Bedtime - Snow White

|
Shaven’s Extreme Bedtime Stories
-Post 2: “Snow White and The Seven Dwarfs”-
by Shaven


Pada suatu ketika di kerajaan Aestera.

Seperti sebelumnya, kita berjumpa lagi dengan kata-kata ‘Pada Suatu Ketika’. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, jangan heran. ‘Pada Suatu Ketika’ adalah password khas bagi cerita-cerita bedtime stories, tidak terkecuali cerita ini.

Setelah menceritakan Cinderella pada episode yang lalu, saya akan menceritakan kisah si Putri Salju alias Snow White pada kesempatan kali ini. Kalo ditilik dari namanya, memang kelihatan kayak nickname yah, ‘Snow White’. Entah kenapa para putri pada cerita-cerita Bedtime Stories tidak pernah punya nama normal, berani taruhan belum pernah ada yang tau nama asli dari ‘Si Kerudung Merah’. Padahal manggilnya pun susah, katakanlah contohnya si Snow White itu, bapak ibunya kalo manggil dia pake nama apa coba? ‘Snow-snow… kesini dong! Angkat air dulu dari sumur buat nyuci!’. Gak enak banget kan kedengerannya? Yang lebih lucu lagi tuh ‘Thumbelina’… ‘Thumbel, thumbel anakku…’ kikikikik… nggak banget…

Ada sih satu putri yang ‘akhirnya’ punya nama asli, dia adalah Aurora, sang Sleeping Beauty. Hmm, apa Bedtime Stories yang besok nyeritain dia aja? Trus, ada juga Rapunzel, Goldilocks… lho? Kok jadi banyak yah… hihihi… kali Bedtime Stories besok nyeritain Malin Kundang aja deh… hihihi…

Berikutnya masalah Ibu Tiri. Entah kenapa dari jaman Cinderella sampe Snow White ini kesannya Ibu Tiri itu jahat banget. Bahkan lebih ekstrim daripada Cinderella, pada kisah Snow White, Ibu Tirinya nenek sihir! Nah lo, biar nyaho! Punya Ibu Tiri Si Sirik! Bapaknya Snow White itu emang bodoh ato kena pelet yah sampe kawin lagi sama tukang sihir? Raja kok geblek banget, mau-maunya dapet istri kayak Mak Lampir.

Sang Ibu Tiri yang wajahnya dipermak abis di tukang operasi plastik itu terkenal sampai saat ini. Kita mengenal Ibu Tiri dengan nama: Michael Jackson. Hihihi…

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Snow White sangat suka sekali menyanyi di dekat sumur [mirip sama Cinderella yah, sama-sama penyanyi sumur, mungkin jaman sekarang sama aja kayak kalo kita nyanyi di WC]. Mungkin dia pikir para penghuni sumur itu amat menikmati suaranya yang merdu bening bak modem lagi connecting. Saking merdunya, para juri Aesteran Idol pernah mengusulkan agar Snow White beralih profesi menjadi penjual siomay atau tukang sayur saking tinggi kualitas vokalnya.

Begitu pula hari itu, sambil berfitness-ria menguras air di sumur, dia menyanyi dengan riang gembira. Di atas menara, ada sesosok bayangan yang nampak sinis memandangi Snow White. Siapakah bayangan bernuansa jahat itu? Dialah sang Ibu Tiri Snow White, meski berstatus Permaisuri Raja, namun Ratu ini jahatnya minta ampun, meskipun harus diakui kalo cakepnya selangit. Kalo di Jawa ada istilah STNK –Setengah Tuwo Ning Kenceng-, setengah tua tapi masih bohay.

Ratu ini kebetulan sangat iri dengan kecantikan Snow White, yang konon kata orang memiliki rambut sehitam kelapa parut, bibir semerah jambu monyet dan kulit seputih tempe mendoan […err, anu kayaknya penjelasannya keliru, tapi biarlah, siapa toh yang merhatiin… hihihi], pokoknya Snow White itu kayak… hum, bayanginnya susah deh, soalnya cakep banget. Tau Tessy kan? Coba bayangin dia dibedakin sampe putih, nah… Snow White itu jauh banget dari Tessy… hihihi.

Konon berkat ajian Tipu-Raja-Pake-Operasi-Plastik dan Ilmu Pelet-Asoy-Lidah-Menjulur, sang Ratu berhasil mengawini duda kaya raya yang ternyata adalah raja Aestera. Sayangnya sang ratu tidak menghendaki putri hasil perkawinan raja dengan istrinya terdahulu, Annisa Tri Banowati… hihihi… ngaco ah!

Dan lucunya [ayo ketawa! Ayo! Jangan malu2! Ketawa!], Sang Ratu itu punya cermin ajaib yang mahir sekali meramalkan masa depan dan menunjukkan kenyataan dunia saat ini.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Seperti biasa, Permaisuri Jahat kalo sore hari selalu mendatangi cermin di kamarnya dan langsung konsultasi dengan wajah memelas.

“Cermin-cermin di dinding, diam diam merayap, datang seekor nyamuk, hap! Lalu ditangkap!”

Cermin bengong. Ratu satu ini emang rada-rada bloon ato beneran gila yah?

“Ratu lagi ngapain?” tanya sang Cermin rada binun.

“Euh…” Permaisuri Jahat pun tersadarkan dan merapal ucapan yang bener. “Cermin cermin di dinding, siapakah wanita yang paling cantik di seluruh Aestera?”

“Hahahaha! Yang paling cantik? Hum… yang mahal sih banyak, kalo yang paling cantik…”

*bledags!* Permaisuri Jahat pun menendang sang cermin dudul.

“SIAPA YANG PALING CANTIK DI SEANTERO AESTERA?”
“Dian Sastro!”
“Jangan ngawur!”
“Abis, Ratu nanyanya galak gitu! Ngaget-ngagetin ajah…”
“Sapa yang paling cantik?”
“Yah, mau dibilang Snow White, entar dihajar sama Baginda Ratu… ya Baginda Ratu deh yang paling cantik…”
“Ah masa sih?” Permaisuri Jahat semakin genit. “Sumpe lo?”
“Tadinya mau bilang Snow…”
“Snow White?”
“I-iya…”
“KURANG AJAR!!” Permaisuri Jahat ngamuk-ngamuk. “Masa aku kalah sama anak ingusan itu?”
“Eh, jangan salah lho… biar under 21 tapi bahenol punya. Dadanya seheboh Pamela Anderson, pantatnya segeboy J-Lo, wajahnya secantik Cindy Crawford, kulitnya seputih mulus Liv Tyler, dan bibirnya semerah Mandra… uhuuuu~ jadi kepengen…”
“JANGAN PERVERT!!”
“I-iya…” Sang Cermin nginyem tapi masih sempat senyum mesum.

“Cermin-cermin di dinding, siapa yang tercantik di seluruh Aestera?”
“Tiada lain tiada bukan, dengan bibir semerah darah, dengan rambut sehitam malam dan dengan kulit seputih salju, Snow White-lah yang tercantik di seluruh Aestera, Ratuku.”

Sejak saat itulah, Permaisuri Jahat yang jealous abis hendak menyingkirkan Snow White. Bagaimana caranya? Tidak ada cara lain lagi, dia mengutus salah seorang algojo istana untuk membawa Snow White dan membunuhnya di tengah hutan. Idih, jahat yah? Iya. Lho kok jawab sendiri? Biarin. Ih penulis ngaco! Sebodo!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sang pembunuh itu membawa Snow White ke hutan yang gelap dan menyeramkan. Snow White yang pada dasarnya seorang gadis lugu tidak menolak waktu si Algojo mengajaknya ‘berjalan-jalan’. Kok mau-maunya diajak jalan-jalan sama Si Algojo? Soalnya si Algojonya nawarin permen.

“Paman Ali.” Panggil Snow White pada Si Algojo.

Memang nama sebenarnya dari Algojo adalah Alimudin bin Jojon. Tadinya panggilannya Alijojo, lama kelamaan biar keren diubah menjadi Algojo. Memang ini dagelan maksa. Biarinlah, daripada garing gak ada dagelannya.

“Paman Ali. Kayaknya disini gak ada Supermarket deh. Jangankan Supermarket, warung aja gak ada.”
“Iya yah.” Algojo mengikuti Snow White yang berjalan lebih dulu dengan pandangan nanar seperti tukang potong ayam sedang memburu kambing… lho gak nyambung yah?

Algojo sudah menyiapkan pisaunya. Pisau si Algojo tajam sekali, konon dia seharian sudah mengasahnya pake ongkotan pensil. Err… ongkotan itu bahasa Indonesianya apa yah? Serutan? Serutan bukannya yang buat minum? Hihihi… Itu sedotan deng… iya-iya… duh, udah ada yang protes aja kalo dagelannya garing.

“Tadi katanya mau beliin coklat Jago.” [hihihi… kalo gak tau coklat jago, silahkan konsultasi sama mereka-mereka yang sudah uzur… dijamin tau kalo gak lupa… coklat batang paling terkenal pada jamannya.]
“Lha gimana lagi… gak ada supermarket disekitar sini, Snow White-ku yang manis.”

Lama kelamaan, Algojo jadi gak tega, Snow White begitu lugu dan manis. Akhirnya Algojo mengurungkan niatnya membunuh Snow White. Dia malah menangis tersedu-sedu. Kenapa kok Algojo menangis? Dia menyesali tindakannya? Oh nggak, dia menangis gara-gara pisaunya yang dia bangga-banggakan malah dipinjem Snow White buat bikin rujak. Hihihi…

“Tuan Putri Snow White, tadinya saya diutus untuk membunuh anda. Tapi saya jadi tidak tega.”
“Ahhh!!” Snow White menjerit genit.
“Sebaiknya Tuan Putri lari saja dan jangan pulang ke Istana.”
“Ohhh!!” Snow White tambah ganjen.
“Hamba akan membawa pulang darah rusa dan mengaku bahwa itu darah Tuan Putri.”
“Ihhh!!” Snow White makin tidak terkendali.
“Hamba mohon… pergilah… jauh…”
“Uhhh!!”
“APAAN SIH! Tuan Putri ini!!”
“Eh… hihihi… malah jadi kayak gini nih Paman Ali. Ya udah deh, saya kabur aja dulu yah…”

Diiringi gerakan bullet time nan slow motion, Snow White meninggalkan Algojo sendirian di tengah hutan dan lari jauh-jauh. Algojo sudah menghela nafas dan hendak pergi ketika tiba-tiba Snow White datang lagi.

“Lho, kenapa kok balik, Tuan Putri Snow White?”
“A-anu Paman Ali…” Snow White malu-malu. “Saya gak bawa dompet… boleh pinjem duit dulu buat kabur?”

*Gubrags!* Algojo langsung semaput.

Dengan berat hati, Algojo menyerahkan beberapa helai duit pada Snow White yang ternyata matre juga. Setelah menerima uang dari Algojo, Snow White mengucapkan terima kasih dan langsung melambaikan tangan.

Snow White melambai-lambai ke arah jauh, dan tak lama kemudian datang taxi menjemput.

“Jalan kemana neng?” tanya si abang sopir taxi.
“Tengah hutan, bang.”
“Cemban deh, neng.”
“Sepuluh ribu? Ogah! Pake argo aja!”
“Ya udah kalo gak mau…” abang sopir taxi melengos dan meninggalkan Snow White.

Akhirnya Snow White naik ojek ke tengah hutan.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Snow White akhirnya sampai di sebuah gubuk kecil di tengah hutan. Gubuk itu berukuran mini, untungnya body Snow White juga gak gede-gede amat kayak Xena, jadi masih bisa masuk ke dalam. Kaget juga dia waktu masuk ke dalam, ternyata rumah yang kelihatannya kecil itu amat luas. Walaupun perabotannya sederhana. Radionya sederhana, TV-nya sederhana, kulkasnya sederhana, komputernya sederhana, DVD Playernya sederhana, PS2, Xbox dan Gamecube-nya sederhana, Home Theatre-nya sederhana, mobil-mobil BMW di garasi juga sama sederhananya.

Yang lebih lucu lagi [ayo ketawa! Kalo gak ketawa aku gelitikin lho!], ternyata tiap barang di rumah itu berjumlah tujuh buah. Ada tujuh pasang sendal, tujuh gelas kayu, tujuh kursi, tujuh tempat tidur. Sampai-sampai di kamar mandipun ada tujuh ekor bebek karet kuning.

“Uhug-uhug!” Snow White terbatuk. “Siapapun yang menghuni rumah ini, pasti jarang bersih2. Yah, itung-itung amal, aku bersihin deh rumahnya.”

Akhirnya sambil menyanyikan lagu ‘Begadang’-nya Rhoma Irama, Snow White menyapu, mengepel, mencuci dan menyetrika dengan rajin. Rumah yang tadinya berantakan itu berubah menjadi bersih sebersih rumah iklan sabun lantai. Karena kelelahan, Snow White-pun tertidur di salah satu pembaringan kecil.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Tujuh orang dwarf [well, mungkin seharusnya diterjemahkan jadi kurcaci, ato bajang, ato apalah sebutannya. Pokoknya mahkluk pendek berjanggut dan gemuk-gemuk lucu, aku sebut dwarf aja biar lebih enak] pulang dari pekerjaannya menambang di gua berlian. Mereka berbaris rapi dan bernyanyi-nyanyi bahagia.

“Heigh-ho, heigh-ho… heigh-ho the merry-o.”

Sampai di rumah, alangkah terkejutnya ketujuh dwarf itu. Ternyata rumahnya sudah rapi jali bak hotel berbintang. Para dwarf itu jadi kebingungan. Apa mereka salah alamat? Salah masuk rumah? Gak kok, sudah bener… Jalan Kepodang 7, RT 02 RW 16 Kelurahan Ngemplak Sleman… bener kok… tapi kok jadi kayak gini? What happen sih? What happen? What happen coba? [coba diucapin sambil monyong dan genit di depan kaca… barusan penulis juga mencoba mengucapkan ‘what happen’ sambil genit di depan kaca. Dijamin langsung malu-maluin…].

Dan lebih kaget lagi mereka saat mendapati seorang gadis yang luar biasa cantik tidur di pembaringan. Gadis yang benar-benar cantik, sepertinya mereka pernah melihatnya? Oh iya, ini kan Snow White? Putri Raja Aestera? Kok bisa nyampe kesini? Pasti ini ulah permaisuri yang iri dan dengki hati!

Heran? Kok para dwarf bisa mengetahui semuanya? Sebenarnya sih dalam cerita aslinya mereka gak tau, tapi berhubung penulis males nulis banyak-banyak, dibikin gini aja yah. Hihihi…

Singkat cerita, Snow White akhirnya diterima oleh keluarga dwarf penambang itu. Mereka mendengarkan cerita Snow White dengan seksama tentang Permaisuri Jahat dan berjanji akan sekuat tenaga melindungi Snow White. Selama berbulan-bulan, keakraban terjalin diantara ketujuh dwarf dan Snow White yang cantik jelita. Akhirnya salah seorang dari mereka menikah dengan Snow White dan mereka bahagia selamanya. Happily Ever After.

THE END.

*bletags!*



I-iya deh… dibenerin, abis kayaknya ceritanya udah pada tau kan? Masa diubah dikit nggak boleh.

Singkat cerita, Snow White akhirnya diterima oleh keluarga dwarf penambang itu. Mereka mendengarkan cerita Snow White dengan seksama tentang Permaisuri Jahat dan berjanji akan sekuat tenaga melindungi Snow White. Selama berbulan-bulan, keakraban terjalin diantara ketujuh dwarf dan Snow White yang cantik jelita.

Snow White mengajari ketujuh orang cebol itu bagaimana mencuci dan bersih-bersih rumah, sementara para dwarf mengajari Snow White bermain gundu. Hihihi…

Ketujuh orang cebol senang dengan kehadiran Snow White, terutama karena tabiatnya yang periang dan wajahnya yang cantik jelita. Ketujuh orang dwarf yang terdiri dari: Ucok, Ujang, Joko, Parjiman, Suwondo, Edi Gudel dan Agus Mengkus akhirnya memutuskan untuk memberi imbalan pada Snow White berupa pembaringan yang teramat indah.

Di saat para orang cebol pergi menambang ke hutan, Snow White akan menjaga dan membersihkan rumah serta membuatkan makanan. Kehidupan mereka tenteram. Akan tetapi, kebahagiaan kaum dwarf dan Snow White yang manis budi akan segera diganggu oleh Permaisuri nan keji.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Permaisuri Jahat memanggil sang Cermin dengan terburu-buru, sudah lama dia tidak mendengar kabar tentang putri tirinya Snow White, apakah ada kabarnya? Akhir-akhir ini si Cermin juga dudul, sering banget boongnya, si Cermin kayaknya lagi demen sama Cermin kamar sebelah, jadi suka jalan-jalan kalo malam. Itu yang bikin Permaisuri Jahat jengkel.

Permaisuri Jahat memanggil sang Cermin. Namun yang menjawab hanya bunyi bergemerisik saja dari dalam kaca.

“…wsst… Cermin Ajaib sedang keluar sebentar, kalau ada perlu silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi beep… wssstt… beep…”

*bledags!* Permaisuri Jahat pun menendang sang cermin dudul.

Setelah terguncang beberapa saat, Sang Cermin pun akhirnya nongol.

“Euh… mohon maap Baginda Ratu, abis saya lagi sarapan digangguin…” ujar sang Cermin yang mulutnya masih belepotan lontong opor. “Lagian, Baginda Ratu kesininya pagi amat.”

“Sebodo amat! Ayo sekarang jawab! Mirror-mirror on the wall! Sapa paling cantik di seantero Aestera?”
“Well… sebentar…” Sang Cermin minum dulu biar gak keselek sambel goreng ati. “Nah, yang paling cantik… hum… yah, maap deh… masih Snow White.”
“APA??” Permaisuri Jahat ngamuk lagi. “Dia belum mati??”
“Snow White? Sehat sentosa. Dia ada di tengah hutan. Hehehe, kasian deh lu!”

“Kurang ajar!!” Permaisuri Jahat kembali mengumpat-umpat sambil memandang penuh kebencian ke arah hutan rimba. “Akan kubuktikan bahwa gadis ingusan itu tidak ada cantik-cantiknya! Hahahaha! Hihihihi! Hohohoho! Eheeeu!”
“Lho? Kok ada eheu-nya, Ratu?”
“Anu, saking semangatnya jadi keseleg nih. Kamu kok ya rese amat. Udah, aku mau pergi dulu!”

Sungut Permaisuri Jahat sambil pergi ke dapur dan mempersiapkan sesuatu. Dengan menyamar sebagai seorang nenek tua brewokan, Permaisuri Jahat menyiapkan sekeranjang apel yang sudah dibubuhi racun tikus rasa jeruk. Dengan apel itu, Permaisuri Jahat ingin menyingkirkan Snow White sekali dan selamanya!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Ketika tujuh orang cebol meninggalkan Snow White pagi itu, mereka memperingatkannya agar jangan membuka pintu pada siapapun juga yang asing. Snow White berjanji untuk berhati-hati dan ketujuh dwarf berangkat menambang dengan riang.

Saat itulah, Permaisuri Jahat yang menyamar datang berkunjung.

“Spadaaa… ada orang di rumah?” tanya Permaisuri Jahat mengetuk pintu.
“Siapa itu?” terdengar suara merdu Snow White dari dalam rumah.
“Ini saya. Ada orang gak di rumah?”
“Gak ada siapa-siapa. Kalo cari sumbangan ke rumah sebelah aja.”
“Lho? Gak ada siapa-siapa kok bisa jawab?”
“Iya nih, aneh banget, kok bisa yah? Kamu siapa kok rese amat?”
“Saya nenek tua.”
“Bohong.”
“Lho? Gak percaya?”
“Gak.”
“Ya udah, saya tukang kredit.”
“Kompor udah saya bayar lunas.”
“Ngg… saya tukang reparasi kulkas.”
“Kulkasnya gak rusak.”
“Ngg… saya salesman obat.”
“Gak butuh obat.”
“Grr… saya tukang sayur!”
“Udah punya sayur.”
“Saya nenek tua!!” akhirnya Permaisuri Jahat tidak sabar lagi.
“Bilang kek dari tadi…”
“TADI UDAH BILANG!!”
“Ow. Hihihi… ya maap…”

Snow White membukakan pintu dengan riang. Pengen rasanya Permaisuri Jahat langsung mencekik gadis dudul ini. Tanpa banyak babibu, mereka bercakap-cakap dan sebelum pergi, nenek tua itu memberikan sekeranjang apel pada Snow White.

Setelah makan Apel Malang hasil pilihan SpawnTheAnthony, Snow White langsung merasa pandangannya perlahan kabur, dan akhirnya gelap total. Sebelum ambruk dan pulas, masih sempat Snow White bertanya. “Siapa yang matiin lampu?”

Akhirnya Snow White meninggal dunia.

THE END.

*bletags!*



Akhirnya Snow White meninggal dunia.

Nenek Sihir tua nan jahat itu tertawa terbahak-bahak dan tanpa sadar makan apelnya sendiri. Diapun akhirnya meninggal karena setelah makan apel, jalan sempoyongan, masuk jurang, terlindas kereta api, ditabrak truk, dimakan hiu dan dilempar ke lahar. Hihihi… pokoknya sadis deh matinya. Tapi sesadis apapun kematian Permaisuri Jahat, hal itu tidak membuat Snow White hidup kembali.

Ketujuh orang dwarf yang pulang-pulang mendapati Snow White sudah mati, menangis terbahak-bahak dan berduka cita sepanjang hari. Mereka meletakkan Snow White di atas pembaringan indah yang belum sempat mereka berikan padanya. Saking sedihnya, mereka tidak beranjak dari tempat itu selama tujuh hari tujuh malam.

Sampai pada suatu ketika, datanglah Pangeran Shaven…

*bletags!*



I-iya… gak boleh dikasih nama yah?

Sampai pada suatu ketika, datanglah seorang Pangeran yang langsung terpesona melihat kecantikan Snow White. Pangeran ini adalah teman masa kecil Snow White yang memang mencari-carinya karena ingin meminangnya. Mereka sebetulnya sudah berpacaran sejak masa SMU namun mendapat halangan dari Permaisuri Jahat.

Berkat petunjuk dari kaum dwarf, menangislah Pangeran menemui kekasihnya sudah terbujur kaku seperti kue bolu.

“Konon katanya…” salah seorang dwarf memberi tahu Pangeran, “Bahwa dengan ciuman kekasih sejati Snow White dapat bangkit kembali.”

Pangeran tidak buang waktu lagi. Apalagi setelah melihat betapa meskipun meninggal, tapi bibir Snow White monyong minta cium. Hihihi, dasar Snow White ganjen, tau aja kalo akhirnya dapet ciuman. Pangeran Tampan membungkuk dan mulai mengeluskan bibirnya menyapu bibir Snow White, tangannya meraba-raba dan…

*bletags!*



Karena ciuman kekasih sejati dari Pangeran Tampan, akhirnya Snow White terbangun, dia hidup kembali. Bukan… bukan kayak zombie. Tapi benar-benar hidup kembali, sehat walafiat tak kurang suatu apa. Ketujuh dwarf menari penuh suka cita. Dan Pangeran Tampan yang mencintai Snow White membawa Putri Aestera nan cantik itu kembali ke Istananya untuk menjadi calon ratu.

Dan mereka hidup bahagia selamanya. Lived happily ever after.

THE END.

Moral dari cerita ini: kalo punya apel, jangan lupa bagi-bagi sama penulis. Hihihi…


0 comments: