The Rays of Avera Ch.3

|
THE RAYS OF AVERA
Created by Shaven

CHAPTER THREE
Fool Fighters




Seorang pujangga besar Avera pernah menulis kata-kata nan bijak ini, “Tumis bawang bombay sampai harum, kemudian masukkan kecap inggris, saus tiram, garam dan merica, lalu masak sebentar. Setelah itu tambahkan cumi, masukkan kecap manis dan air. Masak lagi sebentar. Angkat dari api. Siap dihidangkan.”

Tentunya tidak ada yang menyangkal bahwa pujangga besar Avera itu adalah juga seorang koki. Lantas apa hubungannya dengan cerita kita kali ini?

Tidak ada sama sekali.

Itu tadi cuma diambil penulis dari resep makanan Cumi Goreng Kecap. ^^;
Mohon maaf atas keisengan sesaat penulis, pembaca sekalian.

Baiklah, kita kembali ke cerita utama…

Setelah memasuki lokasi pertambangan yang berada di dalam gua di dekat kastil Von Gard untuk menumpas naga, Rover dan Mark Ray yang ditemani oleh salah seorang anggota Sisterhood of Spellcaster yang bernama Maia Lasalle akhirnya berhadapan dengan salah satu makhluk yang mereka buru.

Atau kelihatannya saja demikian…

“Itu bola mata naga?” tanya Maia keheranan. “Err… yakin nih?”

Nafas gadis itu tertahan. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan makhluk agung yang sangat dipuja-puja oleh para penggemar RPG di seluruh dunia itu. Tapi kok rasa-rasanya ada sesuatu yang salah…

“Memangnya kenapa?” Rover mencibir. “Gak percaya?”
“Sepertinya memang bukan naga…” Mark menajamkan penglihatannya.
“Ehh?” Rover hampir ngompol saking tengsinnya. “Bu-bukan naga?”

Dengus nafas makhluk raksasa yang sedang menatap mereka bagaikan sodokan angin kencang yang hendak melemparkan para jagoan kita keluar gua. Itu baru dengusannya, belum kalau dia kentut. Memang jorok, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu memang bisa saja terjadi kan?

Perlahan tapi pasti, tubuh sebesar traktor yang amat sangat berbau bergerak menyusur gua mendekati ketiga mangsanya. Bulu-bulu berwarna coklat terseret perlahan, merobek dinding gua dengan gerakan memilin yang mengerikan. Eh sebentar… bulu berwarna coklat? Memangnya ada naga yang bulunya coklat?

“I-itu tikus mondok raksasa!” teriak Mark.

“Sompret! Siapa tadi yang bilang tikus mondok gak ada yang bisa menggali sampe gempa kayak naga?” maki Rover sembari mempersiapkan pedang panjangnya. “Aku paling benci monster yang bentuknya kayak tikus!”
“Jangankan monster! Tikus beneran aja ayah jijik!” tukas Mark.
“Ya emang sih, tapi ada kalanya hal-hal yang berkaitan dengan phobia sang tokoh utama tidak perlu diperbincangkan secara tuntas di chapter tiga sebuah alur cerita panjang yang memang harus diakui terkadang tidak ada hubungannya dengan situasi yang sedang dihadapi.” Jawab Rover panjang lebar, yang arti pendeknya… “GAK USAH DIBAHASSS DEEHHH!!”

“Ka-Kalian sebaiknya jangan becanda dulu.” Bisik Maia sedikit ketakutan. “Monster itu semakin mendekat. Sepertinya bukan makhluk yang ramah.”
“Jangan takut. Kalau bukan naga, Mark sendiripun pasti bisa menghadapinya.” Senyum Rover melebar. “Ayo Mark, habisi dia! Lumayan kan buat naikin levelmu.”

Rover menggamit lengan Maia menjauhi Mark dan tikus mondok raksasa. Setelah dirasa lokasinya cukup aman, mereka menyaksikan Mark dan sang tikus mondok berhadapan dari kejauhan.

“Yang benar saja!” sungut Mark. “Dasar tidak bertanggung jawab. Masa aku dibiarkan sendirian?”

“Jangan menggerutu melulu! Tunjukin kalo kamu emang bener tokoh utama cerita ini!” teriak Rover dari jarak yang cukup jauh. “Masa di pertarungan pertama jagoannya udah kalah? Gak seru ah!”
“Sebaiknya yang tidak bertanggung jawab diam aja di ujung!” sahut Mark membalas.

Maia geleng-geleng, ini Ayah-Anak emang gak bisa akur apa yah? ^^;

“Beneran nih, Mark bisa menghadapi monster itu sendirian?” tanya Maia setengah berbisik pada Rover.
“Mungkin.” Jawab yang ditanya.
“Lah?”
“Aku ingin Mark memperoleh pengalaman bertarung yang banyak, aku ingin dia terus mengasah kemampuannya.” Kata Rover. “Seiring berjalannya waktu, aku tidak bisa terus menjaganya. Dia sudah dewasa, sudah tahu apa yang harus dilakukan. Kemampuannya pun sudah mulai meningkat, hanya butuh lebih banyak pengalaman bertarung.”
“Kalau misalnya monster itu terlalu tangguh untuk Mark sekalipun?”
“Ya… Mark akan menemui ajalnya saat ini juga.”
“Lah?”
“Aku sebenarnya tidak ingin memberinya bantuan secara terbuka.” Bisik Rover, seakan-akan takut suaranya terdengar oleh Mark yang berada sedikit jauh di depan mereka. “Tapi aku kan bisa membantunya diam-diam, dia itu gengsinya tinggi sekali. Seandainya monster itu terlalu tangguh untuk Mark, aku boleh minta bantuanmu merapal magic heal padanya?”
“Heal? Penyembuhan? Tentu saja bisa. Walaupun mungkin dengan kemampuanku sekarang aku hanya bisa mengembalikan sekitar 30% stamina dari jarak sejauh ini.”
“30% pun sudah cukup, terima kasih.”

Tikus mondok di depan Mark menggeram, mendecit membahana, lalu menggeram lagi. Mark jadi ragu-ragu, ini benernya monster atau mesin jahit, kok cuma suaranya doang yang rame. Tanpa ragu-ragu Mark menyiapkan pedang pendek gandanya.

“Solace, Jovial, kalian bantu aku yah…” bisik Mark pada dua pedangnya. Memang rada antik anak satu ini, masa pedang dikasih nama.

Sang monster menggeram kembali seperti layaknya seekor monster (kalo berkokok takut ntar dikira ayam). Memamerkan jalinan gigi yang tidak begitu sedap dipandang apalagi dihirup baunya. Sang monster menggoyang-goyangkan tubuhnya seakan show of force akan kedahsyatan dan kejelekannya. Sudah jelek, bangga pula.

Mark menggerutu pada penulis. “Kalau narasi terus kapan perangnya?”

Ini kan deskripsi wujud si monster, gimana pembaca mau bayangin bentuk monsternya kalau gak dijabarkan dengan detail? Sudah menjadi tugas penulis untuk memberikan keterangan selengkap-lengkapnya pada pembaca kan?

“Ya tapi jangan lama-lama.” Mark masih menggerutu. “Cukup satu paragraf aja kan? Lagian monster itu kan NPC? Kenapa musti detail? Bentar lagi juga mati.”

Duile, pede amat.

“Ya jelas dong! Aku kan tokoh utama!”

Baiklah…

Singkat cerita, akhirnya Mark mengalahkan monster itu dengan mudah.

BLETAGS!~
Kepala penulis benjol dilempar Orb segede Kalimantan.

“KASIH ACTION DIKIT NAPAAAA???” teriak Mark dengan geram.

Grr… tadi bilang suruh cepet… sekarang minta dikasih action… dasar plin-plan!

“APA????”

Nggak… nggak… ini nih… aku ulangi lagi deh! Grmblsebelgrmbl.

Sang monster menggeram kembali seperti layaknya seekor monster. Memamerkan jalinan gigi yang tidak begitu sedap dipandang apalagi dihirup baunya. Sang monster menggoyang-goyangkan tubuhnya seakan show of force akan kedahsyatan dan kejelekannya. Sudah jelek, bangga pula.

Mark menunggu sampai saat yang tepat, lalu melompat mendekati kepala sang tikus raksasa.

“Hiaaahhh!!” sembari memekik ala Bruce Lee, Mark meluncurkan satu kombinasi serangan pedang ganda ke arah kepala sang monster. “Hiaaahhh!!”

Untungnya saat berteriak dengan semangat seperti itu, Mark sudah menggosok gigi, sehingga penulis pun aman meliput adegan seru ini dari jarak yang tidak begitu jauh dari lokasi mulut Mark. Sekedar memperingatkan saja, sodara-sodara pembaca, kalo sedang semangat dan pengen teriak-teriak, coba diinget-inget dulu sebelumnya udah sikat gigi belum. Karena efek yang timbul selain buruk bagi kesehatan gigi, juga tidak baik bagi pergaulan dan sesama.

BRUGG!!
BRAAAKKKK!!
BRUALLL!!!

Yak!! Seru nian sodara-sodara pembaca sekalian, setelah berulang kali menghempaskan pedangnya ke arah kepala sang monster dengan gagah berani, Mark melepaskan serangan beruntun (kalo jaman sekarang istilahnya ‘Combo’) ke arah badan sang monster.

Tapi monster itu tidak menyerah begitu saja. Meskipun hanya mendapatkan peran dalam cerita ini sebagai monster dan tidak akan memegang banyak peranan utama pada kisah-kisah selanjutnya, tapi sang monster terus meradang dan menerjang karena dia adalah binatang jalang yang dari kumpulannya terbuang. Paling tidak dia sudah merepotkan tokoh utama.

Keringat Mark mulai bertetesan. Sejak memasuki gua mereka sudah bertemu dengan monster dan mutant berukuran kecil, tapi tidak menghadapi masalah. Tapi monster ini berbeda, entah kenapa setiap serangannya seakan tidak mampu menyakiti sang monster sedikit pun.

Dari kejauhan, Maia mulai khawatir dengan kondisi Mark.

“Sepertinya dia kewalahan.” Kata gadis itu sambil meremas-remas ujung bajunya dengan gelisah. “Apa tidak sebaiknya kita membantu dia?”
“Tidak perlu.” Jawab Rover sok yakin. Dia berdiri dengan gagah layaknya seorang jagoan RPG yang sedang diabadikan posenya dalam sebuah poster. “Memang berat untuk melawan seekor monster yang memiliki lebih banyak HP maupun Ki dibanding kita saat pertama kali berjumpa dengannya, tapi dengan banyak berlatih dan meningkatkan ki-level maupun HP, perlahan tapi pasti kita akan mampu menghadapi monster sebesar ini dengan mudah.”
“Tapi Mark sepertinya…”
“Aku percaya dia mampu menghadapinya.” Mata Rover tak lepas dari gerakan lincah Mark di kejauhan. “Lagi pula kalau kita pasti akan ditolak seandainya ingin membantunya. Anak itu punya ego super tinggi.”

BRUGG!!
BRAAAKKKK!!
BRUALLL!!!

Dinding-dinding gua yang rapuh tidak kuat lagi menyangga gerakan sang tikus mondok raksasa yang menggeliat dengan erotis bak Tina Toon goyang ngebor. Mark dengan rajin mengulang gerakan serangannya sembari mengincar bagian tubuh sang monster yang tidak terlindung sempurna.

“Boss kecil ini punya sepasang cakar maut raksasa yang harus dihindari.” Gumam Mark pada dirinya sendiri. “Kalau cakar itu bisa digunakan untuk menggali gua batu ini dengan mudah, tentu bisa digunakan pula untuk membelah badanku dengan irisan tipis-tipis dan rapi. Bulu yang tebal menjadi pelindung sempurna bagi tubuhnya, aku tidak mampu melukainya dengan pedang gandaku. Waduh… gimana nih… pedangku kayak barang tumpul kalau sudah begini.”

Sambil terus bergerak dan menyerang, Mark tidak henti-hentinya mencari celah.

“Menghadapi monster dengan pelindung kelas satu seperti ini cukup merepotkan. Pertama aku harus mencari bagian tubuhnya yang paling lemah.” Mark berbisik pada dirinya sendiri. Persis orang gila. “Ahh… tentu saja! Matanya!!”

Lompatan demi lompatan dilakukan Mark untuk menentukan jarak serang dengan mata sang tikus mondok raksasa. Begitu mencapai lokasi yang dikehendaki, Mark langsung menyerang dengan pedangnya, mencoba menusuk mata sang monster. Belum sampai menyentuh mata, kedua cakar raksasa sudah siap menubruk Mark. Pemuda itu kembali mundur dengan melompat.

“Si-sial… susah sekali! Ta-tapi… bukannya tikus mondok itu rabun yah? Bagaimana dia bisa tahu aku akan menyerang bagian mata?” Mark geleng-geleng. “Ini bakal menghabiskan waktu berjam-jam.”

BRUGG!!
BRAAAKKKK!!
BRUALLL!!!

“Sepertinya dia kerepotan.” Maia masih khawatir. “Dia masih belum berhasil menemukan titik kelemahan monster itu.”
“…” Rover tidak menjawab, matanya terus mengawasi gerakan Mark.
Maia maju perlahan, hendak membantu Mark. “Sebaiknya kita…”
“Tetap diam di tempat anda, Lady Lasalle.”
“Ah?”
“Aku tidak mengijinkan anda membantu Mark dan itu perintah selaku pemimpin misi ini. Mark pasti bisa mengatasinya, dia cerdas. Kalau dibantu, dia tidak akan pernah menjadi dewasa. Dia punya banyak tanggung jawab yang dibebankan padanya, kalau hanya berhadapan dengan monster seperti ini saja tidak becus, dia tidak akan berhasil dalam tugasnya.”
“Eh…?” Maia mengernyit. “Tanggung jawab? Beban? Tugas? Apa yang anda maksud? Pekerjaan kalian sebagai Monster Hunter?”
“…” Rover lagi-lagi tidak menjawab.

Maia terus memandang ayah Mark itu, ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatap mata tajamnya. Rover terus mengawasi Mark dengan penuh harapan. Untuk pertama kalinya Maia sadar, ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Rover untuk masa depan anak tunggalnya itu. Sesuatu, yang mungkin bahkan Mark sendiri tidak tahu.

BRUGG!!
BRAAAKKKK!!
BRUALLL!!!

“Kenapa sih aku harus menjadi Exterminator? Kenapa sih aku harus jadi Monster Hunter? Kenapa aku mesti jadi jagoan RPG? Bukankah masih banyak game lain yang bisa dijadikan cerita? Kenapa aku tidak jadi petani saja kayak di game Harvest Moon? Itu lebih indah dan menyenangkan!” Mark terus mengomel. Keringatnya mulai bercucuran karena setiap serangannya mental. “Tikus mondok raksasa ini benar-benar menggemaskan. Lucu dan menggemaskan. Pengen kuremas-remas dengan gemas sampai mampus!!”

“Kenapa Mark? Kerepotan? HAHAHAHA!!” teriak Rover dari kejauhan. “Jangan cuma ngoceh! Itu tikusnya datang!!”
“Buset… bukannya bantuin malah ketawa.” Mark memaki-maki. “Hoi, aku capek nih, bantuin dikit napa?”
“Nanti kalo udah selesai Ayah pijat deh!”
“Tawarannya tidak menarik!! Yang penting dibantuin sekarang!!”

Tiba-tiba Mark melihat cahaya berwarna kehijauan mengelilingi sekujur badannya. Cahaya lembut yang amat menyejukkan jiwa. Capek yang tadi dirasakannya menghilang, staminanya kembali meningkat.

“I-ini… sihir penyembuh…? heal…? …Maia?” Mark memandang gadis di samping ayahnya. Gadis itu tersenyum manis. “Te-terima kasih…” kata Mark terbata-bata. Dasar cengeng.

Dengan semangat berlipat ganda dan stamina yang kembali prima layaknya minum ExtraJoss, Mark menempur sang tikus mondok yang sempat merasa di atas angin.

“Tunggu sebentar…” Mark kembali tenggelam dalam dunianya. “Bagaimana dia bisa tahu aku menyerang mata kalau matanya sendiri rabun? Makhluk ini pasti punya sensor pelindung! Sial, pantas saja dari tadi aku kerepotan! Dia mampu mendeteksi gerakan-gerakan yang menyerangnya! Hmm… kalau begitu…”

Mark mundur beberapa langkah, lalu mengambil sesuatu dari balik kantong jaketnya. Dengan gerakan ala pitcher dalam game bisbol, Mark segera melempar benda itu ke arah si tikus mondok.

BLAMM!!

Benda yang dilempar Mark disapu oleh cakar sang tikus dan meledak di udara, tapi… kedua cakar itu tiba-tiba saja tidak bisa bergerak!! What happen??

“Bagus. Dia mengeluarkan Petrifier Bomb. Bom untuk membuat kaku tubuh lawan.” Rover mengangguk-angguk seperti boneka per. “Makhluk itu memang rabun, tapi dia memiliki sensor kelas satu, jadi serangan Mark selalu berhasil dimentahkan. Dengan membuat kedua cakar itu tidak bisa bergerak, Mark sudah menang.”

Maia menghembuskan nafas lega.

“Baiklah! Wahai tikus mondok raksasa! Maaf harus melakukan ini, no hard feeling yah.” teriak Mark sok yakin. “Double Edge Slash!!”

Setelah ‘merapal jurus andalan’-nya, Mark melompat tinggi dan menyerang sang tikus mondok dengan cepat dari udara. Solace dan Jovial ditempatkan menyilang di depan dada dan begitu sampai di hadapan sang tikus mondok yang sudah keringetan.

SBPLAPZ!!
SPLASSH!!

CROTTT!!

BRUGGKK!!*

Sang tikus mondok akhirnya rubuh dengan tubuh terbelah. Sadisnya… ck ck ck…

Mark berdiri di hadapan si tikus mondok yang sudah di-slay, dengan Solace dan Jovial di tangan.

“Huff, huff, huff~” nafas Mark naik turun. Walaupun monster kelas menengah, tapi ternyata lumayan merepotkan juga. Untunglah, dengan begini dia bisa naik level lumayan tinggi.

“Kerja bagus, Mark.” Rover berjalan melewati Mark dengan cuek. “Ayo jalan lagi.”
“Hngh~” Mark melengos. Dasar sial, gak ada break dulu nih?

“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Maia yang ikut di belakang Rover.
“No problemo.” Mark mengangguk dan tersenyum, Solace dan Jovial kembali disarungkan ke pinggang. “Terima kasih bantuanmu tadi.”
“Sama-sama.” Maia mengangguk. “Ayo kita lanjutkan lagi perburuannya.”
“Haih…” Mark lemas. “Kamu ternyata sama saja kayak Ayahku…”
“Eh?”
“Gak papa, ayo…”

Kembali mereka bertiga meneruskan perjalanan menembus perut bumi. Lubang yang dibuat oleh sang tikus mondok raksasa lumayan besar, sehingga memudahkan mereka menjelajah. Masih ada satu dua monster kecil menyerang, tapi itu bukan masalah.

Sampailah mereka di sebuah tempat luas yang berbau amis.

Bukan, mereka bukan berada di tempat pelelangan ikan, mereka masih berada di pertambangan. Sebuah lorong besar dengan bercak darah monster disana-sini, menghias dinding dengan sedikit mengerikan. Pernah main game Silent Hill? Mirip-mirip kayak gitu suasananya. Pernah main game The Sims 2? Sama sekali gak ada hubungannya dengan cerita ini… hihihi…

Rover mengisyaratkan tanda supaya Mark dan Maia tidak membuat keributan. Keduanya mengangguk perlahan. Rover memimpin dengan merangkak perlahan ke sebuah batu besar yang terlindung. Siapapun yang berada di ruangan luas itu tidak akan mampu melihat ke arah mereka.

Mereka berada di belakang sebuah jajaran batu raksasa yang tersembunyi sedikit di kegelapan. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sekitar tiga meter jauhnya, dua makhluk kecil yang sibuk berdecit-decit ribut memanggil induknya. Sang induk berada sedikit jauh, sedang sibuk mengoyak-ngoyak daging monster raksasa yang sudah tidak bisa diketahui jenisnya lagi. Darah dan daging berceceran di mana-mana.

Kedua makhluk di depan Rover, Mark dan Maia berwarna kemerahan dengan garis-garis hitam menghias kulit tebal mereka. Makhluk itu berdiri tegak dengan wajah beringas dan buas, sibuk mengepak-ngepakkan tangan-sayap mereka dengan ribut. Kumpulan ini jelas kumpulan para naga!

Mark memandang sekeliling, bayi-bayi naga berlarian kesana kemari sambil ‘menyanyi’ dengan riang sambil berebut daging pemberian sang induk, beberapa naga muda saling bertarung dengan menggeram-geram. Tempat ini bagaikan… bukan… tempat ini memang sebuah sarang naga!

“Apa-apaan ini?” bisik Rover dengan gelisah.
“Sarang naga tanah. Ada bermacam-macam jenis naga di Therain. Naga api yang bersarang di gunung berapi, naga air yang bersarang di laut, naga angin yang tidak pernah diketahui sarangnya dan naga tanah yang bersarang di bawah tanah.” Kata Maia menjelaskan meski tidak ada yang meminta. “Walaupun sarang mereka berbeda-beda, tapi elemen source utama seekor naga tetap api.”
“Ada yang salah, Yah?” tanya Mark. “Ini sarang naga tanah.”
“Benar, coba lihat ke arah sana!” Rover menunjuk satu sisi terowongan.

Tempat yang ditunjuk Rover adalah sebuah landasan yang letaknya lebih tinggi dari lantai gua. Batu-batuan yang bertaburan membentuk tangga raksasa menuju ke atas langit-langit gua. Beberapa ekor naga raksasa yang seukuran dengan induk di dekat mereka sedang berusaha membuka lubang di atas langit-langit dengan cakar raksasa mereka.

“Para naga itu sedang menggali. Mereka mau keluar dari tempat ini lewat lubang itu?” Maia menyimpulkan. “Koloni naga ini sepertinya sangat beringas.”
“Naga adalah binatang yang biasanya tenang dan anggun. Saat ini aku hanya melihat makhluk-makhluk pemangsa raksasa yang mengerikan yang sedang berusaha menggali keluar sarang.” Kata Rover. Sikapnya menunjukkan kegelisahannya. “Ada sesuatu yang salah dengan mereka. Sesuatu…”

“Err… bukannya kita dibayar mahal untuk membasmi mereka?” tanya Mark.
“Dasar lutung! Kalo tahu bakalan kayak gini mendingan berburu giyom dan jualan sate!” kata Rover malu-maluin. “Hmm… kira-kira apa yang bisa mencegah mereka melarikan diri dari tempat ini?”
“Err… disate?” usul Mark.
“Woalah anak lutung… cari ide yang cerdas napa?”
“Kita tidak mungkin menghadapi mereka satu-satu?” tanya Maia.
“Tidak. Naga-naga ini sudah sangat buas dan beringas. Kekuatan kita bertiga bukan lawan mereka, menghadapi satu tikus mondok saja Mark sudah kerepotan, apalagi membasmi satu koloni naga.”
“HEE!” protes Mark. “Kok jadi aku yang dijadikan tolak ukur!”

Setelah berpikir keras selama beberapa saat layaknya seorang peserta kuis Who Wants To Be A Millionaire, para jagoan kita memutuskan untuk menggunakan pilihan bantuan Fifty-fifty. Hihihi…

Rover berdiri dengan gagah. “Sepertinya hanya satu yang bisa kita lakukan saat ini.”

Mark dan Maia berpandangan.

“Apa?” tanya Mark.
“Meledakkan langit-langit gua dan mengubur naga-naga sialan itu!” kata Rover dengan yakin.
“APAA?!!?” Mark hampir saja menjerit kalau tidak ingat dia berada di mana. “Yang benar saja!! Meledakkan langit-langit? Pake apa? Kita tidak punya kekuatan sehebat itu! Tembakan Ki? Ki kita kan gak begitu dahsyat, jangankan merubuhkan langit-langit, buat memecahkan kerikil aja untung-untungan!! Rune Orb? Kita tidak punya Rune Orb berdaya ledak tinggi! Apa?”

“Crossfire Hurricane.” Jawab Rover yakin.



-Bersambung-

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven’s Note :
* Not that this have to do with anything… tapi… cerita ini sebenarnya sebuah tribute, some kind of a appreciation, beberapa hari belakangan ini aku agak stress dan untuk menyegarkan diri aku ‘memaksakan diri’ menyelesaikan beberapa game RPG. Sempat diomel-omelin beberapa pihak yang berwenang karena lari dari tugas dan tanggung jawab, tapi hey, please blame Square Enix and all those RPG software-house for that! Hihihi… Aku gak main game-game anyar sih, cuma game lawas kayak Suikoden IV (makanya di Rays of Avera banyak bertebaran masalah ‘rune’ dan ‘orb’), FFX (Ooh…I just love Lulu’s big… err… Moogle ^^), Grandia II, Star Ocean III and much more, aku beli kasetnya udah lama, tapi baru sempet ngerampungin sekarang, dulu waktu kerja cuma sempet maen Smackdown, FIFA, NBA ato NHL. Kinda nostalgic, maen game sampe begadang, listrikku bulan depan pasti meledak. Heheheh… someone will really really get mad on me…
* Tambahan buat note di atas… I really really really really hate random battle and dungeon wandering. Bah!
* “SBPLAPZ!!” dan “SPLASSH!!” itu suara pedang membelah si tikus, “CROTTT!!” itu suara darah yang muncrat, dan “BRUGGKK!!” itu suara si tikus mondok jatuh berdebam. Memang gak harus diterangin di sini… tapi siapa tau ada yang bertanya-tanya soal efek suara… Hehehe…




0 comments: