleh Rover dengan pukulan di jidat. Hihihi…
“Baiklah. Kalau kalian sudah sepakat, sebaiknya kalian segera mempersiapkan diri sesegera mungkin.” Ujar Von Gard. “Pengawalku akan mempersiapkan Healing-Herbs untuk perjalanan kalian nanti. Sebelum itu, mungkin kalian bisa makan atau istirahat dulu secukupnya. Fisik, mental dan equipment juga sebaiknya segera dipersiapkan.”
“Baiklah. Terima kasih.” Rover dan Mark lagi-lagi mengangguk bersamaan. Mereka bener-bener mirip ondel-ondel.
Di luar kastil, masyarakat Carmelion masih terus merayakan kedatangan Festival Rembulan tanpa menyadari bahaya yang tengah mengancam. Langit memerah bersamaan dengan beristirahatnya sang mentari. Penulis kecapekan mengetik, dan bab pertama kisah ini pun berakhir dengan damai.
-Bersambung-
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Shaven’s Note :
* Giyom adalah binatang khas Carmoby yang hidup di gurun dan enak di makan. Bentuknya mirip ikan cucut tapi memiliki empat kaki dan tiga mata (penulis aja mbayanginnya sampe sakit perut saking anehnya). Dagingnya lebih enak kalo dibakar dengan kecap dan mentega, rasanya sedikit mirip sarden. Giyom yang paling enak adalah yang berkepala merah dengan jambul kuning (nah lo! Bisa bayangin gak bentuknya kayak apa?), rasanya gurih mirip Gurameh, apalagi kalo dimakan pake lalapan, hmmm….
* Avera adalah sebuah benua yang luas dan terletak di wilayah timur Therain. Avera menjadi benua terluas yang pernah ditinggali humanoid dan sejenisnya. Avera merupakan benua besar yang dibagi menjadi beberapa kerajaan, seiring jalan cerita, kerajaan-kerajaan itu bakal penulis sebutkan (kalo sekarang belum diceritakan, yah maklum aja, belum kepikiran. Hihihi…). Selain memiliki berbagai macam kekayaan alam dan kaya hasil bumi, Avera juga memiliki kota-kota terindah yang tersebar di seluruh pelosok benua, seperti Carmelion, Bdonge dan Harrow. Mata uang yang dipakai secara global di Therain adalah mata uang Kyon. Jangan tanya soal kurs tukar rupiahnya yah ^^;
* Exterminator disebut juga Monster Hunter. Sepertinya keterangan pada cerita di atas sudah jelas kan? Tambahan dikit, di kota-benteng Harrow, berdiri sekolah Exterminator besar yang sangat terkenal di Avera, bernama Gama Extermina (gak ada hubungan sama Primagama atau Gama Exacta lho… hihihi… itu sih tempat kursus!). Konon Rover pernah punya pengalaman buruk di tempat itu, sehingga dia lebih memilih menjadi Solo-Exterminator alias kerja sorangan.
* Ki adalah ukuran power di Therain. Kalo disini mungkin kayak tenaga dalam, tapi bukan berarti mereka yang memiliki ki besar bisa mengeluarkan kamehameha lho hihihi… (sorry yah Toriyama-sensei, istilahnya dipinjem bentar). Ki hanya menunjukkan tingkatan power seseorang. Kalo bisa mengeluarkan bola sinar yah sukur-sukur, tapi gak semua bisa. Penulis mengakui hanya memiliki 10 ki, itupun dikredit di fitness centre tiap tiga bulan sekali (kalo inget) dan menyapu halaman rumah tiap pagi.
* Powerstone adalah batu mulia penghasil energi yang bisa ditemukan di pertambangan-pertambangan di seluruh pelosok Avera. Powerstone berbeda dengan Orb. Orb lebih berfungsi sebagai aksesoris penambah kekuatan untuk peralatan tempur atau sihir sedangkan Powerstone fungsinya mirip dengan batu bara, hanya saja menghasilkan energi besar seperti listrik.
* Yang ini cuma iseng aja… Aretsea… coba dibalik deh…
* Sisterhood of Spellcaster adalah perkumpulan penyihir wanita (Spellcaster itu sama aja kayak wizard) yang memiliki jaringan luas di Therain dan dipimpin oleh seorang Divine Sister (Saat ini hanya diketahui namanya Lady Rose). Pusat dari Sisterhood of Spellcaster terletak di kota Magestro. Konon para Spellcaster dididik sejak usia sangat muda (dengan level Novice) dan dijauhkan dari segala urusan duniawi, mirip seperti biarawati kalau di tempat kita. Seorang spellcaster yang menikah akan disegel kekuatannya oleh Divine Sister. Tiap anggotanya mendapat julukan ‘Lady’.
0 comments:
Post a Comment