The Rays of Avera Ch.5

|
The Rays of Avera
Created by Shaven

CHAPTER FIVE

When The Going Gets Rough…




Lukisan kehancuran yang dahsyat terpampang jelas di hadapan ketiga tokoh utama kita yang saat ini sedang berdiri di depan pintu gua tambang. Sang Monster Hunter - Rover Ray seakan tak kuasa menahan ibanya menyaksikan banyak korban yang jatuh. Putra semata wayang Rover, Mark Ray, hampir-hampir tak percaya melihat kehancuran kota yang baru beberapa saat yang lalu masih hidup dan gembira menyambut perayaan festival rembulan. Lady Maia Lasalle, sang spellcaster muda meneteskan air matanya karena sedih. Penulis pun seakan tak kuasa menahan haru, bukan karena mellihat kehancuran Carmelion, tapi karena jempol kakinya kesemutan saking lamanya ngetik di depan komputer.

“Ti-tidak mungkin…!” Mark menggelengkan kepalanya dengan takjub dan tak habis pikir. “A-apa… si-siapa yang telah melakukan ini? Bagaimana mungkin kota ini bisa hancur? Apa yang telah terjadi?”
“Padahal kita hanya pergi beberapa saat saja… oh… penduduk Carmelion yang malang, apa yang telah terjadi di tempat ini?” Maia jatuh terduduk dengan pose feminin.

Tapi kehancuran yang ada di hadapan mereka memang sangat nyata dan serius, sangat mengerikan dan membuat air mata meleleh. Untunglah tim khusus dari penulis cerita ini sudah mempersiapkan ember untuk menampung semua air mata yang tumpah.

Puing-puing nampak berhamburan disana-sini, reruntuhan yang hangus terbakar disertai bau amis mayat membuat bulu kuduk berdiri. Satu dua orang nampak masih kesakitan meregang nyawa disela-sela kehancuran. Banyak orang yang kehilangan harta benda, kehilangan anggota badan dan kehilangan anggota keluarga. Penulis dengan penuh iba juga ikut membantu sekedarnya, memberi pertolongan pada yang membutuhkan dengan tulus ikhlas, memang sungguh seorang penulis yang baik budi, tidak sombong dan hormat pada orang tua seperti layaknya seorang pemuda yang telah ditempa oleh pendidikan budi pekerti Praja Muda Karana.

“Celaka! Bangsawan Von Gard!!” teriak Rover tiba-tiba saat menyadari sesuatu, diapun jatuh tersungkur dengan lemas. “OH TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAKKK!!!”

Kastil sang bangsawan yang menyewa Rover dan Mark sudah lenyap tak berbekas, sebuah lubang besar menggantikan kastil itu. Seakan-akan ada satu tembakan dahsyat yang telah meluluhlantakkan seantero kota dan kastil sang bangsawan adalah sasaran utamanya. Gunung batu di sekeliling kastil nampak kontras dengan lubang besar yang menganga. Lokasi itu sekarang lebih mirip seperti kue donat daripada sebuah kastil.

“BAYARANKUUUU!!!” teriak Rover lagi. Pria itu pun melolong pedih.
“DODOL!!” Mark mengamuk. “Ayah punya perasaan gak sih? Carmelion sedang kena musibah, eh malah duit aja yang dipikirin!”
“Ta-tapi… hiks… du-duitnya… oh… aku gagal jadi orang kaya… huwaaaaa… padahal rencananya aku pengen berlibur ke pantai… huwaaaaa…”

“Maia?” Cuek dengan kelakuan sang ayah yang tidak tahu malu, perlahan Mark mendekati Maia yang juga nampak sangat terpukul melihat kehancuran Carmelion. “Kamu baik-baik saja?”

“A-aku akan memberi pertolongan sebisa mungkin, tidak banyak membantu memang, apalagi hampir seluruh kota hancur dan banyak orang terluka, tapi aku harus melakukannya. Entah apa aku masih kuat merapal magic heal-ku untuk orang sebanyak ini…” Maia bangkit dan bergegas menyiapkan diri. “Kalian berdua bisa membantu kan? Tuan Rover bisa mencari tempat yang aman untuk penampungan para korban, sementara kita mengumpulkan mereka.”

“Bisa.” Rover mengangguk, air mata kepedihan terus menuruni pipinya. Buset dah, bentuknya serem tapi cengengnya ampun-ampunan.

Ketiga jagoan kita pun bergegas layaknya tokoh yang baik dan berbudi luhur. Rover menemukan sebuah rumah besar yang kondisinya lebih layak pakai dibanding lokasi lain. Tempat itu segera digunakan sebagai tempat penampungan korban bencana Carmelion. Setelah mempersiapkan lokasi sebisa mungkin, Maia dan Mark mengumpulkan korban. Untunglah penduduk Carmelion yang menjadi korban bencana namun masih sehat ikut membantu mengumpulkan korban, mengumpulkan obat-obatan dan sisa-sisa makanan yang ada.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Malamnya, setelah bekerja seharian, Rover, Mark dan Maia pun beristirahat. Pencarian korban masih dilakukan oleh penduduk Carmelion. Beberapa orang Carmelion membuat api unggun untuk menghangatkan badan dan memasak. Rover, Mark dan Maia turut duduk bersama mereka.

“Huuwaaahhh… sial. Siapa sih yang sudah iseng menghancurkan Carmelion?” Rover menggerutu. “Badanku capek semua. Kasihan orang-orang ini, mereka kehilangan rumah dan mata pencaharian. Dasar biadab.”
“…” Maia hanya terdiam.
“Aku juga gak bisa ngomong apa-apa lagi. Kalau tau pelakunya… huh! Bakal aku injek-injek sampai gepeng!” Mark menambahi.

“Semua karena ulah para naga.”

Rover, Mark dan Maia menengok dengan berbarengan, persis kayak penonton pertandingan tenis. Di dekat mereka, berdiri seorang lelaki tua bungkuk dengan tongkat kayu dan wajah letih sedang berdiri bersandar di dekat tembok puing bangunan sambil membawa segelas minuman hangat. Janggutnya yang putih dan panjang hampir mencapai tanah nampak serawutan, seperti jarang disisir. Kalo muncul deket pohon jengkol, bisa dikira penunggu pohon jengkol.

“Err… kalau boleh kami tahu, siapa anda, Pak?” tanya Rover sopan. Tumben.

“Sepertinya namaku tidak penting, toh aku cuma NPC saja. Aku hanya akan muncul di chapter ini dan tidak akan muncul lagi kelak. Seorang pujangga pernah menuliskan: Apalah arti sebuah nama, karena kalo manusia sudah kentut, baunya tetap kemana-mana.” kata bapak tua dengan filosofi yang sangat jorok itu. “Tapi kalau kalian mau, kalian bisa panggil aku Tommy.”

“Tommy? Kakek-kakek kok panggilannya Tommy? ABG banget?” protes Mark.
“Lengkapnya Tommy Cruise.” Kata kakek itu. “Tapi kalo mau manggil Michael, Kevin atau Jason, kakek juga kadang-kadang nengok.”

Mark, Rover dan Maia bengong sesaat. Duile, ini kakek genit amat.

“Oke-oke, kembali ke masalah naga tadi. Bapak.” Rover mengembalikan percakapan yang nampaknya sudah mulai OOT. “Apa yang sebenarnya terjadi di kota ini? Ada apa dengan para naga?”

“Carmelion sedang merayakan festival rembulan, ketika tiba-tiba para naga itu datang entah dari mana. Tidak hanya satu atau dua naga, tapi banyak sekali. Mereka menyerang dari udara, muncul dari dalam tanah dan menghancurkan bangunan. Naga-naga mengamuk dan menghancurkan Carmelion.” Sang Kakek duduk di kursi kayu pendek agar lebih enak bercerita. “Tanpa bisa dihadang siapapun, api menjalar kemana-mana, monster-monster kecil bermunculan dan mulai membunuh para penduduk. Korban berjatuhan, keadaan sangat rusuh, seluruh penduduk Carmelion dibantai. ‘The Carmelion Massacre’.”

“Aku masih bingung, kenapa para naga itu mengamuk? Kenapa mereka melakukan kekacauan? Kenapa mereka menyerang manusia?” Maia bertanya-tanya. “Memangnya kita salah apa? Ketemu mereka aja kan jarang.”

“Sepertinya ada yang memanggil mereka.” kata si orang tua yang ternyata banyak mengetahui latar belakang bencana di Carmelion itu.

“A-ada yang memanggil?” Mark dan Rover membelalakkan mata tak percaya.

“Iya. Prosesnya sedikit mirip dengan summoning yang biasa dilakukan oleh High Spellcaster, High Wizard atau kaum High Mage lain. Sebelum semuanya ini terjadi, seseorang berdiri di atas batu-batu besar yang berada di belakang kastil Sebastian Von Gard. Lalu cahaya-cahaya melingkari tubuhnya dan perlahan naga-naga itu bermunculan, saat muncul, mereka langsung mengamuk.” lanjut sang kakek.

“Lho, kakek kok bisa tahu ada orang yang berdiri di belakang kastil Von Gard?” Maia keheranan. “Jarak dari sini ke sana kan cukup jauh?”
“Jangan-jangan dapat bocoran dari Mister Nolej?” Rover menambahkan informasi namun kurang bermutu.

“Bukan begitu, kakek mendengar ini juga dari mulut ke mulut. Walaupun kena bencana, gosip jalan terus, namanya juga infotainment.” Kata sang kakek menerangkan. “Kata orang, pakaian yang dikenakan orang itu mirip seorang summoner.”

“Summoner? Yang suka bikin daging bakar ditusuk-tusuk?” tanya Rover.
“Itu tukang sate! Jauh amat!” maki Mark.

“Pantas saja naga-naga itu menggali tanah menembus gua tambang milik Von Gard. Mereka bukannya marah karena rumah mereka terusik, tapi mereka memang sedang berusaha naik ke permukaan karena dipanggil seseorang.” Kata Maia. “Kenapa seorang summoner memanggil para naga itu? Wah, masalahnya mulai rumit… kira-kira apa yang sedang direncanakannya yah?”

“Kalau pengen tahu soal masalah itu, mungkin ada baiknya kita pergi ke House of Summoner di Qysada.” Kata Rover dengan wajah serius. “Kalau memang benar ada summoner yang ngawur memanggil naga-naga itu untuk mengamuk di Avera, kita harus menanyakan langsung pada yang bersangkutan.”

Mark mengangguk. “Benar sekali. Tumben otak Ayah encer.”
Rover melengos. “Anak lutung, kayak gak tau aja kalo Ayahnya seorang pria cerdas, berkepribadian menarik sekaligus memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas.”
“Puih! Pria cerdas katanya. Masak air aja gosong!”
“Apanya gosong! Tapi kan masih mending! Daripada kamu sikat gigi pake sabun!”
“Itu kan waktu masih kecil! Gak bisa bedain odol sama sabun cair!”
“Dari sananya emang udah bloon.”
“Dasar tetua lutung!”
“Dasar anak lutung!”

Maia dan sang kakek hanya bisa geleng-geleng dan menundukkan kepala penuh haru melihat perdebatan dua manusia lutung itu.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Esoknya.

Mark dan Rover bersiap-siap dengan barang bawaan mereka. Maia yang tadinya masih membantu beberapa korban segera menghampiri pasangan ayah-anak yang kadang kompak kadang main lutung-lutungan itu.

“Kalian mau pergi?” tanya gadis itu.

“Kami punya misi baru.” Jawab Mark tersenyum. Dalam hatinya dia sedih karena akan meninggalkan Maia, oh seandainya saja Maia bisa ikut bersama mereka tentu Mark akan merasa sangat bahagia. Sayang sekali setelah menuntaskan tugas di Carmelion, Maia tentunya akan kembali ke Magestro, dimana pusat Sisterhood of Spellcaster berada.

“Semua jawaban bisa didapat di Kota Qysada.” Kata Rover. “Walaupun untuk misi kali ini kami tidak akan mendapat bayaran, tapi aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi! Siapa summoner yang telah memanggil para naga dan kenapa dia seenak bodongnya menghancurkan Carmelion. Kami akan meminta pertanggungjawaban! Aku juga mau minta ganti rugi liburan ke pantai! Bersiaplah Mark! Kita ke Qysada!”

“Baik Ayah!” Mark mengangguk keheranan. Waduh hebat, tumben amat ayahnya nan sableng itu mau pergi bertualang tanpa biaya. Sungguh mencurigakan.

“Err… bolehkah aku ikut dengan kalian?”

Mark dan Rover menengok berbarengan, persis kayak penonton pertandingan tenis. (Error 616!! Perhatian-perhatian!! Dagelan tidak lucu ini sudah dipakai dua kali di satu chapter!! Pertanda otak penulis mulai gosong!! Error 616! Error 616!).

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Jreng-jreng-jreng!!!
Permisi sodara-sodara!!!
Saya adalah Mister Nolej, si super tahu segalanya yang terjadi dunia Avera! Saking super tahu segalanya, saya tidak kalah hebat dari Dora The Explorer!

Untuk edisi kali ini, saya akan menerangkan tentang Error 616 dan Summoner.

Apa itu Error 616?
Error 616 adalah error yang terjadi karena kegosongan di otak sang penulis akibat overload. Krisis ide dan kebanyakan main game Playboy Mansion biasanya mengakibatkan error ini. Walaupun yang disebutkan terakhir akan menimbulkan juga kegosongan yang timbul di wilayah lain. >ehem!<. Karena error ini, biasanya penulis akan menulis dagelan dua kali di satu chapter, ini sangat fatal karena menunjukkan penulis mulai kehabisan ide.

Seandainya terjadi Error 616, diharapkan pembaca bersedia memberikan pertolongan yang sangat dibutuhkan penulis. Saat ini penulis sedang melalui terapi khusus dan serius untuk menyembuhkan diri dari Error 616. Demikian harap menjadikan periksa.

Apa itu Summoner? Apa pula itu House of Summoner?

Kalau gampangannya, Summoner adalah ‘pemanggil’. Di Therain, terutama Avera, banyak sekali makhluk-makhluk gaib dan ajaib yang berkeliaran. Naga adalah salah satu makhluk yang diagungkan. Dari semua mage yang ada di Therain, Summoner-lah yang memiliki kemampuan memanggil makhluk-makhluk gaib dan ajaib, sekaligus mampu mengundang Ion-Beast (soal Ion-Beast akan diceritakan di lain bab).

House of Summoner adalah pusat dari semua kegiatan pelatihan dan pengembangan sekaligus rumah agung para Summoner. Lokasinya berada di Qysada, cukup jauh ditempuh dari Carmelion.

Begitulah keterangan dari saya… mudah-mudahan bisa membantu!
Jreng-jreng-jreng!!!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Maia?” Mark berdegup-degup jantungnya. Aduh senangnya kalo Maia mau ikut mereka. Dia tidak akan sendirian lagi dengan sang ayah. Segala kejayusan Rover bisa dinetralisir dengan kenormalan Maia. Aduh, senangnya hatiku, hilang panas demamku, semua karena Maia, oh Maia. “Maia mau ikut ke Qysada?”

“Kamu yakin, Maia? Perjalanan melewati Carmoby lumayan berat.” Rover menimpali dengan wajah serius.
“Ti-tidak apa-apa. Aku masih seorang rookie. Untuk bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi, aku harus banyak berlatih. Mungkin perjalanan ini bisa membantu meningkatkan kemampuanku.” Kata Maia.
“Belum lagi banyaknya monster dan bandit padang pasir.” Rover tetap bertahan.
“A-aku akan berusaha sebaik mungkin.”
“Masih ada beberapa kota dan wilayah yang harus dilewati sebelum sampai ke Qysada. Disana nanti bisa muncul banyak masalah.”
“A-aku akan berusaha sebaik mungkin.”
“Lho? Jawabannya kok sama? Kamu kok tidak kreatif?”
“Lha mau jawab gimana lagi?”

Hihihi. Jangan-jangan si Maia kena Error 616 juga yah?

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Sebagaimana yang bisa ditebak oleh anak SD sekalipun, Maia akhirnya menggabungkan diri dengan Rover dan Mark setelah berpamitan dengan para penduduk Carmelion yang sangat berterima kasih atas bantuan mereka. Mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan kota Carmelion yang sudah hancur menjadi puing-puing dan menembus gurun pasir Carmoby yang penuh marabahaya. Jelas sekali, petualangan baru dan berat menanti ketiga pahlawan kita.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah benar penulis sudah sangat capek dengan ulah Rover yang kadang malu-maluin, sehingga dia akan dimatikan di chapter berikutnya? Ataukah kontrak penampilan Rover dengan serial ini justru diperpanjang?
Bagaimanakah perkembangan hubungan antara Mark dan Maia? Apakah Maia akan mengikuti jejak Suster Maria dari film ‘Sound of Music’ yang menikah dengan Kapten Von Trapp dari Austria dan tujuh orang anaknya yang nakal namun sesungguhnya berhati lembut itu? Lantas, apa hubungannya serial ini dengan ‘Sound of Music’?
Apakah dengan adanya Error 616 artinya penulis masih mempunyai banyak ide atau benar-benar bingung cari ide?
Apakah penulis masih punya uang untuk pergi ke warnet dan berburu gambar hentai?
Apakah penulis masih ngiler kalau liat pose ‘menantang’ JAV Idol?
Apakah penulis masih terus mencoba menyusup channel #carding untuk mendapatkan nomor ilegal guna menembus situs porno paysite?
Apakah benar penulis mirip Primus Yustisio? Ataukah ternyata penulis lebih mirip dengan Ari Wibowo? (khusus pertanyaan ini jawabannya ada di Shaven’s Note)

Semuanya ada di edisi selanjutnya dari Rays of Avera!
Jangan sampai ketinggalan!


-Bersambung-

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven’s Note :

* Kenapa kok Error 616? Kenapa kok bukan 666? Kenapa kok bukan 081-80-279- sekian-sekian-sekian? Bagi yang hobi liat WWE tentunya tahu dengan highflyin’ cruiserweight wrestler yang codename-nya Rey Mysterio Jr. Rey ini punya jurus andalan yang diberi nama “616” dan keren sekali. Aku comot aja nomornya! Konon kata Mister Nolej nomor itu adalah nomor kode pos rumah si Rey.
* Ini kayanya gak penting, tapi ya udah, buat nambah-nambah… judul chapter ini aku plesetin dari judul lagunya Billy Ocean. Nama kota Qysada juga plesetan dari nama E-I-C Marvel Comics, Joe Quesada.
* Apakah penulis mirip Primus Yustisio atau lebih mirip dengan Ari Wibowo? Sungguh sebuah polemik yang berkepanjangan dan penuh perdebatan, karena biar bagaimanapun, dengan penampilan seperti Keanu Reeves, penulis menolak disamakan dengan dua bintang lokal tersebut.
BLEEDDAAAARRRRR!!! Penulis dibantai semua pembaca.
Hihihihi…

The Rays of Avera Ch.4

|
The Rays of Avera
Created by Shaven

CHAPTER FOUR
Crossfire Hurricane




“Crossfire Hurricane adalah tembakan akumulasi ki yang digabungkan dengan dua Rune Orb berelemen api dan angin. Hasilnya adalah tembakan badai api terpusat pada satu titik namun memiliki ekor api dan angin yang menyebar ke segala penjuru.” Rover menerangkan. “Ini adalah ilmu turun temurun keluarga Ray. Sangat dianjurkan untuk tidak menggunakannya karena efeknya lumayan gawat.”

“A-apa!?” Mark berkeringat dingin. “Jangan-jangan…”
“Jangan-jangan Tuan Rover akan meninggal setelah menggunakan Crossfire Hurricane?” desak Maia yang juga menjadi khawatir. “Jangan! Kumohon jangan gunakan, Tuan Rover!!”

“Siapa bilang aku bakal mati?” Rover melengos. “Enak aja nuduh! Efeknya adalah si pengguna akan lapar berat. Padahal ransum yang kita bawa hanya terbatas… hmm… benar-benar harus dipikirkan masak-masak…”

GUBRAGS!!

Maia dan Mark jatuh terjengkang.

“YANG BENAR SAJAAA!! KALO CUMA ITU EFEKNYA GAK JADI MASALAAHHH!!!” Mark berteriak marah.

Sayangnya karena lupa diri dan berteriak, seluruh koloni naga akhirnya sadar akan hadirnya ketiga tamu tak diundang itu.

“Err… ups?” Mark meneguk ludah. Gleg.
“Dasar anak lutung! Kita harus bergerak cepat! Jangan buang waktu lagi!” Rover mengajak Mark dan Maia mundur perlahan, karena para naga itu bergerak mendekati mereka.
“Me-mereka kelihatannya kurang ramah.” kata Maia.

Dua ekor naga muda yang letaknya dekat dengan mereka berjalan dengan penuh keyakinan. Seakan-akan meringis dan mengejek ketiga lakon kita sambil mengucap “Hehehe… mau lari kemana kalian? Dasar dungu… biasanya kita yang berburu mangsa, eh ini malah ada mangsa mendatangi kita!”

“Baiklah, tidak ada jalan lain.” Rover segera mengambil posisi melindungi Mark dan Maia. “Kalian mundur sedikit.”

Tangan kiri Rover menggenggam pergelangan tangan kanan sementara telapak tangan kanan dibuka lebar-lebar. Konsentrasi ki tingkat tinggi segera dilakukan dan difokuskan pada telapak tangan kanan itu. Menggabungkan enerji ki dan tenaga dari Rune Orb bukan perkara mudah. Gigi Rover bergemeretak, saling beradu satu sama lain. Urat-uratnya menonjol dan seluruh tubuhnya bergetar hebat (Menahan diri untuk tidak kentut juga memungkinkan adegan seperti ini terjadi, tapi tentunya efek yang akan dihasilkan lain sama sekali). Rune Orb berelemen angin dan api dari saku baju Rover mengeluarkan sinar terang, kekuatannya sedang bergabung dengan ki Rover.

“CROSSFIRE HURRICANE!!!!!”

BLAAAAMMMM!!!
BLARRR!!
BLUARRRRRRRRRRRRR!!!

Dari telapak tangan Rover keluar sinar biru yang melingkar-lingkar seperti angin puting beliung yang dililit oleh lidah api dan menembus tubuh kedua naga dengan dahsyatnya. Sinar itu ditembakkan ke langit-langit gua.

Hasilnya?

Dinding gua bergetar hebat, batu demi batu, tanah demi tanah luruh ke bawah, langit-langit pun mulai runtuh. Naga-naga berteriak marah dengan panik. Mereka berlarian kesana kemari mencoba menyelamatkan diri. Naga raksasa terbesar dan sepertinya tertua di koloni itu memandang Rover dengan penuh kemarahan. Dia bergerak dengan cepat dan terbang menutup pintu keluar gua.

Rover, Mark dan Maia juga terjebak!!

“Kutukupret!!” maki Rover marah-marah. “Langit gua bakal runtuh gak nyampe 30 detik lagi!!”
“Tembak aja naganya!!” usul Mark. “Tadi kan tembus tuh!”
“Dodolipret! Emangnya gampang? Kalo udah dipake sekali, Rune Orb langsung recharge paling nggak sampe lima menit. Aku gak bisa make Crossfire Hurricane untuk sementara.” Rover membantah. “Maia! Kamu punya Invisible Orb?”
“Ahhh iyaa!! Adaaa!!” kata Maia dengan cepat.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Jreng-jreng-jreng!!!
Permisi sodara-sodara!!!
Saya adalah Mr. Knowledge!! (Boleh dibaca Mister Nolej untuk memudahkan pembaca yang menyukai dubbing!).

Tugas saya dalam cerita ini adalah membantu penulis menerangkan tentang benda atau lokasi unik yang ada dalam cerita. Saya juga membantu penulis untuk tidak terlalu kerepotan menulis Shaven’s Note nun jauh di bawah sana karena pada dasarnya penulis memang pemalas. Baiklah… sekarang saya akan menerangkan tentang Invisible Orb!

Apa itu Invisible Orb?
Invisible Orb adalah Orb yang bisa digunakan untuk membuat pemiliknya menghilang sesaat. Biasanya dipake oleh maling, koruptor yang mau kabur, pelaku peledakan bom, suami yang selingkuh ataupun orang yang hobi ngutang tapi gak hobi bayar.

Demikianlah keterangan saya… mudah-mudahan bisa membantu!
Jreng-jreng-jreng!!!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Invisible Orb?” Mark kebingungan. “Apa rencana Ayah? Sebaiknya cepat!”
“Orb memang digunakan untuk mem-boost atau menambah enerji ki atau sihir, biasanya untuk keperluan itu digunakan Orb berelemen atau Rune Orb. Orb lain digunakan untuk temporary magic usage (Seperti Scanner Orb) dan hanya bisa digunakan oleh para Mage, Wizard, Sisterhood atau pengguna magis lain.” Kata Rover. “Dengan menggunakan Invisible Orb, kita bisa menghilang sesaat dan kabur dari naga sialan ini.”

Memang aneh, walaupun kondisi sangat gawat dan berpacu dengan waktu, tapi Rover masih sempat menerangkan sampai lumayan banyak. Yah, namanya aja cerita fiksi, jangan banyak protes dong! Kayaknya sih Rover gak mau kalah sama Mister Nolej. Hihihi…

Invisible Orb di tangan Maia memancarkan cahaya berwarna putih keabu-abuan yang makin lama makin menyilaukan dan…

ZAP!!

Ketiga orang di hadapan sang naga raksasa menghilang! Naga itu pun melongo. Lho, kemana tadi? Tidak lama setelah melongo, langit-langit runtuh menimpa seluruh naga yang berada di dalam gua.

GRMBBBLLLL!!!
BRUAALLLLL!!!!
GRMBBBLLL!!

Langit-langit gua runtuh dengan cepat, menimbun siapapun yang ada di bawah. Para naga yang tidak siap berteriak-teriak marah, namun terlambat, mereka semua tertimbun. Sang raja naga tanah meraung marah. Dengan kekuatan terakhirnya, dia menghembuskan nafas api menembus lorong gua. Dia tahu ketiga orang yang melarikan diri tadi pasti menyelamatkan diri. Tidak akan semudah itu!

Dan dinding gua pun runtuh menimpa sang naga terakhir.

Bagaimana nasib para jagoan kita? Setelah menggunakan Invisible Orb, Rover, Mark dan Maia berlari sekuat tenaga melewati lorong yang tadi mereka lalui. Setelah selang beberapa saat, kekuatan orb itu melemah, dan mereka bisa terlihat.

“Huff-huff… ba-bagaimana? Apa sudah selesai?” Mark sekali-sekali melirik ke belakang. “Huff… hufff…”
“Hosh-hosh… ja-jangan banyak omong! Mendingan lari! Hosh-hosh! Gua ini bakal ambruk!” Rover membentak. “Su-suara apa itu?”

BRABRABRABRAB!!!

Nafas api kiriman sang raja naga merajalela di sela-sela runtuhnya dinding dan langit-langit gua. Ketiga jagoan kita pun melongo. Apa gak cukup menegangkan nih guanya ambruk? Masih ditambah api pula? Huwaaaaaaa…

Rover, Mark dan Maia berlari lebih kencang lagi. Entah dari mana mereka mendapatkan sisa tenaga untuk terus berlari menyelamatkan diri. Keinginan untuk survive membuat mereka terus berusaha sekuat tenaga.

Seakan teringat sesuatu, Maia berkomat-kamit.

“Gnud-Nile-Paganet!” teriaknya. “SHELTERSPHERE!!”

Tiba-tiba saja tubuh Rover, Mark dan Maia yang sedang berlari terlindung selubung melingkar berwarna biru. Api yang hampir mencapai mereka gagal menembus selubung biru itu.

“A-apa ini? Sihir?” Mark bertanya-tanya saat menyaksikan kekuatan pelindung yang diciptakan oleh Maia. “Sphere apa? Ini sihir kan?”

“Iya.” Angguk Maia. “Sihir perlindungan ‘Sheltersphere’. Aku masih rookie dan belum mempunyai banyak pengalaman. Sedikit banyak kita sudah dibantu oleh Rune Orb, Invisible Orb dan Scanner Orb. Tapi aku juga punya kekuatan, aku ingin lebih berguna dan tidak bergantung pada Orb saja. Aku bisa mengeluarkan force field yang akan melindungi kita, tapi aku minta maaf. Kekuatanku masih sangat minim, seandainya tidak cepat, aku khawatir sebelum keluar dari gua ini aku sudah tidak kuat lagi.”

“Hngh! Bicara apa kamu ini?” Rover tersenyum untuk sesaat. “Mark, gendong dia! Jangan biarkan gadis ini mengeluarkan enerji terlalu banyak untuk lari, biarkan dia berkonsentrasi menahan Sheltersphere selama dia bisa!”

“A-apa!?!” Mark melongo. “Menggendong dia? Yang benar saja!!”
“Ma-maaf, tapi aku ti-tidak perlu…” Maia ikut protes.
“Hrhh!! Capek aku mengurus kalian berdua! Kalo kamu gak mau nggendong, aku yang akan membopong gadis itu! Pilih mana?” Rover tetap pada pendiriannya. “Kita tidak punya banyak waktu!”

Mark terdiam sesaat.

“Maafkan aku.” Kata Mark sambil melirik ke arah Maia yang langsung memerah pipinya. “Ini urusan menyelamatkan diri lho, gak ada maksud pervert. Aku Monster Hunter profesional, jadi aku melakukan ini semata-mata demi tuntutan pekerjaan.”

“Ma-maaf merepotkan.” Maia menundukkan wajahnya. “Ta-tapi sungguh, aku tidak perlu digen… huwwwaaaaa…”

Dengan sigap dan malu-malu kucing padahal dalam hatinya senengnya bukan main, Mark menggendong Maia. Rover mengangguk setuju. Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan dengan lebih cepat dan terlindung. Untung saja Maia termasuk cewek singset dan langsing, sehingga Mark tidak terlalu kerepotan.

“Pe-pegang erat-erat.” Kata Mark.
“I-iya… te-terima kasih.” Jawab Maia.

Dengan melingkarkan tangan di bahu Mark, Maia terus berusaha mempertahankan Sheltersphere. Gua di belakang mereka rubuh semakin cepat, ketiga jagoan kita pun berkejaran dengan waktu. Untungnya, dalam perjalanan kembali menuju pintu masuk pertambangan, monster-monster kecil yang tadinya menghadang menghilang entah kemana.

“Err… a-aku tidak tahu apa ini waktu yang tepat untuk mengatakan ini… ta-tapi… euh…” tiba-tiba saja Maia membuka percakapan dengan sedikit shock. Mirip pengusaha ayam yang tahu ayamnya menelurkan telur angsa. “Ta-tapi… Scanner Orb masih mengindikasikan adanya sarang naga tanah yang lain disini.”
“APA!?!” saking terkejutnya, Mark hampir menjatuhkan Maia.
“Tidak ada waktu untuk mencarinya.” Sahut Rover bijak sekaligus logis, “Mudah-mudahan sarang lain pun ambruk. Melihat kondisi kita sekarang, kita tidak mungkin membasmi sarang naga yang lain itu.”

“I-iya…” Maia mengangguk.

Setelah melalui berbagai rintangan dan berkejar-kejaran dengan gua yang longsor, ketiga tokoh utama kita akhirnya berhasil mencapai pintu masuk gua. Rover langsung berlari keluar dan menghirup udara segar.

“Untunglah pintunya masih ada! Aku sudah takut kalau-kalau pintu masuk gua juga ikut longsor!” kata Mark sambil menurunkan Maia, keadaan sudah aman dan kejaran longsoran gua sepertinya mulai berkurang kecepatannya, singkat cerita, mereka sudah aman. “Maia, bagaimana keadaanmu? Capek sekali yah?”

“Iya… huaahh…” Maia melenturkan badan, merapal Sheltersphere sangat menguras tenaganya. “Untunglah kita selamat.”

“Ayah?” Mark baru sadar, sejak melangkahkan kaki keluar gua, Rover terdiam saja di ambang pintu dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Sepertinya terpaku menatap sesuatu. “Ada apa?”

“Ti-tidak mungkin.” Rover bergumam tidak jelas. “Sebaiknya kalian cepat kemari.”
“He?” Mark dan Maia berpandangan dan menyusul Rover.

Tanpa disengaja, mulut mereka berdua menganga lebar. Di depan mereka, terhampar tanah luas dengan reruntuhan bangunan yang hancur dimana-mana, kondisi tempat yang menunjukkan adanya peperangan hebat yang baru saja terjadi.

“Ti-tidak mungkin!!” Maia luruh ke tanah dengan lemas. “Ko-kotanya…”
Mark menggelengkan kepala seakan tidak percaya. “Ko-kotanya?”

Rover mengangguk dengan pandangan mata kosong dan keringat dingin mengalir. “Kota Carmelion… sudah rata dengan tanah.”



-Bersambung-

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven’s Note :

* Mungkin hal yang paling sulit dipahami dalam cerita ini adalah soal Orb. Orb itu benda bunder kayak mutiara (tapi ukurannya lebih gede lagi). Aku mengikuti jejak serial Suikoden dalam penggunaan istilah ‘Orb’ dan ‘Rune Orb’. Mudah-mudahan gak terjebak sampe terlalu mirip. Rune Orb di Therian adalah benda magis yang akan memboost efek serangan ki. Supaya memudahkan, Rune Orb adalah materia yang mengandung kekuatan elemental seperti api, air, tanah, udara, angin, es dan lain-lainnya. Sedangkan Orb biasa adalah Orb yang memiliki kemampuan ‘supranatural’ yang mampu melakukan sihir temporary. Supaya gak kejebak pula, aku menentukan mereka yang mampu menggunakan kemampuan sihir sebuah Orb adalah para Mage dan sejawatnya.
* Ada banyak jenis naga di Therian dan semuanya memiliki dua elemen utama, yaitu api dan elemen lain. Naga yang sedang diburu di atas adalah jenis naga tanah.
* “Gnud-Nile-Paganet” adalah sihir yang diteriakkan oleh Maia untuk memunculkan Sheltersphere. Ide memunculkan kata-kata aneh itu berasal dari tokoh Zatanna, magician DC Comics yang melakukan sihir dengan membalik kata-kata. Aku menambah garis sambung supaya tidak mirip dengan Zatanna dan memberi kesan ‘rapalan sihir’. Hehehe…
* Bagian/Chapter ini memang sedikit singkat (tentunya karena malas ^^;), soalnya aku gak pengen terlalu lama terjebak di gua pertambangan. Masih banyak ide lain, dan di bagian-bagian awal ini, aku gak pengen memunculkan tokoh lain selain mereka bertiga, di cerita-cerita mendatang, mungkin aku akan memunculkan tokoh antagonisnya, tapi mungkin juga tidak. Hehehe… itu sebabnya aku segera mengeluarkan mereka bertiga dari pertambangan, the story must go on.


The Rays of Avera Ch.3

|
THE RAYS OF AVERA
Created by Shaven

CHAPTER THREE
Fool Fighters




Seorang pujangga besar Avera pernah menulis kata-kata nan bijak ini, “Tumis bawang bombay sampai harum, kemudian masukkan kecap inggris, saus tiram, garam dan merica, lalu masak sebentar. Setelah itu tambahkan cumi, masukkan kecap manis dan air. Masak lagi sebentar. Angkat dari api. Siap dihidangkan.”

Tentunya tidak ada yang menyangkal bahwa pujangga besar Avera itu adalah juga seorang koki. Lantas apa hubungannya dengan cerita kita kali ini?

Tidak ada sama sekali.

Itu tadi cuma diambil penulis dari resep makanan Cumi Goreng Kecap. ^^;
Mohon maaf atas keisengan sesaat penulis, pembaca sekalian.

Baiklah, kita kembali ke cerita utama…

Setelah memasuki lokasi pertambangan yang berada di dalam gua di dekat kastil Von Gard untuk menumpas naga, Rover dan Mark Ray yang ditemani oleh salah seorang anggota Sisterhood of Spellcaster yang bernama Maia Lasalle akhirnya berhadapan dengan salah satu makhluk yang mereka buru.

Atau kelihatannya saja demikian…

“Itu bola mata naga?” tanya Maia keheranan. “Err… yakin nih?”

Nafas gadis itu tertahan. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan makhluk agung yang sangat dipuja-puja oleh para penggemar RPG di seluruh dunia itu. Tapi kok rasa-rasanya ada sesuatu yang salah…

“Memangnya kenapa?” Rover mencibir. “Gak percaya?”
“Sepertinya memang bukan naga…” Mark menajamkan penglihatannya.
“Ehh?” Rover hampir ngompol saking tengsinnya. “Bu-bukan naga?”

Dengus nafas makhluk raksasa yang sedang menatap mereka bagaikan sodokan angin kencang yang hendak melemparkan para jagoan kita keluar gua. Itu baru dengusannya, belum kalau dia kentut. Memang jorok, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu memang bisa saja terjadi kan?

Perlahan tapi pasti, tubuh sebesar traktor yang amat sangat berbau bergerak menyusur gua mendekati ketiga mangsanya. Bulu-bulu berwarna coklat terseret perlahan, merobek dinding gua dengan gerakan memilin yang mengerikan. Eh sebentar… bulu berwarna coklat? Memangnya ada naga yang bulunya coklat?

“I-itu tikus mondok raksasa!” teriak Mark.

“Sompret! Siapa tadi yang bilang tikus mondok gak ada yang bisa menggali sampe gempa kayak naga?” maki Rover sembari mempersiapkan pedang panjangnya. “Aku paling benci monster yang bentuknya kayak tikus!”
“Jangankan monster! Tikus beneran aja ayah jijik!” tukas Mark.
“Ya emang sih, tapi ada kalanya hal-hal yang berkaitan dengan phobia sang tokoh utama tidak perlu diperbincangkan secara tuntas di chapter tiga sebuah alur cerita panjang yang memang harus diakui terkadang tidak ada hubungannya dengan situasi yang sedang dihadapi.” Jawab Rover panjang lebar, yang arti pendeknya… “GAK USAH DIBAHASSS DEEHHH!!”

“Ka-Kalian sebaiknya jangan becanda dulu.” Bisik Maia sedikit ketakutan. “Monster itu semakin mendekat. Sepertinya bukan makhluk yang ramah.”
“Jangan takut. Kalau bukan naga, Mark sendiripun pasti bisa menghadapinya.” Senyum Rover melebar. “Ayo Mark, habisi dia! Lumayan kan buat naikin levelmu.”

Rover menggamit lengan Maia menjauhi Mark dan tikus mondok raksasa. Setelah dirasa lokasinya cukup aman, mereka menyaksikan Mark dan sang tikus mondok berhadapan dari kejauhan.

“Yang benar saja!” sungut Mark. “Dasar tidak bertanggung jawab. Masa aku dibiarkan sendirian?”

“Jangan menggerutu melulu! Tunjukin kalo kamu emang bener tokoh utama cerita ini!” teriak Rover dari jarak yang cukup jauh. “Masa di pertarungan pertama jagoannya udah kalah? Gak seru ah!”
“Sebaiknya yang tidak bertanggung jawab diam aja di ujung!” sahut Mark membalas.

Maia geleng-geleng, ini Ayah-Anak emang gak bisa akur apa yah? ^^;

“Beneran nih, Mark bisa menghadapi monster itu sendirian?” tanya Maia setengah berbisik pada Rover.
“Mungkin.” Jawab yang ditanya.
“Lah?”
“Aku ingin Mark memperoleh pengalaman bertarung yang banyak, aku ingin dia terus mengasah kemampuannya.” Kata Rover. “Seiring berjalannya waktu, aku tidak bisa terus menjaganya. Dia sudah dewasa, sudah tahu apa yang harus dilakukan. Kemampuannya pun sudah mulai meningkat, hanya butuh lebih banyak pengalaman bertarung.”
“Kalau misalnya monster itu terlalu tangguh untuk Mark sekalipun?”
“Ya… Mark akan menemui ajalnya saat ini juga.”
“Lah?”
“Aku sebenarnya tidak ingin memberinya bantuan secara terbuka.” Bisik Rover, seakan-akan takut suaranya terdengar oleh Mark yang berada sedikit jauh di depan mereka. “Tapi aku kan bisa membantunya diam-diam, dia itu gengsinya tinggi sekali. Seandainya monster itu terlalu tangguh untuk Mark, aku boleh minta bantuanmu merapal magic heal padanya?”
“Heal? Penyembuhan? Tentu saja bisa. Walaupun mungkin dengan kemampuanku sekarang aku hanya bisa mengembalikan sekitar 30% stamina dari jarak sejauh ini.”
“30% pun sudah cukup, terima kasih.”

Tikus mondok di depan Mark menggeram, mendecit membahana, lalu menggeram lagi. Mark jadi ragu-ragu, ini benernya monster atau mesin jahit, kok cuma suaranya doang yang rame. Tanpa ragu-ragu Mark menyiapkan pedang pendek gandanya.

“Solace, Jovial, kalian bantu aku yah…” bisik Mark pada dua pedangnya. Memang rada antik anak satu ini, masa pedang dikasih nama.

Sang monster menggeram kembali seperti layaknya seekor monster (kalo berkokok takut ntar dikira ayam). Memamerkan jalinan gigi yang tidak begitu sedap dipandang apalagi dihirup baunya. Sang monster menggoyang-goyangkan tubuhnya seakan show of force akan kedahsyatan dan kejelekannya. Sudah jelek, bangga pula.

Mark menggerutu pada penulis. “Kalau narasi terus kapan perangnya?”

Ini kan deskripsi wujud si monster, gimana pembaca mau bayangin bentuk monsternya kalau gak dijabarkan dengan detail? Sudah menjadi tugas penulis untuk memberikan keterangan selengkap-lengkapnya pada pembaca kan?

“Ya tapi jangan lama-lama.” Mark masih menggerutu. “Cukup satu paragraf aja kan? Lagian monster itu kan NPC? Kenapa musti detail? Bentar lagi juga mati.”

Duile, pede amat.

“Ya jelas dong! Aku kan tokoh utama!”

Baiklah…

Singkat cerita, akhirnya Mark mengalahkan monster itu dengan mudah.

BLETAGS!~
Kepala penulis benjol dilempar Orb segede Kalimantan.

“KASIH ACTION DIKIT NAPAAAA???” teriak Mark dengan geram.

Grr… tadi bilang suruh cepet… sekarang minta dikasih action… dasar plin-plan!

“APA????”

Nggak… nggak… ini nih… aku ulangi lagi deh! Grmblsebelgrmbl.

Sang monster menggeram kembali seperti layaknya seekor monster. Memamerkan jalinan gigi yang tidak begitu sedap dipandang apalagi dihirup baunya. Sang monster menggoyang-goyangkan tubuhnya seakan show of force akan kedahsyatan dan kejelekannya. Sudah jelek, bangga pula.

Mark menunggu sampai saat yang tepat, lalu melompat mendekati kepala sang tikus raksasa.

“Hiaaahhh!!” sembari memekik ala Bruce Lee, Mark meluncurkan satu kombinasi serangan pedang ganda ke arah kepala sang monster. “Hiaaahhh!!”

Untungnya saat berteriak dengan semangat seperti itu, Mark sudah menggosok gigi, sehingga penulis pun aman meliput adegan seru ini dari jarak yang tidak begitu jauh dari lokasi mulut Mark. Sekedar memperingatkan saja, sodara-sodara pembaca, kalo sedang semangat dan pengen teriak-teriak, coba diinget-inget dulu sebelumnya udah sikat gigi belum. Karena efek yang timbul selain buruk bagi kesehatan gigi, juga tidak baik bagi pergaulan dan sesama.

BRUGG!!
BRAAAKKKK!!
BRUALLL!!!

Yak!! Seru nian sodara-sodara pembaca sekalian, setelah berulang kali menghempaskan pedangnya ke arah kepala sang monster dengan gagah berani, Mark melepaskan serangan beruntun (kalo jaman sekarang istilahnya ‘Combo’) ke arah badan sang monster.

Tapi monster itu tidak menyerah begitu saja. Meskipun hanya mendapatkan peran dalam cerita ini sebagai monster dan tidak akan memegang banyak peranan utama pada kisah-kisah selanjutnya, tapi sang monster terus meradang dan menerjang karena dia adalah binatang jalang yang dari kumpulannya terbuang. Paling tidak dia sudah merepotkan tokoh utama.

Keringat Mark mulai bertetesan. Sejak memasuki gua mereka sudah bertemu dengan monster dan mutant berukuran kecil, tapi tidak menghadapi masalah. Tapi monster ini berbeda, entah kenapa setiap serangannya seakan tidak mampu menyakiti sang monster sedikit pun.

Dari kejauhan, Maia mulai khawatir dengan kondisi Mark.

“Sepertinya dia kewalahan.” Kata gadis itu sambil meremas-remas ujung bajunya dengan gelisah. “Apa tidak sebaiknya kita membantu dia?”
“Tidak perlu.” Jawab Rover sok yakin. Dia berdiri dengan gagah layaknya seorang jagoan RPG yang sedang diabadikan posenya dalam sebuah poster. “Memang berat untuk melawan seekor monster yang memiliki lebih banyak HP maupun Ki dibanding kita saat pertama kali berjumpa dengannya, tapi dengan banyak berlatih dan meningkatkan ki-level maupun HP, perlahan tapi pasti kita akan mampu menghadapi monster sebesar ini dengan mudah.”
“Tapi Mark sepertinya…”
“Aku percaya dia mampu menghadapinya.” Mata Rover tak lepas dari gerakan lincah Mark di kejauhan. “Lagi pula kalau kita pasti akan ditolak seandainya ingin membantunya. Anak itu punya ego super tinggi.”

BRUGG!!
BRAAAKKKK!!
BRUALLL!!!

Dinding-dinding gua yang rapuh tidak kuat lagi menyangga gerakan sang tikus mondok raksasa yang menggeliat dengan erotis bak Tina Toon goyang ngebor. Mark dengan rajin mengulang gerakan serangannya sembari mengincar bagian tubuh sang monster yang tidak terlindung sempurna.

“Boss kecil ini punya sepasang cakar maut raksasa yang harus dihindari.” Gumam Mark pada dirinya sendiri. “Kalau cakar itu bisa digunakan untuk menggali gua batu ini dengan mudah, tentu bisa digunakan pula untuk membelah badanku dengan irisan tipis-tipis dan rapi. Bulu yang tebal menjadi pelindung sempurna bagi tubuhnya, aku tidak mampu melukainya dengan pedang gandaku. Waduh… gimana nih… pedangku kayak barang tumpul kalau sudah begini.”

Sambil terus bergerak dan menyerang, Mark tidak henti-hentinya mencari celah.

“Menghadapi monster dengan pelindung kelas satu seperti ini cukup merepotkan. Pertama aku harus mencari bagian tubuhnya yang paling lemah.” Mark berbisik pada dirinya sendiri. Persis orang gila. “Ahh… tentu saja! Matanya!!”

Lompatan demi lompatan dilakukan Mark untuk menentukan jarak serang dengan mata sang tikus mondok raksasa. Begitu mencapai lokasi yang dikehendaki, Mark langsung menyerang dengan pedangnya, mencoba menusuk mata sang monster. Belum sampai menyentuh mata, kedua cakar raksasa sudah siap menubruk Mark. Pemuda itu kembali mundur dengan melompat.

“Si-sial… susah sekali! Ta-tapi… bukannya tikus mondok itu rabun yah? Bagaimana dia bisa tahu aku akan menyerang bagian mata?” Mark geleng-geleng. “Ini bakal menghabiskan waktu berjam-jam.”

BRUGG!!
BRAAAKKKK!!
BRUALLL!!!

“Sepertinya dia kerepotan.” Maia masih khawatir. “Dia masih belum berhasil menemukan titik kelemahan monster itu.”
“…” Rover tidak menjawab, matanya terus mengawasi gerakan Mark.
Maia maju perlahan, hendak membantu Mark. “Sebaiknya kita…”
“Tetap diam di tempat anda, Lady Lasalle.”
“Ah?”
“Aku tidak mengijinkan anda membantu Mark dan itu perintah selaku pemimpin misi ini. Mark pasti bisa mengatasinya, dia cerdas. Kalau dibantu, dia tidak akan pernah menjadi dewasa. Dia punya banyak tanggung jawab yang dibebankan padanya, kalau hanya berhadapan dengan monster seperti ini saja tidak becus, dia tidak akan berhasil dalam tugasnya.”
“Eh…?” Maia mengernyit. “Tanggung jawab? Beban? Tugas? Apa yang anda maksud? Pekerjaan kalian sebagai Monster Hunter?”
“…” Rover lagi-lagi tidak menjawab.

Maia terus memandang ayah Mark itu, ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatap mata tajamnya. Rover terus mengawasi Mark dengan penuh harapan. Untuk pertama kalinya Maia sadar, ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Rover untuk masa depan anak tunggalnya itu. Sesuatu, yang mungkin bahkan Mark sendiri tidak tahu.

BRUGG!!
BRAAAKKKK!!
BRUALLL!!!

“Kenapa sih aku harus menjadi Exterminator? Kenapa sih aku harus jadi Monster Hunter? Kenapa aku mesti jadi jagoan RPG? Bukankah masih banyak game lain yang bisa dijadikan cerita? Kenapa aku tidak jadi petani saja kayak di game Harvest Moon? Itu lebih indah dan menyenangkan!” Mark terus mengomel. Keringatnya mulai bercucuran karena setiap serangannya mental. “Tikus mondok raksasa ini benar-benar menggemaskan. Lucu dan menggemaskan. Pengen kuremas-remas dengan gemas sampai mampus!!”

“Kenapa Mark? Kerepotan? HAHAHAHA!!” teriak Rover dari kejauhan. “Jangan cuma ngoceh! Itu tikusnya datang!!”
“Buset… bukannya bantuin malah ketawa.” Mark memaki-maki. “Hoi, aku capek nih, bantuin dikit napa?”
“Nanti kalo udah selesai Ayah pijat deh!”
“Tawarannya tidak menarik!! Yang penting dibantuin sekarang!!”

Tiba-tiba Mark melihat cahaya berwarna kehijauan mengelilingi sekujur badannya. Cahaya lembut yang amat menyejukkan jiwa. Capek yang tadi dirasakannya menghilang, staminanya kembali meningkat.

“I-ini… sihir penyembuh…? heal…? …Maia?” Mark memandang gadis di samping ayahnya. Gadis itu tersenyum manis. “Te-terima kasih…” kata Mark terbata-bata. Dasar cengeng.

Dengan semangat berlipat ganda dan stamina yang kembali prima layaknya minum ExtraJoss, Mark menempur sang tikus mondok yang sempat merasa di atas angin.

“Tunggu sebentar…” Mark kembali tenggelam dalam dunianya. “Bagaimana dia bisa tahu aku menyerang mata kalau matanya sendiri rabun? Makhluk ini pasti punya sensor pelindung! Sial, pantas saja dari tadi aku kerepotan! Dia mampu mendeteksi gerakan-gerakan yang menyerangnya! Hmm… kalau begitu…”

Mark mundur beberapa langkah, lalu mengambil sesuatu dari balik kantong jaketnya. Dengan gerakan ala pitcher dalam game bisbol, Mark segera melempar benda itu ke arah si tikus mondok.

BLAMM!!

Benda yang dilempar Mark disapu oleh cakar sang tikus dan meledak di udara, tapi… kedua cakar itu tiba-tiba saja tidak bisa bergerak!! What happen??

“Bagus. Dia mengeluarkan Petrifier Bomb. Bom untuk membuat kaku tubuh lawan.” Rover mengangguk-angguk seperti boneka per. “Makhluk itu memang rabun, tapi dia memiliki sensor kelas satu, jadi serangan Mark selalu berhasil dimentahkan. Dengan membuat kedua cakar itu tidak bisa bergerak, Mark sudah menang.”

Maia menghembuskan nafas lega.

“Baiklah! Wahai tikus mondok raksasa! Maaf harus melakukan ini, no hard feeling yah.” teriak Mark sok yakin. “Double Edge Slash!!”

Setelah ‘merapal jurus andalan’-nya, Mark melompat tinggi dan menyerang sang tikus mondok dengan cepat dari udara. Solace dan Jovial ditempatkan menyilang di depan dada dan begitu sampai di hadapan sang tikus mondok yang sudah keringetan.

SBPLAPZ!!
SPLASSH!!

CROTTT!!

BRUGGKK!!*

Sang tikus mondok akhirnya rubuh dengan tubuh terbelah. Sadisnya… ck ck ck…

Mark berdiri di hadapan si tikus mondok yang sudah di-slay, dengan Solace dan Jovial di tangan.

“Huff, huff, huff~” nafas Mark naik turun. Walaupun monster kelas menengah, tapi ternyata lumayan merepotkan juga. Untunglah, dengan begini dia bisa naik level lumayan tinggi.

“Kerja bagus, Mark.” Rover berjalan melewati Mark dengan cuek. “Ayo jalan lagi.”
“Hngh~” Mark melengos. Dasar sial, gak ada break dulu nih?

“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Maia yang ikut di belakang Rover.
“No problemo.” Mark mengangguk dan tersenyum, Solace dan Jovial kembali disarungkan ke pinggang. “Terima kasih bantuanmu tadi.”
“Sama-sama.” Maia mengangguk. “Ayo kita lanjutkan lagi perburuannya.”
“Haih…” Mark lemas. “Kamu ternyata sama saja kayak Ayahku…”
“Eh?”
“Gak papa, ayo…”

Kembali mereka bertiga meneruskan perjalanan menembus perut bumi. Lubang yang dibuat oleh sang tikus mondok raksasa lumayan besar, sehingga memudahkan mereka menjelajah. Masih ada satu dua monster kecil menyerang, tapi itu bukan masalah.

Sampailah mereka di sebuah tempat luas yang berbau amis.

Bukan, mereka bukan berada di tempat pelelangan ikan, mereka masih berada di pertambangan. Sebuah lorong besar dengan bercak darah monster disana-sini, menghias dinding dengan sedikit mengerikan. Pernah main game Silent Hill? Mirip-mirip kayak gitu suasananya. Pernah main game The Sims 2? Sama sekali gak ada hubungannya dengan cerita ini… hihihi…

Rover mengisyaratkan tanda supaya Mark dan Maia tidak membuat keributan. Keduanya mengangguk perlahan. Rover memimpin dengan merangkak perlahan ke sebuah batu besar yang terlindung. Siapapun yang berada di ruangan luas itu tidak akan mampu melihat ke arah mereka.

Mereka berada di belakang sebuah jajaran batu raksasa yang tersembunyi sedikit di kegelapan. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sekitar tiga meter jauhnya, dua makhluk kecil yang sibuk berdecit-decit ribut memanggil induknya. Sang induk berada sedikit jauh, sedang sibuk mengoyak-ngoyak daging monster raksasa yang sudah tidak bisa diketahui jenisnya lagi. Darah dan daging berceceran di mana-mana.

Kedua makhluk di depan Rover, Mark dan Maia berwarna kemerahan dengan garis-garis hitam menghias kulit tebal mereka. Makhluk itu berdiri tegak dengan wajah beringas dan buas, sibuk mengepak-ngepakkan tangan-sayap mereka dengan ribut. Kumpulan ini jelas kumpulan para naga!

Mark memandang sekeliling, bayi-bayi naga berlarian kesana kemari sambil ‘menyanyi’ dengan riang sambil berebut daging pemberian sang induk, beberapa naga muda saling bertarung dengan menggeram-geram. Tempat ini bagaikan… bukan… tempat ini memang sebuah sarang naga!

“Apa-apaan ini?” bisik Rover dengan gelisah.
“Sarang naga tanah. Ada bermacam-macam jenis naga di Therain. Naga api yang bersarang di gunung berapi, naga air yang bersarang di laut, naga angin yang tidak pernah diketahui sarangnya dan naga tanah yang bersarang di bawah tanah.” Kata Maia menjelaskan meski tidak ada yang meminta. “Walaupun sarang mereka berbeda-beda, tapi elemen source utama seekor naga tetap api.”
“Ada yang salah, Yah?” tanya Mark. “Ini sarang naga tanah.”
“Benar, coba lihat ke arah sana!” Rover menunjuk satu sisi terowongan.

Tempat yang ditunjuk Rover adalah sebuah landasan yang letaknya lebih tinggi dari lantai gua. Batu-batuan yang bertaburan membentuk tangga raksasa menuju ke atas langit-langit gua. Beberapa ekor naga raksasa yang seukuran dengan induk di dekat mereka sedang berusaha membuka lubang di atas langit-langit dengan cakar raksasa mereka.

“Para naga itu sedang menggali. Mereka mau keluar dari tempat ini lewat lubang itu?” Maia menyimpulkan. “Koloni naga ini sepertinya sangat beringas.”
“Naga adalah binatang yang biasanya tenang dan anggun. Saat ini aku hanya melihat makhluk-makhluk pemangsa raksasa yang mengerikan yang sedang berusaha menggali keluar sarang.” Kata Rover. Sikapnya menunjukkan kegelisahannya. “Ada sesuatu yang salah dengan mereka. Sesuatu…”

“Err… bukannya kita dibayar mahal untuk membasmi mereka?” tanya Mark.
“Dasar lutung! Kalo tahu bakalan kayak gini mendingan berburu giyom dan jualan sate!” kata Rover malu-maluin. “Hmm… kira-kira apa yang bisa mencegah mereka melarikan diri dari tempat ini?”
“Err… disate?” usul Mark.
“Woalah anak lutung… cari ide yang cerdas napa?”
“Kita tidak mungkin menghadapi mereka satu-satu?” tanya Maia.
“Tidak. Naga-naga ini sudah sangat buas dan beringas. Kekuatan kita bertiga bukan lawan mereka, menghadapi satu tikus mondok saja Mark sudah kerepotan, apalagi membasmi satu koloni naga.”
“HEE!” protes Mark. “Kok jadi aku yang dijadikan tolak ukur!”

Setelah berpikir keras selama beberapa saat layaknya seorang peserta kuis Who Wants To Be A Millionaire, para jagoan kita memutuskan untuk menggunakan pilihan bantuan Fifty-fifty. Hihihi…

Rover berdiri dengan gagah. “Sepertinya hanya satu yang bisa kita lakukan saat ini.”

Mark dan Maia berpandangan.

“Apa?” tanya Mark.
“Meledakkan langit-langit gua dan mengubur naga-naga sialan itu!” kata Rover dengan yakin.
“APAA?!!?” Mark hampir saja menjerit kalau tidak ingat dia berada di mana. “Yang benar saja!! Meledakkan langit-langit? Pake apa? Kita tidak punya kekuatan sehebat itu! Tembakan Ki? Ki kita kan gak begitu dahsyat, jangankan merubuhkan langit-langit, buat memecahkan kerikil aja untung-untungan!! Rune Orb? Kita tidak punya Rune Orb berdaya ledak tinggi! Apa?”

“Crossfire Hurricane.” Jawab Rover yakin.



-Bersambung-

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven’s Note :
* Not that this have to do with anything… tapi… cerita ini sebenarnya sebuah tribute, some kind of a appreciation, beberapa hari belakangan ini aku agak stress dan untuk menyegarkan diri aku ‘memaksakan diri’ menyelesaikan beberapa game RPG. Sempat diomel-omelin beberapa pihak yang berwenang karena lari dari tugas dan tanggung jawab, tapi hey, please blame Square Enix and all those RPG software-house for that! Hihihi… Aku gak main game-game anyar sih, cuma game lawas kayak Suikoden IV (makanya di Rays of Avera banyak bertebaran masalah ‘rune’ dan ‘orb’), FFX (Ooh…I just love Lulu’s big… err… Moogle ^^), Grandia II, Star Ocean III and much more, aku beli kasetnya udah lama, tapi baru sempet ngerampungin sekarang, dulu waktu kerja cuma sempet maen Smackdown, FIFA, NBA ato NHL. Kinda nostalgic, maen game sampe begadang, listrikku bulan depan pasti meledak. Heheheh… someone will really really get mad on me…
* Tambahan buat note di atas… I really really really really hate random battle and dungeon wandering. Bah!
* “SBPLAPZ!!” dan “SPLASSH!!” itu suara pedang membelah si tikus, “CROTTT!!” itu suara darah yang muncrat, dan “BRUGGKK!!” itu suara si tikus mondok jatuh berdebam. Memang gak harus diterangin di sini… tapi siapa tau ada yang bertanya-tanya soal efek suara… Hehehe…




The Rays of Avera Ch.2

|
THE RAYS OF AVERA
Created by Shaven


CHAPTER TWO
Into The Dragon’s Lair




Bulan besar bulat menghias langit Avera. Bintang berkelip-kelip seakan mengajak bercanda. Lampu dan obor menjadi penerang kota, suasana semarak seakan tak ingin reda. Banyak orang tak menyadarinya, kalau sedari tadi kalimat dalam paragraf ini berakhiran dengan huruf a. ^^;

Menjelang malam tiba, Rover beristirahat di kastil Von Gard, tepat tengah malam nanti, dia bersama Mark dan Maia akan masuk ke dalam penambangan Powerstone. Kenapa harus menunggu sampai malam tiba? Tentunya demi tuntutan skenario. Kalau masuknya siang-siang adegannya jadi kurang serem dan gak seru.

Sembari berleha-leha duduk di kursi di balkon kamar yang menghadap ke arah kota, Rover mengamati keramaian Carmelion dari kejauhan. Penduduk kota seakan tidak ingin tidur dan terus berpesta. Buset, lagi krisis gini dapet duit dari mana yah mereka? Party mulu. Kedatangan naga baru tau rasa!

Ongkang-ongkang kaki dan termenung, pikiran Rover Ray pun melayang kemana-mana. Entah dimana anaknya yang amat doyan makan itu sekarang berada, paling-paling masih belanja equipment di kota, Von Gard tadi sempat memberikan 5.000 kyon sebagai uang muka. Mudah-mudahan Mark tidak lupa membelikannya pedang baru, lumayan buat pengganti pedangnya yang sudah mulai gak mempan kalau ketemu monster ber-ki tinggi.

Mark anak yang sangat baik dan cekatan, kemampuannya menggunakan pedang pendek ganda pun meningkat pesat. Kalau melihat perkembangan Mark, Rover kadang terharu dan teringat masa lalu. Ah, kenapa harus secepat ini waktu berlalu? Kenapa dia harus sudah setua ini? Bukankah dia masih ganteng dan lumayan keren? Bukankah dia juga tidak kalah cute dibanding Mark? Kenapa dia belum kawin lagi? Kenapa cerita ini tidak dimulai ketika dia masih muda dan bujangan saja?

“Dasar penulis celaka.” Maki Rover sambil melirik penulis dengan galak. ^^;

Sembari melamun, tangan Rover bergerak tanpa sadar mengambil pedang panjang miliknya dan mulai mengasahnya. Kehidupannya dengan Mark memang tidak bisa dibilang normal, meskipun tinggal di Aretsea, tapi mereka lebih sering merantau ke kota lain. Mau bagaimana lagi, hari gini cari kerjaan susah, sementara perut mereka masih harus terus diisi. Ah, mudah-mudahan kondisi keuangan mereka bisa segera membaik, mudah-mudahan pula negeri ini tidak terus dilanda krisis ekonomi. Tuan Von Gard berjanji akan memberikan hadiah berlimpah seusai proyek ini.

“Ah. Sudah hampir tengah malam! Kemana pula anak lutung itu?” gerutu Rover.

Padahal kalau memaki begitu kan sama aja mengakui kalo dia sendiri lutung. ^^;

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Mark memilih-milih sosis yang tersedia di piring dengan hati-hati. Setelah mencomot satu sosis yang montok, benda panjang empuk dengan daging matang berwarna merah yang menggiurkan itu diselipkan ke dalam roti yang sudah disiapkan. Tak lupa melesakkan selada, mayonaisse, bawang bombay, saos sambal dan ketimun. Ahh~ sungguh enak sekali. Di Avera, roti sosis seperti itu biasa disebut Hoddawg.

“Gyuuu~~”

Perut lapar Mark mulai berbunyi dan Hap! Langsung dilahapnya roti sosis yang tak bersalah itu.

Saat ini Mark sedang berada di sebuah bar di kota Carmelion, tidak begitu jauh letaknya dari kastil Von Gard. Walaupun sudah menjelang tengah malam, suasana tidak berbeda jauh dari tadi siang, masih ramai dan masih banyak NPC berkeliaran di kota. Enaknya diajak ngobrol nggak yah? Kayaknya gak usah, masih belum penting. Mereka dijadiin figuran dulu saja. Hap! Sosisnya dilahap lagi.

“Sepertinya kamu sangat tenang, Mark. Padahal sebentar lagi akan berangkat bertempur.”

Sebuah suara yang sangat merdu memanggil dari belakang. Mark segera menengok ke sebuah meja di pojok. Nampak seseorang sedang duduk di dalam kegelapan. Dari rambut yang panjang tergerai dan pakaiannya, terlihat samar sosok seorang gadis.

“Siapa itu?” tanya Mark yang masih belum mengenali sosok cewek yang duduk disana, padahal pembaca aja pasti udah tau.

Maia Lasalle merapal sihir api tingkat rendah untuk menyalakan lilin di atas meja, sehingga Mark bisa melihatnya.

“Maia?” Mark terheran-heran, dia mendekati Maia dan duduk di kursi yang berhadapan dengan gadis itu. “Apa yang kamu kerjakan disini? Ini kan bar?”

“Memangnya kenapa? Apa tidak boleh aku membeli minuman penyegar sebelum pergi berpetualang?” Maia tersenyum sinis. Biarpun sinis tapi masih tetep manis. Mark aja sampai ngiler. Sebagai seorang tokoh utama cerita kita, aksi Mark ini memang sedikit malu-maluin. Mana ada jagoan yang hobi ngiler?

“Maksudku… kamu kan biarawati… dan…” belum sampai Mark menyelesaikan kalimatnya, Maia sudah geleng-geleng.
“Bukan. Hh~” Maia menghela nafas. “Banyak orang salah mengira tentang kami. Meskipun hidup dalam lingkungan terisolir dan terbatas, bukan berarti kami ini lantas bisa disamakan dengan biarawati. Kami sama seperti penduduk Avera lain, hanya saja bisa melakukan aksi magis dan tidak boleh menikah.”
“Berarti kalian sama dong kayak biarawati. Tidak boleh menikah”
“Beda.”
“Sama aja.”
“Ya terserah.” Maia kembali bersikap acuh tak acuh. “Dibilangin kok malah nuduh.”

Mark manggut-manggut. “Kamu serius jadi Spellcaster?”
“Apa maksud pertanyaanmu itu? Ya seriuslah. Kan sudah aku terangkan tadi siang, gini-gini aku mendapat gelar Rookie of The Year!”
“Hmm… maksudku… apa kamu tidak ingin menikah kelak?”

“Tidak.”

“Buset… jawabnya cepet bener… ^^;” Mark mengelap keringat. “Kenapa?”

“Ya karena aku nggak mau. Memangnya apa enaknya menikah? Sedari kecil aku sudah hidup bersama anggota Sisterhood yang lain. Kami tidak butuh kehadiran laki-laki dalam hidup kami. Kami bahagia. Kalau ada laki-laki mendingan dibuang ke laut aja!” Ujar Maia penuh kemantapan. Benar-benar pernyataan yang menghancurkan hati setiap lelaki jomblo di bar itu.

“Ya sudahlah, aku juga gak pengen berdebat. Nanti kamu malah tambah marah-marah.” Hap! Roti sosis terakhir hinggap di mulut Mark.
“Dasar.”
“Sebentar lagi tengah malam, sebaiknya kita segera kembali ke kastil.” Ajak Mark.
“Baiklah, tunggu aku di luar, aku mau bayar dulu susunya.”
“Susu?” Mulut Mark menganga lebar. “Kirain minum bir! Walah…”
“Kenapa? Gak boleh minum susu di bar?”
“Ng… nggak kok… boleh… boleh…”
“Hmph~”

Mark beranjak berdiri sambil berbisik pelan. “Padahal kamu cantik, sayang sekali gak mau menikah…”
“Apa kamu bilang?” tanya Maia yang ternyata sempat mendengar bisikan Mark.
“Ng… nggak kok… nggak bilang apa-apa…” kata Mark ngeles.
“Ala~ yang boong!”
“Ta-tadi aku cuma bilang…. Bi-…bilukibilukakah.” Kebiasaan buruk Mark keluar lagi. Kalau dipepet sering keluar kata-kata antah berantah.

“Bilukibilukakah? Apaan tuh?” Maia bengong.
“Sudahlah… T_T”

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“HP?”
“Penuh.”
“MP?”
“Penuh.”
“Equipment?”
“Siap.”
“Healing herbs?”
“Ada lumayan.”
“Kunci pintu rumah?”
“Buat apa ditanyain? ^^;”

Rover dan Mark sedang mengkalkulasi ulang persiapan mereka. Rover yang bertanya dan Mark yang memeriksa.

“Baiklah, kayaknya cukup. Kita save dulu sebentar di memory card satu di ujung gua, baru kita masuk. Gimana?” tanya Rover.
“Sip.” Mark mengangguk sambil mengangkat tas punggungnya.
“Baiklah.” Maia mengangguk.

Setelah melakukan save aksi petualangan mereka, Rover, Mark dan Maia pun segera berangkat memasuki gua. Bangsawan Von Gard dan pengawal setianya melepas kepergian mereka dengan berat hati dan penuh rasa sayang. Meskipun baru bersua, tapi seakan sudah seperti keluarga. Berat rasanya melihat bayangan ketiga sosok orang itu memasuki gua, oh kejamnya dunia! ^^;

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Yang namanya gua, ya jelas gelap. Gak keliatan apa-apa kalo penerangannya gak nyala. Untungnya berkat Powerstone berlimpah yang menjadi sumber energi alat penerangan yang konon namanya lampu, ruangan-ruangan dan terowongan dalam gua bisa terlihat oleh ketiga petualang kita.

“Jadi… kamu cuma bisa meng-cast sihir putih dan sedikit elemental?” tanya Rover memecah kesunyian. Tentunya pertanyaan itu ditujukan pada Maia.
“Iya. Divine Sister dari Sisterhood of Spellcaster tidak mengijinkan sihir hitam diajarkan dengan bebas, meskipun pada murid-muridnya sendiri. Hal ini tentunya membedakan kami dengan kelompok penyihir hitam dari daerah timur Avera, The East Witches*.” Kata Maia. “Sihir kami beraliran putih dan bersifat defensif, kebalikan dari mereka. Meskipun begitu Sisterhood dan Witches sama-sama mampu melakukan sedikit elemental magic.”

“Hmm…” Rover manggut-manggut. “Aku gini-gini juga bisa melakukan sihir.”
“Ayah…” Mark menepuk dahi dengan malu. “Kalo cuma main tebak-tebakan kartu itu bukan sihir tapi sulap!”
“Itu sihir elemental!” Rover tetap bersikukuh.
“Sihir elemental dari mana! Kartunya aja ditandai pake pensil!”

Mau tak mau, senyum dingin Maia pun mencair melihat ulah ayah dan anak itu.

Sembari bercakap-cakap mengikat hubungan pertemanan, ketiga petualang kita mulai jauh memasuki gua, jalan yang berkelok-kelok seakan tidak berujung, persimpangan di sana-sini semakin memusingkan, monster kecil-kecil mengganggu tak ada habisnya, bikin sebel saja.

“Oke, kesalahan pertama kita adalah tidak menanyakan lokasi jelasnya pada Tuan Von Gard dan meminta peta pertambangan seandainya ada.” Gerutu Rover. “Kalo begini caranya, seminggu keliling juga belum tentu ketemu itu naganya.”
“Yang kayak gini ini namanya maze atau kadang disebut juga dungeon, Ayah. Di game RPG manapun pasti ada yang namanya maze atau dungeon.” Kata Mark. “Memang sudah tugas kita berpusing-pusing mengelilingi maze dan mencari jalan keluar. Belum lagi nanti kalo ketemu monster.”

“GRAUUUUUUU~!!”

Tiba-tiba saja terdengar sebuah teriakan dan bau nafas tak sedap memenuhi seluruh penjuru gua. Sodara-sodara, itulah yang disebut nafas naga! Lebih busuk dari bau kentut! Luar biasa memualkan! Para jagoan kita pun langsung muntah-muntah di pinggir gua. Biar kata naga itu binatang yang agung dan sakti luar biasa, tapi nafasnya busuk gak kira-kira.

“Sepertinya dari arah sana.” Kata Maia menunjuk sebuah arah di persimpangan.
“Bukan.” Rover menggeleng sembari menutup hidung. “Sepertinya sebelah sana.”
“Bukannya sana?” kata Mark menunjuk arah yang lain lagi.

Eng ing eng! Waduh gawat para pembaca sekalian, rupanya ketiga petualang kita sedang berada dalam masalah! Mereka tidak bisa menentukan arah kemana mereka harus melanjutkan! Apa yang akan terjadi? Apakah cuma sampai disini saja aksi petualangan mereka? Apakah kisah ini akan berakhir sampai dengan bab dua saja? Apakah penulis sudah mulai malas meneruskan kisah ini?

Baiklah, kita lanjutkan setelah lewat yang satu ini!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

(musik pembuka)

Anda memiliki masalah dengan monster? Baik yang kecil ataupun yang besar? Yakinkah anda bunyi berisik di dapur anda pada malam menjelang festival rembulan adalah ulah tikus yang mencari keju dan bukannya monster Pekomon sedang bertengkar dengan monster Digomon? Kalau anda bingung akan solusinya, hubungi kami sekarang juga!

Rover dan Mark Ray! Monster Hunter paling keren di seluruh wilayah Avera. Biarpun gagal yang penting penampilan! Harga bisa ditawar, monster bisa dihajar! Hubungi Rover dan Mark Ray di Aretsea segera!

Keterangan tambahan: harga belum termasuk termasuk pajak.

(musik penutup)

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Setelah berembug dan melakukan musyawarah untuk mencapai mufakat, ketiga petualang kita mengambil suara terbanyak dan akhirnya memutuskan untuk mencoba jalan yang mengarah ke barat.

“Padahal harusnya kita ke timur…” gerutu Rover yang kalah suara.
“Hayah!” Mark melengos.

GRMBLLLL~!!

Gua yang mereka lalui tiba-tiba saja bergetar hebat. Tanah di atas dan samping terowongan rontok sedikit demi sedikit. Dindingnya seakan-akan ambruk.

“APAAA??!! AMBRUUUKKK?? TOLOOOOOONG!!!” Teriak Rover ketakutan dan berlari berputar-putar dengan panik.

*Ehem*

Aku bilang ‘seakan-akan ambruk’. Bukan ambruk.

“PENULIS JAYUUUSS!!!” maki Rover. “Gak tau apa kita jantungan?”

Karena getaran yang hebat, ketiga petualang kita terpaksa berpegangan pada dinding gua untuk meneruskan perjalanan. Mereka makin masuk ke perut bumi, melalui jalan yang berkelok-kelok dan makin lama makin panas.

“Getarannya tambah keras! Aku yakin itu ulah para naga yang sedang menggali!” kata Mark pada Maia dan Rover. “Gak mungkin tikus mondok menggali dengan kekuatan sebesar ini!”
“Yee… kalo itu mah aku juga tahu!” sahut Rover keki. “Mana ada tikus mondok menggali sampe gempa bumi!”

Tiba-tiba saja Maia berhenti di tengah jalan. Tidak bergerak sedikit pun, Mark dan Rover menatap gadis itu dengan cemas.

“ADUH!” tanpa aba-aba Maia menjerit.
“Ke-kenapa, Maia?” teriak Mark khawatir. Dia langsung melompat mendekati gadis itu. “Kamu terluka? Kenapa? Kamu terkilir? Terantuk batu? Kenapa?”
“Aduh bukan! Aku tadi kelupaan mengunci pintu kamar!”

GUBRAGS! ^^;

“GRAAAAAUUUUUUUUUUU!!~~”

Terdengar suara naga itu makin jelas. Artinya arah mereka sudah benar dan tidak jauh dari lokasi sarang naga.

“Baiklah.” Rover memasang wajah serius. “Sebaiknya kita mulai hati-hati. Naga bukanlah monster kecil yang biasa kita lawan, Mark. Mereka makhluk legendaris yang agung. Kemungkinan besar kita tidak bisa membinasakan mereka semua.”
“Lah? Apa nggak terlambat, Yah?” Mark meneteskan keringat. “Sudah sampai sini baru ngomong gitu!”
“Anak lutung! Maksudku begini, kemungkinan besar kita hanya bisa memojokkan mereka atau mendorong mereka menjauhi tempat ini.” Kata Rover. “Worst case scenario, kita runtuhkan dinding gua untuk menimbun mereka sampe mampus! Hahahahahaaa!!”
“Kejam. ^^;” ganti Maia yang meneteskan keringat.

“GRAAAAAUUUUUUUUUUU!!~~”
GRMBLLLL~!!
GRMBLLLL~!!

“Dapat! Dari arah sana!!” tunjuk Maia. “Aku menggunakan Scanner-Orb untuk mencari lokasi tepatnya! Di sebelah sana!!”
“Yaela, cewek satu ini juga sama aja.” Sahut Rover geleng-geleng kepala. “Kenapa gak dari tadi ngeluarin Scanner-Orb, neng? Kalo udah deket gini mah tinggal nyari arah gempa juga ketemu!”
“Emh, maaf… habisnya… aku kan masih pemula…” Maia menundukkan kepala malu-malu. “Aku lupa kalau Scanner-Orb bisa mencari elemental source dengan cepat. Naga kan mengeluarkan elemen api yah?”
“Iya.” Rover mengangguk. “Elemen api dan elemen angin.”
“Elemen angin?” Maia tertegun. “Memangnya naga mengeluarkan elemen angin?”
“Iya.” Rover mengangguk lagi. “Kalo kentut.”

BLETAGS!
Mark menggebuk Rover dengan rantang. ^^;

“Jangan kurang ajar sama orang tua!!” Rover menggeram.
“Sudah tua, gak tau malu, jorok pula!” maki Mark.
“Eh, tapi kan bener?” protes Rover tidak mau disalahkan. “Kalo kentut kan…”
“GAK USAH DIBAHAAASS NAPAAA??” jerit Mark keki. ^^;

“GRAAAAAUUUUUUUUUUU!!~~”
GRMBLLLL~!!
GRMBLLLL~!!
BRUAAAALLLLLLLLLL~!!

Dinding gua yang berada tepat di sebelah kanan ketiga petualang kita mendadak ambruk dengan hebatnya. Dengan cepat dan tangkas Rover dan Mark mengamankan Maia ke tempat yang aman. Gerakan mereka amatlah cepat, sehingga bisa menghindar dari runtuhnya terowongan.

GRMBLLLL~!!
GRMBLLLL~!!
BRUAAAALLLLLLLLLL~!!

Setelah getaran terhenti mereka menengok ke belakang, hampir seluruh terowongan tempat dimana mereka tadi berdiri hilang lenyap dan digantikan sebuah lubang raksasa yang seakan tak berujung dan berwarna gelap, nampak sinar lampu kuning bulat di kejauhan.

“Mark, Maia? Kalian baik-baik saja?” tanya Rover.
“No problemo, kurang ajar. Ngaget-ngagetin aja naga sialan itu.” sahut Mark sambil menggandeng Maia yang masih sedikit gemetaran.
“Maia?” Rover melirik gadis di samping Mark.
“A-aku juga tidak apa-apa…” jawab Maia. Lidahnya terasa kelu, hampir saja mereka tertimbun longsoran.

“Bersiaplah. Kita sudah sampai di tempat tujuan kita.” Kata Rover kemudian. “Lubang menganga di depan kita ini, adalah jalan menuju sarang naga.”
“Dih, kok bisa yakin, Yah?” tanya Mark.

“Yakin seyakin-yakinnya. Soalnya benda bulat besar berwarna kuning yang terlihat menyala di dalam lubang itu bukanlah lampu.” Rahang Rover mengeras. “Itu bola mata seekor naga.”



-Bersambung-

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Shaven’s Note :

* Mungkin belum dijelaskan, meskipun ini cerita bernuansa RPG (buat gampangnya) makanan utama Avera juga nasi. Itu artinya ada petani, beras dan gabah di Avera.
* The East Witches adalah rival utama Sisterhood, bernaung di wilayah timur Avera, para penyihir wanita ini memiliki kemampuan sihir hitam yang tidak kalah ganas dibanding anggota Sisterhood, sayangnya kemampuan mereka sering disalahgunakan untuk melakukan tindakan kejahatan. Baik Sisterhood dan Witches semua anggotanya cewek. Gampangnya kaya Nirmala dan Si Sirik lah… hehehe… eh… si Sirik itu cewek kan?
* Oh iya, lupa dijelasin juga sedari bab satu, lutung adalah sejenis monyet, yang lumayan legendaris baik di Indonesia maupun Avera. Lutung tidak mirip sama naga apalagi sama penulis. Mohon digarisbawahi.