Heart Be No Soul Ch.3

|
==================
HEART BE NO SOUL
Created By Shaven
==================

Kisah ini hanyalah fiktif biasa, kalaupun ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, hal itu tidak dilakukan dengan sengaja. Peringatan: beberapa kejadian di SACN ini mengandung unsur sex dan violence yang mungkin tidak cocok untuk dibaca mereka yang masih di bawah 21 tahun. You have been warned. Peringatan ini adalah yang pertama dan terakhir.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Episode Tiga: “Escapology”


Sophie Jordan dan anak-anaknya akhirnya sampai di bandara Aleriand, Severano. Kota kuno ini masih nampak amat indah. Mereka sudah mempersiapkan sopir dan mobil yang dipesan suaminya dan berkendaraan ke Les Varhel, dari sana mereka akan menyeberang ke kawasan resort dan menuju villa keluarga Jordan dekat teluk Came-Quay. Semua sudah terencana. Semua sudah sangat terencana. Dan Sophie tersenyum bahagia. Dia dan anak-anak akan sangat menikmatinya. Sayang Gareth tidak ikut.

Gareth 'Gary' Jordan Jr. adalah putra sulung pasangan Gareth dan Sophie. Dia tampan, berdada bidang, atletis, kapten tim sepakbola sekolah dan jadi kebanggaan keluarga. Dan di usianya yang sudah lima belas tahun, Gary tahu bahwa dia akan jadi tonggak keluarga ini kelak. Kedua adik Gary mengikuti kakaknya yang sedang kerepotan membawa koper berisi baju-baju mereka. Keduanya seakan hidup dalam dunianya sendiri, sibuk cekikikan menertawakan sang kakak yang sedang sok jagoan membawa banyak koper. Gary memang nampak sedikit kerepotan. Namun ia tidak boleh menyerah begitu saja. Siapa tahu ada gadis yang melihat. Dan ini adalah situasi yang paling rawan kalau dia sampai melakukan hal yang memalukan.

Sophie tersenyum. Mereka berempat pasti akan menikmati liburan di villa.

Di kejauhan, nampak sang sopir sudah menunggu mereka. Sang sopir berpakaian resmi itu tersenyum ramah kepada Sophie dan anak-anak. Kemudian ia menyambut Sophie dan anak-anaknya yang sedang tertawa-tawa penuh bahagia. Sang sopir melirik ke arah kertas besar yang bertuliskan 'Sophie Jordan Sekeluarga' yang sudah dimasukkannya ke dalam mobil melalui kaca jendela, sang sopir itu pun mendengus kesal saat Sophie tidak melihatnya.

'Senang ya kalian?' maki sang sopir berkulit gelap itu dalam hati. 'Dasar orang kaya.. kalian pikir sudah sejak jam berapa aku menunggu disini? Memegang kertas karton konyol dengan terus tersenyum? Seharusnya kalian memastikan bahwa penerbangan hari ini tidak terlambat.'

Sang sopir membuka bagasi mobil.

“Sudah lama disini, pak?” tanya Sophie ramah sambil memberitahukan Gary supaya memasukkan barang-barang ke bagasi dibantu adik-adiknya.
“Baru saja datang, ma'am.”
“Oh, untunglah, kalau tidak tentu lama sekali anda menunggu.”
“Untungnya tidak, ma'am.”
“Oh ya, saya belum mengenal nama anda, Pak--?”
“Jackson. Lewis Jackson. Ma'am.” si kulit hitam itu tersenyum. “Tapi anda bisa memanggil saya Lewis atau Lew.”
“Baiklah, Lew.” senyum Sophie manis. Ia menyukai senyum Lew yang nampak jujur. Sebuah senyum besar yang menampakkan jajaran gigi berwarna putih bersih dan kontras dengan warna kulitnya.

Lewis membantu Gary memasukkan barang dan membantu si kembar di dalam mobil. Ia juga tak luput mengamati Sophie. 'Wanita yang cantik.' batin Lew dalam hati. 'Sangat cantik malah, anggun. Rambutnya coklat tergerai panjang indah, tubuhnya masih bagus, padahal anaknya sudah tiga. Kakinya juga luar biasa indah dan jenjang. Hum, kira-kira bagaimana dia di tempat tidur ya? Berapa usianya? Empat puluh? Belum. Tiga lima? Tiga tujuh? Sekitar itu.'

“Anak-anak anda luar biasa. Ma'am.” kata Lew kemudian pada Sophie.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

Gareth Jordan berusaha menghubungi Sophie, istrinya, begitu ia terbangun pagi tadi pukul enam lewat tiga puluh menit, namun nampaknya telponnya tidak diangkat. Ia duduk di kursi malas plastik yang cukup nyaman di luar balkon kamar tidurnya yang menghadap ke arah laut. Ia mendengus sesaat sambil membaca judul berita utama surat kabar. Ia kadang-kadang benci politik. Kopi hangat pahit berwarna hitam kental sudah ia siapkan di meja kaca di samping tempat duduknya, begitu juga dengan roti tawar bakar dengan selai nanas. Ia duduk dengan nyaman.

Gareth kembali mengangkat telepon tanpa kabel yang ia letakkan di samping cangkir kopinya, dan mulai memencet nomor handphone istrinya sekali lagi. Meskipun villa keluarga Jordan di dekat teluk Came-Quay dimana Sophie dan anak-anak berada saat ini memiliki letak yang berjarak cukup jauh dari kota terdekat, Les Varhel, namun ia yakin seharusnya handphone Sophie memiliki sinyal yang sangat kuat.

Gareth mulai tidak sabar. Suara tut-tut-tut-tut itu lama kelamaan membuatnya kesal. Siapa sih yang menemukan bunyi tut-tut itu? Ia akan menyalaminya dan memberikan penghargaan atas keberhasilannya membuat dirinya jengkel setengah mati.

Berusia empat puluh tahun lebih, Gareth adalah seorang pengusaha yang cukup sukses dan jujur di Classic City. Ia menjadi salah satu manager pemasaran jajaran atas dari restoran fast food terkemuka. Ia juga yang memiliki ide cemerlang bagi perusahaannya untuk membuka rangkaian supermarket di seluruh penjuru negeri yang sukses besar. Gareth menjadi rebutan perusahaan-perusahaan besar di Neo City, namun ia lebih memilih tinggal di Classic City, kota yang masih nyaman ditinggali.

Menikah dengan Sophie adalah sebuah anugerah terindah bagi Gareth. Sophie adalah kekasih masa kecilnya. Dan ia tidak menyangka bahwa bersama-sama mereka mengalami masa-masa yang indah dan menyenangkan selama hampir lebih dari lima belas tahun. Mereka memiliki anak-anak yang mengagumkan, si sulung Gareth Jr., lalu si kembar Nicholas dan Nicole yang sudah berusia tiga belas tahun. Gareth Jordan memiliki segalanya.

“Ya” batin Gareth dalam hati, “Aku memiliki segalanya kecuali sambungan telepon pagi ini.”

Gareth kembali memencet-mencet nomor telepon genggam istrinya. Ia kangen pada Sophie. Ia kangen pada anak-anak.

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-

“Bisa lebih kau nyalakan apinya, Gary?” tanya Sophie pada anaknya. Ia mulai merasa dingin.

Gary mengangguk. Ia melalui ruang keluarga yang besar, berjalan pelan di atas karpet merah yang luas dan mengambil tongkat besi. Gary menyorong-nyorongkan tongkat besi itu untuk mengumpulkan kayu di dalam perapian. Ia mengambil beberapa kayu kering dan menambahkannya ke dalam. Percikan api kecil mengenai tangannya. Ia mengaduh pelan. Sangat pelan.

Gary mengikuti ibunya ke dapur. Ia kelaparan. Nicholas masih asyik bermain gameboy dan Nicole membaca majalah di ruang keluarga.

“Mommie? Mungkin seharusnya rambutku dicat sedikit merah muda.” tanya Nicole dari jauh.
“Kenapa tidak biru saja?” jawab Sophie.
“Ha? Jadi boleh yah?”
“Siapa yang bilang boleh?”
“Mommmieee!” teriak Nicole manja setelah dikerjain sang ibu.

Gary cekikikan di dalam dapur. Ia juga tidak suka adik perempuannya itu melakukan hal yang aneh-aneh. Sophie melakukan satu gerakan tangan, dan Gary menyambutnya. Mereka melakukan toss.

“Dad belum telpon?” tanya Gary sambil mengacak-acak tas karton berisi makanan.
“Belum. Katanya besok pagi baru dia akan telpon.” jawab Sophie yang sedang merapikan dapur.
“Sibuk sekali?”
“Katanya begitu.”
“Aku boleh makan roti ini?” Gary mengangkat seplastik roti.
“Seharusnya itu buat sarapan besok.” jawab Sophie lagi. “Tapi kalau kamu benar-benar lapar ya makan saja.”

Sophie dan Gary kembali ke ruang tamu sambil membawa snack.

Saat itulah mereka mendengar suara dari arah pintu depan. Suara langkah-langkah kaki.


-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
shaven-note
1. inspired by the novel “windmills of the god” by sidney sheldon
2. the title “escapology” is taken from robbie williams's album title
3. what is this (?) a totally different story (?) hehehe, told you this is gonna be a mad story

0 comments: