==================
HEART BE NO SOUL
Created By Shaven
==================
Kisah ini hanyalah fiktif biasa, kalaupun ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, hal itu tidak dilakukan dengan sengaja. Peringatan: beberapa kejadian di SACN ini mengandung unsur sex dan violence yang mungkin tidak cocok untuk dibaca mereka yang masih di bawah 21 tahun. You have been warned. Peringatan ini adalah yang pertama dan terakhir.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Episode Satu: “A Clean Well-Lighted Place”
Duduk di meja bar Memories Cafe, James 'Jim' Beltone menenggak minumannya yang perlahan-lahan kehilangan rasa dinginnya. Es batu yang ditaruh dalam gelasnya meleleh perlahan-lahan. Jim mengecap dengan pelan dan berusaha menikmati campuran vodka berkadar alkohol lumayan tinggi dalam minumannya. Ia mengeryit perlahan. Cairan air keras itu sedikit menyakiti tenggorokannya sebelum akhirnya mengacau dan mengaduk-aduk perutnya.
Sudah lama ia tidak merasakan minuman berwarna bening dan menyegarkan itu, sudah terlalu lama mungkin. Akal pikirannya segera tersergap dengan cepat, dan langsung melayang seakan meninggalkan raganya, dalam tempo yang cukup cepat. Ia mendesah dan tersenyum, perasaan nikmat inilah yang ia cari sedari tadi. Ia minum lagi.
Mulut Jim mendengungkan sebuah lagu. Entah kenapa sedari tadi di dalam kepalanya mengiang-ngiang lagu itu. Lagu yang pelan dan menyejukkan. Lagu yang membuat perasaannya tak terbelenggu dan membuat batinnya yang lelah seakan beristirahat.
“Come away with me.
in the night.
come away with me.
and I will write you a song.”
Dengung Jim selama beberapa saat. Ia tidak hapal kata-katanya. Dan seandainya ia minum lebih banyak lagi, ia mungkin bahkan tidak akan ingat ia pernah mengenal lagu itu. Ia sendiri masih tidak ingat dimana tadi ia mendengar lagu itu. Apa ia sudah mabuk?
“Mau ditambahi cola?” tanya sang bartender mendekati Jim.
Jim mengangguk. Sang bartender pun menuangkan cola berwarna coklat gelap dan membaurkannya dengan minuman di dalam gelas Jim.
Jim menenggaknya lagi, perlahan. Mencoba merasakan semerbaknya rasa minuman keras itu di dalam mulut dan tenggorokannya. Sungguh segar, dan sungguh membuatnya perlahan-lahan melayang. Sesungguhnya ia tidak boleh terlalu mabuk. Malam ini dia menyetir mobil sendirian. Mobil tua yang sudah menemaninya selama beberapa tahun belakangan ini.
Jim terkekeh-kekeh. Ia mabuk.
Mobil busuk itu. Jim teringat saat ia ditipu seorang penjual mobil bekas yang bermulut senapan mesin, betapa ampuhnya si penipu mengeluarkan rayuan dan membuatnya mengeluarkan uang-uang di dalam dompetnya. Mobil itu ternyata hanya meriah di luarnya saja, cat baru dan kaca mengkilap. Mesinnya benar-benar busuk. Entah sudah berapa kali Jim membawanya ke bengkel dalam tahun pertama pembeliannya. Garansi apaan.
“Jangan terlalu mabuk.” ucap sang bartender mengingatkan. Sang bartender itu melirik Jim yang sudah nampak melayang, bisa dilihat dari tingkah lakunya.
Jim mengangguk. Ia melirik, pandangannya memutar dan mengamati seisi bar.
Rupanya hari sudah larut. Hanya tinggal 3-4 orang saja yang masih bertahan disana. Sebagian orang sudah pulang. Pada malam hari dan larut seperti ini, seluruh keributan bar yang biasa terjadi langsung terserap keheningan malam yang mencekam. Di kejauhan ia melihat seorang tua duduk bersandar di dekat jendela. Kepalanya bertengger di sebuah kisi jendela. Orang tua yang mabuk itu tertidur. Dua orang berjas panjang masih bercakap-cakap perlahan, nampaknya percakapan ringan. Satu orang lagi masih menimang-nimang sebotol bir dan memainkan rokok yang mengepul di mulutnya. Asbak penuh puntung rokok nampak bertebaran di mejanya.
Bar ini kecil, tapi selalu buka di malam hari. Jim tidak tahu bar ini buka sampai pagi atau tidak. Meskipun kecil, sang bartender disini sangat ramah. Tempatnya bersih dan terang. Orang-orang dari Classic City mengenal tempat yang bersih dan terang ini. Mereka sering duduk-duduk disana dan ngobrol sampai malam. Tapi tidak sampai larut seperti ini.
Jim belum ingin pulang, dan mungkin masih ingin minum lebih banyak lagi. Ia tidak ingin mabuk. Setidaknya ia tidak ingin cepat-cepat mabuk. Ia masih ingin menenggak minuman itu beberapa kali lagi, perlahan-lahan, dan merasakan nikmatnya cairan itu melayangkan khayalnya dan menghancurkan fisiknya.
Jim menunjuk ke arah si orang tua yang terlelap. “Dia tidur.”
Sang bartender menengok ke arah yang ditunjukkan Jim, lalu mengangguk, tertawa kecil dan kembali pada kesibukannya membersihkan meja bar dan gelas-gelas. Ia mengelapnya dengan pelan dan bersih. Ia sudah capek dan malam sudah larut, tapi wajahnya masih menunjukkan ketenangan yang menyejukkan, wajah yang masih terlihat terang diantara wajah-wajah lain di bar itu.
“Biar saja. Toh aku tidak akan kemana-mana.” jawab si bartender arif. “Aku lebih suka dia tidur disini daripada nanti menabrak tiang listrik atau pohon di jalan.”
“Kamu tidak ada masalah dia tidur disini?”
“Tidak, dia hanya seorang tua mabuk, dan kalau dia merasa nyaman disana, biarlah dia tidur disana.”
“Boleh aku juga tidur disini?”
“Ini bukan hotel.”
“Kalau aku mabuk?”
“Lebih baik kamu pulang ke rumah sekarang.”
Jim mengangguk. Ia menatap gelasnya yang sudah berkurang hingga tiga perempatnya. Tangannya bergerak dan jarinya menunjuk gelas. “Lagi.”
Sang bartender mengangguk. Namun tak urung ia bertanya-tanya setelah melihat penampilan dan wajah Jim yang nampak kusut dan sayu. Jim memakai kacamata, berambut pendek, dengan jas panjang gelap, baju kotak-kotak dengan celana jeans dan sepatu kulit. Bukan wajah seorang pemabuk yang biasa kemari tiap hari.
“Kamu ada masalah? Jangan terlalu banyak minum kalau mau pulang ke rumah malam ini.”
Jim terkekeh-kekeh. Ia sudah mabuk. Bartender itu menggeleng dan menuangkan vodka yang berkadar lebih ringan. Toh orang mabuk ini tidak akan merasakan bedanya, ia seringkali merasa kasihan dengan orang-orang seperti ini, dan ia tidak akan membiarkan mereka pulang menyetir mobil malam-malam seorang diri dalam keadaan mabuk berat. Bartender itu merasa bersalah menuangkan vodka berkadar lebih ringan, tapi sepertinya orang ini sedang dilanda kemelut yang cukup berat. Ia hapal wajah-wajah penuh masalah di meja barnya. Dan orang ini salah satunya.
“Mau dengar sebuah cerita?” tanya Jim sambil terkekeh-kekeh. Sang bartender mengangguk.
“Kalau itu bisa membuatmu senang.”
“Ini cerita yang amat panjang.”
“Toh aku tidak akan kemana-mana.”
“Amat-amat panjang.”
“Aku buka dua puluh empat jam.”
“Rasanya lain.” kata Jim menunjuk gelasnya.
Sang bartender hanya mengangkat bahu dan menunjuk tulisan di botol.
“Vodka.” jawab sang bartender.
Jim terkekeh-kekeh. Jarinya memutar-mutar di pinggiran gelasnya. Sang bartender masih melap gelas-gelas basah yang tadi sudah dicuci anak buahnya. Sang bartender memencet satu saklar di dekat lemari botol, dan lampu penerangan di luar yang mengarah ke jalan pun mati. Beberapa lampu lainnya yang tidak diperlukan pun akhirnya ia matikan. Ia sengaja tidak menunggu Jim membuka mulut bercerita. Ia tahu nantinya bibir Jim akan bercerita panjang lebar, dan dengan susunan yang pasti akan amat ngawur. Jadi ia tidak akan terburu-buru. Setidaknya tidak saat ini.
Dan setelah mendesah-desah dan menenggak minumannya beberapa kali, Jim mulai bercerita. Malam itu akan berlalu dengan amat sangat perlahan bagi keduanya. Tapi seperti yang dibilang sang bartender sendiri, ia toh tidak akan kemana-mana.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
shaven-note
1. contains a lyric from “come away with me” by norah jones
2. the title “a clean well-lighted place” was taken from one of ernest hemingway's short stories
3. the odd title "Heart Be No Soul" means nothing. i just like the sound of it.
HEART BE NO SOUL
Created By Shaven
==================
Kisah ini hanyalah fiktif biasa, kalaupun ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, hal itu tidak dilakukan dengan sengaja. Peringatan: beberapa kejadian di SACN ini mengandung unsur sex dan violence yang mungkin tidak cocok untuk dibaca mereka yang masih di bawah 21 tahun. You have been warned. Peringatan ini adalah yang pertama dan terakhir.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Episode Satu: “A Clean Well-Lighted Place”
Duduk di meja bar Memories Cafe, James 'Jim' Beltone menenggak minumannya yang perlahan-lahan kehilangan rasa dinginnya. Es batu yang ditaruh dalam gelasnya meleleh perlahan-lahan. Jim mengecap dengan pelan dan berusaha menikmati campuran vodka berkadar alkohol lumayan tinggi dalam minumannya. Ia mengeryit perlahan. Cairan air keras itu sedikit menyakiti tenggorokannya sebelum akhirnya mengacau dan mengaduk-aduk perutnya.
Sudah lama ia tidak merasakan minuman berwarna bening dan menyegarkan itu, sudah terlalu lama mungkin. Akal pikirannya segera tersergap dengan cepat, dan langsung melayang seakan meninggalkan raganya, dalam tempo yang cukup cepat. Ia mendesah dan tersenyum, perasaan nikmat inilah yang ia cari sedari tadi. Ia minum lagi.
Mulut Jim mendengungkan sebuah lagu. Entah kenapa sedari tadi di dalam kepalanya mengiang-ngiang lagu itu. Lagu yang pelan dan menyejukkan. Lagu yang membuat perasaannya tak terbelenggu dan membuat batinnya yang lelah seakan beristirahat.
“Come away with me.
in the night.
come away with me.
and I will write you a song.”
Dengung Jim selama beberapa saat. Ia tidak hapal kata-katanya. Dan seandainya ia minum lebih banyak lagi, ia mungkin bahkan tidak akan ingat ia pernah mengenal lagu itu. Ia sendiri masih tidak ingat dimana tadi ia mendengar lagu itu. Apa ia sudah mabuk?
“Mau ditambahi cola?” tanya sang bartender mendekati Jim.
Jim mengangguk. Sang bartender pun menuangkan cola berwarna coklat gelap dan membaurkannya dengan minuman di dalam gelas Jim.
Jim menenggaknya lagi, perlahan. Mencoba merasakan semerbaknya rasa minuman keras itu di dalam mulut dan tenggorokannya. Sungguh segar, dan sungguh membuatnya perlahan-lahan melayang. Sesungguhnya ia tidak boleh terlalu mabuk. Malam ini dia menyetir mobil sendirian. Mobil tua yang sudah menemaninya selama beberapa tahun belakangan ini.
Jim terkekeh-kekeh. Ia mabuk.
Mobil busuk itu. Jim teringat saat ia ditipu seorang penjual mobil bekas yang bermulut senapan mesin, betapa ampuhnya si penipu mengeluarkan rayuan dan membuatnya mengeluarkan uang-uang di dalam dompetnya. Mobil itu ternyata hanya meriah di luarnya saja, cat baru dan kaca mengkilap. Mesinnya benar-benar busuk. Entah sudah berapa kali Jim membawanya ke bengkel dalam tahun pertama pembeliannya. Garansi apaan.
“Jangan terlalu mabuk.” ucap sang bartender mengingatkan. Sang bartender itu melirik Jim yang sudah nampak melayang, bisa dilihat dari tingkah lakunya.
Jim mengangguk. Ia melirik, pandangannya memutar dan mengamati seisi bar.
Rupanya hari sudah larut. Hanya tinggal 3-4 orang saja yang masih bertahan disana. Sebagian orang sudah pulang. Pada malam hari dan larut seperti ini, seluruh keributan bar yang biasa terjadi langsung terserap keheningan malam yang mencekam. Di kejauhan ia melihat seorang tua duduk bersandar di dekat jendela. Kepalanya bertengger di sebuah kisi jendela. Orang tua yang mabuk itu tertidur. Dua orang berjas panjang masih bercakap-cakap perlahan, nampaknya percakapan ringan. Satu orang lagi masih menimang-nimang sebotol bir dan memainkan rokok yang mengepul di mulutnya. Asbak penuh puntung rokok nampak bertebaran di mejanya.
Bar ini kecil, tapi selalu buka di malam hari. Jim tidak tahu bar ini buka sampai pagi atau tidak. Meskipun kecil, sang bartender disini sangat ramah. Tempatnya bersih dan terang. Orang-orang dari Classic City mengenal tempat yang bersih dan terang ini. Mereka sering duduk-duduk disana dan ngobrol sampai malam. Tapi tidak sampai larut seperti ini.
Jim belum ingin pulang, dan mungkin masih ingin minum lebih banyak lagi. Ia tidak ingin mabuk. Setidaknya ia tidak ingin cepat-cepat mabuk. Ia masih ingin menenggak minuman itu beberapa kali lagi, perlahan-lahan, dan merasakan nikmatnya cairan itu melayangkan khayalnya dan menghancurkan fisiknya.
Jim menunjuk ke arah si orang tua yang terlelap. “Dia tidur.”
Sang bartender menengok ke arah yang ditunjukkan Jim, lalu mengangguk, tertawa kecil dan kembali pada kesibukannya membersihkan meja bar dan gelas-gelas. Ia mengelapnya dengan pelan dan bersih. Ia sudah capek dan malam sudah larut, tapi wajahnya masih menunjukkan ketenangan yang menyejukkan, wajah yang masih terlihat terang diantara wajah-wajah lain di bar itu.
“Biar saja. Toh aku tidak akan kemana-mana.” jawab si bartender arif. “Aku lebih suka dia tidur disini daripada nanti menabrak tiang listrik atau pohon di jalan.”
“Kamu tidak ada masalah dia tidur disini?”
“Tidak, dia hanya seorang tua mabuk, dan kalau dia merasa nyaman disana, biarlah dia tidur disana.”
“Boleh aku juga tidur disini?”
“Ini bukan hotel.”
“Kalau aku mabuk?”
“Lebih baik kamu pulang ke rumah sekarang.”
Jim mengangguk. Ia menatap gelasnya yang sudah berkurang hingga tiga perempatnya. Tangannya bergerak dan jarinya menunjuk gelas. “Lagi.”
Sang bartender mengangguk. Namun tak urung ia bertanya-tanya setelah melihat penampilan dan wajah Jim yang nampak kusut dan sayu. Jim memakai kacamata, berambut pendek, dengan jas panjang gelap, baju kotak-kotak dengan celana jeans dan sepatu kulit. Bukan wajah seorang pemabuk yang biasa kemari tiap hari.
“Kamu ada masalah? Jangan terlalu banyak minum kalau mau pulang ke rumah malam ini.”
Jim terkekeh-kekeh. Ia sudah mabuk. Bartender itu menggeleng dan menuangkan vodka yang berkadar lebih ringan. Toh orang mabuk ini tidak akan merasakan bedanya, ia seringkali merasa kasihan dengan orang-orang seperti ini, dan ia tidak akan membiarkan mereka pulang menyetir mobil malam-malam seorang diri dalam keadaan mabuk berat. Bartender itu merasa bersalah menuangkan vodka berkadar lebih ringan, tapi sepertinya orang ini sedang dilanda kemelut yang cukup berat. Ia hapal wajah-wajah penuh masalah di meja barnya. Dan orang ini salah satunya.
“Mau dengar sebuah cerita?” tanya Jim sambil terkekeh-kekeh. Sang bartender mengangguk.
“Kalau itu bisa membuatmu senang.”
“Ini cerita yang amat panjang.”
“Toh aku tidak akan kemana-mana.”
“Amat-amat panjang.”
“Aku buka dua puluh empat jam.”
“Rasanya lain.” kata Jim menunjuk gelasnya.
Sang bartender hanya mengangkat bahu dan menunjuk tulisan di botol.
“Vodka.” jawab sang bartender.
Jim terkekeh-kekeh. Jarinya memutar-mutar di pinggiran gelasnya. Sang bartender masih melap gelas-gelas basah yang tadi sudah dicuci anak buahnya. Sang bartender memencet satu saklar di dekat lemari botol, dan lampu penerangan di luar yang mengarah ke jalan pun mati. Beberapa lampu lainnya yang tidak diperlukan pun akhirnya ia matikan. Ia sengaja tidak menunggu Jim membuka mulut bercerita. Ia tahu nantinya bibir Jim akan bercerita panjang lebar, dan dengan susunan yang pasti akan amat ngawur. Jadi ia tidak akan terburu-buru. Setidaknya tidak saat ini.
Dan setelah mendesah-desah dan menenggak minumannya beberapa kali, Jim mulai bercerita. Malam itu akan berlalu dengan amat sangat perlahan bagi keduanya. Tapi seperti yang dibilang sang bartender sendiri, ia toh tidak akan kemana-mana.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
shaven-note
1. contains a lyric from “come away with me” by norah jones
2. the title “a clean well-lighted place” was taken from one of ernest hemingway's short stories
3. the odd title "Heart Be No Soul" means nothing. i just like the sound of it.
0 comments:
Post a Comment