=================
THE RISING DEAD
Created By Shaven
=================
Sebenarnya hari itu dimulai seperti hari yang biasa saja. Matahari bersinar cerah, bunga-bunga mekar dengan indah, burung-burung berkicau dengan ceria, dan rumput tumbuh lebih hijau dari hari sebelumnya. Hari minggu yang biasa saja. Kota Grand Lagoon yang terkenal dengan tempat wisata danau Grandnya juga menjalani hari minggu seperti biasa.
Grand Lagoon terletak di sebelah barat Aestera, satu jalur dengan ibukota Capital City dan kota metropolis Neo-City. Cukup banyak karyawan Neo-City memiliki keluarga di tempat ini, karena lokasinya yang memang tidak terlalu jauh dari Neo-City. Kota ini cukup kecil untuk disebut sebagai kota, namun juga lumayan besar untuk ukuran sebuah desa.
Dikelilingi oleh pegunungan yang melingkar sepanjang barat Aestera, dengan hutan-hutan yang terjaga keasriannya dan danau Grand yang indah, kota Grand Lagoon menjadi salah satu kota pegunungan yang cukup terkenal.
Pratt, Decker dan Cobb menikmati hari minggu mereka seperti layaknya remaja lainnya di Grand Lagoon, pergi jalan-jalan ke arah danau. Ketiga anak SMU ini bersekolah di SMU Negeri Grand Lagoon. Ketiganya kelas dua SMU.
“Man, seharusnya kamu lihat kemarin, si Gordon ditolak mentah-mentah oleh Morgan.” Kata Decker sambil cengengesan. Decker bertubuh gemuk, dan kalau melihat stick lollypop selalu bergantung dimulutnya tentunya mudah diduga kalau dia itu tukang makan.
Ayah Decker Anderson adalah pemilik satu minimarket yang lumayan laris di bilangan perempatan Lagoon Boulevard, yang merupakan akses jalan satu-satunya ke arah danau. Sebelum pergi ke danau, biasanya mereka mampir di toko itu terlebih dahulu untuk menggoda Morgan, kakak Decker.
“Oh ya?” Pratt naksir Morgan sejak SMP. Menurutnya kakak Decker itu cantik sekali. “Tentunya Gordon kecewa berat.”
Pratt Crenshaws bertubuh sedang, menggunakan kacamata dan sekilas lihat nampak rapuh. Dia tinggal tidak jauh dari rumah Cobb dan mempunyai hobi membaca buku. Dari ketiga sahabat itu, Pratt yang paling pintar dan cerdas. Sayangnya di SMU dia selalu dicap geeks dan dijauhi oleh mereka yang mengaku ‘gaul’. Tapi tidak oleh Morgan, sang primadona pasukan cheerleader tim football yang kebetulan juga kakak kelas mereka di SMU Negeri Grand Lagoon.
Morgan Anderson yang sangat cantik dan baik itu selalu menganggap Pratt seperti apa adanya. Mungkin itu sebabnya Pratt senang mengunjungi Morgan di hari minggu, tentu saja perasaannya kepada Morgan itu dia sembunyikan kepada semua orang, termasuk Cobb dan Decker.
Di saat senggang, Morgan selalu membantu ayahnya berjualan di toko.
“Biarin aja menurutku.” Sahut Cobb.
Cobb Lee bertubuh langsing, dengan badan yang atletis dan perawakan proporsional. Dia mungkin satu-satunya anggota yunior tim football yang mau berkawan dengan Pratt dan Decker. Cobb orangnya sangat cuek dan sedikit aneh. Persahabatannya dengan Decker serta Pratt dimulai sejak masa kecil, itu sebabnya dia santai-santai saja dan masa bodoh dengan pergaulan.
“Gordon orangnya brengsek, walaupun di lapangan football dia seorang quarterback yang hebat.” Ujar Cobb. “Gordon suka gonta-ganti pasangan. Morgan terlalu baik untuk jadi pacarnya. Paling-paling dia cuma dijadiin mainan.”
“Aku setuju.” Pratt mengangguk-angguk. Tapi Pratt tidak pernah setuju Morgan punya pasangan kecuali dirinya sendiri, jadi penilaiannya jelas tidak valid. “Gordon dan Morgan? Aku tidak bisa membayangkan. Deck, kamu harus menghalangi niat Gordon mendekati kakakmu, siapa tahu dia hendak mencobanya lagi.”
“Aku tahu. Tapi tanpa aku beritahu pun, Morgan sudah menolak mentah-mentah. Entah bagaimana kriteria kesukaan Morgan, dia belum pernah pacaran dengan siapapun.” Decker masuk ke halaman minimarketnya. “Kalian mau sekaleng potato-chips?”
Tanpa diminta, Cobb dan Pratt mengikuti Decker masuk ke minimarket. Morgan sedang melayani beberapa tamu yang di meja kasir. Tak berapa lama setelah mereka masuk, tamu-tamu itu membayar, meninggalkan meja kasir dan keluar. Hanya tinggal Morgan dan ketiga sahabat.
“Hai guys.” Sapanya ramah. “Kalian ke danau hari ini?”
“Iya, Seperti biasa, Morgan.” Angguk Pratt dengan grogi, entah kenapa dia tidak berani memandang langsung ke arah Morgan. Mata birunya yang bulat dan indah itu terlampau menyilaukan untuk Pratt.
“Kak, aku ambil kaleng nachos yah.” Teriak Decker dari balik tempat makanan dan minuman. Cobb menyusul Decker. “Err… Cobb bilang dia juga kepingin Gatorade.”
Morgan geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Wah-wah, kalau begini caranya, Papa bisa bangkrut kalian rampok.”
Pratt diam saja sambil pura-pura menjumput satu majalah dan membacanya di dekat meja kasir. Sebenarnya dia hanya ingin mendekati Morgan. Matanya terus melirik ke arah si cantik.
“Err… hai Morgan… err…”
“Hai Pratt, gimana kabarnya? Baik?”
“Lumayan.” Pratt tersenyum grogi.
Sejenak, Morgan memandang Pratt dengan aneh.
“Kamu suka berkebun, Pratt?” tanya Morgan tiba-tiba.
Bingung juga Pratt disodori pertanyaan itu. Berkebun? Tentu saja tidak. Pratt lebih suka duduk di belakang meja komputernya sambil mengotak-atik program Delphi atau Visual Basic daripada menanam kentang dan ubi. Tapi… kok Morgan bertanya seperti itu? Apa mungkin dia butuh bantuannya dalam berkebun?
“Err… su-suka… aku suka sekali.”
“Oh ya?”
“Iya.” Padahal Pratt cuma asal jawab, siapa tau Morgan mengajaknya berkebun bersama, ouh, itu tentunya akan menjadi saat paling menyenangkan baginya. “Kenapa kok bertanya seperti itu? Kamu mau menanam sesuatu? Mungkin ada yang bisa aku bantu?”
“Err… nggak sih, hanya saja, majalah Gardening yang kamu baca itu terbalik. Hihihi.”
“EHH!!” Pratt menjerit tertahan karena kaget. “Eh, i-iya… terbalik ya… hahaha…”
Pratt memaki dirinya sendiri yang bertingkah konyol, sudah salah mengambil majalah, eh terbalik pula! Dasar bodoh!
Decker datang ke meja kasir sambil membawa ‘barang belanjaan’-nya dalam keranjang. Beberapa bungkus serta beberapa kaleng snack, tiga botol kecil Gatorade dan sekaleng Fanta Orange untuk Morgan.
Saat itulah, tiga iring-iringan mobil polisi diikuti dengan mobil ambulans melintas di dekat toko. Sirene iring-iringan itu membahana, menyeruak di tengah keheningan minggu pagi kota Grand Lagoon. Agak aneh sebetulnya, karena di kota ini jarang sekali ada kejadian kriminal. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ada apa yah?” Morgan bertanya-tanya.
“Entahlah, gak biasa-biasanya ada polisi.” Pratt mengangkat bahunya sambil terus mengamati arah kemana mobil polisi itu lewat.
“Hei, guys!!” teriak Cobb tiba-tiba. “Check this out!!”
Saat itu, Cobb berada di dekat pesawat televisi, menyaksikan sesuatu dengan mulut ternganga. Morgan, Decker dan Pratt langsung mendekat.
“Apa sih, teriak-ter… eh??” Decker menghentikan pekerjaannya membuka sebungkus snack saat melihat Cobb.
Mereka menjumpai wajah Cobb yang biasa cuek dan santai dalam keadaan pucat pasi dan ketakutan saat menonton televisi. Bagaimana mungkin orang seperti Cobb bisa pucat pasi seperti itu? Pasti terjadi suatu hal yang benar-benar luar biasa! Decker dan Pratt langsung mendekat ke arah televisi diikuti oleh Morgan yang juga penasaran.
“Apaan sih?” Morgan masih bingung.
“Sesuatu yang buruk. Sangat buruk.” Cobb menjawab tanpa memalingkan muka dari pesawat televisi. Wajahnya semakin ketakutan. “Kalian coba lihat itu.”
Layar kaca menghadirkan gambar berita stasiun TV ANN. Sepertinya sebuah kerusuhan massal, antara rombongan massa penyerang dan kelompok polisi yang berpakaian seperti pasukan anti huru-hara yang berusaha menahan gerak mereka. Gambar yang diambil dari pesawat helikopter itu tidak begitu jelas karena mengambil sudut dari atas.
Nampak barisan manusia yang tengah mendesak, bergerak maju menuju rombongan polisi yang menahan mereka. Kerusuhan tidak tertahan lagi. Terjadi hiruk-pikuk yang brutal.
Zoom. Gambar kamera mendekat. Para polisi mulai menembakkan peringatan. Tapi sepertinya para penyerang tidak terpengaruh dan terus merangsek maju, lalu gambar kamera mendekat ke arah rombongan penyerang. Orang-orang itu berwajah pucat, dengan pakaian compang-camping dan berlumuran darah.
Para penyerang terus merangsek maju ke arah para polisi yang bertahan. Tembok barikade akhirnya berhasil ditembus, tidak mungkin melawan mereka semua dengan senjata karena jaraknya begitu dekat, ammo pihak polisi hanya terbatas dan massanya terlalu banyak. Para anggota polisi berhamburan sambil berusaha menyelamatkan diri. Dalam hand-to-hand combat, para anggota polisi jelas kalah dari segi jumlah, mungkin berbanding satu lawan sepuluh. Massa yang rusuh menubruk para anggota polisi yang panik dan tak berdaya.
Siaran televisi beralih dari ke studio. Sang pembaca berita nampak berkeringat dan tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Kertas yang dipegangnya bergerak-gerak karena tangannya gemetar, dia nampak begitu tegang dan panik.
“Berita tersebut kami bawakan live dari WestCoast City. Kami juga baru saja mendapatkan informasi terbaru yang menyatakan bahwa massa yang melakukan perbuatan mengerikan tersebut berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan, berbahaya serta tidak diketahui penyebabnya. Sekali lagi kami anjurkan kepada warga untuk tetap berada di dalam rumah, mengunci pintu dan jangan mempercayai orang asing.”
Ini benar-benar luar biasa!
Decker tidak percaya apa yang baru saja dia lihat, dan dari mulut kawan-kawannya yang ternganga, dia yakin mereka juga sama tidak percayanya. Ini semua tidak terjadi di dunia nyata kan? Tidak mungkin. Ini pasti cuma lelucon tidak lucu berskala raksasa. Ini semua tidak mungkin terjadi.
“Mereka pasti bercanda! Katakan padaku, itu semua cuma lelucon kan?” tanya Decker pada yang lain.
“Menurutmu ANN akan menayangkan sesuatu berita dengan serius dan menyebutnya lelucon?” tanya Cobb datar. “Ini serius, Deck.”
“Oh my God!” Morgan menutup mulutnya dengan ketakutan. “Kita pulang saja yuk. Deck? Kalian mau pulang saja kan?”
Decker dan dua kawannya mengangguk hampir serempak. Merekapun beranjak meninggalkan pesawat televisi.
“Err… sebaiknya kalian lihat yang ini.” Pratt yang sudah bersiap hendak pergi, menunjuk kembali ke layar.
Gambar kembali menunjukkan kerusuhan, tapi kali ini dari lokasi lain. Seorang wartawan berada di tengah-tengah kepungan massa yang mengamuk bersama dengan polisi-polisi yang terus menembak jatuh anggota massa yang merangsek maju. Kamera bergerak-gerak dari sang reporter ke arah polisi, lalu ke arah massa.
“Kami live dari town square Woodburg, salah satu tempat terjadinya kerusuhan massal yang melibatkan penduduk kota. Pasukan anti huru hara telah datang dan melakukan bantuan yang bisa dilakukan dengan menolong pihak kepolisian, membawa korban yang jatuh dan menembaki mereka yang melakukan amuk massa. Sejauh ini, seluruh kota telah jatuh ke dalam kondisi kacau yang sama seperti yang anda lihat di televisi dan korban telah berjatuhan, baik mereka yang melakukan perlawanan maupun orang-orang tak berdosa. Walikota Dwight Hubner telah menyatakan bahwa kota dalam kondisi bahaya dan mengumumkan darurat perang. Kota ini sedang mengalami kepanikan.”
Saat sang reporter menengok, para anggota kepolisian dan tentara ternyata sudah berhamburan dan kocar-kacir. Mereka lari karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali menyelamatkan diri sendiri.
“LARI!!” Teriak sang kameramen sambil mengikuti jejak beberapa orang tentara dan polisi. Kamera yang dibawa oleh sang kameramen bergoyang-goyang sepanjang jalan saat dia lari terbirit-birit. Terdengar teriakan menyayat hati saat beberapa anggota tentara sepertinya tertangkap amuk massa. Suara teriakan penuh nyeri dan derap sepatu berlarian bercampur, ditambah dengan satu dua kali rentetan bunyi senapan dan peluru berjatuhan.
Sang kameraman baru menyadari sesuatu, ternyata dia sedang berlari menuju jalan buntu.
Ketika berbalik, nampaknya sudah terlambat. Jaraknya terlalu dekat, hanya sekitar 10 meter.
Rombongan massa yang buas sudah mendekat. Sebenarnya mereka nampak seperti orang biasa saja, tua muda, putih hitam, orang-orang biasa. Satu-satunya yang aneh adalah mereka nampak seperti sedang kerasukan sesuatu, gerakannya patah-patah dan wajah mereka sangat pucat.
Kamera terjatuh, namun tidak rusak, dan terus menayangkan gambar demi gambar.
Sang kameramen yang sudah tidak bisa lari tertangkap dan dijatuhkan oleh salah satu pengejar, demikian juga beberapa anggota tentara dan polisi yang langsung dikerubut oleh banyak massa. Lalu sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi. Bahkan saat semua yang terjadi begitu aneh, kejadian yang kemudian ditayangkan benar-benar mengerikan. Mereka yang saat itu menyaksikan ANN menatap kekejaman yang tak terbayangkan.
Sang kameramen itu ditubruk oleh beberapa orang anggota amuk massa yang langsung menggigit, memotong dan mencabik-cabiknya dengan buas. Paling tidak ada lima belas makhluk yang menyerang sang kameramen.
Makhluk. Julukan yang lebih tepat daripada manusia. Karena apa pun yang menyerang sang kameramen, jelas itu bukan manusia.
Potongan tubuh sang kameramen terbagi-bagi dan darah serta dagingnya tersebar kemana-mana. Para perusuh yang mencabik-cabik tubuh sang kameramen segera memakan daging-daging itu dengan buas.
“Hueeeeekkkkkkk…” Morgan langsung lari dan muntah di kamar kecil.
Decker, Cobb dan Pratt saling berpandangan. Sebentar lagi pasti mereka akan bergiliran ke kamar kecil dan muntah.
“Laporan terbaru kami menyatakan bahwa kejadian seperti ini terjadi di hampir semua tempat di pesisir barat.” Sang pembaca berita kembali lagi. “Semua tempat, mulai dari kota besar sampai desa terpencil. Menurut laporan yang kami dapatkan dari saksi mata, bahwa para penyerang ini memakan mentah-mentah korban mereka. Sementara saksi mata lain melaporkan bahwa para penyerang tersebut memiliki luka-luka di bagian tubuh mereka. Sekali lagi kami anjurkan kepada warga untuk tetap berada di dalam rumah, mengunci pintu dan jangan mempercayai orang asing.”
Sang pembaca berita terlihat memencet sesuatu di telinganya dan segera meneruskan. “Kami akan segera menghubungi Tentara Nasional dan akan segera kembali setelah pesan-pesan berikut ini.”
Iklan muncul.
Decker dan kedua temannya tertegun tanpa tahu harus berbuat apa. Yang baru saja mereka saksikan adalah kejadian mengerikan, menjijikkan sekaligus merupakan peringatan. Morgan sepertinya shock, Cobb panik, Decker dan Pratt mengalami keduanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Ini tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin.” Morgan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia hampir menangis.
“Aku harap tidak, tapi kenyataannya itu terjadi, Morgan.” Cobb mencoba menenangkan Morgan sekaligus dirinya sendiri.
“Ini tidak nyata. Ini tidak nyata. Ini tidak nyata.” Pratt mengigau dan menatap nanar ke arah tembok.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Decker setengah berteriak. Dia hampir terkencing-kencing karena ketakutan.
Sesaat kemudian mereka terdiam, sebagian hati kecil dari diri mereka mencoba berpikir jernih dan menenangkan diri, tapi sebagian besar terdiam tak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba terdengar suara gemerincing bel. Pintu depan terbuka.
“Ada orang disini?” terdengar teriakan seseorang di pintu depan.
Morgan pucat pasi dan tidak bisa bergerak.
Cobb maju menggantikannya. “Ya, ada.”
Dua orang berpakaian seragam polisi masuk ke toko. Satu berkulit putih satunya lagi hitam. Mereka memegang senjata dan nampak sangat siaga. Cobb memanggil teman-temannya dan mereka berkumpul.
“Ada berapa orang disini?” tanya si kulit hitam.
“Empat.” Jawab Morgan kemudian. Dia berdiri di sisi Cobb.
“Sebaiknya kalian segera pulang dan melihat berita di televisi. Sesegera mungkin.” Lanjut si kulit hitam.
“Kami sudah tahu beritanya.” jawab Decker.
“Kalau begitu lebih baik kalian segera pulang.” Saran si kulit putih. “Kejadian di televisi itu juga telah menyerang kota ini. Orang-orang berwajah pucat mengamuk dan berlarian di tengah kota. Berita bagusnya, sepertinya mereka bukan manusia.”
Pratt mengernyit heran.
“Tidak percaya? Dengar, aku sudah menembak satu diantara mereka dengan lima kali tembakan, tapi dia tetap saja bangkit dan menyerang. Tembakan terakhir aku sarangkan di kepala, dan itu sepertinya menghentikannya. Ya benar, aku menembak kepalanya dan dia baru berhenti.”
“Hei!” gertak si kulit hitam. “Kamu malah menakuti anak-anak ini, Moe!”
Polisi yang dipanggil Moe mendengus dan tersenyum sinis. “Aku hanya mencoba mengatakan apa adanya pada anak-anak ini, Carter. Mereka tidak percaya.”
“Kids, jangan dengarkan dia. Sebaiknya kalian segera pulanglah ke rumah masing-masing.” Officer Carter mencoba menenangkan. “Secepatnya.”
Tak berapa lama, kedua polisi itu meninggalkan toko menuju ke tempat parkir.
Pratt, Cobb, Decker dan Morgan hanya berdiri terdiam untuk beberapa saat lamanya. Mereka benar-benar shock dengan apa yang terjadi. Udara yang mereka hirup seakan menjadi begitu mahal harganya. Mereka tahu bahwa sesuatu yang mengerikan tengah terjadi, suatu kejadian yang sangat mengerikan. Seandainyapun terjadi, mereka tidak bisa sepenuh hati mempercayainya. Hal seperti ini tidak terjadi di dunia nyata. Tidak mungkin. Keempat orang itu bisa merasakan sesuatu yang aneh tengah mengambil alih kehidupan mereka yang damai, yang tadinya tenang dan tanpa gejolak.
Suara pistol menyalak membangunkan mereka dari lamunan.
Lalu sepi.
Tiba-tiba gemerincing suara bel pintu depan berbunyi.
Kedua polisi itu masuk kembali.
Officer Carter melihat ke arah Pratt dan teman-temannya satu demi satu dengan wajah ketakutan.
“Mereka ada di parkir depan. Empat jumlahnya.”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Sebelum semuanya sempat bertindak, jendela kaca toko pecah berantakan. Sesosok tubuh berdiri di tempat dimana dulunya terdapat kaca jendela besar. Orang itu nampak seperti orang kebanyakan, dengan celana hawaii dan baju kedombrangan berwarna putih. Hanya saja wajahnya terlihat sangat pucat ditambah garis hitam di bawah mata dan mulutnya menganga lebar serta terdapat luka di lehernya. Bajunya yang putih basah oleh merah warna darah. Lehernya yang terluka dan meneteskan darah terbuka lebar seperti digigit sesuatu.
Akhirnya Pratt teringat akan sesuatu. Sesuatu yang sering dilihatnya dari game dan film-film horor.
Zombie.
Orang ini bukan manusia lagi, dia zombie. Mayat hidup.
Sekali sergap, zombie itu menyerang orang yang berada paling dekat dengan dirinya. Officer Moe.
Untungnya Moe terlatih dengan baik, Moe bergerak secepat kilat, dia bisa menghindar dan memuntahkan peluru dari pistolnya. Dua tembakan menghajar perut makhluk itu. Darahnya terpercik dan makhluk itu mundur dua langkah, tembakan itu jelas tidak membunuhnya.
Carter membidik kepala sang makhluk.
BLAM!
Kepala makhluk itu hancur tertembus peluru Carter. Darah dan ceceran otak membasahi rak-rak di belakangnya.
Nafas Moe yang tersengal-sengal terdengar dari jarak beberapa meter. Tapi kedua polisi itu tidak sempat lagi menarik nafas.
Dua zombie lain sudah menyusul. Tak kalah jeleknya, dengan luka-luka di bagian tubuh dan baju yang berlumuran darah.
Moe tahu dia kehabisan peluru, polisi berkulit putih itu mundur teratur untuk mengisi amunisi. Namun Carter tidak seberuntung itu, dia tidak sempat mundur. Dengan sekali loncat salah satu dari makhluk itu menubruk Carter. Carter berjalan mundur sambil menembak beberapa kali, dan makhluk itu terpental. Karena tempatnya yang sempit, sulit sekali bagi Carter untuk melakukan manuver dan membidik kepalanya.
Rentetan tembakan kedua mengenai monster yang satu lagi dan zombie itu langsung terpental ke arah sebuah rak. Baik rak maupun sang zombie terjatuh dengan berdebam. Carter mengamuk-amuk dalam hati saat kedua zombie yang sedang dipukulnya mundur bangkit kembali. Satu hal yang tidak disukai oleh Carter dari kata-kata ‘mayat hidup’ adalah bahwa kedua kata itu seharusnya tidak berdampingan dengan mesra.
BLAM!
BLAM!
BLAM!
BLAM!
BLAM!
Lima peluru ditembakkan Carter. Untungnya, salah satu tembakan mengenai kepala sang zombie, dan makhluk itu langsung terjatuh. Entah mati atau tidak. Carter tidak sempat berpikir macam-macam, zombie yang satu lagi mendatanginya.
Carter mencoba menghitung tembakannya yang tadi, seharusnya tersisa satu butir peluru lagi. Tidak sempat kalau harus mengambil peluru lagi dari kantongnya.
Zombie itu merangkak mendekat.
Mendekat.
Dekat.
Sangat dekat.
CLICK!
Eh?
CLICK!
Yang benar saja!!
CLICK!!
Carter terbelalak tak percaya. Pelurunya habis??
CLICK!!
CLICK!!!
Celaka.
Zombie itu tidak buang-buang waktu lagi. Dia meraung dahsyat dan langsung menggigit kaki Carter.
“Yarrrrrrghhhhhhhhh!!!” teriak Carter ketika merasakan dagingnya terkoyak.
BLAMM!!
Sebuah tembakan menghentikan aksi zombie itu mengunyah kaki Carter. Moe menembak kepala sang zombie.
“Lain kali hitung pelurumu dengan benar, sobat.” Moe tersenyum sambil membantu Carter berdiri. “Kamu mulai payah.”
Carter meringis kesakitan.
Morgan bergerak cepat. Dia mengambil kain, merobeknya, dan menggunakannya sebagai perban untuk luka Carter.
Moe menengok ke arah Pratt dan yang lain. “Kita harus pergi dari sini. Kalian mau ikut? Aku juga tidak mau melihat kalian dijadikan baso giling oleh makhluk sialan itu. Mobil kami diluar sana.”
Pratt melihat ke arah yang lain dan pikirannya langsung berputar. Tanpa senjata yang memadai, tidak mungkin bagi dirinya dan yang lain untuk selamat dari serangan zombie. Kedua orang petugas polisi ini sepertinya cukup cakap bertugas dan bisa dipercaya. Tidak ada salahnya ikut mereka, apalagi kondisi toko ini sudah tidak memungkinkan untuk bertahan. Pratt menengok ke arah teman-temannya, dan mereka semua mengangguk.
“Kami ikut kalian.” Kata Pratt mewakili teman-temannya.
“Baiklah.” Angguk Moe.
“Guys, bawa barang-barang yang bisa kalian bawa, makanan, peralatan, perkakas, apa saja. Bawa barang yang bisa diambil dalam sepuluh detik. Kita tidak punya banyak waktu.” Seru Pratt sambil memasukkan makanan ke dalam tas ransel yang dia ambil dari rak penjualan. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, jadi sebaiknya kita mempersiapkan diri untuk yang terburuk.”
“Untungnya toko ini juga menjual tas ransel.” Ujar Decker sambil mengeruk beberapa potong chocolate bar ke dalam tasnya.
Dalam sepuluh detik, tas mereka sudah penuh oleh barang-barang.
Satu zombie masuk ke dalam toko saat mereka sedang berjalan keluar, tapi dia bukan masalah. Dari jarak dekat, Moe menembaknya tepat di tengah-tengah dahi. Zombie itu langsung terpental dengan otak terburai. Saat meninggalkan toko, Pratt mengira dia telah meninggalkan daerah pertempuran. Ternyata dia salah.
Di luar, keadaannya lebih gawat lagi.
Asap tebal membumbung tinggi dimana-mana, seakan setiap penjuru Grand Lagoon mengalami kebakaran. Mobil-mobil yang ringsek terlihat disana-sini, bekas tabrakan beruntun nampak jelas di ujung jalan yang menuju Grand Lagoon. Bau anyir darah seperti polusi udara, membuat bulu roma menegang. Rombongan zombie menguasai jalan raya dan berjalan kesana-kemari. Suara sirene, jeritan kesakitan, dan tembakan shotgun terdengar bagaikan musik di tengah suasana kacau.
Di dekat pintu masuk toko, satu mobil polisi menunggu.
Cobb dan Moe membawa Carter yang terluka masuk ke mobil, disusul Pratt, Morgan dan Decker. Moe dan Cobb duduk di depan, sementara Morgan, Pratt, Decker dan Officer Carter duduk di kursi belakang. Mereka selamat sampai di dalam mobil tanpa ada satu zombie pun menyadari.
Tepatnya, belum menyadari.
Saat mesin mobil dinyalakan, zombie-zombie itu seperti tersadar dan bangkit. Satu persatu dari mereka meraung. Mereka mulai berkerumun dan menuju ke arah mobil polisi. Mereka datang dari mana-mana, balik pohon, serambi rumah, mobil-mobil, tepi jalan. Semuanya bermunculan dan meraung, mengejar ke arah mobil polisi yang sedang menderu.
Banyak diantara mereka yang bentuknya sudah tidak karuan. Ada yang sudah kehilangan lengan, bola mata dan organ tubuh lainnya. Mereka seperti datang dari mimpi buruk guru biologi, keadaannya sangat tidak sedap dipandang. Apalagi saat Morgan melihat beberapa zombie tengah asyik makan daging segar, seekor anjing malang menjadi santapan beberapa zombie yang kelaparan.
Morgan berteriak-teriak karena ketakutan.
“Diam! Jangan berteriak terus! Kamu malah membuatku bingung!” hardik Moe. Karena panik, dia tidak berhasil menguasai mobilnya dengan baik.
Mobilnya oleng kesana-kemari mencoba menghindari kepungan para mayat hidup. Keringat dingin Moe mulai menetes, kalau begini caranya, dia malah akan membuat mereka semua menjadi daging sarden instan untuk zombie-zombie sialan itu.
“Ini benar-benar gila. Aku belum pernah melihat apapun yang seperti ini sebelumnya.” Cobb menggeleng-gelengkan kepalanya. “Setidaknya beberapa film horor lama dan game Resident Evil. Tapi memainkan Jill Valentine yang seksi jauh lebih menarik daripada ini.”
“Jangan kesana- itu banyak sekali zombie!” Pratt menunjuk ke jalan yang sedang dituju oleh Moe.
“Lewat Hurley Street, kita bisa minta pertolongan Walikota!” Decker memberi usul. “Atau South Street, kita bisa minta tolong petugas pemadam kebakaran!”
“Aku ingin pulang… ibu… ” Morgan mulai menangis.
“DIAM! DIAM! DIAM! DIAAAAMMM!!” Moe mengamuk.“Kalian ini bisa diam tidak? situasi kita sudah gawat, jangan ribut sendiri! Aku sedang berusaha mencari jalan keluar dari tempat ini.”
“Ja-jangan ribut… a-anak-anak…” terdengar suara lemah Carter. “Moe… sedang berusaha…~…~… s-selamatkan mereka, Moe…”
Makhluk-makhluk menyeramkan yang tidak mengenal kata ‘mati’ itu mencoba menghentikan laju mobil polisi yang dikendarai Moe. Tapi Moe tidak mau begitu saja menyerah kalah, ditabraknya satu persatu mayat hidup itu untuk memberi jalan keluar. Dengan kecepatan ekstra, Moe membawa mobil itu meninggalkan lokasi toko, meninggalkan Lagoon Boulevard.
Setelah melalui jalan raya, keadaan sedikit lebih aman, walaupun nampak kalau seluruh kota telah berubah menjadi arena mayat hidup besar yang mengerikan.
“Namaku Cobb, yang pakai kacamata itu Pratt, yang gemuk Decker dan itu kakak perempuan Decker, Morgan. Kami anak kelas dua SMU Negeri Grand Lagoon, Morgan kelas tiga.” Kata Cobb memecah keheningan suasana. Menurutnya mereka harus berkenalan dengan kedua polisi ini kalau berharap kedua petugas ini bisa menyelamatkan nyawa mereka atau memberikan informasi yang berharga. “…dan kami benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi di kota ini.”
“Aku Moe dan itu Carter.” Jawab Officer Moe tanpa menengok. Dia terus berjaga-jaga sambil mengendarai mobilnya dengan jarak yang aman dari para zombie. “Menurut laporan, seluruh kota di pesisir barat Aestera telah berubah menjadi ladang mayat hidup. Darimana mereka datang, atau bagaimana mereka bisa menjadi begitu banyak, jangan tanya aku. Aku juga sama bingungnya denganmu.”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Shaven-Note
Cerita ini unfinished dan hanya bakal jadi draft. Soalnya kenapa? Because what? Karena ceritanya sangat signifikan dan relevan! (hayah!). Cerita ini terlalu mencontek bikinan orang, jadi gak pernah aku selesain. Malu. But nevertheless, suatu saat pengen bikin yang berbau 'horror'. Biarkan ini jadi satu catatan memori terindah yang pernah... (hayah!). Buat refreshing aja. Draft it is.
THE RISING DEAD
Created By Shaven
=================
Sebenarnya hari itu dimulai seperti hari yang biasa saja. Matahari bersinar cerah, bunga-bunga mekar dengan indah, burung-burung berkicau dengan ceria, dan rumput tumbuh lebih hijau dari hari sebelumnya. Hari minggu yang biasa saja. Kota Grand Lagoon yang terkenal dengan tempat wisata danau Grandnya juga menjalani hari minggu seperti biasa.
Grand Lagoon terletak di sebelah barat Aestera, satu jalur dengan ibukota Capital City dan kota metropolis Neo-City. Cukup banyak karyawan Neo-City memiliki keluarga di tempat ini, karena lokasinya yang memang tidak terlalu jauh dari Neo-City. Kota ini cukup kecil untuk disebut sebagai kota, namun juga lumayan besar untuk ukuran sebuah desa.
Dikelilingi oleh pegunungan yang melingkar sepanjang barat Aestera, dengan hutan-hutan yang terjaga keasriannya dan danau Grand yang indah, kota Grand Lagoon menjadi salah satu kota pegunungan yang cukup terkenal.
Pratt, Decker dan Cobb menikmati hari minggu mereka seperti layaknya remaja lainnya di Grand Lagoon, pergi jalan-jalan ke arah danau. Ketiga anak SMU ini bersekolah di SMU Negeri Grand Lagoon. Ketiganya kelas dua SMU.
“Man, seharusnya kamu lihat kemarin, si Gordon ditolak mentah-mentah oleh Morgan.” Kata Decker sambil cengengesan. Decker bertubuh gemuk, dan kalau melihat stick lollypop selalu bergantung dimulutnya tentunya mudah diduga kalau dia itu tukang makan.
Ayah Decker Anderson adalah pemilik satu minimarket yang lumayan laris di bilangan perempatan Lagoon Boulevard, yang merupakan akses jalan satu-satunya ke arah danau. Sebelum pergi ke danau, biasanya mereka mampir di toko itu terlebih dahulu untuk menggoda Morgan, kakak Decker.
“Oh ya?” Pratt naksir Morgan sejak SMP. Menurutnya kakak Decker itu cantik sekali. “Tentunya Gordon kecewa berat.”
Pratt Crenshaws bertubuh sedang, menggunakan kacamata dan sekilas lihat nampak rapuh. Dia tinggal tidak jauh dari rumah Cobb dan mempunyai hobi membaca buku. Dari ketiga sahabat itu, Pratt yang paling pintar dan cerdas. Sayangnya di SMU dia selalu dicap geeks dan dijauhi oleh mereka yang mengaku ‘gaul’. Tapi tidak oleh Morgan, sang primadona pasukan cheerleader tim football yang kebetulan juga kakak kelas mereka di SMU Negeri Grand Lagoon.
Morgan Anderson yang sangat cantik dan baik itu selalu menganggap Pratt seperti apa adanya. Mungkin itu sebabnya Pratt senang mengunjungi Morgan di hari minggu, tentu saja perasaannya kepada Morgan itu dia sembunyikan kepada semua orang, termasuk Cobb dan Decker.
Di saat senggang, Morgan selalu membantu ayahnya berjualan di toko.
“Biarin aja menurutku.” Sahut Cobb.
Cobb Lee bertubuh langsing, dengan badan yang atletis dan perawakan proporsional. Dia mungkin satu-satunya anggota yunior tim football yang mau berkawan dengan Pratt dan Decker. Cobb orangnya sangat cuek dan sedikit aneh. Persahabatannya dengan Decker serta Pratt dimulai sejak masa kecil, itu sebabnya dia santai-santai saja dan masa bodoh dengan pergaulan.
“Gordon orangnya brengsek, walaupun di lapangan football dia seorang quarterback yang hebat.” Ujar Cobb. “Gordon suka gonta-ganti pasangan. Morgan terlalu baik untuk jadi pacarnya. Paling-paling dia cuma dijadiin mainan.”
“Aku setuju.” Pratt mengangguk-angguk. Tapi Pratt tidak pernah setuju Morgan punya pasangan kecuali dirinya sendiri, jadi penilaiannya jelas tidak valid. “Gordon dan Morgan? Aku tidak bisa membayangkan. Deck, kamu harus menghalangi niat Gordon mendekati kakakmu, siapa tahu dia hendak mencobanya lagi.”
“Aku tahu. Tapi tanpa aku beritahu pun, Morgan sudah menolak mentah-mentah. Entah bagaimana kriteria kesukaan Morgan, dia belum pernah pacaran dengan siapapun.” Decker masuk ke halaman minimarketnya. “Kalian mau sekaleng potato-chips?”
Tanpa diminta, Cobb dan Pratt mengikuti Decker masuk ke minimarket. Morgan sedang melayani beberapa tamu yang di meja kasir. Tak berapa lama setelah mereka masuk, tamu-tamu itu membayar, meninggalkan meja kasir dan keluar. Hanya tinggal Morgan dan ketiga sahabat.
“Hai guys.” Sapanya ramah. “Kalian ke danau hari ini?”
“Iya, Seperti biasa, Morgan.” Angguk Pratt dengan grogi, entah kenapa dia tidak berani memandang langsung ke arah Morgan. Mata birunya yang bulat dan indah itu terlampau menyilaukan untuk Pratt.
“Kak, aku ambil kaleng nachos yah.” Teriak Decker dari balik tempat makanan dan minuman. Cobb menyusul Decker. “Err… Cobb bilang dia juga kepingin Gatorade.”
Morgan geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Wah-wah, kalau begini caranya, Papa bisa bangkrut kalian rampok.”
Pratt diam saja sambil pura-pura menjumput satu majalah dan membacanya di dekat meja kasir. Sebenarnya dia hanya ingin mendekati Morgan. Matanya terus melirik ke arah si cantik.
“Err… hai Morgan… err…”
“Hai Pratt, gimana kabarnya? Baik?”
“Lumayan.” Pratt tersenyum grogi.
Sejenak, Morgan memandang Pratt dengan aneh.
“Kamu suka berkebun, Pratt?” tanya Morgan tiba-tiba.
Bingung juga Pratt disodori pertanyaan itu. Berkebun? Tentu saja tidak. Pratt lebih suka duduk di belakang meja komputernya sambil mengotak-atik program Delphi atau Visual Basic daripada menanam kentang dan ubi. Tapi… kok Morgan bertanya seperti itu? Apa mungkin dia butuh bantuannya dalam berkebun?
“Err… su-suka… aku suka sekali.”
“Oh ya?”
“Iya.” Padahal Pratt cuma asal jawab, siapa tau Morgan mengajaknya berkebun bersama, ouh, itu tentunya akan menjadi saat paling menyenangkan baginya. “Kenapa kok bertanya seperti itu? Kamu mau menanam sesuatu? Mungkin ada yang bisa aku bantu?”
“Err… nggak sih, hanya saja, majalah Gardening yang kamu baca itu terbalik. Hihihi.”
“EHH!!” Pratt menjerit tertahan karena kaget. “Eh, i-iya… terbalik ya… hahaha…”
Pratt memaki dirinya sendiri yang bertingkah konyol, sudah salah mengambil majalah, eh terbalik pula! Dasar bodoh!
Decker datang ke meja kasir sambil membawa ‘barang belanjaan’-nya dalam keranjang. Beberapa bungkus serta beberapa kaleng snack, tiga botol kecil Gatorade dan sekaleng Fanta Orange untuk Morgan.
Saat itulah, tiga iring-iringan mobil polisi diikuti dengan mobil ambulans melintas di dekat toko. Sirene iring-iringan itu membahana, menyeruak di tengah keheningan minggu pagi kota Grand Lagoon. Agak aneh sebetulnya, karena di kota ini jarang sekali ada kejadian kriminal. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Ada apa yah?” Morgan bertanya-tanya.
“Entahlah, gak biasa-biasanya ada polisi.” Pratt mengangkat bahunya sambil terus mengamati arah kemana mobil polisi itu lewat.
“Hei, guys!!” teriak Cobb tiba-tiba. “Check this out!!”
Saat itu, Cobb berada di dekat pesawat televisi, menyaksikan sesuatu dengan mulut ternganga. Morgan, Decker dan Pratt langsung mendekat.
“Apa sih, teriak-ter… eh??” Decker menghentikan pekerjaannya membuka sebungkus snack saat melihat Cobb.
Mereka menjumpai wajah Cobb yang biasa cuek dan santai dalam keadaan pucat pasi dan ketakutan saat menonton televisi. Bagaimana mungkin orang seperti Cobb bisa pucat pasi seperti itu? Pasti terjadi suatu hal yang benar-benar luar biasa! Decker dan Pratt langsung mendekat ke arah televisi diikuti oleh Morgan yang juga penasaran.
“Apaan sih?” Morgan masih bingung.
“Sesuatu yang buruk. Sangat buruk.” Cobb menjawab tanpa memalingkan muka dari pesawat televisi. Wajahnya semakin ketakutan. “Kalian coba lihat itu.”
Layar kaca menghadirkan gambar berita stasiun TV ANN. Sepertinya sebuah kerusuhan massal, antara rombongan massa penyerang dan kelompok polisi yang berpakaian seperti pasukan anti huru-hara yang berusaha menahan gerak mereka. Gambar yang diambil dari pesawat helikopter itu tidak begitu jelas karena mengambil sudut dari atas.
Nampak barisan manusia yang tengah mendesak, bergerak maju menuju rombongan polisi yang menahan mereka. Kerusuhan tidak tertahan lagi. Terjadi hiruk-pikuk yang brutal.
Zoom. Gambar kamera mendekat. Para polisi mulai menembakkan peringatan. Tapi sepertinya para penyerang tidak terpengaruh dan terus merangsek maju, lalu gambar kamera mendekat ke arah rombongan penyerang. Orang-orang itu berwajah pucat, dengan pakaian compang-camping dan berlumuran darah.
Para penyerang terus merangsek maju ke arah para polisi yang bertahan. Tembok barikade akhirnya berhasil ditembus, tidak mungkin melawan mereka semua dengan senjata karena jaraknya begitu dekat, ammo pihak polisi hanya terbatas dan massanya terlalu banyak. Para anggota polisi berhamburan sambil berusaha menyelamatkan diri. Dalam hand-to-hand combat, para anggota polisi jelas kalah dari segi jumlah, mungkin berbanding satu lawan sepuluh. Massa yang rusuh menubruk para anggota polisi yang panik dan tak berdaya.
Siaran televisi beralih dari ke studio. Sang pembaca berita nampak berkeringat dan tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Kertas yang dipegangnya bergerak-gerak karena tangannya gemetar, dia nampak begitu tegang dan panik.
“Berita tersebut kami bawakan live dari WestCoast City. Kami juga baru saja mendapatkan informasi terbaru yang menyatakan bahwa massa yang melakukan perbuatan mengerikan tersebut berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan, berbahaya serta tidak diketahui penyebabnya. Sekali lagi kami anjurkan kepada warga untuk tetap berada di dalam rumah, mengunci pintu dan jangan mempercayai orang asing.”
Ini benar-benar luar biasa!
Decker tidak percaya apa yang baru saja dia lihat, dan dari mulut kawan-kawannya yang ternganga, dia yakin mereka juga sama tidak percayanya. Ini semua tidak terjadi di dunia nyata kan? Tidak mungkin. Ini pasti cuma lelucon tidak lucu berskala raksasa. Ini semua tidak mungkin terjadi.
“Mereka pasti bercanda! Katakan padaku, itu semua cuma lelucon kan?” tanya Decker pada yang lain.
“Menurutmu ANN akan menayangkan sesuatu berita dengan serius dan menyebutnya lelucon?” tanya Cobb datar. “Ini serius, Deck.”
“Oh my God!” Morgan menutup mulutnya dengan ketakutan. “Kita pulang saja yuk. Deck? Kalian mau pulang saja kan?”
Decker dan dua kawannya mengangguk hampir serempak. Merekapun beranjak meninggalkan pesawat televisi.
“Err… sebaiknya kalian lihat yang ini.” Pratt yang sudah bersiap hendak pergi, menunjuk kembali ke layar.
Gambar kembali menunjukkan kerusuhan, tapi kali ini dari lokasi lain. Seorang wartawan berada di tengah-tengah kepungan massa yang mengamuk bersama dengan polisi-polisi yang terus menembak jatuh anggota massa yang merangsek maju. Kamera bergerak-gerak dari sang reporter ke arah polisi, lalu ke arah massa.
“Kami live dari town square Woodburg, salah satu tempat terjadinya kerusuhan massal yang melibatkan penduduk kota. Pasukan anti huru hara telah datang dan melakukan bantuan yang bisa dilakukan dengan menolong pihak kepolisian, membawa korban yang jatuh dan menembaki mereka yang melakukan amuk massa. Sejauh ini, seluruh kota telah jatuh ke dalam kondisi kacau yang sama seperti yang anda lihat di televisi dan korban telah berjatuhan, baik mereka yang melakukan perlawanan maupun orang-orang tak berdosa. Walikota Dwight Hubner telah menyatakan bahwa kota dalam kondisi bahaya dan mengumumkan darurat perang. Kota ini sedang mengalami kepanikan.”
Saat sang reporter menengok, para anggota kepolisian dan tentara ternyata sudah berhamburan dan kocar-kacir. Mereka lari karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali menyelamatkan diri sendiri.
“LARI!!” Teriak sang kameramen sambil mengikuti jejak beberapa orang tentara dan polisi. Kamera yang dibawa oleh sang kameramen bergoyang-goyang sepanjang jalan saat dia lari terbirit-birit. Terdengar teriakan menyayat hati saat beberapa anggota tentara sepertinya tertangkap amuk massa. Suara teriakan penuh nyeri dan derap sepatu berlarian bercampur, ditambah dengan satu dua kali rentetan bunyi senapan dan peluru berjatuhan.
Sang kameraman baru menyadari sesuatu, ternyata dia sedang berlari menuju jalan buntu.
Ketika berbalik, nampaknya sudah terlambat. Jaraknya terlalu dekat, hanya sekitar 10 meter.
Rombongan massa yang buas sudah mendekat. Sebenarnya mereka nampak seperti orang biasa saja, tua muda, putih hitam, orang-orang biasa. Satu-satunya yang aneh adalah mereka nampak seperti sedang kerasukan sesuatu, gerakannya patah-patah dan wajah mereka sangat pucat.
Kamera terjatuh, namun tidak rusak, dan terus menayangkan gambar demi gambar.
Sang kameramen yang sudah tidak bisa lari tertangkap dan dijatuhkan oleh salah satu pengejar, demikian juga beberapa anggota tentara dan polisi yang langsung dikerubut oleh banyak massa. Lalu sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi. Bahkan saat semua yang terjadi begitu aneh, kejadian yang kemudian ditayangkan benar-benar mengerikan. Mereka yang saat itu menyaksikan ANN menatap kekejaman yang tak terbayangkan.
Sang kameramen itu ditubruk oleh beberapa orang anggota amuk massa yang langsung menggigit, memotong dan mencabik-cabiknya dengan buas. Paling tidak ada lima belas makhluk yang menyerang sang kameramen.
Makhluk. Julukan yang lebih tepat daripada manusia. Karena apa pun yang menyerang sang kameramen, jelas itu bukan manusia.
Potongan tubuh sang kameramen terbagi-bagi dan darah serta dagingnya tersebar kemana-mana. Para perusuh yang mencabik-cabik tubuh sang kameramen segera memakan daging-daging itu dengan buas.
“Hueeeeekkkkkkk…” Morgan langsung lari dan muntah di kamar kecil.
Decker, Cobb dan Pratt saling berpandangan. Sebentar lagi pasti mereka akan bergiliran ke kamar kecil dan muntah.
“Laporan terbaru kami menyatakan bahwa kejadian seperti ini terjadi di hampir semua tempat di pesisir barat.” Sang pembaca berita kembali lagi. “Semua tempat, mulai dari kota besar sampai desa terpencil. Menurut laporan yang kami dapatkan dari saksi mata, bahwa para penyerang ini memakan mentah-mentah korban mereka. Sementara saksi mata lain melaporkan bahwa para penyerang tersebut memiliki luka-luka di bagian tubuh mereka. Sekali lagi kami anjurkan kepada warga untuk tetap berada di dalam rumah, mengunci pintu dan jangan mempercayai orang asing.”
Sang pembaca berita terlihat memencet sesuatu di telinganya dan segera meneruskan. “Kami akan segera menghubungi Tentara Nasional dan akan segera kembali setelah pesan-pesan berikut ini.”
Iklan muncul.
Decker dan kedua temannya tertegun tanpa tahu harus berbuat apa. Yang baru saja mereka saksikan adalah kejadian mengerikan, menjijikkan sekaligus merupakan peringatan. Morgan sepertinya shock, Cobb panik, Decker dan Pratt mengalami keduanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Ini tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin.” Morgan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia hampir menangis.
“Aku harap tidak, tapi kenyataannya itu terjadi, Morgan.” Cobb mencoba menenangkan Morgan sekaligus dirinya sendiri.
“Ini tidak nyata. Ini tidak nyata. Ini tidak nyata.” Pratt mengigau dan menatap nanar ke arah tembok.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Decker setengah berteriak. Dia hampir terkencing-kencing karena ketakutan.
Sesaat kemudian mereka terdiam, sebagian hati kecil dari diri mereka mencoba berpikir jernih dan menenangkan diri, tapi sebagian besar terdiam tak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba terdengar suara gemerincing bel. Pintu depan terbuka.
“Ada orang disini?” terdengar teriakan seseorang di pintu depan.
Morgan pucat pasi dan tidak bisa bergerak.
Cobb maju menggantikannya. “Ya, ada.”
Dua orang berpakaian seragam polisi masuk ke toko. Satu berkulit putih satunya lagi hitam. Mereka memegang senjata dan nampak sangat siaga. Cobb memanggil teman-temannya dan mereka berkumpul.
“Ada berapa orang disini?” tanya si kulit hitam.
“Empat.” Jawab Morgan kemudian. Dia berdiri di sisi Cobb.
“Sebaiknya kalian segera pulang dan melihat berita di televisi. Sesegera mungkin.” Lanjut si kulit hitam.
“Kami sudah tahu beritanya.” jawab Decker.
“Kalau begitu lebih baik kalian segera pulang.” Saran si kulit putih. “Kejadian di televisi itu juga telah menyerang kota ini. Orang-orang berwajah pucat mengamuk dan berlarian di tengah kota. Berita bagusnya, sepertinya mereka bukan manusia.”
Pratt mengernyit heran.
“Tidak percaya? Dengar, aku sudah menembak satu diantara mereka dengan lima kali tembakan, tapi dia tetap saja bangkit dan menyerang. Tembakan terakhir aku sarangkan di kepala, dan itu sepertinya menghentikannya. Ya benar, aku menembak kepalanya dan dia baru berhenti.”
“Hei!” gertak si kulit hitam. “Kamu malah menakuti anak-anak ini, Moe!”
Polisi yang dipanggil Moe mendengus dan tersenyum sinis. “Aku hanya mencoba mengatakan apa adanya pada anak-anak ini, Carter. Mereka tidak percaya.”
“Kids, jangan dengarkan dia. Sebaiknya kalian segera pulanglah ke rumah masing-masing.” Officer Carter mencoba menenangkan. “Secepatnya.”
Tak berapa lama, kedua polisi itu meninggalkan toko menuju ke tempat parkir.
Pratt, Cobb, Decker dan Morgan hanya berdiri terdiam untuk beberapa saat lamanya. Mereka benar-benar shock dengan apa yang terjadi. Udara yang mereka hirup seakan menjadi begitu mahal harganya. Mereka tahu bahwa sesuatu yang mengerikan tengah terjadi, suatu kejadian yang sangat mengerikan. Seandainyapun terjadi, mereka tidak bisa sepenuh hati mempercayainya. Hal seperti ini tidak terjadi di dunia nyata. Tidak mungkin. Keempat orang itu bisa merasakan sesuatu yang aneh tengah mengambil alih kehidupan mereka yang damai, yang tadinya tenang dan tanpa gejolak.
Suara pistol menyalak membangunkan mereka dari lamunan.
Lalu sepi.
Tiba-tiba gemerincing suara bel pintu depan berbunyi.
Kedua polisi itu masuk kembali.
Officer Carter melihat ke arah Pratt dan teman-temannya satu demi satu dengan wajah ketakutan.
“Mereka ada di parkir depan. Empat jumlahnya.”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Sebelum semuanya sempat bertindak, jendela kaca toko pecah berantakan. Sesosok tubuh berdiri di tempat dimana dulunya terdapat kaca jendela besar. Orang itu nampak seperti orang kebanyakan, dengan celana hawaii dan baju kedombrangan berwarna putih. Hanya saja wajahnya terlihat sangat pucat ditambah garis hitam di bawah mata dan mulutnya menganga lebar serta terdapat luka di lehernya. Bajunya yang putih basah oleh merah warna darah. Lehernya yang terluka dan meneteskan darah terbuka lebar seperti digigit sesuatu.
Akhirnya Pratt teringat akan sesuatu. Sesuatu yang sering dilihatnya dari game dan film-film horor.
Zombie.
Orang ini bukan manusia lagi, dia zombie. Mayat hidup.
Sekali sergap, zombie itu menyerang orang yang berada paling dekat dengan dirinya. Officer Moe.
Untungnya Moe terlatih dengan baik, Moe bergerak secepat kilat, dia bisa menghindar dan memuntahkan peluru dari pistolnya. Dua tembakan menghajar perut makhluk itu. Darahnya terpercik dan makhluk itu mundur dua langkah, tembakan itu jelas tidak membunuhnya.
Carter membidik kepala sang makhluk.
BLAM!
Kepala makhluk itu hancur tertembus peluru Carter. Darah dan ceceran otak membasahi rak-rak di belakangnya.
Nafas Moe yang tersengal-sengal terdengar dari jarak beberapa meter. Tapi kedua polisi itu tidak sempat lagi menarik nafas.
Dua zombie lain sudah menyusul. Tak kalah jeleknya, dengan luka-luka di bagian tubuh dan baju yang berlumuran darah.
Moe tahu dia kehabisan peluru, polisi berkulit putih itu mundur teratur untuk mengisi amunisi. Namun Carter tidak seberuntung itu, dia tidak sempat mundur. Dengan sekali loncat salah satu dari makhluk itu menubruk Carter. Carter berjalan mundur sambil menembak beberapa kali, dan makhluk itu terpental. Karena tempatnya yang sempit, sulit sekali bagi Carter untuk melakukan manuver dan membidik kepalanya.
Rentetan tembakan kedua mengenai monster yang satu lagi dan zombie itu langsung terpental ke arah sebuah rak. Baik rak maupun sang zombie terjatuh dengan berdebam. Carter mengamuk-amuk dalam hati saat kedua zombie yang sedang dipukulnya mundur bangkit kembali. Satu hal yang tidak disukai oleh Carter dari kata-kata ‘mayat hidup’ adalah bahwa kedua kata itu seharusnya tidak berdampingan dengan mesra.
BLAM!
BLAM!
BLAM!
BLAM!
BLAM!
Lima peluru ditembakkan Carter. Untungnya, salah satu tembakan mengenai kepala sang zombie, dan makhluk itu langsung terjatuh. Entah mati atau tidak. Carter tidak sempat berpikir macam-macam, zombie yang satu lagi mendatanginya.
Carter mencoba menghitung tembakannya yang tadi, seharusnya tersisa satu butir peluru lagi. Tidak sempat kalau harus mengambil peluru lagi dari kantongnya.
Zombie itu merangkak mendekat.
Mendekat.
Dekat.
Sangat dekat.
CLICK!
Eh?
CLICK!
Yang benar saja!!
CLICK!!
Carter terbelalak tak percaya. Pelurunya habis??
CLICK!!
CLICK!!!
Celaka.
Zombie itu tidak buang-buang waktu lagi. Dia meraung dahsyat dan langsung menggigit kaki Carter.
“Yarrrrrrghhhhhhhhh!!!” teriak Carter ketika merasakan dagingnya terkoyak.
BLAMM!!
Sebuah tembakan menghentikan aksi zombie itu mengunyah kaki Carter. Moe menembak kepala sang zombie.
“Lain kali hitung pelurumu dengan benar, sobat.” Moe tersenyum sambil membantu Carter berdiri. “Kamu mulai payah.”
Carter meringis kesakitan.
Morgan bergerak cepat. Dia mengambil kain, merobeknya, dan menggunakannya sebagai perban untuk luka Carter.
Moe menengok ke arah Pratt dan yang lain. “Kita harus pergi dari sini. Kalian mau ikut? Aku juga tidak mau melihat kalian dijadikan baso giling oleh makhluk sialan itu. Mobil kami diluar sana.”
Pratt melihat ke arah yang lain dan pikirannya langsung berputar. Tanpa senjata yang memadai, tidak mungkin bagi dirinya dan yang lain untuk selamat dari serangan zombie. Kedua orang petugas polisi ini sepertinya cukup cakap bertugas dan bisa dipercaya. Tidak ada salahnya ikut mereka, apalagi kondisi toko ini sudah tidak memungkinkan untuk bertahan. Pratt menengok ke arah teman-temannya, dan mereka semua mengangguk.
“Kami ikut kalian.” Kata Pratt mewakili teman-temannya.
“Baiklah.” Angguk Moe.
“Guys, bawa barang-barang yang bisa kalian bawa, makanan, peralatan, perkakas, apa saja. Bawa barang yang bisa diambil dalam sepuluh detik. Kita tidak punya banyak waktu.” Seru Pratt sambil memasukkan makanan ke dalam tas ransel yang dia ambil dari rak penjualan. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, jadi sebaiknya kita mempersiapkan diri untuk yang terburuk.”
“Untungnya toko ini juga menjual tas ransel.” Ujar Decker sambil mengeruk beberapa potong chocolate bar ke dalam tasnya.
Dalam sepuluh detik, tas mereka sudah penuh oleh barang-barang.
Satu zombie masuk ke dalam toko saat mereka sedang berjalan keluar, tapi dia bukan masalah. Dari jarak dekat, Moe menembaknya tepat di tengah-tengah dahi. Zombie itu langsung terpental dengan otak terburai. Saat meninggalkan toko, Pratt mengira dia telah meninggalkan daerah pertempuran. Ternyata dia salah.
Di luar, keadaannya lebih gawat lagi.
Asap tebal membumbung tinggi dimana-mana, seakan setiap penjuru Grand Lagoon mengalami kebakaran. Mobil-mobil yang ringsek terlihat disana-sini, bekas tabrakan beruntun nampak jelas di ujung jalan yang menuju Grand Lagoon. Bau anyir darah seperti polusi udara, membuat bulu roma menegang. Rombongan zombie menguasai jalan raya dan berjalan kesana-kemari. Suara sirene, jeritan kesakitan, dan tembakan shotgun terdengar bagaikan musik di tengah suasana kacau.
Di dekat pintu masuk toko, satu mobil polisi menunggu.
Cobb dan Moe membawa Carter yang terluka masuk ke mobil, disusul Pratt, Morgan dan Decker. Moe dan Cobb duduk di depan, sementara Morgan, Pratt, Decker dan Officer Carter duduk di kursi belakang. Mereka selamat sampai di dalam mobil tanpa ada satu zombie pun menyadari.
Tepatnya, belum menyadari.
Saat mesin mobil dinyalakan, zombie-zombie itu seperti tersadar dan bangkit. Satu persatu dari mereka meraung. Mereka mulai berkerumun dan menuju ke arah mobil polisi. Mereka datang dari mana-mana, balik pohon, serambi rumah, mobil-mobil, tepi jalan. Semuanya bermunculan dan meraung, mengejar ke arah mobil polisi yang sedang menderu.
Banyak diantara mereka yang bentuknya sudah tidak karuan. Ada yang sudah kehilangan lengan, bola mata dan organ tubuh lainnya. Mereka seperti datang dari mimpi buruk guru biologi, keadaannya sangat tidak sedap dipandang. Apalagi saat Morgan melihat beberapa zombie tengah asyik makan daging segar, seekor anjing malang menjadi santapan beberapa zombie yang kelaparan.
Morgan berteriak-teriak karena ketakutan.
“Diam! Jangan berteriak terus! Kamu malah membuatku bingung!” hardik Moe. Karena panik, dia tidak berhasil menguasai mobilnya dengan baik.
Mobilnya oleng kesana-kemari mencoba menghindari kepungan para mayat hidup. Keringat dingin Moe mulai menetes, kalau begini caranya, dia malah akan membuat mereka semua menjadi daging sarden instan untuk zombie-zombie sialan itu.
“Ini benar-benar gila. Aku belum pernah melihat apapun yang seperti ini sebelumnya.” Cobb menggeleng-gelengkan kepalanya. “Setidaknya beberapa film horor lama dan game Resident Evil. Tapi memainkan Jill Valentine yang seksi jauh lebih menarik daripada ini.”
“Jangan kesana- itu banyak sekali zombie!” Pratt menunjuk ke jalan yang sedang dituju oleh Moe.
“Lewat Hurley Street, kita bisa minta pertolongan Walikota!” Decker memberi usul. “Atau South Street, kita bisa minta tolong petugas pemadam kebakaran!”
“Aku ingin pulang… ibu… ” Morgan mulai menangis.
“DIAM! DIAM! DIAM! DIAAAAMMM!!” Moe mengamuk.“Kalian ini bisa diam tidak? situasi kita sudah gawat, jangan ribut sendiri! Aku sedang berusaha mencari jalan keluar dari tempat ini.”
“Ja-jangan ribut… a-anak-anak…” terdengar suara lemah Carter. “Moe… sedang berusaha…~…~… s-selamatkan mereka, Moe…”
Makhluk-makhluk menyeramkan yang tidak mengenal kata ‘mati’ itu mencoba menghentikan laju mobil polisi yang dikendarai Moe. Tapi Moe tidak mau begitu saja menyerah kalah, ditabraknya satu persatu mayat hidup itu untuk memberi jalan keluar. Dengan kecepatan ekstra, Moe membawa mobil itu meninggalkan lokasi toko, meninggalkan Lagoon Boulevard.
Setelah melalui jalan raya, keadaan sedikit lebih aman, walaupun nampak kalau seluruh kota telah berubah menjadi arena mayat hidup besar yang mengerikan.
“Namaku Cobb, yang pakai kacamata itu Pratt, yang gemuk Decker dan itu kakak perempuan Decker, Morgan. Kami anak kelas dua SMU Negeri Grand Lagoon, Morgan kelas tiga.” Kata Cobb memecah keheningan suasana. Menurutnya mereka harus berkenalan dengan kedua polisi ini kalau berharap kedua petugas ini bisa menyelamatkan nyawa mereka atau memberikan informasi yang berharga. “…dan kami benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi di kota ini.”
“Aku Moe dan itu Carter.” Jawab Officer Moe tanpa menengok. Dia terus berjaga-jaga sambil mengendarai mobilnya dengan jarak yang aman dari para zombie. “Menurut laporan, seluruh kota di pesisir barat Aestera telah berubah menjadi ladang mayat hidup. Darimana mereka datang, atau bagaimana mereka bisa menjadi begitu banyak, jangan tanya aku. Aku juga sama bingungnya denganmu.”
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Shaven-Note
Cerita ini unfinished dan hanya bakal jadi draft. Soalnya kenapa? Because what? Karena ceritanya sangat signifikan dan relevan! (hayah!). Cerita ini terlalu mencontek bikinan orang, jadi gak pernah aku selesain. Malu. But nevertheless, suatu saat pengen bikin yang berbau 'horror'. Biarkan ini jadi satu catatan memori terindah yang pernah... (hayah!). Buat refreshing aja. Draft it is.
0 comments:
Post a Comment