The Rays of Avera Ch.2

|
THE RAYS OF AVERA
Created by Shaven


CHAPTER TWO
Into The Dragon’s Lair




Bulan besar bulat menghias langit Avera. Bintang berkelip-kelip seakan mengajak bercanda. Lampu dan obor menjadi penerang kota, suasana semarak seakan tak ingin reda. Banyak orang tak menyadarinya, kalau sedari tadi kalimat dalam paragraf ini berakhiran dengan huruf a. ^^;

Menjelang malam tiba, Rover beristirahat di kastil Von Gard, tepat tengah malam nanti, dia bersama Mark dan Maia akan masuk ke dalam penambangan Powerstone. Kenapa harus menunggu sampai malam tiba? Tentunya demi tuntutan skenario. Kalau masuknya siang-siang adegannya jadi kurang serem dan gak seru.

Sembari berleha-leha duduk di kursi di balkon kamar yang menghadap ke arah kota, Rover mengamati keramaian Carmelion dari kejauhan. Penduduk kota seakan tidak ingin tidur dan terus berpesta. Buset, lagi krisis gini dapet duit dari mana yah mereka? Party mulu. Kedatangan naga baru tau rasa!

Ongkang-ongkang kaki dan termenung, pikiran Rover Ray pun melayang kemana-mana. Entah dimana anaknya yang amat doyan makan itu sekarang berada, paling-paling masih belanja equipment di kota, Von Gard tadi sempat memberikan 5.000 kyon sebagai uang muka. Mudah-mudahan Mark tidak lupa membelikannya pedang baru, lumayan buat pengganti pedangnya yang sudah mulai gak mempan kalau ketemu monster ber-ki tinggi.

Mark anak yang sangat baik dan cekatan, kemampuannya menggunakan pedang pendek ganda pun meningkat pesat. Kalau melihat perkembangan Mark, Rover kadang terharu dan teringat masa lalu. Ah, kenapa harus secepat ini waktu berlalu? Kenapa dia harus sudah setua ini? Bukankah dia masih ganteng dan lumayan keren? Bukankah dia juga tidak kalah cute dibanding Mark? Kenapa dia belum kawin lagi? Kenapa cerita ini tidak dimulai ketika dia masih muda dan bujangan saja?

“Dasar penulis celaka.” Maki Rover sambil melirik penulis dengan galak. ^^;

Sembari melamun, tangan Rover bergerak tanpa sadar mengambil pedang panjang miliknya dan mulai mengasahnya. Kehidupannya dengan Mark memang tidak bisa dibilang normal, meskipun tinggal di Aretsea, tapi mereka lebih sering merantau ke kota lain. Mau bagaimana lagi, hari gini cari kerjaan susah, sementara perut mereka masih harus terus diisi. Ah, mudah-mudahan kondisi keuangan mereka bisa segera membaik, mudah-mudahan pula negeri ini tidak terus dilanda krisis ekonomi. Tuan Von Gard berjanji akan memberikan hadiah berlimpah seusai proyek ini.

“Ah. Sudah hampir tengah malam! Kemana pula anak lutung itu?” gerutu Rover.

Padahal kalau memaki begitu kan sama aja mengakui kalo dia sendiri lutung. ^^;

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Mark memilih-milih sosis yang tersedia di piring dengan hati-hati. Setelah mencomot satu sosis yang montok, benda panjang empuk dengan daging matang berwarna merah yang menggiurkan itu diselipkan ke dalam roti yang sudah disiapkan. Tak lupa melesakkan selada, mayonaisse, bawang bombay, saos sambal dan ketimun. Ahh~ sungguh enak sekali. Di Avera, roti sosis seperti itu biasa disebut Hoddawg.

“Gyuuu~~”

Perut lapar Mark mulai berbunyi dan Hap! Langsung dilahapnya roti sosis yang tak bersalah itu.

Saat ini Mark sedang berada di sebuah bar di kota Carmelion, tidak begitu jauh letaknya dari kastil Von Gard. Walaupun sudah menjelang tengah malam, suasana tidak berbeda jauh dari tadi siang, masih ramai dan masih banyak NPC berkeliaran di kota. Enaknya diajak ngobrol nggak yah? Kayaknya gak usah, masih belum penting. Mereka dijadiin figuran dulu saja. Hap! Sosisnya dilahap lagi.

“Sepertinya kamu sangat tenang, Mark. Padahal sebentar lagi akan berangkat bertempur.”

Sebuah suara yang sangat merdu memanggil dari belakang. Mark segera menengok ke sebuah meja di pojok. Nampak seseorang sedang duduk di dalam kegelapan. Dari rambut yang panjang tergerai dan pakaiannya, terlihat samar sosok seorang gadis.

“Siapa itu?” tanya Mark yang masih belum mengenali sosok cewek yang duduk disana, padahal pembaca aja pasti udah tau.

Maia Lasalle merapal sihir api tingkat rendah untuk menyalakan lilin di atas meja, sehingga Mark bisa melihatnya.

“Maia?” Mark terheran-heran, dia mendekati Maia dan duduk di kursi yang berhadapan dengan gadis itu. “Apa yang kamu kerjakan disini? Ini kan bar?”

“Memangnya kenapa? Apa tidak boleh aku membeli minuman penyegar sebelum pergi berpetualang?” Maia tersenyum sinis. Biarpun sinis tapi masih tetep manis. Mark aja sampai ngiler. Sebagai seorang tokoh utama cerita kita, aksi Mark ini memang sedikit malu-maluin. Mana ada jagoan yang hobi ngiler?

“Maksudku… kamu kan biarawati… dan…” belum sampai Mark menyelesaikan kalimatnya, Maia sudah geleng-geleng.
“Bukan. Hh~” Maia menghela nafas. “Banyak orang salah mengira tentang kami. Meskipun hidup dalam lingkungan terisolir dan terbatas, bukan berarti kami ini lantas bisa disamakan dengan biarawati. Kami sama seperti penduduk Avera lain, hanya saja bisa melakukan aksi magis dan tidak boleh menikah.”
“Berarti kalian sama dong kayak biarawati. Tidak boleh menikah”
“Beda.”
“Sama aja.”
“Ya terserah.” Maia kembali bersikap acuh tak acuh. “Dibilangin kok malah nuduh.”

Mark manggut-manggut. “Kamu serius jadi Spellcaster?”
“Apa maksud pertanyaanmu itu? Ya seriuslah. Kan sudah aku terangkan tadi siang, gini-gini aku mendapat gelar Rookie of The Year!”
“Hmm… maksudku… apa kamu tidak ingin menikah kelak?”

“Tidak.”

“Buset… jawabnya cepet bener… ^^;” Mark mengelap keringat. “Kenapa?”

“Ya karena aku nggak mau. Memangnya apa enaknya menikah? Sedari kecil aku sudah hidup bersama anggota Sisterhood yang lain. Kami tidak butuh kehadiran laki-laki dalam hidup kami. Kami bahagia. Kalau ada laki-laki mendingan dibuang ke laut aja!” Ujar Maia penuh kemantapan. Benar-benar pernyataan yang menghancurkan hati setiap lelaki jomblo di bar itu.

“Ya sudahlah, aku juga gak pengen berdebat. Nanti kamu malah tambah marah-marah.” Hap! Roti sosis terakhir hinggap di mulut Mark.
“Dasar.”
“Sebentar lagi tengah malam, sebaiknya kita segera kembali ke kastil.” Ajak Mark.
“Baiklah, tunggu aku di luar, aku mau bayar dulu susunya.”
“Susu?” Mulut Mark menganga lebar. “Kirain minum bir! Walah…”
“Kenapa? Gak boleh minum susu di bar?”
“Ng… nggak kok… boleh… boleh…”
“Hmph~”

Mark beranjak berdiri sambil berbisik pelan. “Padahal kamu cantik, sayang sekali gak mau menikah…”
“Apa kamu bilang?” tanya Maia yang ternyata sempat mendengar bisikan Mark.
“Ng… nggak kok… nggak bilang apa-apa…” kata Mark ngeles.
“Ala~ yang boong!”
“Ta-tadi aku cuma bilang…. Bi-…bilukibilukakah.” Kebiasaan buruk Mark keluar lagi. Kalau dipepet sering keluar kata-kata antah berantah.

“Bilukibilukakah? Apaan tuh?” Maia bengong.
“Sudahlah… T_T”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“HP?”
“Penuh.”
“MP?”
“Penuh.”
“Equipment?”
“Siap.”
“Healing herbs?”
“Ada lumayan.”
“Kunci pintu rumah?”
“Buat apa ditanyain? ^^;”

Rover dan Mark sedang mengkalkulasi ulang persiapan mereka. Rover yang bertanya dan Mark yang memeriksa.

“Baiklah, kayaknya cukup. Kita save dulu sebentar di memory card satu di ujung gua, baru kita masuk. Gimana?” tanya Rover.
“Sip.” Mark mengangguk sambil mengangkat tas punggungnya.
“Baiklah.” Maia mengangguk.

Setelah melakukan save aksi petualangan mereka, Rover, Mark dan Maia pun segera berangkat memasuki gua. Bangsawan Von Gard dan pengawal setianya melepas kepergian mereka dengan berat hati dan penuh rasa sayang. Meskipun baru bersua, tapi seakan sudah seperti keluarga. Berat rasanya melihat bayangan ketiga sosok orang itu memasuki gua, oh kejamnya dunia! ^^;

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Yang namanya gua, ya jelas gelap. Gak keliatan apa-apa kalo penerangannya gak nyala. Untungnya berkat Powerstone berlimpah yang menjadi sumber energi alat penerangan yang konon namanya lampu, ruangan-ruangan dan terowongan dalam gua bisa terlihat oleh ketiga petualang kita.

“Jadi… kamu cuma bisa meng-cast sihir putih dan sedikit elemental?” tanya Rover memecah kesunyian. Tentunya pertanyaan itu ditujukan pada Maia.
“Iya. Divine Sister dari Sisterhood of Spellcaster tidak mengijinkan sihir hitam diajarkan dengan bebas, meskipun pada murid-muridnya sendiri. Hal ini tentunya membedakan kami dengan kelompok penyihir hitam dari daerah timur Avera, The East Witches*.” Kata Maia. “Sihir kami beraliran putih dan bersifat defensif, kebalikan dari mereka. Meskipun begitu Sisterhood dan Witches sama-sama mampu melakukan sedikit elemental magic.”

“Hmm…” Rover manggut-manggut. “Aku gini-gini juga bisa melakukan sihir.”
“Ayah…” Mark menepuk dahi dengan malu. “Kalo cuma main tebak-tebakan kartu itu bukan sihir tapi sulap!”
“Itu sihir elemental!” Rover tetap bersikukuh.
“Sihir elemental dari mana! Kartunya aja ditandai pake pensil!”

Mau tak mau, senyum dingin Maia pun mencair melihat ulah ayah dan anak itu.

Sembari bercakap-cakap mengikat hubungan pertemanan, ketiga petualang kita mulai jauh memasuki gua, jalan yang berkelok-kelok seakan tidak berujung, persimpangan di sana-sini semakin memusingkan, monster kecil-kecil mengganggu tak ada habisnya, bikin sebel saja.

“Oke, kesalahan pertama kita adalah tidak menanyakan lokasi jelasnya pada Tuan Von Gard dan meminta peta pertambangan seandainya ada.” Gerutu Rover. “Kalo begini caranya, seminggu keliling juga belum tentu ketemu itu naganya.”
“Yang kayak gini ini namanya maze atau kadang disebut juga dungeon, Ayah. Di game RPG manapun pasti ada yang namanya maze atau dungeon.” Kata Mark. “Memang sudah tugas kita berpusing-pusing mengelilingi maze dan mencari jalan keluar. Belum lagi nanti kalo ketemu monster.”

“GRAUUUUUUU~!!”

Tiba-tiba saja terdengar sebuah teriakan dan bau nafas tak sedap memenuhi seluruh penjuru gua. Sodara-sodara, itulah yang disebut nafas naga! Lebih busuk dari bau kentut! Luar biasa memualkan! Para jagoan kita pun langsung muntah-muntah di pinggir gua. Biar kata naga itu binatang yang agung dan sakti luar biasa, tapi nafasnya busuk gak kira-kira.

“Sepertinya dari arah sana.” Kata Maia menunjuk sebuah arah di persimpangan.
“Bukan.” Rover menggeleng sembari menutup hidung. “Sepertinya sebelah sana.”
“Bukannya sana?” kata Mark menunjuk arah yang lain lagi.

Eng ing eng! Waduh gawat para pembaca sekalian, rupanya ketiga petualang kita sedang berada dalam masalah! Mereka tidak bisa menentukan arah kemana mereka harus melanjutkan! Apa yang akan terjadi? Apakah cuma sampai disini saja aksi petualangan mereka? Apakah kisah ini akan berakhir sampai dengan bab dua saja? Apakah penulis sudah mulai malas meneruskan kisah ini?

Baiklah, kita lanjutkan setelah lewat yang satu ini!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

(musik pembuka)

Anda memiliki masalah dengan monster? Baik yang kecil ataupun yang besar? Yakinkah anda bunyi berisik di dapur anda pada malam menjelang festival rembulan adalah ulah tikus yang mencari keju dan bukannya monster Pekomon sedang bertengkar dengan monster Digomon? Kalau anda bingung akan solusinya, hubungi kami sekarang juga!

Rover dan Mark Ray! Monster Hunter paling keren di seluruh wilayah Avera. Biarpun gagal yang penting penampilan! Harga bisa ditawar, monster bisa dihajar! Hubungi Rover dan Mark Ray di Aretsea segera!

Keterangan tambahan: harga belum termasuk termasuk pajak.

(musik penutup)

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Setelah berembug dan melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat, ketiga petualang kita mengambil suara terbanyak dan akhirnya memutuskan untuk mencoba jalan yang mengarah ke barat.

“Padahal harusnya kita ke timur…” gerutu Rover yang kalah suara.
“Hayah!” Mark melengos.

GRMBLLLL~!!

Gua yang mereka lalui tiba-tiba saja bergetar hebat. Tanah di atas dan samping terowongan rontok sedikit demi sedikit. Dindingnya seakan-akan ambruk.

“APAAA??!! AMBRUUUKKK?? TOLOOOOOONG!!!” Teriak Rover ketakutan dan berlari berputar-putar dengan panik.

*Ehem*

Aku bilang ‘seakan-akan ambruk’. Bukan ambruk.

“PENULIS JAYUUUSS!!!” maki Rover. “Gak tau apa kita jantungan?”

Karena getaran yang hebat, ketiga petualang kita terpaksa berpegangan pada dinding gua untuk meneruskan perjalanan. Mereka makin masuk ke perut bumi, melalui jalan yang berkelok-kelok dan makin lama makin panas.

“Getarannya tambah keras! Aku yakin itu ulah para naga yang sedang menggali!” kata Mark pada Maia dan Rover. “Gak mungkin tikus mondok menggali dengan kekuatan sebesar ini!”
“Yee… kalo itu mah aku juga tahu!” sahut Rover keki. “Mana ada tikus mondok menggali sampe gempa bumi!”

Tiba-tiba saja Maia berhenti di tengah jalan. Tidak bergerak sedikit pun, Mark dan Rover menatap gadis itu dengan cemas.

“ADUH!” tanpa aba-aba Maia menjerit.
“Ke-kenapa, Maia?” teriak Mark khawatir. Dia langsung melompat mendekati gadis itu. “Kamu terluka? Kenapa? Kamu terkilir? Terantuk batu? Kenapa?”
“Aduh bukan! Aku tadi kelupaan mengunci pintu kamar!”

GUBRAGS! ^^;

“GRAAAAAUUUUUUUUUUU!!~~”

Terdengar suara naga itu makin jelas. Artinya arah mereka sudah benar dan tidak jauh dari lokasi sarang naga.

“Baiklah.” Rover memasang wajah serius. “Sebaiknya kita mulai hati-hati. Naga bukanlah monster kecil yang biasa kita lawan, Mark. Mereka makhluk legendaris yang agung. Kemungkinan besar kita tidak bisa membinasakan mereka semua.”
“Lah? Apa nggak terlambat, Yah?” Mark meneteskan keringat. “Sudah sampai sini baru ngomong gitu!”
“Anak lutung! Maksudku begini, kemungkinan besar kita hanya bisa memojokkan mereka atau mendorong mereka menjauhi tempat ini.” Kata Rover. “Worst case scenario, kita runtuhkan dinding gua untuk menimbun mereka sampe mampus! Hahahahahaaa!!”
“Kejam. ^^;” ganti Maia yang meneteskan keringat.

“GRAAAAAUUUUUUUUUUU!!~~”
GRMBLLLL~!!
GRMBLLLL~!!

“Dapat! Dari arah sana!!” tunjuk Maia. “Aku menggunakan Scanner-Orb untuk mencari lokasi tepatnya! Di sebelah sana!!”
“Yaela, cewek satu ini juga sama aja.” Sahut Rover geleng-geleng kepala. “Kenapa gak dari tadi ngeluarin Scanner-Orb, neng? Kalo udah deket gini mah tinggal nyari arah gempa juga ketemu!”
“Emh, maaf… habisnya… aku kan masih pemula…” Maia menundukkan kepala malu-malu. “Aku lupa kalau Scanner-Orb bisa mencari elemental source dengan cepat. Naga kan mengeluarkan elemen api yah?”
“Iya.” Rover mengangguk. “Elemen api dan elemen angin.”
“Elemen angin?” Maia tertegun. “Memangnya naga mengeluarkan elemen angin?”
“Iya.” Rover mengangguk lagi. “Kalo kentut.”

BLETAGS!
Mark menggebuk Rover dengan rantang. ^^;

“Jangan kurang ajar sama orang tua!!” Rover menggeram.
“Sudah tua, gak tau malu, jorok pula!” maki Mark.
“Eh, tapi kan bener?” protes Rover tidak mau disalahkan. “Kalo kentut kan…”
“GAK USAH DIBAHAAASS NAPAAA??” jerit Mark keki. ^^;

“GRAAAAAUUUUUUUUUUU!!~~”
GRMBLLLL~!!
GRMBLLLL~!!
BRUAAAALLLLLLLLLL~!!

Dinding gua yang berada tepat di sebelah kanan ketiga petualang kita mendadak ambruk dengan hebatnya. Dengan cepat dan tangkas Rover dan Mark mengamankan Maia ke tempat yang aman. Gerakan mereka amatlah cepat, sehingga bisa menghindar dari runtuhnya terowongan.

GRMBLLLL~!!
GRMBLLLL~!!
BRUAAAALLLLLLLLLL~!!

Setelah getaran terhenti mereka menengok ke belakang, hampir seluruh terowongan tempat dimana mereka tadi berdiri hilang lenyap dan digantikan sebuah lubang raksasa yang seakan tak berujung dan berwarna gelap, nampak sinar lampu kuning bulat di kejauhan.

“Mark, Maia? Kalian baik-baik saja?” tanya Rover.
“No problemo, kurang ajar. Ngaget-ngagetin aja naga sialan itu.” sahut Mark sambil menggandeng Maia yang masih sedikit gemetaran.
“Maia?” Rover melirik gadis di samping Mark.
“A-aku juga tidak apa-apa…” jawab Maia. Lidahnya terasa kelu, hampir saja mereka tertimbun longsoran.

“Bersiaplah. Kita sudah sampai di tempat tujuan kita.” Kata Rover kemudian. “Lubang menganga di depan kita ini, adalah jalan menuju sarang naga.”
“Dih, kok bisa yakin, Yah?” tanya Mark.

“Yakin seyakin-yakinnya. Soalnya benda bulat besar berwarna kuning yang terlihat menyala di dalam lubang itu bukanlah lampu.” Rahang Rover mengeras. “Itu bola mata seekor naga.”



-Bersambung-

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven’s Note :

* Mungkin belum dijelaskan, meskipun ini cerita bernuansa RPG (buat gampangnya) makanan utama Avera juga nasi. Itu artinya ada petani, beras dan gabah di Avera.
* The East Witches adalah rival utama Sisterhood, bernaung di wilayah timur Avera, para penyihir wanita ini memiliki kemampuan sihir hitam yang tidak kalah ganas dibanding anggota Sisterhood, sayangnya kemampuan mereka sering disalahgunakan untuk melakukan tindakan kejahatan. Baik Sisterhood dan Witches semua anggotanya cewek. Gampangnya kaya Nirmala dan Si Sirik lah… hehehe… eh… si Sirik itu cewek kan?
* Oh iya, lupa dijelasin juga sedari bab satu, lutung adalah sejenis monyet, yang lumayan legendaris baik di Indonesia maupun Avera. Lutung tidak mirip sama naga apalagi sama penulis. Mohon digarisbawahi.

0 comments: