==================
HEART BE NO SOUL
Created By Shaven
==================
Kisah ini hanyalah fiktif biasa, kalaupun ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, hal itu tidak dilakukan dengan sengaja. Peringatan: beberapa kejadian di SACN ini mengandung unsur sex dan violence yang mungkin tidak cocok untuk dibaca mereka yang masih di bawah 21 tahun. You have been warned. Peringatan ini adalah yang pertama dan terakhir.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Episode Dua: “Some Things Are Better Left Unsaid”
James 'Jim' Beltone terbangun. Badannya terasa amat lelah dan capek. Tempat tidurnya nampak acak-acakan. Bantalnya berada di kanan kiri, dan ia bersandarkan guling, tidak heran semalaman ia merasa beralaskan benda keras. Pria berusia berkepala dua itu memencet dahinya yang terasa pening. Jim menggerakkan kepalanya ke kanan dan kekiri untuk melancarkan sendi-sendi, begitu pula tangannya ia rentang-rentangkan. Ia melirik ke sampingnya.
Tidur di samping Jim, seorang wanita yang cantik. Sangat cantik malah. Dengan usia yang tidak terlalu jauh dari Jim, wanita matang yang sudah dewasa. Wajahnya yang cantik nampak kelelahan. Kulitnya putih seputih pualam, dengan wangi seorang wanita dewasa yang harum. Matanya terpejam, tapi alis dan kelopak matanya indah. Khas seorang wanita yang hidup berkecukupan. Hidungnya mancung. Rambutnya yang panjang terurai bebas, berjuntai di bantal. Tubuhnya yang seksi dan menggairahkan tersembunyi di balik selimut tebal.
Rambutnya sangat indah. Jim mengelus-elus kepala wanita cantik itu dan mengecup dahinya penuh rasa sayang. Jim melanjutkan mengamati keindahan sosok wanita yang sedang terlelap disampingnya itu. Satu hal yang paling ia sukai dari wanita dengan wajah cantik jelita ini, dengan kulit halus seputih pualam dan tubuh semerbak wangi ini, bibirnya. Ya, bibirnya. Bibir wanita cantik ini sangat menawan. Amat mungil, amat sensual, amat menggairahkan dan membuat siapapun yang melihatnya ingin mengecup bibir mungil pemiliknya. Dan Jim merasa amat berbahagia ia berada di situ pagi itu, bisa menatap bibir kecil yang mungkin sudah memikat puluhan, ratusan bahkan ribuan orang yang pernah melihatnya.
Jim menggerakkan kepalanya dan mencium bibir itu dengan gerakan amat lembut.
Namun selembut apapun Jim menciumnya, wanita jelita di sampingnya itu mengetahuinya. Kelopak matanya yang indah terbuka perlahan, seakan tidak rela matahari pagi yang masuk melalui sela-sela jendela menusuk keindahan matanya. Si jelita itu pun bangun menyambut pagi.
Jim tersenyum dan menyapa kekasihnya. “Selamat pagi, sayang.”
“Pagi.” jawab si jelita itu sambil merentang-rentangkan tangannya dan mencoba meluruskan badan.
“Kamu tumben bangun lebih pagi dari aku.” katanya lagi.
Jim hanya tersenyum dan memeluknya hangat. “Aku sayang kamu.”
“Aku juga.” kecup si jelita ke mulut Jim. “Tapi ini sudah pagi dan aku harus…”
“Aww.. aku benci jika kamu harus pergi pagi-pagi begini.”
“Yah, aku harus pergi, sayang…”
Jim merengut. Namun si jelita tahu dan menciumnya mesra, lagi. “Aku telpon kamu nanti.”
“Janji?”
“Janji…”
Jari kelingking mereka berkaitan, sebuah tradisi diantara mereka berdua setiap saat melakukan perjanjian, mereka saling mengaitkan jari kelingking.
“Kenapa kamu harus pergi?”
“Karena aku harus pergi…”
“Ya, kenapa?”
“Karena akan banyak orang kesusahan kalau aku tidak pergi saat ini juga. Lihat jam itu, sudah setengah delapan pagi. Dan jika kamu terus meracau aku akan terlambat.” jawab si jelita sambil mengenakan selimutnya untuk melilit tubuhnya yang indah.
Si jelita itu berdiri dan bergerak beringsut ke kamar mandi.
Jim tidak rela si jelita itu pergi. Ke kamar mandi sekalipun. Ia mendesah dan memejamkan mata. Jim masih malas membuka jendela. Sinar matahari pagi akan menghancurkan matanya yang masih sayu. Ia suka kemalasan ini, ia masih capek dan ingin tetap berada di ranjang lebih lama lagi. Jim membuka matanya sedikit, apa mereka bercinta terlalu lama tadi malam? Rasa-rasanya tidak, kenapa badannya remuk begini yah?
Lima menit berlalu. Jim masih tergolek telanjang berselimut di tempat tidur. Matanya masih terpejam. Lalu ia teringat sesuatu. Matanya masih terpejam, tapi saat itu pikirannya sudah bangun. Kaki Jim bergerak-gerak. Ia suka permukaan seprei ini, bersih dan halus. Mungkin sudah tidak rapi lagi, tapi ia suka permukaannya. Ia terus saja menggerak-gerakkan kaki.
“Anita…” panggil Jim dari tempat tidur.
“Ya?”
Si jelita itu memunculkan kepala indahnya dari kamar mandi. Ia melongok menatap Jim dari kejauhan dengan mulut berbuih, odolnya masih belepotan dan tangannya terus menggerak-gerakkan sikat di mulut. Anita mengambil segelas air dan memuntahkan odol di mulut. Ahh, segarnya.
“Ada apa?” tanya Anita sambil menyiapkan shower. Mandi air hangat akan sangat menyegarkan.
“Aku pergi ke Les Varhel pagi ini.” ujar Jim, masih dari tempat tidur.
“Oh?”
“Ada urusan sama bossku.”
“Iya.”
“Kita tidak usah makan siang bersama yah.”
“Iya.”
“Dia menelponku semalam… sial, mendadak sekali..”
“Oh, semalam dia yang telepon?”
“Iya.”
Terdengar air shower memancar dari arah kamar mandi yang hanya ditutup sekenanya oleh Anita tadi. Jim membuka matanya sedikit. Ia melirik kesana. Lalu dengan perasaan malas ia bangun. Berjalan dengan perlahan, Jim memasuki kamar mandi itu.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Anita mencoba membuka pintu. Tidak dikunci.
Dengan mendengus perlahan dan menetapkan hati, ia masuk.
“Aku pulang.” kata Anita kemudian.
Brandon Kincaid sedang duduk di kursi malas dengan koran di tangan. Ruangan sudah bersih, pasti Brandon yang menyapunya pagi tadi. Dia memang rajin. Pria itu segera menyadari kedatangan Anita, ia tersenyum menyambut istrinya itu.
“Darimana semalam?” tanya Brandon sambil tersenyum.
Brandon berdiri dan menghampiri istrinya itu, sambil masih membawa koran pagi. Anita diam saja di dekat pintu masuk, ia masih membersihkan jas panjangnya yang terkena percikan gerimis di luar tadi. Anita menggantungkan jas itu di tempatnya. Brandon mencium bibir istrinya mesra.
“Aku sayang kamu.” kata Brandon sambil mencium si jelita itu.
“Aku juga.” jawab Anita datar. Ia masih malas menyambut Brandon. “Mana Diane?”
“Di tempat tidurnya. Ia sempat nangis semalam, kayaknya kangen sama kamu.”
Anita tersenyum pahit sedikit. Ia segera menengok ke arah kamar si kecil Diane. Terdengar suara lucu dari sana, pasti putrinya itu sudah bangun. Anita beranjak ke kamar Diane.
“Darimana kamu semalam?” Brandon mengulang pertanyaannya.
“Dari rumah sakit.” Jawab Anita sekenanya. “Bibi Bertie-nya Karen sakit keras. Aku menemani Karen semalaman di rumah sakit.”
Anita tidak berani menatap Brandon. Ia merasa bersalah, namun semuanya sudah terlanjur. Dan ia terlalu capek untuk memikirkan hal itu sekarang. Badannya masih sedikit kesakitan. Ia sempat melirik ke kamarnya sendiri. Sepreinya sudah dirapikan. Brandon benar-benar rajin.
“Kamu sudah minum kopi?” tanya Anita masih dengan nada datar.
“Belum”
“Mau?”
“Boleh.”
“Kamu sudah sarapan?”
“Belum.”
“Mau makan apa?”
“Bikin omelette saja.”
Anita segera masuk ke kamar Diane. Gadis kecilnya itu sudah bangun. “Mama…?” kalimat penuh makna keluar dari mulut manis si kecil itu. Anita mengangkat si kecil dan menciuminya.
“Kamu sudah maem?”
“Cudah.”
“Susu?”
“Papa…”
Anita melirik pinggir bed Diane, ada botol susu dengan susu yang masih hangat. Rupanya Brandon sudah membuatkan susu sejak pagi tadi. Anita sedikit merasa bersalah. Ia mengangkat Diane, membawanya ke kamarnya sendiri. Ia kangen dengan si mungil ini.
Anita segera menuju kamar, meletakkan Diane di ranjang dan mengambil baju ganti dari lemari. Ia mengambil kaos singlet yang seksi dan bawahan seadanya. Dan Anita pun berganti pakaian. Pikirannya tidak di tempat itu, dan melayang kemana-mana.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
shaven-note
1. this episode is inspired by the movie “unfaithful” starring richard gere and diane lane
2. think you know where this story is going (?) think again (!)
HEART BE NO SOUL
Created By Shaven
==================
Kisah ini hanyalah fiktif biasa, kalaupun ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, hal itu tidak dilakukan dengan sengaja. Peringatan: beberapa kejadian di SACN ini mengandung unsur sex dan violence yang mungkin tidak cocok untuk dibaca mereka yang masih di bawah 21 tahun. You have been warned. Peringatan ini adalah yang pertama dan terakhir.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Episode Dua: “Some Things Are Better Left Unsaid”
James 'Jim' Beltone terbangun. Badannya terasa amat lelah dan capek. Tempat tidurnya nampak acak-acakan. Bantalnya berada di kanan kiri, dan ia bersandarkan guling, tidak heran semalaman ia merasa beralaskan benda keras. Pria berusia berkepala dua itu memencet dahinya yang terasa pening. Jim menggerakkan kepalanya ke kanan dan kekiri untuk melancarkan sendi-sendi, begitu pula tangannya ia rentang-rentangkan. Ia melirik ke sampingnya.
Tidur di samping Jim, seorang wanita yang cantik. Sangat cantik malah. Dengan usia yang tidak terlalu jauh dari Jim, wanita matang yang sudah dewasa. Wajahnya yang cantik nampak kelelahan. Kulitnya putih seputih pualam, dengan wangi seorang wanita dewasa yang harum. Matanya terpejam, tapi alis dan kelopak matanya indah. Khas seorang wanita yang hidup berkecukupan. Hidungnya mancung. Rambutnya yang panjang terurai bebas, berjuntai di bantal. Tubuhnya yang seksi dan menggairahkan tersembunyi di balik selimut tebal.
Rambutnya sangat indah. Jim mengelus-elus kepala wanita cantik itu dan mengecup dahinya penuh rasa sayang. Jim melanjutkan mengamati keindahan sosok wanita yang sedang terlelap disampingnya itu. Satu hal yang paling ia sukai dari wanita dengan wajah cantik jelita ini, dengan kulit halus seputih pualam dan tubuh semerbak wangi ini, bibirnya. Ya, bibirnya. Bibir wanita cantik ini sangat menawan. Amat mungil, amat sensual, amat menggairahkan dan membuat siapapun yang melihatnya ingin mengecup bibir mungil pemiliknya. Dan Jim merasa amat berbahagia ia berada di situ pagi itu, bisa menatap bibir kecil yang mungkin sudah memikat puluhan, ratusan bahkan ribuan orang yang pernah melihatnya.
Jim menggerakkan kepalanya dan mencium bibir itu dengan gerakan amat lembut.
Namun selembut apapun Jim menciumnya, wanita jelita di sampingnya itu mengetahuinya. Kelopak matanya yang indah terbuka perlahan, seakan tidak rela matahari pagi yang masuk melalui sela-sela jendela menusuk keindahan matanya. Si jelita itu pun bangun menyambut pagi.
Jim tersenyum dan menyapa kekasihnya. “Selamat pagi, sayang.”
“Pagi.” jawab si jelita itu sambil merentang-rentangkan tangannya dan mencoba meluruskan badan.
“Kamu tumben bangun lebih pagi dari aku.” katanya lagi.
Jim hanya tersenyum dan memeluknya hangat. “Aku sayang kamu.”
“Aku juga.” kecup si jelita ke mulut Jim. “Tapi ini sudah pagi dan aku harus…”
“Aww.. aku benci jika kamu harus pergi pagi-pagi begini.”
“Yah, aku harus pergi, sayang…”
Jim merengut. Namun si jelita tahu dan menciumnya mesra, lagi. “Aku telpon kamu nanti.”
“Janji?”
“Janji…”
Jari kelingking mereka berkaitan, sebuah tradisi diantara mereka berdua setiap saat melakukan perjanjian, mereka saling mengaitkan jari kelingking.
“Kenapa kamu harus pergi?”
“Karena aku harus pergi…”
“Ya, kenapa?”
“Karena akan banyak orang kesusahan kalau aku tidak pergi saat ini juga. Lihat jam itu, sudah setengah delapan pagi. Dan jika kamu terus meracau aku akan terlambat.” jawab si jelita sambil mengenakan selimutnya untuk melilit tubuhnya yang indah.
Si jelita itu berdiri dan bergerak beringsut ke kamar mandi.
Jim tidak rela si jelita itu pergi. Ke kamar mandi sekalipun. Ia mendesah dan memejamkan mata. Jim masih malas membuka jendela. Sinar matahari pagi akan menghancurkan matanya yang masih sayu. Ia suka kemalasan ini, ia masih capek dan ingin tetap berada di ranjang lebih lama lagi. Jim membuka matanya sedikit, apa mereka bercinta terlalu lama tadi malam? Rasa-rasanya tidak, kenapa badannya remuk begini yah?
Lima menit berlalu. Jim masih tergolek telanjang berselimut di tempat tidur. Matanya masih terpejam. Lalu ia teringat sesuatu. Matanya masih terpejam, tapi saat itu pikirannya sudah bangun. Kaki Jim bergerak-gerak. Ia suka permukaan seprei ini, bersih dan halus. Mungkin sudah tidak rapi lagi, tapi ia suka permukaannya. Ia terus saja menggerak-gerakkan kaki.
“Anita…” panggil Jim dari tempat tidur.
“Ya?”
Si jelita itu memunculkan kepala indahnya dari kamar mandi. Ia melongok menatap Jim dari kejauhan dengan mulut berbuih, odolnya masih belepotan dan tangannya terus menggerak-gerakkan sikat di mulut. Anita mengambil segelas air dan memuntahkan odol di mulut. Ahh, segarnya.
“Ada apa?” tanya Anita sambil menyiapkan shower. Mandi air hangat akan sangat menyegarkan.
“Aku pergi ke Les Varhel pagi ini.” ujar Jim, masih dari tempat tidur.
“Oh?”
“Ada urusan sama bossku.”
“Iya.”
“Kita tidak usah makan siang bersama yah.”
“Iya.”
“Dia menelponku semalam… sial, mendadak sekali..”
“Oh, semalam dia yang telepon?”
“Iya.”
Terdengar air shower memancar dari arah kamar mandi yang hanya ditutup sekenanya oleh Anita tadi. Jim membuka matanya sedikit. Ia melirik kesana. Lalu dengan perasaan malas ia bangun. Berjalan dengan perlahan, Jim memasuki kamar mandi itu.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Anita mencoba membuka pintu. Tidak dikunci.
Dengan mendengus perlahan dan menetapkan hati, ia masuk.
“Aku pulang.” kata Anita kemudian.
Brandon Kincaid sedang duduk di kursi malas dengan koran di tangan. Ruangan sudah bersih, pasti Brandon yang menyapunya pagi tadi. Dia memang rajin. Pria itu segera menyadari kedatangan Anita, ia tersenyum menyambut istrinya itu.
“Darimana semalam?” tanya Brandon sambil tersenyum.
Brandon berdiri dan menghampiri istrinya itu, sambil masih membawa koran pagi. Anita diam saja di dekat pintu masuk, ia masih membersihkan jas panjangnya yang terkena percikan gerimis di luar tadi. Anita menggantungkan jas itu di tempatnya. Brandon mencium bibir istrinya mesra.
“Aku sayang kamu.” kata Brandon sambil mencium si jelita itu.
“Aku juga.” jawab Anita datar. Ia masih malas menyambut Brandon. “Mana Diane?”
“Di tempat tidurnya. Ia sempat nangis semalam, kayaknya kangen sama kamu.”
Anita tersenyum pahit sedikit. Ia segera menengok ke arah kamar si kecil Diane. Terdengar suara lucu dari sana, pasti putrinya itu sudah bangun. Anita beranjak ke kamar Diane.
“Darimana kamu semalam?” Brandon mengulang pertanyaannya.
“Dari rumah sakit.” Jawab Anita sekenanya. “Bibi Bertie-nya Karen sakit keras. Aku menemani Karen semalaman di rumah sakit.”
Anita tidak berani menatap Brandon. Ia merasa bersalah, namun semuanya sudah terlanjur. Dan ia terlalu capek untuk memikirkan hal itu sekarang. Badannya masih sedikit kesakitan. Ia sempat melirik ke kamarnya sendiri. Sepreinya sudah dirapikan. Brandon benar-benar rajin.
“Kamu sudah minum kopi?” tanya Anita masih dengan nada datar.
“Belum”
“Mau?”
“Boleh.”
“Kamu sudah sarapan?”
“Belum.”
“Mau makan apa?”
“Bikin omelette saja.”
Anita segera masuk ke kamar Diane. Gadis kecilnya itu sudah bangun. “Mama…?” kalimat penuh makna keluar dari mulut manis si kecil itu. Anita mengangkat si kecil dan menciuminya.
“Kamu sudah maem?”
“Cudah.”
“Susu?”
“Papa…”
Anita melirik pinggir bed Diane, ada botol susu dengan susu yang masih hangat. Rupanya Brandon sudah membuatkan susu sejak pagi tadi. Anita sedikit merasa bersalah. Ia mengangkat Diane, membawanya ke kamarnya sendiri. Ia kangen dengan si mungil ini.
Anita segera menuju kamar, meletakkan Diane di ranjang dan mengambil baju ganti dari lemari. Ia mengambil kaos singlet yang seksi dan bawahan seadanya. Dan Anita pun berganti pakaian. Pikirannya tidak di tempat itu, dan melayang kemana-mana.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
shaven-note
1. this episode is inspired by the movie “unfaithful” starring richard gere and diane lane
2. think you know where this story is going (?) think again (!)
0 comments:
Post a Comment